The Wiz

The Wiz
Chapter 40 : Hilang (2)



Kesal, sedih, dan terkejut. Tiga perasaan yang secara langsung menyerang Camoline ketika ia sadarkan diri. Camoline bangun setelah tertidur selama hampir seharian penuh. Keadaan tubuhnya benar-benar memprihatinkan, sehingga dokter memberikannya juga obat tidur agar proses pemulihan tubuhnya tidak terganggu sama sekali. Camoline hanya bisa mengingat sampai salah satu dokter memegang pergelangan tangan kirinya. Setelahnya, ia tidak sadarkan diri. Dan ketika terbangun, Camoline mendapati dirinya tidak lagi berada di ruangan yang sama dengan ruangan sebelumnya. Ia telah dipindahkan, ke ruangan khusus seperti saat pertama kali ia tidak sadarkan diri setelah melawan Londer.


Kala dirinya sudah bisa mengumpulkan semua kesadarannya, Camoline lalu menyadari kehadiran Barcus dan Zelden. Kedua pria tua itu belum menyadari jika dirinya telah sadar. Mereka masih berbincang dengan raut wajah yang serius. Bahkan raut wajah Barcus sangat berbeda dari biasanya. Tatapan kedua orang itu begitu serius, seolah memang ada hal yang sangat penting dan besar yang harus segera mereka selesaikan. Hingga tidak lama kemudian, Barcus menoleh ke arah Camoline. Raut wajah pria itu terlihat jelas terkejut sebelum akhirnya berbicara pada sang Kakak membuat Zelden pun ikut menoleh ke arahnya. Tanpa menunggu lama, kedua orang itu berdiri dan menghampiri Camoline.


Barcus tanpa berbasa-basi langsung menjelaskan keadaan Camoline saat itu juga. Ia mengatakan ulang perkataan dokter, serta memberitahu apa yang pria tua itu ketahui dengan keadaan batu Opal di dalam tubuhnya.


"Salah satu warna di batu Opal itu menghilang dan berubah menjadi warna putih," ujar Barcus. Camoline langsung diam. Ia tidak tahu harus berkata apa untuk saat ini. Kejadian yang ia alami ini benar-benar tidak pernah ia duga sebelumnya. Bahkan, ia baru tahu jika hal semacam ini bisa terjadi.


"Bagaimana mungkin? Batu Opal memiliki kekuatan tidak terbatas," ujar Camoline dengan nada tidak percaya. Barcus menghela napas panjang. Ia menoleh ke arah sang Kakak. Namun sayang, Zelden pun tidak bisa membantu dirinya. Lagi, Barcus menghela napas. Ia menatap ke arah Camoline dengan lekat. Ada keraguan dan rasa bersalah di kedua matanya itu.


"Aku juga tidak mengerti. Ini hal yang tidak pernah diduga siapa pun. Terlebih, batu Opal tidak datang setiap tahunnya. Ia baru kembali hadir bersama dengan kehadiranmu di sini," ujar Barcus.


Camoline membuang muka. Masih sangat sulit untuk mempercayai apa yang terjadi. Ini benar-benar mustahil. Batu Opal tidak akan mungkin bisa kehilangan kekuatannya. Batu suci ini memiliki kekuatan tidak terbatas, satu level bahkan mampu melewati kemampuan para Dewa. Itu yang selama ini selalu diceritakan para leluhurnya dahulu.


"Untuk sementara, kau akan tetap berada di sini sampai keadaan tubuhmu benar-benar pulih. Aku dan Barcus akan mencari tahu tentang hal seperti ini. Pastikan, tidak ada siapa pun selain kita bertiga yang mengetahuinya." Camoline kembali menoleh. Kali ini dia menatap ke arah Zelden. Tanpa mengatakan apa pun, ia langsung mengangguk mengerti.


"Aku mengerti," ujar Camoline.


Setelahnya, Barcus hanya kembali memeriksa keadaan batu Opal di dalam tubuhnya. Setelah merasa cukup, barulah pria tua itu berjalan keluar bersama Zelden. Mereka berdua tidak berkata banyak. Hanya meminta Camoline untuk istirahat dengan baik agar proses penyembuhan tubuhnya tidak terhambat. Yang dilakukan Camoline hanya bisa menurut. Saat ini, tubuhnya masih terasa sangat lemas. Sangat sulit bagi dirinya untuk sekadar bangun dan duduk. Efek dari hilangnya salah satu kekuatan di batu Opal itu berakibat cukup mengerikan untuk tubuhnya.


Camoline menghela napas perlahan. Ia menatap langit-langit ruangan itu dengan pandangan kosong. Padahal, ia sangat berharap dengan semua kekuatan di batu Opal yang saat ini berada di dalam tubuhnya. Padahal, dengan batu suci ini dirinya bisa membalaskan dendam seluruh klannya yang telah dibantai dengan sadis hanya karena sebuah kekuasaan. Batu Opal ini menjadi satu-satunya harapan untuk Camoline. Ia tidak bisa melakukan apa pun jika suatu saat batu ini benar-benar kehilangan kekuatannya.


"Kamu benar-benar sudah sadar rupanya. Aku mengira jika Barcus hanya mempermainkanku saja tadi," ujar seorang dokter. Ucapannya menyadarkan Camoline dari lamunannya. Mata Camoline langsung bergerak untuk menatap dokter di sampingnya. Ia tidak mendengar dokter ini masuk.


"Aku akan memeriksa keadaanmu. Ini benar-benar hal baru untukku. Beruntung, kamu memiliki lebih dari satu elemen sihir. Jadi kondisi tubuhmu akan segera membaik." Kerutan di dahi Camoline muncul.


"Apa yang terjadi jika aku hanya memiliki satu kekuatan?" tanya Camoline penasaran. Kerutan di dahinya cukup dalam. Pertanyaan ini tidak ia pikirkan sejak lama, tetapi dirinya menjadi begitu penasaran dengannya. Camoline bahkan mulai memikirkan hal-hal buruk tentang kondisi tubunya apabila ia tidak memiliki batu Opal di dalam tubuhnya.


"Masa kritis dengan tingkat berhasil sadar yang sangat tipis. Seluruh bagian tubuhmu akan mengalami rasa kaget ketika kekuatan sihirmu menghilang, sehingga memaksa tubuhmu untuk tidak sadarkan diri cukup lama. Jika berhasil kembali sadar, kamu akan berubah seperti manusia tanpa roh. Mengerikan bukan?" Camoline mengangguk pelan. Itu sangat mengerikan, dan Camoline baru mengetahui hal seperti ini. Ia kira, terlahir tanpa kekuatan adalah hal paling buruk. Namun, rupanya ada hal yang jauh lebih mengerikan dibanding itu. Kehilangan elemen sihir di dalam tubuh.


"Apakah sebelumnya ada murid yang kehilangan seluruh kekuatannya?" Dokter itu tengah menuliskan keadaan terbaru tubuh Camoline di atas selembar kertas. Ia mengangkat kepalanya lalu melemparkan senyuman.


"Iya. Sudah cukup lama, sekitar 8 tahun yang lalu. Ada seorang murid yang kehilangan elemen sihirnya tanpa tersisa," ujar dokter tersebut. Kedua mata Camoline bergerak gelisah untuk beberapa saat.


"Lalu, apa yang terjadi kepadanya?"


"Dia koma selama 1 tahun. 6 bulan pertama, tubuhnya bail-baik saja. Ia seperti tengah tertidur dalam jangka waktu yang lama. Namun pada 6 bulan selanjutnya, kondisi tubuhnya semakin memburuk hingga tidak bisa diselamatkan. Ia meninggal," jelas dokter itu. Itu mengerikan. Bahkan murid itu tidak sempat sadarkan diri. Sudah sangat jelas jika elemen sihir sangat penting untuk semua organ tubuh para penyihir. Elemen sihir di dalam tubuh seseorang akan membantu setiap proses penyembuhan. Entah itu untuk luka dalam atau luka luar seperti goresan. Namun jika elemen sihir di dalam tubuh mulai menipis atau bahkan menghilang, bukan hanya kemampuan menyembuhkan yang akan menghilang. Namun sihir itu bisa menyakiti organ dalam seseorang sebelum benar-benar menghilang dari tubuh.


Elemen sihir akan mencengkram dengan sangat erat setiap organ dalam tubuh seseorang, termasuk jantung. Mencengkram dengan kuat untuk mencari sisa-sisa sihir di setiap aliran darah. Sebelum akhirnya terjadi ledakan kecil setelah elemen sihir di dalam tubuh tinggal sedikit dan melukai tubuh dari dalam.


Tapi, bukankah hal yang terjadi pada Camoline berbeda? Elemen sihir yang ia miliki murni hanya berasal dari batu Opal di dalam tubuhnya. Bukan elemen sihir yang memang ada sejak ia lahir.