
5 hari telah berlalu, dan keadaan lengan Camoline tidak ada perubahan sama sekali. Lengannya benar-benar baru akan kembali sembuh setelah 1 bulan. Tersiksa? Tentu saja. Camoline bukan seseorang yang kidal. Membuatnya sangat kesulitan dalam melakukan segala kegiatan sehari-hari. Apalagi mengeluarkan sihir hanya dengan satu tangannya. Itu cukup sulit. Namun, Camoline tidak bisa jika dirinya mengeluh terus menerus. Ia harus terus berlatih untuk tes susulannya, di sela sisa hari ujiannya.
"Kondisimu masih kurang baik, Camoline."
Camoline menoleh ke arah Violetta. Ia menggeleng pelan. Walau begitu, siapa pun bisa melihat jika Camoline tengah kelelahan. Terlihat jelas dari keringat yang mengalir di dahinya. Namun, namanya juga Camoline. Perempuan keras kepala yang pernah Violetta kenal.
"Aku baik-baik saja. Aku harus bisa mengendalikan kekuatan sihirku hanya dengan satu tangan," ujar Camoline. Violetta menghela napas panjang. Ia kembali mundur, mendekat ke arah Lily yang baru saja datang menghampiri keduanya.
"Memangnya kapan tes susulannya?" tanya Lily. Ia mengambil duduk sekitar setengah meter dari posisi Camoline saat ini. Lalu Violetta ikut duduk di sampingnya. Mereka duduk di atas rerumputan hijau yang segar.
"Lusa. Jika aku gagal, maka aku harus mengulang satu tahun lagi di sini. Atau kemungkinan terburuknya, aku ditendang dari Akademi ini," ujar Camoline. Lily mengangguk mengerti. Sedangkan Violetta menampilkan raut tidak menyenangkan.
"Kenapa semengerikan itu? Ini bukan tes untuk kenaikan kelas," ujar Violetta dengan menggerutu. Silver menoleh ke arah temannya itu. Ia terkekeh pelan sambil mengusap kepala Violetta.
"Sejak awal memang seperti itu peraturannya, Vio. Lagipula, kita sudah mendengar dari awal jika Akademi ini memiliki aturan yang cukup gila." Violetta menoleh ke arah Silver dengan wajah cemberut.
"Ya. Aku hanya tidak menyangka jika peraturannya akan sekejam itu. Lebih kejam dari rumor dulu," ujar Violetta. Lagi, Silver terkekeh untuk menanggapi perkataan Violetta tersebut.
Keduanya kembali diam. Memperhatikan bagaimana Camoline berlatih. Keduanya memang memaksa untuk ikut Camoline yang akan latihan. Mereka tidak ingin jika terjadi hal buruk apabila membiarkan Camoline berlatih seorang diri. Penyerangan yang terjadi beberapa hari lalu, membuat keduanya menjadi begitu khawatir dengan keadaan Camoline. Terlebih beberapa hari belakangan, Silver terlihat tidak berada di sekitar Camoline.
"Camoline!"
Bukan hanya Camoline, tetapi Violetta dan Lily pun ikut menoleh. Mereka melihat sosok Londer bersama seorang pemuda lain yang tidak diketahui namanya itu, tengah berdiri menatap ke arah Camoline berada.
"Zelden memanggilmu untuk ke ruangannya," ujar Londer. Tidak seperti biasanya, Londer tidak menghampiri Camoline. Pria itu berdiri cukup kaku di sebelah pemuda itu. Hal itu terlihat aneh di mata Violetta dan Lily. Lalu, pandangan keduanya secara kompak berpindah pada pemuda di sebelah Londer. Beberapa saat mereka memindai pemuda itu, sebelum akhirnya Lily dan Violetta saling bertatapan.
"Baiklah." Perkataan Camoline menyadarkan keduanya. Dengan cepat, mereka berdua berdiri. Seolah sudah otomatis untuk mengikuti kemana pun setiap langkah Camoline. Walau keduanya terbiasa berada di dekat Camoline sebelumnya, tetapi itu sangat berbeda dengan saat ini. Keduanya menjadi sangat protektif. Ini terasa sangat jelas oleh Camoline. Tetapi sayangnya, ia tidak bisa memaksa kedua temannya itu berhenti. Alasan kondisi lengan kanannya yang terluka, serta fakta menyebalkan jika tangan kanannya lumpuh sempurna hingga satu bulan ke depan, membuat Camoline mau tidak mau harus membiarkan kedua gadis itu menjadi penjaganya.
Camoline berjalan. Tentu saja tidak berniat untuk mendekat ke arah Londer. Ia berjalan menuju ruangan Zelden. Tidak jauh dari dirinya, Lily dan Violetta berjalan mengikuti. Camoline melewati Londer begitu saja. Bahkan ia mengabaikan keberadaan pemuda asing di samping Londer.
Tidak asing juga sebenarnya, karena mereka pernah bertemu beberapa kali di ruang kelas. Hanya saja, Camoline tidak pernah tahu nama pemuda itu.
"Kau ditolak, bung," ujar Deus. Londer melirik sebentar ke arah Deus. Raut wajahnya menunjukkan jika ia tidak tertarik untuk meladeni pemuda di sampingnya itu. Tanpa menunggu lama, Londer segera berjalan ke arah yang berlawanan dengan Camoline. Ia tidak mengatakan sepatah kata pun, membuat Deus memandangi tubuh Londer yang menjauh dengan raut wajah bingung. Ia segera menyusul temannya itu.
Berbeda dengan Londer yang pergi dengan raut wajah tidak mengenakkan, Camoline mulai mendekat ke arah ruangan Zelden dengan perasaan waswas. Firasatnya mengatakan jika ada hal besar yang akan terjadi. Membuat Camoline secara tidak sadar terus menggerakkan jari-jemarinya secara acak.
"Masuklah. Hanya kamu yang diminta untuk datang," ujar Lily ketika Camoline sudah berhenti tepat di depan pintu ruangan Zelden. Kepala Camoline menoleh ke arah Lily. Raut wajahnya terlihat tidak yakin, padahal ini bukan kali pertama baginya untuk masuk ke ruangan Zelden.
"Kami akan menunggu di sini," sambung Violetta. Berusaha menenangkan Camoline. Camoline menghela napas panjang. Dengan anggukkan pelan, akhirnya Camoline mengetuk pintu di depannya.
"Masuklah, Camoline."
Zelden sudah menyari kehadirannya. Dengan embusan napas panjang, Camoline membuka pintu itu secara perlahan. Ia berjalan masuk meninggalkan Lily dan Violetta yang akan menunggu dirinya di depan ruangan Zelden. Walau tidak tahu, apakah akan memakan waktu lama atau tidak.
"Kau sudah datang. Kemari dan duduklah," ujar Zelden. Ia menatap Camoline dengan senyuman di wajahnya yang sudah keriput itu. Di hidungnya terpasang kacamata dengan bingkai tipis berwarna emas.
Pandangan Camoline lalu bergerak ke arah pria di hadapan Zelden. Dia bukan salah satu guru Akademi, Camoline yakin itu. Tetapi, perasaan tidak asing langsung menghinggapinya ketika memandang punggung pria dengan rambut cokelat pirang itu.
"Baik," sahut Camoline. Ia segera mengambil duduk di samping pria asing itu. Setelah merasa nyaman duduk di kursinya, Camoline berusaha mencuri pandang pada pria di sebelahnya. Ia benar-benar penasaran. Dan tingkah Camoline itu tertangkap basah oleh Zelden. Pria tua itu kembali tersenyum.
"Nah, Camoline. Bagaimana keadaan tanganmu saat ini?"
Kepala Camoline menunduk. Menatap pada tangannya yang terbalut dengan sangat rapi oleh kain putih. "Tidak buruk," ujar Camoline. Ia kembali mengangkat kepalanya.
"Baguslah. Tes terakhirmu adalah kelas Tuan Delwana, kau pasti bisa melakukan tes itu dengan baik," ungkap Zelden. Hampir saja Camoline mendengus. Zelden terlalu berharap tinggi kepada dirinya. Terlebih setelah tahu jika ada batu Opal di dalam tubuh Camoline.
"Aku sangsi dengan hal itu," ucap Camoline. Perkataannya membuat Zelden terkekeh. Bukan hanya itu saja. Tetapi pria di sampingnya terdengar bergerak. Secara refleks, Camoline menoleh ke arah samping. Saat itu juga, Camoline benar-benar tidak pernah menduga jika ia akan bertemu dengan sosok ini lagi. Orang yang ia pikir, tidak akan pernah bisa ia temui hingga lulus atau menyedihkannya ditendang keluar dari Akademi ini.
"A-ayah," ujar Camoline dengan lirih. Pria yang sejak tadi berada di sampingnya itu langsung menatap Camoline tepat di kedua matanya. Tatapan mata pria itu tajam, sangat pas dengan pahatan wajahnya yang tegas. Bahkan wajahnya itu tidak menunjukkan jika ia sudah memiliki seorang putri seusia Camoline.
"Sudah lama kita tidak berjumpa, Camoline," ujar pria itu. Perlahan, senyuman terbit di wajahnya. Ia mengusap dengan lembut kepala putri semata wayangnya itu. Ia terkekeh pelan, ketika Camoline mulai terisak. Ia benar-benar merindukan putrinya ini.