The Wiz

The Wiz
Chapter 48 : Kabar



"Camoline, bisa kita berbicara sebentar? Ini hal penting."


Itu adalah kalimat yang Londer katakan di sore hari ketika Camoline baru saja selesai dengan kelas terakhirnya. Kelas Azura. Gadis itu menatap Londer dengan bingung, namun kepalanya tetap mengangguk. Membuat Londer langsung menghela napas lega. Keduanya kembali membereskan alat-alat yang sudah digunakan, lalu berjalan keluar dari ruangan itu bersama-sama. Keduanya kembali menjadi perbincangan para murid yang saat ini berada di kelas yang sama dengan mereka. Mereka membicarakan bagaimana rumor jika Londer dan Camoline bertengkar sempat muncul dan akhirnya terbantahkan dengan kedekatan mereka kembali saat ini. Camoline bisa mendengarnya. Tentu saja karena mereka berbicara dengan suara yang cukup keras.


"Ikut aku. Ini pembicaraan yang penting," ujar Londer sedikit berbisik pada Camoline yang berada di sampingnya. Camoline mengangguk. Ia lalu berjalan mengikuti Londer di depannya. Camoline acuh pada apa yang orang-orang yang bicarakan saat ini. Karena jika ia menjelaskan apa kebenarannya pun, mereka tidak akan peduli. Orang-orang itu hanya tertarik pada asumsi yang mereka yakini saja.


Londer menoleh ke arah Camoline yang berjalan di belakangnya. Tanpa mengatakan apa pun, ia segera menarik tangan Camoline agar gadis itu berjalan tepat di sampingnya. Londer sama sekali tidak melepaskan genggaman tangannya itu di sepanjang jalan. Membuat orang-orang yang mereka lewati langsung saling berbisik untuk membicarakan sepasang anak Adam tersebut.


Keduanya baru berhenti di loronga yang sepi. Londer menoleh ke sekeliling, sebelum akhirnya ia berdiri di hadapan Camoline dan melepas genggaman tangannya.


"Aku harap kamu masih ingat dengan rencana kita untuk memberitahu sesuatu pada Zelden." Camoline terdiam beberapa saat sebelum kedua matanya terbuka lebar. Akibat apa yang terjadi kepada dirinya setelah penyerangan dan hilangnya salah satu elemen itu, membuat Camoline hampir melupakan hal ini. Ia terlalu terkejut dan hanya fokus pada apa yang terjadi kepada dirinya sendiri.


"Aku hampir melupakannya," ujar Camoline pelan. Londer tersenyum tipis. Ia mengusap kepala Camoline, membuat perhatian gadis itu kembali lagi tertuju kepada dirinya.


"Tidak masalah. Kejadian saat itu diluar pengetahuan kita," ujar Londer menenangkan. Camoline hanya diam. Ia memiliki penyesalan, cukup banyak. Karena saat itu, dirinya bertemu dengan Zelden beberapa kali. Bahkan memiliki waktu dimana Zelden sendirian. Waktu yang sangat tepat untuk memberitahu apa yang Londer ketahui di rumahnya.


"Lalu, apakah kita akan memberitahukan kejadian waktu itu kepada Zelden?" tanya Camoline dengan menggebu. Rencana Istana tentu saja harus segera disampaikan, agar Zelden bisa memberitahunya harus melakukan apa jika para petinggi Istana datang ke Akademi lagi secara tiba-tiba.


"Ya. Ada hal baru juga yang ingin aku tambahkan. Jadi ayo, kita ke ruangan Zelden sebelum jam makan malam berlangsung," ujar Londer. Camoline langsung mengangguk kuat. Langsung saja, kedua murid itu berjalan menuju ruangan Zelden berada. Lebih cepat lebih baik, sebelum hal-hal mengerikan terjadi lagi dan memaksa mereka untuk mengurungkan niat memberitahukan hal ini kepada Zelden. Selain itu, Camoline penasaran, hal baru apa yang akan Londer katakan kepada Zelden. Karena sepertinya, Londer tidak berniat untuk memberitahukan kepada dirinya terlebih dahulu.


Camoline melirik ke arah Londer yang ada di sampingnya. Mereka berjalan bersisian, seperti sebelumnya. Tidak ada satu kata pun yang keluar dari mulutnya, begitu pun dengan Camoline. Camoline kembali memandang ke depan demgan helaan napas pelan.


"Ini kami, Camoline dan Londer," ucap Camoline setelah mengetuk pintu ruangan Zelden. Keduanya sudah sampai di lorong yang sepi itu. Ruangan Zelden memang cukup jauh dari ruangan lainnya. Seolah tersembunyi dan menjauh dari keramaian.


Tidak lama, terdengar Zelden menyahut dari dalam. Suara kunci yang terbuka pun terdengar, membuat Camoline dan Londer menoleh bersamaan pada lubang kunci di bawah gagang pintu. Setelahnya, Londer segera membuka pintu ruangan tersebut. Tidak seperti yang mereka bayangkan sebelum ke sini, mereka bukan hanya mendapati sosok Zelden di ruangan itu saja. Di ruangan itu, terdapat Barcus dan juga Delwana. Mereka tengah duduk di kursi masing-masing, dengan Zelden yang seperti biasa akan selalu duduk di kursi kerjanya. Kehadiran Camoline dan Londer ke ruangan itu membuat suasana terasa semakin senyap dan mencekam.


"Aku rasa, ini pembicaraan yang cukup rahasia," ujar Londer. Ia sedikit melirik tidak nyaman pada Delwana. Juga sesekali melirik ke arah Barcus. Delwana terlalu asing untuknya. Bukan karena ini kali pertama Londer bertemu dengan guru tersebut. Tetapi karena kehadiran Delwana di pembicaraan ini akan sangat canggung dan asing.


"Tidak apa-apa. Tuan Delwana berada di pihak kita, begitu pula dengan Barcus," ujar Zelden. Kacamata masih tersampir di hidungnya. Ia tengah mencoret-coret lembaran kertas dengan tinta hitam. Untuk sesaat, ruangan kembali hening. Zelden mengangkat kepalanya.


"Tentu saja Barcus akan berada di pihak kita, karena aku akan mengutuknya menjadi cacing tanah jika berani membelot," ujar Zelden. Ia tersenyum jahil kepada Londer dan Camoline, lalu memandang Barcus yang menatap sang Kakak dengan kesal.


"Kau yakin?" Kali ini Camoline yang angkat bicara. Ia memang tidak masalah apabila ada Barcus. Karena Barcus sendiri bahkan sudah mengetahui tentang batu Opal di dalam tubuhnya. Tidak seperti Londer yang belum mengetahui apa-apa. Namun Delwana, masih sangat asing bagi Camoline. Ia memiliki banyak keraguan.


"Kenapa harus ragu?" Zelden bertanya balik. Ia menyingkirkan kertas yang baru saja ia coreti itu ke meja lain di sampingnya. Tinta dan pena sudah diletakkan kembali ke tempat semula, lalu pandangannya tertuju kepada dua pemuda yang masih berdiri itu.


"Silahkan katakan apa yang ingin kamu sampaikan, tuan Chromos. Aku yang bertanggung jawab pada kerahasiaan kabar ini," ujar Zelden yang mencoba meyakinkan Londer. Londer menoleh ke arah Camoline. Gurat wajahnya menunjukkan keraguan yang cukup jelas. Camoline bisa menangkap hal itu dengan mudah.


"Katakan saja," ujar Camoline dengan suara berbisik. Londer menghela napas perlahan. Ia tidak memiliki pilihan lain.


"Dalam satu minggu ke depan, para petinggi Istana akan kembali ke sini," ujar Londer begitu saja. Perkataannya membuat ketika pria tua di ruangan itu langsung mengerutkan dahinya.


"Ada hal apa mereka akan ke sini? Dan juga, kenapa kita— para guru— mendapatkan berita ini?" Delwana berujar pelan. Kunjungan para petinggi Istana ke Akademi selalu melalui pemberitahuan dahulu sebelumnya. Selalu seperti itu selama bertahun-tahun. Bukan hanya untuk memberikan waktu bagi Akademi menyiapkan upacara penyambutan saja. Namun untuk memastikan juga jika Akademi tidak sedang dalam masa ujian apa pun sehingga jadwal belajar-mengajar tidak akan terganggu.


"Tidak ada satu pun surat dari Istana selama satu minggu ini," ujar Zelden yang menambah rasa curiga serta bingung pada Delwana. Namun, Zelden berujar dengan begitu tenang.


"Karena mereka memang bertujuan datang secara mendadak untuk menemukan batu Opal di Akademi ini." Dan kalimat ini membuat Zelden tidak bisa untuk tetap tenang. Semua yang ada di ruangan itu, tidak menyangka jika Zelden langsung memberikan reaksi seperti itu karena perkataan Londer barusan.