The Wiz

The Wiz
Chapter 61 : Surat



Zelden tidak lagi sibuk di kursinya dan membaca lembar demi lembar kertas yang senantiasa memenuhi meja kerjanya. Saat ini, ia tengah berdiri menghadap ke arah jendela di ruangannya. Jendela itu menghadap langsung ke arah pusat kota Kerajaan. Posisi ruangannya yang berada di lantai tertinggi bangunan Akademi, membuat Zelden mampu melihat pemandangan luar biasa itu. Walau berada di lantai tertinggi, tetapi ruangan Zelden ini tidak terasa dingin seperti seharusnya. Walau tinggi ruangan Zelden hampir menyamai puncak gunung Topaz yang selalu tertutupi salju. Ruangan ini justru terasa hangat. Yang tentunya hal itu diakibatkan oleh sihir di bangunan ini.


Suara pintu yang terbuka menyadarkan Zelden dari lamunannya. Ia menoleh ke belakang, menunggu orang yang membuka pintu ruangannya itu untuk menampakkan diri. Begitu matanya menangkap sosok Barcus, Zelden kembali menghadapkan pandangannya lagi ke luar jendela. Keterdiaman Zelden itu langsung menarik perhatian Barcus. Ia memandang Kakaknya dengan dahi yang mengerut. Sangat penasaran hal apa yang berhasil membuat Kakaknya seperti itu.


"Ada yang mengganggu pikiranmu?" tanya Barcus dengan penasaran. Ia berdiri di samping Zelden. Menatap raut wajah Zelden yang perlahan berubah.


"Ya. Sesuatu hal yang cukup buruk," ujar Zelden. Jawaban itu membuat dahi Barcus semakin mengerut dalam.


"Apa itu?" Zelden menghela napas panjang. Ia lalu menggerakkan kepalanya dan menatap adiknya itu dengan raut wajah rumit.


"Surat dari petinggi Istana. Mereka sudah mengetahui letak pasti keberadaan batu Opal itu," ujar Zelden. Barcus diam. Ia menggerakkan kepalanya untuk menatap ke luar jendela. Memusatkan pandangannya ke arah Istana yang bisa dilihat dari jendela di ruangan Zelden itu.


"Mereka sudah tahu jika batu itu ada di tubuh Camoline?" tanya Barcus. Ia menoleh ke arah Zelden yang sudah kembali berjalan menuju kursinya. Ia duduk dan menatap kertas-kertas di atas mejanya tanpa minat sama sekali.


"Bahkan murid-murid di Akademi, mereka semua sudah mengetahui tentang Camoline yang memiliki batu Opal itu," ujar Barcus. Ucapan adiknya itu membuat wajah lelah Zelden semakin terlihat jelas.


"Pantas saja," ujar Zelden pelan. Ia mengambil selembar kertas dengan hiasan emas di setiap sisinya. Kertas itu merupakan surat yang berasal dari Istana. Di surat itu berisi jika Akademi Topaz harus menyerahkan Camoline ke Istana. Kabar tentang keberadaan batu suci Opal yang ada di dalam tubuh gadis itu sudah menyebar dengan cepat. Bahkan kabar itu sama sekali tidak pernah Zelden duga, karena ini di luar prediksinya. Bahkan Zelden merasa tidak menyangka jika hal seperti ini akan terjadi dalam waktu secepat ini.


Zelden kembali mengembuskan napasnya perlahan. Camoline tentu saja tidak akan dalam keadaan aman jika diserahkan ke Istana. Zelden sangat tahu seberapa rakus dan angkuh orang-orang di sana. Dan mengingat bagaimana para petinggi Istana terus mencoba mengambil peninggalan-peninggalan perang 500 tahun yang lalu secara paksa saja sudah menunjukkan jika mereka tidak pantas untuk mendapatkan batu Opal itu.


Ketukan di pintu mengalihkan perhatian kedua pria tua itu. Mereka secara kompak menatap ke arah pintu itu.


"Masuklah," ujar Zelden setelah mengetahui jika salah satu muridnya yang hendak masuk ke dalam ruangannya. Tidak lama, pintu itu terbuka dan menampilkan seorang siswi dengan rambut berwarna pirang. Ia tersentak ketika melihat sosok Barcus di ruangan itu, namun dengan segera berdehem dan memasang wajah tenang.


"Maaf mengganggu waktu Anda, Tuan. Tetapi, Saya ingin memberitahu jika teman saya, Camoline mendapatkan perundungan dari murid-murid lainnya," ujar siswi itu. Ia adalah Silver. Dirinya sudah sangat lelah melihat bagaimana temannya itu dirundung habis-habisan oleh para murid hanya karena keberadaan batu Opal di tubuhnya. Murid-murid itu sulit untuk dihentikan, dan para guru justru bersikap acuh. Sehingga Silver dengan nekat menghampiri Zelden selaku Kepala Sekolah di sini.


"Itu resiko yang harus ia terima," ujar Barcus. Ucapannya langsung mendapat tatapan tajam dari Silver. Ia menatap Barcus kesal. Tidak terima dengan perkataannya itu. Karena bagaimana pun, perundungan bukan hal yang patut dianggap biasa saja.


"Tapi—"


Silver diam. Ia menutup rapat mulutnya. Kepalanya menunduk menatap lantai marmer yang dingin. Tanpa mengatakan apa-apa, ia hanya menunduk dan berjalan keluar dari ruangan Zelden. Tidak ada yang bisa ia harapkan. Ia mengira, baik Zelden atau Barcus akan mau membela Camoline. Atau setidaknya menghentikan para murid-murid itu melakukan perundungan yang gila terhadap Camoline. Karena Silver tahu, mereka berdua juga memanfaatkan kekuatan Camoline itu. Namun, rupanya ia salah.


Manusia tetaplah manusia.


Pintu ruangan Zelden ditutup dengan kasar. Membuat kedua orang di dalamnya terkejut karena hal itu. Silver tidak peduli. Ia terus melangkahkan kakinya dengan ekspresi marah. Sekarang, hanya dirinya saja yang mampu menolong Camoline. Violetta dan Lily, kedua gadis itu terlalu lemah sehingga justru dianggap debu ketika menolong Camoline. Dan Londer, pria itu justru tidak terlihat sama sekali. Amarah Silver semakin meningkat.


"Kau sepertinya membutuhkan bantuan untuk menolong temanmu itu."


Langkah kaki Silver langsung terhenti. Ia menoleh ke belakang. Mendapati seorang siswi dengan seragam khas asrama merah. Dahi Silver mengerut, namun tatapan matanya yang begitu tajam mengarah pada siswi itu. Silver bahkan tidak mempedulikan kenyataan jika rambut siswi di depannya sangat sama dengan warna rambut yang ia miliki.


"Apa maksudmu? Bukankah kau juga bagian dari mereka? Merundung Camoline hanya karena batu sialan itu?"


Siswi itu terkekeh ketika melihat reaksi yang Silver berikan. Ia menegapkan punggungnya, lalu berjalan mendekat ke arah Silver.


"Namaku Liora Demeter—"


"Kau mata-mata dari Kerajaan sebrang?!" Ucapan siswi itu terpotong oleh keterkejutan Silver. Suasana hening, ketika siswi bernama Liora itu terdiam sebelum akhirnya ia tertawa. Ia menatap Silver dengan pandangan geli. Seolah apa yang Silver katakan tadi sebuah bualan.


"Kau mengetahuinya ya? Lebih cerdas dibanding orang-orang yang ada di sini," ujar Liora. Ia masih menampilkan senyuman manisnya walau Silver telah mengetahui jati dirinya.


"Lantas, apa yang kamu inginkan? Mengambil batu sialan itu dari Camoline agar Kerajaan kalian bisa menguasai dunia, bukan?" tanya Silver dengan penuh selidik. Ia harus waspada dengan sosok Liora itu. Karena bagaimana pun, Kerajaan tempat Liora berasal merupakan Kerajaan musuh sejak 200 tahun yang lalu. Liora kembali terkekeh. Ia menyentil dahi Silver pelan.


"Pikiranmu terlalu buruk terhadapku." Silver mendengus keras. Walau tidak menyakitkan, namun kelakuan Liora tadi membuatnya terkejut.


"Lagipula, bukankah kau membutuhkan seseorang dengan posisi tinggi untuk menolong temanmu itu, bukan? Jadi manfaatkan saja aku." Silver menoleh ke arah Liora. Siswi itu mulai berjalan setelah menatap dirinya dengan tenang. Seolah ucapannya itu bukan hal yang serius. Namun tatapan mata Liora mengatakan sebaliknya. Ia begitu serius dan seolah memaksa Silver agar menyetujui tawarannya.