The Wiz

The Wiz
Chapter 16 : Petinggi Istana (2)



Zelden menghela napas gusar. Beberapa kali, ia terlihat mengusap janggut putihnya yang panjang itu dengan langkah yang mondar-mandir.di hadapan Barcus. Membuat pria dengan pakaian lusuh itu berdecak keras. Ia meminum bir di sebelahnya dalam satu kali tegukan.


"Kau membuatku mabuk sebelum meminum setetes minuman ini. Ada apa denganmu, pak tua? Kau terlihat jelas seperti akan bertemu Dewa Ares," ujar Barcus dengan nada kesal. Zelden mendelik tajam sebelum ia menghela napas panjang untuk kesekian kalinya. Meskipun saat ini, pria itu memilih berhenti, dan duduk di kursinya. Tepat di hadapan Barcus.


"Jikalau Ares mendengarnya, riwayat hidupmu sudah berakhir, Barcus." Barcus tertawa terbahak-bahak mendengarnya. Ia bahkan memegang perutnya karena terlalu keras tertawa.


"Haha. Ah, itu tidak lagi masalah. Kau baru saja menyebut Dewa kejam itu langsung dengan nama. Sudah jelas, riwayat kita akan berakhir di detik yang sama," ujar Barcus. Ia kembali tertawa. Terlebih, ketika Zelden memasang wajah kesalnya. Pria itu seolah baru menyadari kesalahannya. Mungkin karena terlalu gelisah, membuat dirinya tidak memperhatikan kalimat yang keluar dari mulutnya.


"Baiklah, kau menang sekarang. Dan yah, aku merasa cemas seperti akan bertemu dengannya. Namun, kali ini lebih berbahaya dengan Dewa perang itu." Tawa Barcus langsung menghilang. Tergantikan dengan raut serius. Pria itu mencondongkan tubuhnya agar lebih dekat dengan Zelden.


"Para pria bertopi aneh itu? Ck, aku sendiri masih tidak bisa mengerti. Apa yang sebenarnya mereka inginkan dari akademi yang payah ini? Kekuasaan dan harta sudah mereka miliki sejak lama. Manusia memang serakah," ujar Barcus bermonolog. Ia menyandarkan kembali punggungnya ke kursi lalu menatap Zelden lekat.


"Biar aku tebak. Kau memiliki firasat buruk dengan kedatangan mereka hari ini, bukan?" Zelden langsung mengangguk. Memang itu yang tengah ia rasakan sejak tadi. Bahkan sejak semalam. Ia bukan orang bodoh yang bisa diperdaya mereka. Dari awal, Zelden sudah tahu bagaimana tabiat masing-masing dari petinggi itu. Tidak ada yang terlalu berbeda. Intinya, mereka adalah tujuh orang yang serakah dan licik. Yang sayangnya, mendapatkan kekuasaan penuh akan dunia.


"Aku hanya merasa, ini ada kaitannya dengan para murid baru itu. Termasuk murid yang selalu kau ajari itu. Dia. Ya, dia yang paling aku yakini memiliki kaitan kenapa para petinggi mempercepat kedatangan mereka." Barcus menatap ke arah Zelden bosan sebelum memusatkan pandangannya pada segelas bir yang akan ia teguk kembali.


"Camoline? Tentu saja. Para manusia rakus itu, tentunya menginginkan batu Opal di dalam tubuh gadis itu. Ah, siapapun tentunya ingin memilikinya. Kecuali aku, yang malas menghadapi kutu rakus seperti itu," ujar Barcus yang tanpa sadar memberitahukan hal yang tidak boleh ia ucapkan dengan mudah. Teringat akan kesalahannya barusan, tubuh Barcus menegang. Ia melirik perlahan ke arah Zelden. Berharap pria itu tidak mendengar dengan jelas ucapannya.


Meski sialnya, Zelden mendengarnya dengan sangat jelas.


"Jadi, batu itu ada di tubuhnya? Kenapa kau tidak memberitahuku sejak awal!? Ini akan menjadi bencana untuknya, Barcus!"


Barcus bergerak pelan untuk memperbaiki posisi duduknya. Ia mengedipkan matanya beberapa kali dengan berdehem pelan. "Hal buruk akan terjadi bila aku mengatakannya secara langsung. Lagipula, aku belum bisa memastikan bagaimana dia memilikinya," ujar Barcus. Ia meneguk kembali birnya hingga habis.


"Sebentar lagi mereka datang. Kau sebaiknya bersiap, pak tua." Zelden mengangguk mengerti. Ia segera berdiri dan merapikan pakaiannya yang sedikit kusut. Menghela napas beberapa kali, dirinya berusaha untuk terlihat tidak khawatir.


"Tuan, rombongan dari Istana akan segera memasuki area akademi," ujar Azura. Lalu, tatapan matanya beralih pada sosok Barcus yang terlihat acuh seperti biasa. Ia tersenyum tipis.


"Aku menduga, kalian tengah membahas hal yang penting?" Barcus menoleh malas ke arah Azura. Ia berdiri lalu berjalan ke arah pintu. Terlihat seperti akan menghampiri Azura yang memang berdiri di dekatnya.


"Tidak juga. Ia hanya menceramahi panjang kebiasaan diriku yang berburu peri nakal. Pak tua, aku tidak akan ikut serta menyambut mereka. Aku malas," ungkap Barcus lalu keluar dari ruangan itu. Azura memperhatikan punggung pria itu dengan tatapan yang sulit diartikan.


Zelden menghela napas pelan. Ia berjalan menghampiri Azura. "Mari, Nona. Jangan sampai ada raut ketidaksukaan mereka bila mengetahui kita terlambat menyambut kedatangan petinggi Istana." Azura mengangguk. Ia berjalan mengikuti langkah Zelden.


Beberapa saat setelah berjalan, keduanya sudah mendapati para murid yang berjajar rapi di kedua sisi karpet merah yang digelar. Mata Zelden secara alami, bergerak mencari seorang siswi. Tidak sulit, karena ia pernah memperhatikan siswi itu sebelumnya. Dugaannya selama ini benar, bila ada yang aneh dengan siswi itu.


Memusatkan kembali pandangannya. Ia masih meneruskan langkahnya, hingga berhenti tepat di depan pintu gerbang akademi. Di mana para guru lainnya, selain Barcus, telah berdiri untuk menyambut para petinggi Istana itu.


Menghela napas perlahan, kerutan wajahnya berubah kembali menjadi ramah. Memakai topeng sandiwaranya lagi. Setidaknya, untuk hari, ia bisa mengetahui sedikit hal yang memenuhi kepalanya. Ah, ini karena Barcus. Pria yang sayangnya adalah adik kandungnya itu, benar-benar tidak bisa melihatnya tenang barang sehari saja.


Walaupun sebenarnya, Zelden mengakui keberadaan Barcus sangat penting. Selain dikarenakan tidak ada seorang pun yang ia percayai selain pria lusuh itu, juga menjadi orang yang memiliki banyak informasi tidak terduga. Salah satunya ialah, kenyataan bahwa akademi yang ia pimpin memiliki batu Opal. Bolehkah ia mengatakannya seperti itu?


"Selamat datang di akademi Topaz yang kecil ini, tuan-tuan petinggi Istana," sambut Zelden dengan nada sangat ramah. Ketujuh pria yang memakai jubah putih serta topi berwarna sama yang memiliki tinggi sekitar 5 sentimeter—terkecuali satu orang di belakang yang memakai topi setinggi 10 sentimeter— menatap sekitar dengan angkuh dan rendah. Seolah, apapun yang ada di hadapan mereka tidak lebih hormat dibandingkan sampah ditepi jurang.


"Seharusnya, kalian bersujud pada Tuan Agung karena membiarkan kalian bertemu dengan kami," ujar salah satunya. Zelden tidak mengetahui, apakah hal ini disebabkan oleh percakapannya dengan Barcus atau apa. Namun, untuk hari ini, dirinya tidak bisa menahan kedua tangannya mengepal dengan teramat kuat. Maka, disembunyikannya lah kedua tangannya itu ke dalam lengan bajunya yang kebesaran. Tidak ia biarkan, kedua tangannya terlihat oleh orang angkuh di depannya. Bisa saja, harga diri akademi langsung jatuh saat itu juga.