The Wiz

The Wiz
27. Ketahuan



Camoline memandangi langit dari balik jendela kamarnya. Tidak terasa, waktu sudah berlalu dengan sangat cepat. Ia sudah berada di Akademi ini, hampir satu tahun. Tetapi, pertambahan levelnya seolah terhenti di angka 41. Level yang masih jauh bila ingin membalaskan dendamnya. Walau begitu, setidaknya Camoline sudah memiliki target yang jelas.


Asdus. Matenya di kehidupan pertamanya.


Masih menjadi misteri, kenapa pria itu masih hidup. Bahkan penampilannya masih sama seperti 500 tahun yang lalu. Tidak ada yang berubah sedikit pun. Seolah hukum waktu tidak berguna untuk tubuhnya. Juga, tentang kemungkinan jika dirinya masihlah pasangan mate Asdus. Aroma cokelat yang manis itu, secara tidak terduga masih terekam jelas dalam ingatan Camoline. Dan jika Asdus memang masih menjadi pasangan matenya, maka bukan tidak mungkin apabila Asdus pun mengetahui keberadaannya lewat aroma.


Hanya saja, apakah Asdus akan sadar jika dirinya telah bereinkarnasi, atau menganggap dirinya sebagai pasangan mate yang baru.


"Mulai lusa kita akan ujian."


Kepala Camoline bergerak ke samping lainnya. Silver baru saja masuk ke kamar mereka. Di tangannya, ada selembar kertas.


"Jadwalnya? Semua orang sama?" tanya Camoline. Silver langsung mengangguk. Ia menyerahkan kertas di tangannya kepada Camoline. Dengan segera, Camoline membaca isi dari kertas itu. Itu berisi jadwal ujian mereka. Rupanya, tiap asrama memiliki jadwalnya sendiri-sendiri. Jika begini, akan sulit bagi Camoline untuk melihat perkembangan Lily dan Violetta.


"Ah, sangat tidak terasa jika kita sudah berada lama di sini. Pantas saja aku bisa menghapal tiap belokan di bangunan ini tanpa tersesat," ujar Silver dengan pelan. Ia langsung menjatuhkan dirinya di atas ranjang yang bersebrangan dengan milik Camoline.


"Kamu senang berkeliling?" Lagi, Silver mengangguk. Kepalanya bergerak, menatap ke arah Camoline yang sudah tidak lagi fokus pada kertas tadi.


"Begitulah. Hanya berjalan-jalan tanpa tujuan saat bosan. Dan tada! Aku hampir menghapal semua lokasi dari gedung ini," ujar Silver. Ia bangun, dan membiarkan rambut panjangnya itu sedikit acak-acakan.


"Walau bagian menyebalkannya adalah, beberapa senior akan bersikap menjengkelkan jika aku tidak sengaja berpapasan dengan mereka. Topiknya tetap sama, tentang jumlah murid yang masuk asrama putih," lanjutnya.


Camoline menghela napas panjang. Ia kembali mengalihkan pandangannya pada langit di luar sana. Cuaca sedang bagus, sehingga dirinya bisa melihat keberadaan bintang-bintang dan sang rembulan. Ruangan pun menjadi hening. Camoline yang begitu larut dalam lamunannya, dan Silver yang memilih untuk langsung tidur di atas ranjangnya. Ya, gadis itu memang sering berbuat demikian. Ia akan tidur begitu saja jika Camoline tengah melamun seperti saat ini. Lagi pula, malam sudah semakin larut.


Camoline menghela napas panjang. Ia menoleh ke arah Silver yang sudah benar-benar tertidur walau posisi tubuh gadis itu terlihat kurang nyaman. Camoline berdiri dan menutup tirai jendela, lalu berjalan menuju pintu dengan langkah pelan. Ia tidak bisa tidur malam ini, hanya karena memikirkan tentang keanehan Asdus.


Dan tentu saja, keberadaan batu Opal di dalam tubuhnya benar-benar membuatnya gelisah. Bahkan sepertinya, ia memang tidak bisa tidur dengan nyenyak setiap malamnya. Jika bisa pun, itu karena kecelakaan yang membuat dirinya terbaring tidak sadarkan diri lebih dari 1 hari. Seperti beberapa hari yang lalu, dimana dirinya kembali tidak sadarkan diri setelah melawan Barcus dengan seluruh kekuatannya hingga mencapai batas kemampuan.


Camoline menoleh ke sekitar. Biasanya, ada penjaga yang akan selalu memastikan tidak ada satu pun murid yang berkeliaran di malam hari setelah makan malam. Dengan langkah yang hati-hati, Camoline mulai berjalan meninggalkan asrama biru. Ia terus memperhatikan sekitar. Memastikan tidak ada penjaga atau pun guru yang melihat keberadaannya. Jika ketahuan, dirinya akan dihukum. Tidak terlalu masalah, sebenarnya. Tetapi akan menjadi masalah jika Barcus kembali mengoceh karena mengetahui dirinya dihukum karena hal seperti ini.


Ini benar-benar sulit. Seandainya dirinya bisa berteleportasi. Sayangnya ia belum bisa melakukan teknik sihir itu. Jika pun bisa, Camoline yakin apabila energinya akan langsung terkuras banyak karena dirinya belum terlalu bisa mengendalikan semua kekuatannya.


Helaan napas keluar dari mulut Camoline. Ia mulia melangkah dengan badan yang sedikit membungkuk untuk melewati tempat dimana para guru tengah berkumpul. Walau mereka berada di lantai satu, tetapi bukan tidak mungkin jika mereka melihat dirinya. Sehingga Camoline harus sangat berhati-hati. Ia terus menoleh ke arah bawahnya dengan melangkah dengan penuh kehati-hatian.


"Kamu tidak tidur, nak?"


Tubuh Camoline tersentak. Ia dengan perlahan dan perasaan cemas, mulai mengangkat kepalanya. Ia ketahuan, itu yang kepalanya simpulkan saat ini. Di depannya, berdiri Zelden yang kini memandang dirinya dengan raut wajah tenang. Tubuh Camoline benar-benar mendadak kaku. Kabur sekarang pun bukan pilihan yang bagus. Karena yang ia hadapi saat ini adalah kepala Akademi.


"Bangunlah. Kedua kakimu akan sakit bila terus berada di posisi itu," ujar Zelden lagi. Suaranya tidak keras. Masih tertutup oleh suara para guru di lantai satu yang entah kenapa menjadi begitu keras. Padahal ketika jam pelajaran, suara mereka terkadang hilang jika kurang fokus.


Dengan gerakan perlahan, Camoline menurut. Ia mulai berdiri dengan memandang Zelden penuh kewaspadaan. Kepalanya langsung menduga-duga apa yang akan Zelden berikan kepada dirinya sebagai hukuman karena dirinya sudah melanggar aturan asrama Akademi.


Kali ini, suara di sekitar mereka menjadi benar-benar hening. Kedua telinga Camoline tidak lagi mendengar suara para guru lain yang tengah bercakap-cakap di lantai bawah. Penasaran dengan apa yang terjadi, kepalanya menoleh. Langsung saja dirinya mendapati para guru itu tengah menatap dirinya. Bahkan kali ini, Camoline baru menyadari kehadiran Barcus diantara para guru itu. Hanya saja, Barcus menatap dirinya dengan masa bodoh. Seolah sangat tidak peduli dengan apa yang akan terjadi kepada dirinya.


Yah..., mana mungkin juga pria tua itu akan peduli kepada dirinya.


"Kita ke ruanganku. Ada banyak hal yang ingin aku bicarakan dengan dirimu, nona Camoline," ujar Zelden. Suaranya menjadi sedikit menggema di lorong. Mungkin karena suasana sekitar sekitar begitu hening, membuat suara Zelden menjadi lebih keras dari pada sebelumnya.


"Baiklah." Begitu mendengar jawaban yang diinginkan, Zelden tersenyum. Ia menepuk bahu Camoline lalu menoleh ke arah para guru yang masih memperhatikan mereka berdua.


"Kalian, lanjutkanlah. Aku tidak bisa bergabung untuk malam ini," ujar Zelden.


"Ya ya..., pergilah. Kehadiranmu memang tidak terlalu dibutuhkan," ujar Barcus. Seperti biasa, dia yang paling tidak peduli dengan posisi Zelden yang paling tinggi di Akademi ini.


"Mari, Nona Camoline." Dan Camoline langsung saja mengikuti Zelden. Untuk saat ini, dirinya berharap tidak mendapat hukuman dari pria tua di depannya.


Ya, semoga saja.