
Tanpa mengatakan kepada siapa pun, Silver dan Liora membawa Camoline ke kamar Silver. Dimana Silver sama sekali tidak mendapatkan teman sekamar. Menurut Liora, akan sangat beresiko apabila Camoline dibawa ke asrama merah. Selain karena para murid di sana adalah perundung utama Camoline, juga Liora tidak memiliki tempat yang cukup baik untuk membiarkan Camoline pulih. Dan jika mereka membawa Camoline ke klinik, maka Camoline bisa saja diculik oleh para petinggi Istana itu. Karena sekarang pun, para guru begitu acuh dengan keadaan Camoline yang dirundung oleh semua murid di sekolah.
Yah, walau selain mereka berdua ada pula Violetta dan Lily yang mengetahui keberadaan Camoline. Mereka berdua ikut merawat Camoline yang kehilangan begitu banyak kekuatan sihirnya.
"Bagaimana keadaan di luar?" Lily langsung bertanya ketika Liora muncul ke kamar Silver. Gadis itu rupanya mampu menggunakan kekuatan teleportasi dalam jangka waktu yang cepat. Menurut pengakuan Liora sendiri, kemampuan teleportasi adalah hal dasar yang dikuasai oleh seluruh keluarganya dan tidak menggunakan begitu banyak sihir. Tidak seperti kemampuan teleportasi yang dibahas di kelas, yang akan menyerap banyak energi ketika melakukannya.
"Masih cukup kacau. Serangan dari para petinggi itu masih ada walau belum besar," ujar Liora. Ia berjalan ke samping Violetta berada. Violetta sendiri tengah menggenggam tangan Camoline yang tertidur. Ia memgeluarkan kekuatannya untuk membantu penyembuhan Camoline walau Liora mengancam dirinya agar tidak mengeluarkan energi terlalu banyak karena itu akan berbahaya bagi Camoline.
"Dia sudah lebih baik?" Violetta menoleh ke arah Liora lalu mengangguk.
"Camoline hanya belum bisa berdiri terlalu lama saja. Setelahnya semua baik-baik saja," ujar Violetta. Ia melepas genggaman tangannya dan membiarkan Liora untuk duduk di samping Camoline. Posisi Violetta kini bergeser ke samping Lily berdiri. Ia memperhatikan raut wajah serius Liora yang menatap Camoline. Sedangkan yang ditatap hanya menatap kosong ke arah langit-langit kamar.
"Beberapa murid sudah termakan kabar apabila Camoline diculik oleh salah satu petinggi Istana," ujar Lily lagi. Ia mengingat beberapa murid yang membicarakan hal ini ketika ia berada di klinik. Mereka terlihat cukup senang karena merasa serangan dari pihak Istana akan berhenti setelah mereka mendapatkan Camoline.
"Sekali pun mereka mendapatkan Camoline, mereka tidak akan melepaskan Akademi begitu saja," ujar Silver. Ia baru saja masuk, sehingga kehadirannya cukup mengejutkan Lily. Lily menghela napas panjang. Ia bergeser semakin mendekat ke arah Violetta agar Silver memiliki jalan untuk mendekati tempat tidurnya.
"Mereka segila itu?" tanya Lily dengan raut wajah tidak percaya. Walau sejak lama para petinggi Istana memang disebut cukup gila dan serakah, namun Lily tidak pernah menyangka apabila mereka akan melakukan hal semengerikan itu.
"Mereka memang segila itu," ujar Violetta pelan. Hal itu membuat Lily langsung menatap ke arahnya. Ia menatap sahabatnya dengan pandangan menyelidik. Bukan hanya Lily saja, namun Silver dan Liora pun menatap Violetta dengan penuh kecurigaan.
"Kau tidak berpihak kepada Ayahmu, Violetta?" Sekarang, Camoline lah yang menjadi pusat perhatian ketiganya. Violetta mengangkat kepalanya. Ia memandang ke arah Camoline yang belum juga mengalihkan pandangannya itu sama sekali.
"Tidak pernah. Dia menyakiti Ibuku hingga meninggal. Tidak ada alasan untukku menghormatinya," ujar Violetta dengan lugas.
Camoline mengembuskan napas panjang. Ia perlahan bangun yang langsung dibantu oleh Liora. Ketika matanya menatap ke arah keempat gadis itu, ia langsung mendapatkan tatapan terkejut di wajah mereka. Dahi Camoline mengerut. Merasa aneh dengan reaksi mereka yang ia anggap terlalu berlebihan.
"Mengubahnya? Aku tidak melakukannya sama sekali," ujar Camoline. Ia kebingungan sekarang.
"Lantas. Sejak kapan iris matamu berwarna biru seperti Aqua?" Pertanyaan dari Lily itu membuat Camoline terdiam. Tangannya perlahan menyentuh ke arah wajahnya. Lalu, beberapa helai rambutnya yang berwarna biru perlahan turun. Kedua mata Camoline terbuka lebar.
"Ini mataku di kehidupan pertamaku," ujar Camoline. Ia kembali mengangkat kepalanya. Menatap satu per satu orang yang mengaku sebagai temannya itu. Mereka terdiam. Lebih tepatnya memperhatikan iris mata Camoline yang begitu aneh.
"Iris matamu itu, seingatku hanya dimiliki oleh para klan putih. Tetapi, Tuan Asdus saja bahkan hanya memiliki iris mata hitam yang begitu gelap," ujar Liora. Camoline hanya melirik sebentar ke arah Liora. Ia akui, gadis di sampingnya ini mengetahui banyak hal tentang sejarah masa lalu dibanding orang-orang saat ini. Sepertinya Kerajaan Liora berasal begitu menjaga sejarah asli yang sudah diubah secara susah payah oleh orang-orang milik Asdus.
"Karena Asdus adalah anggota klan hitam, bukan dari klan putih yang ia akui selama ini," ujar Camoline. Berbeda dengan Liora yang langsung mengangguk mengerti, ketiga gadis lainnya itu justru memasang wajah terkejut. Mereka terdiam, mencoba mencerna apa yang baru saja mereka dengar.
"Apakah itu berarti kamu adalah anggota klan putih terakhir saat ini?" tanya Silver dengan hati-hati.
Camoline menatap Lily sebentar. Ia tersenyum tipis saat Lily langsung menggerutu karena merasa selama ini dibodohi oleh sejarah yang telah diubah sepenuhnya oleh para petinggi Istana itu. Sekarang, kekesalannya pada petinggi Istana itu semakin besar. Sedangkan Violetta di sampingnya hanya bisa mengusap bahu sahabatnya itu agar menjadi lebih tenang.
"Saat ini atau pun saat 500 tahun yang lalu, aku adalah anggota klan putih yang tersisa," ujar Camoline. Walau mungkin saat ini cukup banyak orang yang mengaku sebagai keturunan klan putih, tetapi Camoline akan mudah tahu jika mereka itu berbohong. Karena klan putih bukan klan sembarangan. Para anggotanya memiliki tanda dari langit berupa warna iris mata yang cerah, serta sebuah tanda dari lahir berupa bentuk bintang yang akan bersinar jika sesama anggota klan melihatnya. Sekali pun tanda itu tertutupi oleh lapisan kain yang tebal. Itu adalah tanda yang tidak bisa dimanipulasi siapa pun.
"Dan namamu?" Camoline menoleh ke arah Liora. Ia menaikkan sebelah alisnya. Cukup penasaran kenapa Liora seolah sangat ingin tahu tentang dirinya. Tanpa membaca pikiran gadis itu pun, Camoline bisa mengetahuinya dari raut wajah gadis itu.
"Aquamarine," ujar Camoline dengan tenang. Namun sekali lagi, hal itu membuat teman-temannya terkejut. Terutama Lily.
"APA!?" Camoline menatap Lily dengan tenang. Ia sudah menduga jika orang-orang akan terkejut mendengar namanya itu. Karena namanya berkaitan dengan marga yang dimiliki oleh Zelden serta Barcus. Lalu, kepala Camoline menoleh ke arah Silver. Gadis itu menatap kosong ke arah tembok. Sepertinya ada sesuatu yang terjadi sehingga gadis itu langsung larut dalam pikirannya begitu saja.
"Baik Barcus ataupun Zelden, mereka tidak mengetahui itu, bukan?" Camoline mengangguk untuk menjawab pertanyaan Silver barusan. Setelahnya, ia langsung melihat jika Silver mendengus kesal dan kedua tangannya terkepal kuat.