The Wiz

The Wiz
32.



Hari ketiga ujian.


Camoline mengembuskan napasnya secara perlahan. Saat ini, ia dan yang lainnya sedang melakukan tes. Mengendalikan energi sihir yang dikeluarkan. Diantara semua kelas, ujian ini bisa dikatakan yang paling sulit. Banyak murid yang gagal di tes pertama. Dan tentu saja hal itu membuat sang guru, Delwana, menjadi kesal. Raut wajahnya sudah tidak sedap dipandang. Dan para murid menjadi tidak berani untuk menatap wajah pria itu.


"Buruk. Kalian benar-benar buruk. Jangan berharap jika kalian akan bisa lulus dengan seharusnya nanti," ujar Delwana dengan nada kesal yang tidak ditutup-tutupi. Helaan napas bahkan sudah terdengar dari mulut guru muda itu.


"Selanjutnya!"


Murid selanjutnya langsung berjalan menghampiri. Tubuhnya terlihat sedikit bergetar. Sepertinya ketakutan.


"Apakah yang gagal akan diturunkan ke asrama hijau?" Kepala Camoline menoleh ke arah Silver yang baru saja berbicara itu. Ia menggeleng pelan.


"Aku tidak tahu dengan peraturan seperti itu," ujar Camoline. Silver menoleh sebentar lalu kepalanya mengangguk. Keduanya lalu kembali memperhatikan ke depan. Menonton bagaimana satu per satu murid dari asrama biru melakukan ujian dari Delwana.


"Kau pasti akan mudah melewati ini, bukan?" tanya Silver lagi. Camoline langsung menggeleng. Sekali pun kekuatan yang ia miliki saat ini cukup sangat bagus, tetap saja itu tidak membuktikan apabila dirinya pandai mengendalikan energi sihir yang harus ia keluarkan. Bahkan Barcus saja lebih sering mengejeknya karena hal ini. Tidak sebanyak ketika menyebut dirinya lemah.


"Aku payah dalam hal ini," ujar Camoline. Silver kembali menoleh. Raut wajahnya menunjukkan ketidakpercayaan. Ia bahkan mendengus pelan.


"Benarkah itu? Aku ragu untuk mempercayainya," ujar Silver. Camoline langsung mengangkat kedua bahunya. Tidak ambil pusing dengan perkataan Silver barusan.


"Kalian! Cepat giliran kalian berdua!" Delwana menunjuk ke arah keduanya. Camoline dan Silver. Kedua perempuan itu saling berpandangan dengan raut wajah bingung, namun akhirnya tetap berdiri dan menghampiri Delwana yang tengah berkacak pinggang. Sepertinya perasaan guru ini semakin buruk saja.


"Sebaiknya kalian berdua bisa lebih berguna dibandingkan yang lain karena sudah berani berbincang di tengah tesku," ujar Delwana dengan kesal. Silver hanya mengangguk pelan. Walau ia kesal karena Delwana terkesan melempar kekesalannya kepada mereka berdua, tetapi mustahil untuk menunjukkannya saat ini. Silver masih membutuhkan nilai di ujian ini, sekali pun mungkin nanti tidak akan mendapatkan nilai terbaik. Jangan sampai ia justru diusir terlebih dahulu sebelum mendapatkannya.


"Rambut pirang, kau duluan." Lagi, Silver hanya mengangguk. Ia berdiri di tempat yang sudah ditentukan. Di hadapannya, sekitar 2 meter, terdapat patung yang terbuat dari tanaman merambat. Benda itu yang menjadi alat tesnya. Mereka harus memindahkan patung tanaman tersebut tanpa membuat tanaman itu rusak sedikit pun.


Silver menghela napas panjang. Ia memejamkan matanya, sebelum mulai berkonsentrasi. Perlahan, tangannya terangkat. Kini bulir-bulir air mulai muncul dari atas rerumputan yang mereka injak. Mulai menyatu membentuk gumpalan lalu bergerak ke arah patung itu. Silver benar-benar memusatkan konsentrasinya pada air yang ia kendalikan. Dengan perlahan, gumpalan air itu mulai mengelilingi bagian bawah patung. Lalu patung itu terangkat, dan mulai berpindah secara perlahan dari tempat asalnya.


Tes yang dijalani Silver berjalan dengan sangat baik. Ia berhasil memindahkan patung tersebut sejauh 1 meter, sesuai dengan apa yang diperintahkan oleh Delwana tanpa merusaknya sama sekali. Para murid langsung bersorak kagum dengan kemampuan Silver tersebut. Sedangkan Delwana hanya mendatarkan wajahnya saja. Ia terlihat tidak terkejut sama sekali dengan keberhasilan Silver. Berbeda dengan Camoline yang sempat menatap Silver tidak percaya. Bukan karena keberhasilan yang baru saja Silver raih. Tetapi tentang kekuatan sihir yang dimiliki oleh perempuan itu.


Kekuatan elemen air.


"Aku kagum denganmu. Tetapi aku tidak pernah menduga, kekuatan elemenmu adalah air," ujar Camoline ketika Silver berjalan menghampiri dirinya. Silver terkekeh pelan. Ia menatap Camoline dengan geli.


"Dari Ibuku. Elemen dia adalah air, dan aku mendapatkan berkah dengan bisa menerima kedua elemen berbeda yang dikuasai kedua orang tuaku," ujar Silver. Camoline mengangguk mengerti. Ia tidak bisa berbicara lagi karena Delwana sudah menatap dirinya dengan tajam saat ini.


"Semangat!" bisik Silver sebelum ia berjalan kembali ke tempat awal mereka. Bersama murid-murid lainnya yang sejak tadi menonton.


Camoline menghela napas panjang. Ia mengangkat kepalanya dan berjalan ke tempat Silver berdiri tadi. Tentu saja Camoline berusaha mengabaikan tatapan Delwana saat ini yang begitu tajam. Badan Camoline sudah berdiri tegap menghadap patung tanaman yang telah kembali berpindah posisi lagi. Tangan kanan Camoline bergerak pelan. Entah kenapa saat ini ia merasakan akan ada hal buruk. Namun sekuat tenaga dienyahkan oleh Camoline tentang pikiran buruk itu. Ia harus benar-benar fokus.


Menghela napas panjang, Camoline mulai mengeluarkan kekuatannya. Kali ini elemen tumbuhan yang ia keluarkan. Satu-satunya elemen yang setidaknya bisa ia kendalikan lebih baik dibanding elemen air atau angin yang belum pernah ia coba kendalikan.


"Seharusnya akan sangat mudah untukmu melakukan ini karena elemenmu sama persis dengan patung itu."


Delwana benar. Seharusnya ini akan sangat mudah bagi dirinya, karena elemen asli yang ia miliki adalah elemen tumbuhan. Hanya saja, apa yang Camoline harapkan tidak terjadi.


Brakk.


Camoline justru mengacaukan tesnya sendiri. Kekuatannya keluar terlalu besar, sehingga patung tanaman itu terbanting sebelum berhasil mendarat dengan aman. Dari bantingan itu pun juga membuat patung tersebut langsung hancur tidak berbentuk. Jangan ditanya bagaimana raut wajah Delwana. Guru itu terlihat sangat jengah melihat kegagalan lainnya di tesnya hari ini. Namun, raut wajahnya berubah ketika melihat tubuh Camoline yang ambruk. Juga lengan gadis itu yang mengeluarkan darah.


"Seseorang menyerangnya!" teriak salah satu murid. Delwana langsung mengalihkan pandangannya dan menemukan sebuah anak panah dengan panjang sekitar 10 cm yang tergeletak di atas rumput dengan ujungnya yang sudah berlumur darah segar. Panah itu terbuat dari perak, Delwana yakin itu.


"Bawa teman kalian segera ke klinik! Sisanya segera kembali ke asrama dan pastikan kejadian hari ini tidak sampai bocor ke murid lainnya," perintah Delwana. Ia masih berdiri di tempatnya sejak tadi. Memperhatikan bagaimana beberapa murid mendekati Camoline dengan raut wajah panik. Satu diantara mereka langsung memberikan pertolongan pertama pada gadis itu.


"Untuk panah ini. Harus kita apakan?" tanya seorang murid. Delwana menatapnya lalu beralih pada panah berlumur darah itu yang kini terbungkus selembar kain hitam.


"Akan aku bawa benda ini," ujar Delwana. Murid itu mengangguk. Ia membungkus panah itu dan mengikatnya dengan seutas tali pendek sebelum menyerahkannya kepada Delwana.


"Apakah ini sebuah teror?" Kepala Delwana menoleh pada salah satu murid yang baru saja berbicara kepada temannya itu. Raut wajah Delwana begitu rumit, tetapi ia tidak mengatakan apa pun. Ia hanya menepuk pelan saku dimana panah itu berada sebelum berjalan meninggalkan tempat itu setelah semua murid pergi.


"Mereka kembali berulah rupanya," gerutu Delwana dengan pelan.