The Wiz

The Wiz
Chapter 50 : Kunjungan



Para petinggi Istana itu akhirnya datang. Bisa dikatakan, kedatangan mereka beberapa hari lebih cepat dibanding yang diperkirakan oleh Zelden sebelumnya. Dan sudah memprediksi atau pun belum, kedatangan mereka tetap saja membuat gempar Akademi. Para murid yang tidak diberitahu apa pun tentang kedatangan mereka langsung saja berkumpul di setiap lorong hanya untuk mendapatkan informasi. Para guru pun sama terkejutnya. Mereka sama sekali tidak diberitahu jika petinggi Istana akan datang. Entah dari surat yang biasanya akan didapatkan oleh semua guru atau pemberitahuan dari Zelden kepada mereka. Semua yang ada di Akademi sontak saja menanyakan alasan dibalik datangnya para petinggi itu.


"Tuan Zelden, tunggu aku!" Azura berseru. Ia melangkah semakin cepat untuk menyusul Zelden di depannya. Dari raut wajahnya saja sudah terlihat jelas jika Azura memiliki banyak pertanyaan terkait kedatangan para petinggi itu.


"Ada apa, Nona Azura?" tanya Zelden dengan nada tenang. Pria itu tentu sudah tahu dengan maksud dari Azura, namun ia memang sengaja bertanya agar Azura mau tidak mau harus mengatakan pertanyaannya.


"Para petinggi Istana itu. Apa maksud dari kedatangan mereka?" tanya Azura setelah sebelumnya ia sempat ragu untuk menanyakan hal ini. Terlebih para petinggi itu akan memasuki gedung Akademi tidak lama lagi.


"Saya sendiri pun tidak mengetahuinya, Nona. Sama sekali," ujar Zelden. Ia tersenyum setelah mengatakan hal tersebut. Mendapatkan jawaban itu, Azura langsung terdiam. Seluruh kata di kepalanya seolah mendadak hilang.


Zelden membalikkan badannya. Ia kembali melangkah dengan raut wajahnya yang selalu tenang itu. Ia sesekali membalas sapaan hormat para murid yang ia lewati di setiap lorongnya. Zelden benar-benar mengabaikan keadaan Azura yang saat ini masih diam, mencerna apa yang baru saja ia dengar dari mulut Zelden.


"Selamat datang di Akademi Topaz, Yang Mulia," ujar Zelden. Ia membungkuk dengan sangat rendah di hadapan Asdus dan para petinggi lainnya. Asdus hanya melirik sebentar ke arahnya sebelum berdehem pelan. Tubuh Zelden kembali tegap. Ia menampilkan senyuman ramah. Mengabaikan bagaimana para petinggi Istana di belakang Asdus yang saat ini menatap Zelden penuh hinaan.


"Kedatangan Anda sangatlah mengejutkan kami semua, Yang Mulia. Jika diperkenankan, bolehkah Saya tahu maksud dari kunjungan saat ini?" Pertanyaan Zelden ini memunculkan raut tidak suka dari para petinggi. Mereka langsung mengerutkan dahi dengan dalam dan menatap Zelden dengan tajam.


"Beraninya sekali makhluk rendahan seperti kalian bertanya hal semacam itu kepada Yang Mulia!" ujar salah satu dari mereka dengan suara yang keras. Orang-orang yang berdiri tidak jauh dari pintu masuk langsung bisa mendengarnya. Suasana yang awalnya cukup ramai, secara tiba-tiba menjadi hening dan cukup mencekam.


"Aku hanya ingin memantau pembelajaran di sini," ujar Asdus. Ia sedikit memiringkan kepalanya, melirik ke arah salah satu petinggi yang baru saja berteriak itu. Tatapannya begitu tajam, dan aura yang mengerikan terasa cukup kuat di sana.


"Jangan pernah kamu berteriak di dekatku lagi, atau suaramu akan aku lenyapkan sepenuhnya," ujar Asdus dengan penuh peringatan. Orang yang ditegur itu pun langsung menunduk. Merasa takut dan juga malu. Egonya yang tinggi pun terluka karena keputusan Asdus untuk menegurnya di depan banyak orang. Namun apalah daya. Ia tidak akan mungkin bisa melawan Asdus.


"Maafkan saya, Yang Mulia," ujar orang itu.


Kepala Asdus kembali menghadap ke arah Zelden. Kepala Akademi itu terlihat tidak mempermasalahkan apa yang terjadi barusan. Ia terus saja memasang wajah tenang dengan senyuman ramah. Membuat Asdus sempat menyebut pria tua di depannya sebagai orang yang naif.


"Suatu kehormatan Anda datang untuk memantau, Yang Mulia. Mari, biarkan saja memandu Anda untuk melihat-lihat setiap kelas hari ini," ujar Zelden. Kepala Asdus mengangguk pelan. Tanpa sepatah kata apapun lagi yang keluar, Zelden segera berjalan mendahului Asdus. Ia berjalan dan sesekali mengatakan perkembangan di Akademi kepada Asdus. Entah itu dari pembangunan atau para muridnya. Asdus hanya menanggapi dengan kepala dianggukkan pelan. Sedangkan para petinggi Istana yang ada di belakangnya dibuat tidak bisa berkata apa-apa. Peringatan Asdus tadi sudah sangat cukup. Mereka tidak ingin kehilangan suara mereka karena sudah membuat Asdus kesal.


"Tentu saja," ujar Camoline sambil berbisik. Setelah berada cukup jauh, barulah langkah kaki Camoline melebar. Ia membawa Silver ke arah perpustakaan. Di dalam ruangan itu terdapat beberapa murid. Mereka sepertinya tidak begitu tertarik dengan kedatangan mendadak dari para petinggi Istana. Dari seragam yang digunakan, mereka berasal dari asrama yang sama, asrama merah.


Camoline langsung membawa Silver ke bagian paling belakang perpustakaan. Berdasarkan saran dari Zelden, ia diminta untuk bersembunyi di tempat yang sepi. Entah apa yang tengah direncanakan oleh Kepala Sekolah itu, namun Camoline merasa jika tidak ada salahnya untuk menurut.


"Kamu tahu apa yang menjadi tujuan mereka?" tanya Silver lagi setelah mereka sampai di tempat yang paling ujung itu. Camoline mengangguk dengan yakin.


"Kamu tahu jawabannya," ujar Camoline. Ia menghela napas perlahan. Kepalanya menoleh ke belakang, memperhatikan orang-orang yang ada di perpustakaan. Hanya sebentar, sebelum akhirnya Camoline mulai berpura-pura sibuk mencari buku di rak-rak yang ada di hadapannya.


Silver masih diam. Di dahinya terlihat kerutan yang cukup dalam. Kepalanya menoleh ke arah Camoline dengan wajah penuh tanya, sebelum akhirnya kedua mata gadis itu terbuka lebar.


"Mereka mengetahuinya?!" tanya Silver. Ia berbisik hingga suaranya hampir tidak terdengar. Camoline melirik sebentar, ia mengangguk cepat.


"Bagaimana mungkin?!"


"Itu yang menjadi pertanyaannya. Seingatku, tidak pernah ada yang menceritakan bagaimana cara mengetahui keberadaannya. Namun mereka, sudahlah. Aku juga tidak begitu mengerti," ujar Camoline.


Silver diam. Ini baru kali pertamanya melihat Camoline sangat panik, dan gadis itu tidak mencoba menutupinya. Kedua tangan Camoline bergetar cukup kuat. Namun, bukan karena hal itu yang membuat Camoline panik. Tetapi karena Asdus sempat melihat dirinya sebelum ia melarikan diri. Mereka sempat bertatapan walau hanya sekian detik. Padahal seharusnya, Camoline bisa biasa saja. Tetapi tadi, dirinya tanpa sadar mendadak panik. Terlebih ia bisa merasakan apabila suasana hati Asdus sedang sangat kacau.


"Kau harus sembunyi—"


"Terlalu mencolok jika aku menghilang," potong Camoline. Ia menghela napas. Asdus sudah menyadari keberadaannya, sehingga jika ia menghilang, maka pria itu akan dengan cepat menyadarinya. Camoline mengembuskan napas panjang. Ia menatap Silver dengan raut wajah yang rumit.


"Bantu aku untuk bertingkah biasa saja," ujar Camoline