
Sampailah keduanya di ruangan milik Zelden. Ruangan dengan penerangan yang cukup temaram, namun Camoline masih bisa melihat setiap sudut ruangan. Tidak ada yang berubah, tidak banyak. Hanya ada tumpukan buku yang terasa baru di mata Camoline, di pojok ruangan dekat meja kerja Zelden. Sepertinya itu merupakan tumpukan buku lama. Terlihat sudah sangat menguning dan Camoline bisa melihat jika ada bagian dari salah satu buku itu yang rusak.
Kepala Camoline terangkat, mendapati Zelden tengah menatap ke arah dirinya. Begitu keduanya bertatapan, Zelden menarik senyuman di wajahnya. Ia menggerakkan tangannya, menyuruh Camoline untuk duduk.
"Duduklah. Ini bukan pembicaraan yang singkat," ujar Zelden. Sehingga mau tidak mau, akhirnya Camoline menurut dan segera duduk di kursi yang berhadapan langsung dengan meja kerja Zelden. Dan Zelden sendiri segera duduk setelahnya.
"Sebelumnya, maaf mengganggu rencanamu, Nona muda. Tetapi, ini adalah pembicaraan yang sangat penting. Tentang batu itu," ujar Zelden. Tubuh Camoline langsung tersentak. Tanpa sadar, ia bahkan menegapkan punggungnya. Walau Camoline sudah menduga apabila Zelden mengetahui tentang keberadaan batu itu di tubuhnya sejak lama, tetapi ini adalah kali pertama ia harus membahas batu itu bersama Zelden.
"Apa yang ingin Anda bicarakan?" tanya Camoline. Ia benar-benar harus hati-hati. Sekali pun Zelden adalah Kakak dari Barcus, tetapi bukan berarti Camoline bisa mempercayainya begitu saja.
Zelden tersenyum. Menyadari jika murid di depannya itu tengah memasang waspada kepada dirinya.
"Bagaimana perkembanganmu dengan batu itu? Aku mendengar, baru dua warna yang kamu berhasil dapatkan," ujar Zelden. Ia berujar dengan sangat tenang membuat Camoline tidak bisa menduga apa pun. Mengorek informasi dari kepalanya, itu hal terburuk. Ia tidak ingin melakukan hal penuh resiko seperti itu.
"Begitulah. Bahkan levelku pun belum meningkat setelah sekian lama," ujar Camoline. Ia menghela napas perlahan dengan punggung yang mulai bersandar. Barcus rupanya bercerita cukup banyak pada pria tua di depannya itu.
"Aku mengerti. Mungkin, kamu membutuhkan latihan tambahan dari guru lainnya? Mungkin saja, itu mampu merangsang kekuatan lain untuk muncul..., atau meningkatkan level kekuatanmu," ujar Zelden. Camoline masih diam. Ia tidak langsung merespon, namun kerutan di dahinya seolah menunjukkan apabila kepalanya tengah memikirkan perkataan Zelden barusan.
Itu memang ide yang sangat bagus. Selain bisa merangsang kekuatannya agar semakin meningkat, Camoline juga akan mendapatkan pelatihan baru untuk memperkuat dirinya. Hanya saja...,
"Dengan begitu aku harus memberitahu perihal batu ini?" Zelden mengedipkan matanya beberapa kali sebelum menarik senyum. Kepalanya yang menggeleng membuat Camoline mengerutkan dahinya dalam.
"Tidak pun, itu bisa dilakukan jika kamu tidak ingin melakukannya. Kamu hanya perlu mendapat latihan dari para guru, sehingga kemampuanmu akan terasah. Semakin meningkat kemampuanmu, tingkatan sihirmu pun akan ikut meningkat," jelas Zelden.
Lagi, Camoline menghela napas panjang. Perkataan Zelden tentu saja benar. Kemampuannya harus terus diasah agar levelnya juga meningkat. Awalnya ia mengira, latihan gila yang diberikan Barcus akan cukup untuk membantunya mencapai level tinggi. Tetapi, rupanya itu tidaklah benar. Sudah lebih dari satu bulan, dan dirinya belum juga meraih level 42.
"Jika boleh memberikan saran, aku akan merekomendasikan Azura untuk gurumu selanjutnya. Dia memiliki keahlian membuat ramuan, namun juga seorang penyihir penyerang yang begitu handal. Kamu bisa belajar banyak halnya," lanjut Zelden. Camoline langsung mengingat yang Zelden maksud. Wanita itu, dia memang bukan guru yang menyebalkan jika saja kebiasaan mengusir murid tanpa sebab itu bisa dihilangkan. Sejauh ini, Azura juga selalu mengajar dengan sangat tenang walau para murid selalu saja mengacau di kelasnya.
"Akan aku pikirkan," ujar Camoline. Dan jawaban Camoline itu mengangguk puas. Setelahnya, keduanya kembali hening untuk beberapa saat. Saat ini, raut wajah Zelden menjadi rumit. Ia tengah menyusun kata yang akan ia tanyakan pada murid di depannya itu.
"Satu hal lagi. Apakah..., aku boleh tahu berapa umurmu, Nona?"
"Usiaku 16 tahun. Ada yang aneh?" Zelden menghela napas panjang dengan kepala menggeleng pelan.
"Tidak. Hanya saja..., apakah benar jika kamu adalah pasangan mate dari Tuan Agung Asdus?" Camoline terdiam. Barcus benar-benar sudah banyak bercerita sepertinya. Ingatkan dirinya untuk menghajar pria tua menyebalkan itu.
Camoline membuang muka. Ia memilih menatap ke arah rak dengan buku yang berjajar memenuhinya. "Di kehidupan pertamaku, dia memang mate ku," ujar Camoline pada akhirnya. Rasanya percuma jika akan mengelak pun, karena Zelden bukan orang yang bodoh.
"Aku mengerti. Rupanya benar," gumam Zelden. Kepala Zelden langsung menoleh ke arah pria itu ketika mendengar gumamannya. Hanya saja, Zelden terlihat tidak akan mengatakan apa pun tentang ucapannya itu. Lalu raut wajah Zelden berubah. Ia kembali tersenyum. Seolah apa yang sempat ia gumamkan tadi tidak pernah terjadi
"Bagaimana dengan Londer, nak?"
"Dia bukan mate-ku," ujar Camoline dengan tegas. Zelden langsung terkekeh mendengarnya. Camoline tentu saja kesal dengan pertanyaan seperti ini setiap saatnya. Karena kedekatan mereka yang terlalu intim, membuat banyak orang yang mengira jika mereka berdua adalah sepasang mate.
"Baiklah-baiklah. Tetapi, akan tidak mungkin bukan jika pasanganmu adalah Tuan Agung lagi?" Camoline terdiam. Perkataan Zelden memang benar. Sangat tidak mungkin terjadi. Seharusnya begitu.
"Tapi bisa saja, karena Asdus belum pernah meninggal," ucap Camoline. Ia menatap Zelden dengan lekat. Raut wajahnya sangat serius dengan binar emosi dan dendam di kedua matanya itu.
"Sudah berapa tahun berlalu?" tanya Zelden dengan nada penasaran.
"500 tahun. 500 tahun berlalu sejak peperangan mengerikan itu terjadi," ujar Camoline dengan suara pelan. Zelden masih bisa mendengarnya. Pernyataan Camoline ini tentu saja membuat dirinya sangat terkejut. Walau selama ini dirinya tahu jika Asdus memiliki posisi sebagai Tuan Agung, tetapi dirinya sama sekali belum pernah mengetahui berapa usia pria itu. Dan mendengar ini, membuat Zelden berharap jika perkataan Camoline hanyalah lelucon yamg diajarkan oleh adiknya, Barcus.
"Ini terdengar sangat mustahil. Tetapi, aroma itu..., aku masih mengingatnya. Aroma yang masih sama seperti 500 tahun yang lalu," lanjut Camoline.
Zelden menghela napas panjang. Tentang batu di tubuh muridnya ini saja sudah membuat dirinya kelimpungan. Sekarang, hal baru yang sangat mengejutkan, kembali menyerang dirinya. Entah hal gila apa lagi yang akan ia dapatkan di hari esok.
"Lalu, apakah ada kemungkinan Tuan Agung mengetahui keberadaan—"
"Jika dia masih mengingatnya, iya. Aku menelan batu ini tepat di hadapannya," potong Camoline. Zelden terdiam. Ia tidak protes walau Camoline sudah kurang ajar memotong perkataannya.
"Semengerikan apa kejadian saat itu," gumam Zelden lirih. Camoline tidak menjawabnya. Ia hanya diam, membiarkan Zelden berpikir seorang diri. Karena kejadian saat itu, adalah mimpi buruk bagi siapa pun. Terutama bagi klan putih. Mimpi buruk yang berawal dari pengkhianatan seseorang kepada para Dewa.