The Wiz

The Wiz
Chapter 13 : Petinggi Klan Putih



Camoline mengedipkan matanya beberapa kali. Ia mulai tersadar akan kesalahan yang sudah ia lakukan barusan. Berdecak pelan, Camoline berusaha keras agar tidak terlihat mencurigakan.


"Aku hanya bermain-main dengan ucapan tadi. Lagipula, kenapa harus satu elemen bila ingin meningkatkan kemampuan?" Pertanyaan Camoline berhasil mengalihkan perhatian ketiga gadis itu. Rashi menghela nafas panjang.


"Bukan satu elemen juga. Maksudku—"


"Aku akan menggunakan elemen tanaman. Setidaknya, aku bisa meningkatkan pertahanan disaat kau meningkatkan serangan," potong Camoline. Lily mengangguk dengan senyuman lebar. Ia sangat setuju dengan ucapan Camoline. Berbeda dengan Violetta yang terlihat masih berfikir.


"Meskipun itu ide yang bagus namun, kita belum pernah mendapat pelajaran dalam pertarungan seperti ini," ujar Violetta pada akhirnya. Camoline kembali duduk. Ia memasang wajah masam.


"Justru karena hal itu. Kita bisa belajar lebih baik setelah melakukannya. Kesalahan seperti apapun, akan menjadi ilmu yang berharga saat kita mendapat kelas bertarung," jelas Lily. Bila dilihat saat ini, gadis itu memang seperti paling dewasa. Meskipun Camoline selalu meragukan hal tersebut. Lily tidak lebih seperti anak kecil di matanya.


"Bagaimana, Rashi? Jika kau tidak mau, aku bisa meminta Lily atau Violetta untuk berlatih bersama. Setidaknya, kita akan mempunyai sesuatu untuk dilihat para petinggi Istana." Rashi menatap Camoline beberapa saat sebelum menghela nafas panjang. Ia mengerti maksud baik Camoline. Dan memang benar, semua murid ingin memperlihatkan hal baik kepada petinggi Istana agar nama baik akademi Topaz terjaga. Namun, dirinya masih benar-benar ragu.


"Kenapa kamu sangat yakin, kita harus menunjukkan kemampuan kita pada petinggi Istana? Bukankah, biasanya hanya murid-murid terpilih saja?" tanya Rashi setelah terdiam beberapa saat. Camoline masih bungkam ketika Rashi menatap ke arahnya. Ia tersenyum setelah beberapa saat berlalu dalam keheningan.


"Siapapun tidak akan ada yang tahu, jalan pikiran mereka. Sebelum mereka memberi kita kejutan, kita harus memberikan kejutan itu terlebih dahulu," jawab Camoline. Rashi mengangguk mengerti. Intinya, mereka harus sudah siap meskipun belum tentu akan menjadi kandidat orang yang ditonton langsung oleh para petinggi Istana.


"Baiklah, aku mengerti. Kalau begitu, kita akan berlatih di mana?" Camoline tersenyum untuk menanggapi pertanyaan Rashi. Ia menoleh ke arah Londer berada. Pria itu, sangat jelas menunggu jawaban dirinya. Rupanya, Londer juga mencuri dengar percakapan mereka selain terus berada di jarak yang dekat dengannya.


"Sekarang," ujar Camoline sedikit berbisik. Ketiga gadis itu mengerutkan dahinya. Sebentar lagi ada kelas yang harus mereka ikuti. Akan sangat tidak sopan bila mereka tidak mengikuti kelas saat masih menjadi murid baru. Apalagi, tujuannya untuk melakukan pertarungan tanpa bimbingan seorang guru.


Rashi menggeleng kuat. Walaupun ia setuju untuk berlatih bersama Camoline namun, tidak dengan membolos kelas. Ia tidak ingin melakukan hal itu. Terbayang di dalam kepalanya kemarahan keluarganya bila sampai mendapatkan laporan perilaku buruk yang ia lakukan di sini.


"Tidak, aku tidak akan pernah melakukannya. Kau berlatih saja seorang diri." Raut wajah Camoline langsung berubah ketika Rashi diikuti dua gadis lainnya beranjak dari kursi. Lily memandang dirinya iba sebelum mengucapkan kata maaf hanya dengan gerakan bibirnya. Camoline menghela nafas panjang setelah ketiga gadis itu meninggalkan dirinya. Ia terkekeh. Benar dugaannya selama ini. Klan dari ketiga gadis itu memang pengecut sejak dulu. Tidak pernah mau mengambil resiko.


Dan Camoline yakini, mereka sudah tunduk pada klan hitam saat ini. Meski sebelumnya, mereka begitu berpihak pada klannya. Menghela nafas pelan, Camoline menutup buku sejarahnya pelan.


Mungkin sekarang, ia harus mengikuti kelas dengan memikirkan waktu yang tepat untuk mulai berlatih. Serta, mencari tempat yang tepat agar tidak ada yang mengganggu dirinya. Ia tidak akan bergantung pada tiga gadis itu untuk berlatih. Melihat reaksi mereka barusan, membuat Camoline sangat yakin bila mereka bukan orang yang tepat.


"Menyebalkan," gumam Camoline. Berdiri dari kursinya, Camoline memeluk buku tebal itu sembari berjalan keluar dari perpustakaan. Jika diperhitungkan, dirinya akan terlambat beberapa menit jika sampai di kelas Sejarah hari ini. Selain karena waktu yang sudah menipis, jarak dari perpustakaan ke kelas Sejarah cukup jauh. Jika bisa melakukan teleportasi, itu adalah hal paling menguntungkan untuk saat ini.


Langkah kaki Camoline terhenti ketika dirinya baru saja berada tepat di depan pintu keluar perpustakaan. Matanya memandang Londer penuh kebingungan. Sedikit tidak percaya bila pria itu masih berada di sekitar perpustakaan. Mengingat, ia melihat dengan jelas pria itu segera berdiri setelah kepergian Rashi dan teman-temannya.


"Kau akan terlambat masuk ke kelas, Tuan muda," ujar Camoline. Ada satu hal baru yang sebenarnya sangat ia sesali. Bertemu dan terlihat dekat dengan pangeran dari klan Chromos membuat dirinya di pandang rendah oleh murid lain. Itu wajar juga. Karena tidak ada seorangpun yang mengetahui asal usul dirinya.


"Begitupun denganmu, Nona." Londer memasukkan kedua tangannya ke dalam saku. Sedikit membungkuk untuk menatap langsung iris mata Camoline. Di usianya yang masih terbilang cukup muda, Londer memang mudah menarik perhatian semua orang. Perawakannya yang tinggi dengan wajah rupawan, adalah hal yang membuat pria ini memiliki banyak pemuja. Walau Camoline mengakui ketampanan Londer, namun dirinya enggan menjadi salah satu pemuja Londer.


Pria itu semakin mendekatkan wajahnya pada wajah Camoline. Menggoda gadis di depannya yang semakin memasang wajah kesal. Kedua sudut bibir Londer semakin naik. Camoline terlihat jelas menahan rasa gugup. Ditiupnya wajah gadis itu sebelum dirinya kembali berdiri tegak dengan kekehan. Ia berhasil menggoda Camoline.


"Wajahmu memerah," ujar Londer tanpa rasa bersalah. Camoline berdecak keras. Ia ingin segera pergi dari sana namun, kedua kakinya terasa kaku untuk melangkah. Apa yang baru saja Londer lakukan, benar-benar berefek besar padanya. Dan itu, sangat menyebalkan.


"Pergilah. Aku tidak ingin melihat wajahmu," ujar Camoline dengan nada ketus. Londer menghentikan tawanya. Namun, ia tersenyum lebar dengan mata yang menatap Camoline dengan jahil.


"Kau yakin? Aku takut kau akan merindukanku," ujar Londer. Mengangkat kedua bahu dengan acuh, Camoline bergeser lalu melangkah untuk meninggalkan Londer. Namun, pria itu menarik lengannya, hingga ia kembali ke posisi semula.


"Apa kau bermaksud untuk mengajakku membolos?" Londer tidak menjawab. Ia hanya tersenyum. Senyuman yang menurut Camoline benar-benar mencurigakan.


Dalam satu tarikan saja, Camoline sudah berada sangat dekat dengan Londer. Tanpa bisa ia prediksi, bibir pria itu sudah mendarat tepat di bibir tipisnya. Melumatnya pelan, membuat tubuh Camoline mendadak menjadi kaku. Tidak ada yang Camoline lakukan. Ia merasa lumpuh.


Londer membuka kedua matanya perlahan. Ia menatap Camoline yang berada sangat dekat di hadapannya. Ia sendiri tidak menyangka, akan melakukan hal seberani ini pada seorang gadis yang jelas-jelas memandang dirinya sebagai rival. Namun, Londer bersumpah tidak akan pernah menyesal telah melakukan hal ini.


"Saya tidak menyangka, perilaku Anda di sini tidak bisa dikatakan sebagai cerminan seorang pelajar."


Seolah kesadarannya sudah kembali, Camoline segera mendorong Londer kuat agar menjauh dari dirinya. Londer sendiri menatap Camoline seolah tidak terima. Ia menoleh dengan raut kesal karena sudah diganggu. Namun, raut wajah itu tidak bertahan lama. Tepatnya setelah ia tahu, siapa yang mengganggu dirinya.


"A-ayah?"


Mata Camoline terbuka lebar. Ia tidak menyangka, akan bertemu dengan pemimpin klan Chromos secepat ini. Dan dalam keadaan yang begitu buruk.


"Rupanya, kau masih mengingatku, anak nakal. Ngomong-ngomong, apakah dia gadismu?" tanya Ardes. Londer menoleh ke arah yang ditunjuk Ardes, yakni Camoline. Sebelum menatap Ayahnya itu dengan tajam.


"Bukan urusanmu. Sekarang, apa yang kau lakukan di tempat ini? Bukankah, hanya para petinggi Istana yang akan datang ke akademi?" Ardes tertawa pelan. Jubah panjangnya itu bergerak seiring getaran yang tubuhnya hasilkan. Camoline sendiri tertegun ketika menyadari jubah yang digunakan Ardes. Ia tidak menyangka, bila jubah itu tidak dihilangkan.


"Jubah petinggi klan putih," ujar Camoline tanpa sadar. Londer menoleh ke arahnya dengan raut wajah terkejut. Berbeda dengan Ardes yang menampilkan raut wajah bangganya.


"Kali ini, aku biarkan dirimu bersamanya. Setidaknya, gadis itu lebih pintar dibanding anakku sendiri. Gadis manis, aku tidak menyangka kau akan langsung mengetahui jubah ini. Mengingat, hanya para petinggi Istana yang mengetahuinya. Apakah—"


"Tidak ada pertanyaan untuknya. Kami masih ada kelas." Londer menarik tangan Camoline cukup kuat. Ia sudah memiliki firasat buruk perihal pertanyaan yang akan ditanyakan Ayahnya itu. Karena ia sangat tahu, bagaimana liciknya Ayahnya itu.


"Jangan hiraukan dia," ujar Londer. Camoline masih diam. Ia sedikit tidak mengerti kenapa Londer terlihat marah. Namun, yang ia ketahui adalah hubungan Ayah dan anak ini benar-benar buruk.