The Wiz

The Wiz
Chapter 51 : Dilema



Hari sudah larut. Malam ini, Camoline kabur dari jadwal makan malamnya. Entahlah, ia merasa sedang tidak baik-baik saja. Semua berawal karena kedatangan para petinggi Istana itu 2 hari yang lalu. Hingga saat ini, topik tersebut tetap saja menjadi perbincangan hangat diantara para murid. Bahkan Camoline pun mendengar beberapa guru masih membicarakan hal ini. Tentu saja karena Zelden tidak memberitahu kedatangan para petinggi Istana terlebih dahulu.


Saat kedatangan orang-orang itu, bisa dikatakan Camoline cukup selamat. Tidak ada yang mencurigai dirinya, dan para petinggi sepertinya tidak diberikan kesempatan untuk mencari secara sungguh-sungguh dimana keberadaan batu Opal itu. Camoline sempat mendengar dari Barcus, jika para petinggi Istana memasang wajah kesal dan kecewa ketika meninggalkan Akademi. Tujuan sebenarnya kedatangan mereka ke sini tidak bisa tercapai. Tetapi, Camoline masih ragu apakah Asdus tahu rencana para petinggi itu atau tidak.


Walau ini terdengar sangat naif, Camoline memiliki harapan jika Asdus tidak lagi terlibat untuk hal ini.


Camoline mengembuskan napas. Saat ini dirinya berada di belakang bangunan Akademi. Tempat dimana terdapat padang rumput yang cukup luas, serta sebuah danau dengan pemandangan hutan lebat di sebrangnya. Ini adalah salah satu tempat untuk berlatih, dan terkadang juga digunakan dalam salah satu kelas. Hanya saja, murid-murid yang sering ke tempat ini adalah pengendali elemen air dan es saja. Mereka memanfaatkan air danau yang sangat tenang untuk melatih kemampuan mereka.


Perlahan, tangan Camoline bergerak. Bersamaan dengan itu, air di danau pun mulai ikut bergerak ke atas. Mengikuti setiap gerak jemari Camoline walau tidak berlangsung lama. Camoline belum terlalu menguasai elemen airnya. Ia sudah mendapatkan tawaran untuk berlatih lebih lagi, tetapi Camoline masih takut. Ia sangat takut apabila tubuhnya benar-benar akan kehilangan semua elemen sihir.


Walau Camoline juga sangat ingin menghancurkan batu Opal di dalam tubuhnya itu.


Kembali mengembuskan napas panjang, Camoline kembali menggerakkan jemari di tangan kanannya. Ia berusaha untuk berkonsentrasi penuh agar air di danau itu dapat bergerak mengikuti jemarinya dan bertahan lama. Tetapi sekali lagi, air yang ia kendalikan hanya mampu bertahan sebentar saja. Hal ini dikarenakan Camoline belum bisa mengendalikan kekuatan yang keluar dari dalam tubuhnya. Ia belum bisa berkonsentrasi dengan penuh, dan justru hampir membuat sebuah ledakan air di sini. Karena membuat ledakan jauh lebih mudah dibandingkan mengendalikan kekuatan dengan tenang dan teratur.


Camoline menurunkan tangannya setelah gagal lagi mempertahankan bola air di udara. Pandangan Camoline bergerak, menatap langit malam yang saat ini begitu cerah dan indah oleh cahaya bintang yang bersinar. Camoline sangat jarang memperhatikan langit. Dan saat ini, ia terpukau oleh keindahannya. Camoline menghela napas perlahan. Ia tidak bisa bersantai begitu saja. Malam ini setidaknya ia harus bisa mempertahankan bola air dalam waktu yang cukup lama.


Lagi, tangan Camoline mulai terangkat. Saat itu juga, air dari danau mulai terangkat perlahan. Jemarinya mulai bergerak, mengangkat air dari danau agar membuat bola air. Namun untuk kali ini, air itu sudah kembali jatuh ke danau bahkan sebelum ia berhasil membuat bulatan bola. Tubuhnya mulai kelelahan karena terlalu memaksakan diri.


"Kamu terlalu menekan paksa kekuatanmu."


Camoline tersentak kaget. Ia langsung menoleh ke belakang dengan wajah waspadanya. Tidak jauh dari posisinya, terlihat Asdus yang mulai berjalan mendekat ke arah dirinya. Seharusnya Camoline berdiri dan memasang sikap waspada. Tetapi tubuhnya yang telah lelah membuat niatnya itu terpaksa harus diurungkan.


Asdus telah sampai di samping Camoline. Tanpa ragu, ia mengambil duduk tepat di sebelah gadis itu. Wajahnya memandang Camoline yang sudah kembali menatap ke arah danau.


"Kau ingin mencobanya lagi?" tawar Asdus. Camoline melirik sebentar ke arah pria itu sebelum menggeleng pelan.


"Karena kamu terlalu berfokus pada hasil yang kamu inginkan," ujar Asdus. Tangannya sudah tidak lagi berada di atas kepala Camoline. Ia sudah mengambil tangan kanan Camoline. Mengangkatnya dengan mudah.


"Tenangkan dirimu dan alirkan kekuatan sihir itu secara perlahan ke seluruh jari. Jangan terburu-buru, atau ledakan sihir bisa terjadi. Setelahnya, kamu bisa memulai menaikkan air ke udara dan mempertahankannya sedikit demi sedikit." Camoline memperhatikan dengan seksama. Ia pun dengan nekat mencoba melakukan saran dari Asdus ini. Walau dirinya sendiri tidak tahu kenapa Asdus mau mengajari dirinya sekarang.


Camoline kembali menggerakan air danau. Kali ini sesuai arahan dari Asdus. Secara perlahan dan hati-hati. Arahan dari Asdus sangat berhasil. Ia mampu mengendalikan air dengan lebih baik. Bahkan airnya pun mampu bertahan di udara lebih lama dibandingkan sebelumnya. Bukan hanya itu, tetapi Camoline juga dapat merasakan jika air yang ia kendalikan menjadi stabil juga. Tidak seperti sebelumnya.


"Sekarang berhenti. Tubuhmu sudah membutuhkan istirahat dan ini sudah sangat larut," ujar Asdus. Camoline langsung menurut. Sebenarnya, ia lebih terkejut karena Asdus secara tiba-tiba kembali berbicara ketika suasana telah menjadi hening. Karenanya, air yang ada di udara itu langsung kembali ke danau dengan cepat tanpa sempat Camoline tahan.


"Kau akan segera menguasainya dengan cepat," ujar Asdus. Ia tersenyum menatap Camoline yang memandang tidak rela pada riak air di depannya. Sepertinya gadis itu masih sangat ingin melatih kekuatannya.


"Ngomong-ngomong, kenapa kamu memberitahuku hal tadi? Elemenmu bukanlah air," tanya Camoline. Kepalanya menoleh, menatap langsung ke arah Asdus. Bahkan walau 500 tahun sudah berlalu, Asdus tidak juga berubah. Wajahnya masih sangat rupawan seperti dahulu.


"Tidak kusangka kamu mengetahui jika elemenku bukanlah air." Camoline langsung membuang muka. Ia keceplosan. Seharusnya ia tidak langsung berkata demikian.


"Tetapi, alasanku adalah karena ingin kamu mampu mengendalikan elemenmu. Menjadi kuat memang tujuan semua orang, tetapi hal yang harus diperhatikan setiap penyihir adalah pengendalian," ujar Asdus. Ia menghela napas panjang. Perlahan ia berdiri dari duduknya.


"Ini sudah cukup larut bagimu berada di luar Akademi, bukan?" Kepala Camoline bergerak, menatap bangunan Akademi yang ada di belakangnya. Ia lalu ikut berdiri.


"Tujuanmu hanya itu?" Asdus menaikkan sebelah alisnyan, lalu ia terkekeh pelan. Lagi, tangannya terangkat dan mengusap kepala Camoline dengan lembut.


"Kau adalah pasanganku, mateku. Siap atau tidak, kamu akan terlibat dalam situasi yang rumit dan berbahaya. Karena itu, kamu harus mampu mengendalikan sihirmu dan menjadi lebih kuat," ujar Asdus. Kepala Camoline menunduk. Perkataan Asdus mengingatkannya pada kejadian 500 tahun yang lalu.


"Aku telah melakukan kesalahan dahulu, dan aku tidak ingin mengulanginya lagi. Jadi, aku akan memastikan jika tidak ada orang lain yang akan melukai dirimu." Kepala Camoline langsung terangkat dan memandang Asdus dengan raut tidak percayanya.