
Tidak ada satu pun yang mengetahui hal ini.
Dan ia yakin, tidak ada satu pun yang akan mencurigai tentang hal ini.
Azura. Ia sudah menyimpan semuanya dengan rapat seorang diri. Hanya dirinya saja yang mengetahui hal ini. Selama bertahun-tahun berada di Akademi Topaz, mengajar para murid sebagai guru peracik ramuan yang handal. Seharusnya orang-orang hanya akan menganggap dirinya sebatas itu saja. Tentang keluarga atau orang-orang di luar Akademi yang berhubungan dengan dirinya, seharusnya tidak akan ada yang tahu semenjak ia tidak pernah membiarkan siapa pun membicarakannya. Ia pandai dalam berbicara. Membuat orang-orang di sekitarnya cukup mudah ia kendalikan.
Ia hanya mengendalikan, hanya batas untuk menjaga privasinya.
Selama bertahun-tahun, ia berhasil mengendalikannya. Bersikap biasa saja. Bertingkah layaknya guru-guru lain di Akademi Topaz. Yang memiliki macam-macam kepribadian dan kesibukan. Selama ini, ia sudah sangat baik mengendalikan orang-orang di sekitarnya agar tidak mempertanyakan lebih jauh tentang latar belakangnya. Bahkan, Azura pun mengurangi interaksi dirinya bersama Zelden. Ia memastikan jika hanya sedikit saja percakapan yang harus ia lakukan bersama pria itu.
Terlebih setelah rumor yang ia dengar di tahun-tahun awal ia mengajar di sini. Hal itu membuat Azura langsung melangkah mundur dan menjauh sebisa mungkin untuk menghindari Zelden. Rumor itu mengatakan jika Zelden mengetahui segala hal yang ada di Akademi ini. Semua rahasia orang-orang yang ada di Akademi, dapat ia ketahui berkat keberkahan yang Dewa berikan kepadanya karena posisinya sebagai Kepala Akademi di sini. Selain dari rumor itu, setelah Azura mengetahui bagaimana sosok Zelden membuatnya sangat yakin jika keputusannya selama ini adalah benar. Baginya, Zelden yang terlalu tenang jauh lebih membahayakan. Tatapan tenang dan ucapan yang selalu terdengar ramah itu membuat Azura gelisah tanpa sadar.
Zelden sangat berbahaya, sehingga Azura selalu berhati-hati setiap melakukan segala hal.
Dan setelah bertahun-tahun lamanya, Azura benar-benar bisa menghela napas lega. Selama ia berada di Akademi, tidak pernah ada pun tanda-tanda apabila salah satu dari para guru yang mencurigai dirinya. Sekali pun saat para petinggi Istana datang untuk berkunjung, tidak ada satu pun yang menaruh kecurigaan kepada dirinya. Termasuk Zelden, yang sejak lama selalu ia waspadai. Berkat itu, Azura bisa menjalani hari-harinya sebagai pengajar di Akademi Topaz dengan tenang. Bersikap biasa saja.
Setidaknya, kehidupan dirinya di luar dan di dalam Akademi tidak menimbulkan kecurigaan dari orang-orang.
Itu berlangsung cukup lama, hingga akhirnya upacara penerimaan murid baru belum lama ini, membuat Azura merasakan gelisah lagi. Setelah sekian lama, perasaan itu kembali muncul. Azura berusaha mencaritahu penyebabnya. Memastikan tidak ada satu pun murid yang tahu jati dirinya di luar Akademi dari kalangan murid baru. Tetapi, tidak ada satu pun murid yang bisa ia curigai. Hanya saja, ada satu murid yang membuat Azura bisa menahan napas tanpa sadar apabila sedang berada di sekitarnya.
Dia Camoline. Jika tidak salah mengingat, nama siswi itu adalah Camoline. Siswi dari level yang cukup rendah untuk menjadi murid baru di Akademi Topaz. Dari luar, Camoline terlihat seperti murid lainnya. Yang biasa dan cukup terpaksa masuk ke Akademi ini. Hanya saja, aura gadis itu membuat Azura gelisah. Tatapan mata gadis itu seolah tengah mengorek semua informasi di kepala orang yang tengah ditatapnya. Tatapannya yang tajam seperti tidak akan melewatkan satu pun kejadian kecil di sekitarnya. Walau setahu Azura, gadis itu tidak secerewet siswi lainnya.
Namun untuk ini, Azura bisa melenyapkan rasa gelisahnya itu dengan cukup cepat. Gerak-gerik Camoline tidak ada yang mencurigakan. Gadis yang ia curigai itu hanya fokus pada latihan dan latihan. Azura bahkan bisa menghitung dengan semua jari tangannya, berapa kali dirinya bertemu dengan Camoline. Hal itu membuat Azura lega karena Camoline sendiri yang menjauh dari dirinya.
Akan tetapi, semua kelegaan itu tidak juga bertahan lebih lama lagi. Atau setidaknya tidak menunggu hingga dirinya meninggalkan Akademi Topaz. Kegelisahaan itu muncul, dan bahkan telah menjadi rasa takut untuk dirinya. Hanya dalam hitungan jam saja, semua orang telah mengubah pandangan kepada dirinya. Sepanjang lorong yang ia lewati, Azura dapat dengan jelas merasakan bagaimana orang-orang memperhatikan dirinya. Menjadikan dirinya pusat pandangan dan perbincangan. Membuat Azura tidak nyaman. Ia bahkan tidak sanggup hanya untuk mengangkat kepalanya saat ini.
Langkah kakinya itu membawa Azura pada ruangan Zelden. Alasan kenapa Azura harus memaksakan diri keluar dari ruangan pribadinya. Menekan rasa takut dan gelisah hanya demi mendatangi Kepala Akademi itu. Azura sangat yakin apabila Zelden akan membicarakan tentang kabar yang banyak diperbincangkan hari ini.
"Terima kasih sudah mau datang, Nona Azura."
Zelden menyambutnya. Tidak ada pandangan penasaran atau pandangan penuh sindiran di kedua mata pria tua itu. Ia tersenyum hangat ke arah Azura yang hanya membalas dengan senyuman yang sangat tipis. Tangan Zelden bergerak, mengisyaratkan agar Azura segera duduk di kursi yang tersedia. Tepat berhadap-hadapan dengan Zelden walau terpisah oleh sebuah meja kayu dengan tumpukan buku di atasnya. Saat akan duduk, Azura mendapati sosok Barcus di ruangan itu. Tubuhnya membeku untuk beberapa saat. Azura sangat terkejut dengan kehadiran adik dari Zelden itu. Tetapi, Barcus justru memasang wajah tidak peduli. Membuat Azura merasa sedikit rela dengan keberadaan pria itu.
Walau kenyataannya, Azura sedang tidak berada di posisi untuk bisa berkomentar tentang keadaan Barcus.
"Sebelumnya, sangat disayangkan Anda tidak jujur kepada Saya tentang hal ini sejak awal," ujar Zelden. Ia berkata dengan tenang, seperti biasanya. Hanya saja untuk saat ini, itu terasa mengintimidasi di kedua telinga Azura. Kepalanya menunduk semakin dalam. Ada rasa takut yang muncul saat ini begitu berhadapan dengan Zelden.
"Maafkan Saya," ujar Azura dengan suaranya yang pelan. Zelden mengembuskan napas pelan. Ia menatap Azura beberapa saat, lalu melirik ke arah Barcus. Sayangnya pria itu tengah sibuk memejamkan kedua matanya itu.
"Baiklah. Ini sudah terjadi, namun Saya harap tidak terulang kembali. Karena kejujuran sangat dijunjung di Akademi Topaz. Terutama untuk para guru," ujar Zelden lagi. Azura hanya bisa mengangguk pelan. Ia belum berani untuk mengangkat kepalanya. Padahal selama ini, Azura adalah salah satu guru dengan tingkat kepercayaan diri yang tinggi.
"Dan satu lagi." Zelden membuka laci meja di sebelah kiri. Ia mengambil sebuah barang lalu menyerahkannya kepada Azura. Dengan ragu, Azura mengangkat kepalanya. Ia menatap bingung pada secarik surat yang Zelden ulurkan kepada dirinya.
"Pihak Istana meminta Anda untuk kembali. Untuk selanjutnya, tugas Anda di Akademi Topaz akan dihentikan sementara sesuai dengan perintah dari Yang Mulia," ujar Zelden. Ini bagaikan mimpi terburuk bagi Azura. Berhenti mengajar di sini dan menghabiskan waktu di sisa hidupnya di Istana adalah hal terburuk yang pernah ia bayangkan. Dengan kedua tangan bergetar, Azura menerima surat itu. Ia perlahan berdiri dan menatap surat di tangannya dengan raut wajah yang rumit.
"Terima kasih," ujar Azura dengan suara pelan. Ia langsung saja keluar dari ruangan Zelden dengan langkah cepat. Dadanya sudah terlalu sesak saat ini.
Jika saja dirinya memang seorang Putri, itu akan sedikit lebih baik. Namun kenyataannya, ia hanyalah seorang selir yang diperbudak oleh Asdus. Posisinya tidak pernah menguntungkan. Terlebih saat ini, Asdus telah menemukan pasangan mate nya kembali. Mungkin sebentar lagi adalah akhir dari perjalanan hidupnya.