The Wiz

The Wiz
Chapter 58 : Bergerak tanpa Berpikir



"Jadi, apa yang kamu rencanakan?"


Kepala Camoline menoleh ke arah Silver. Raut wajahnya datar, namun Silver tahu jika teman sekamarnya itu tengah berpikir untuk menjawab pertanyaannya. Menjadi teman sekamar Camoline dalam waktu yang lama membuat Silver mulai mengetahui kebiasaan-kebiasaan Camoline, sekali pun Silver tidak menggunakan kekuatannya untuk mengetahui semua itu kepada Camoline. Tentu saja alasannya adalah karena Camoline akan mudah menyadari jika ia tengah membaca pikirannya. Juga, butuh energi lebih untuk Silver melakukannya pada Camoline dibanding kepada orang lain.


"Aku tidak tahu," ujar Camoline setelah menatap Silver dalam diamnya beberapa saat. Itu sangat membuang waktu hanya untuk mendengarkan jawaban semacam itu. Silver mendengus pelan. Rasanya seperti bukan Camoline sekali. Tetapi, ia tidak bisa mengatakan apa pun, karena dirinya sendiri tidak mengenal seperti apa Camoline yang sebenarnya.


"Padahal ini bukan kehidupan pertama untukmu, bukan?" Camoline mengembuskan napas perlahan, kepalanya mengangguk pelan.


"Aku bodoh, bukan?" Silver langsung menoleh ke arah Camoline sebelum akhirnya tertawa. Ia bahkan tidak segan menepuk bahu Camoline dengan cukup keras. Diperlakukan seperti itu tentu saja membuat Camoline kesal. Ia menatap sinis ke arah Silver yang sayangnya masih sibuk tertawa. Tepukan pada bahunya justru terasa seperti pelukan. Sangat keras dan menyakitkan. Camoline menghela napas.


"Sangat menggelikan kamu berkata seperti itu," ujar Silver setelah tawanya reda. Camoline sendiri tidak mengatakan apa pun. Ia terus diam dan membiarkan Silver selesai dengan tawanya itu.


"Tetapi, sungguh? Walau kamu harus menyembunyikannya, tetapi bukan tidak mungkin jika mereka akan menyadarinya, kan?" Camoline kembali mengangguk, membenarkan. Silver memang benar. Dan memang para petinggi Istana itu sudah menyadarinya walau belum tahu jika batu Opal itu berada di dalam tubuhnya.


"Kau harus melatihnya. Menguasai kekuatan di batu itu. Karena kau akan membutuhkannya dan akan lebih bagus jika kamu bisa mengendalikannya," ujar Silver. Camoline kembali menoleh ke arah Silver. Hanya sebentar sebelum ia kembali menatap ke depan. Kepalanya begitu penuh saat ini. Hal-hal yang ia dapatkan dari buku-buku yang ia baca belum lama ini, serta kenyataan jika elemen sihir di batu Opal berhasil membuat kepalanya terasa akan meledak.


"Yang aku dengar, elemen di batu itu banyak, bukan?"


"Bantu aku untuk melatih kekuatannya," ujar Camoline. Ia tidak menjawab perkataan Silver sama sekali. Hal itu mengejutkan Silver. Ia menatap Camoline dengan raut wajah terkejut dan matanya berkedip beberapa kali. Sebelum kekehan terdengar dari mulutnya.


"Aku bukan seorang master. Kamu tahu itu, Camoline." Kepala Camoline justru menggeleng.


"Kamu memiliki lebih dari satu elemen. Bantu aku mengendalikannya," ujar Camoline. Raut wajahnya sangat serius. Hal itu membuat Silver kembali menutup rapat bibirnya. Ia menoleh ke arah lain dan raut wajahnya begitu serius. Helaan napas panjang terdengar dari mulutnya.


"Ya, itu benar. Tetapi tetap saja itu berbeda. Kedua elemenku yang cukup bertentangan itu, kau tahu tipe elemen cahaya tidak bisa digunakan untuk menyerang sama sekali," ujar Silver. Ia menggigit pipi bagian dalamnya. Ia menoleh ke arah Camoline. Raut wajah gadis itu masih datar seperti sebelumnya.


"Ngomong-ngomong, lusa aku akan pindah asrama." Silver menoleh dengan sangat cepat. Raut wajahnya begitu terkejut mendengar hal itu. Itu sangat mendadak menurutnya. Camoline tidak pernah menyinggung hal ini sebelumnya. Dan dirinya pun tidak mendengar jika akan ada perpindahan asrama lagi di Akademi ini dari mulut para guru-guru itu. Silver memandang Camoline lekat, meminta gadis itu untuk segera menjelaskan maksud dari perkataannya yang begitu mendadak itu.


"Levelku sudah berada di tingkat Sage. Sehingga lusa adalah kepindahanku ke asrama merah. Itu yang Zelden katakan kepadaku," ujar Camoline lagi. Kepalanya menoleh dan mendapati Silver tengah menundukkan kepalanya. Kepalanya yang menunduk itu membuat rambut panjang Silver menutupi wajahnya dari pandangan Camoline. Sehingga Camoline tidak dapat melihat bagaimana ekspresi teman sekamarnya itu.


"Kau tidak memberitahuku," ujar Silver pelan. Camoline menghela napas pelan.


"Aku diperintahkan untuk tidak mengatakan hal ini sampai tes bulanan berakhir." Kepala Silver kembali terangkat. Kini Camoline bisa melihat jika kedua mata Silver sembab.


"Levelmu sudah meningkat saat tes bulanan berlangsung?" Camoline hanya mengangguk sebagai jawaban. Hal itu membuat Silver kembali diam. Ia membuang muka. Seolah enggan menatap Camoline.


"Lawan aku. Aku ingin bertarung denganmu hari ini, Camoline," ujar Silver. Raut wajahnya sangat serius. Namun, Camoline tidak tahu apa yang sebenarnya direncanakan oleh Silver sehingga meminta untuk dirinya bertarung secara tiba-tiba.


Silver berdiri tanpa menunggu jawaban dari Camoline. Ia berjalan sedikit menjauh dari tepi danau. Dari posisi berdirinya, ia bersiap untuk melawan Camoline. Dan raut wajahnya yang serius itu tidak juga luntur. Melihat itu, Camoline menghela napas panjang. Sepertinya Silver benar-benar kesal. Namun, ia hanya menuruti perintah Zelden karena pria itu akan langsung tahu apabila ia diam-diam memberitahu Silver tentang hal ini sebelum waktu yang ditentukan. Camoline lantas berdiri dan berjalan ke arah yang sama dengan posisi Silver berada. Hanya saja, ia mengambil jarak sekitar 1 meter dari posisi Silver. Ia akan menerima ajakan bertarung itu. Lagipula, tidak salahnya mengetes kemampuan sihirnya dan mencoba mencaritahu seberapa kuat teman sekamarnya itu.


"Gunakan elemen yang berbeda dengan milikku," ujar Silver dengan nada tegas. Hal itu membuat Camoline mengerutkan dahinya. Bahkan ia baru saja bisa mengendalikan elemen air belum lama ini. Ia hendak protes, namun Silver kembali membuatnya diam.


"Level kita sangat tidak seimbang. Jadi dengan cara itu maka pertarungan ini baru bisa dianggap seimbang," ujar Silver. Camoline mengangguk mengerti. Ia memejamkan matanya sebentar. Elemen lain yang pernah ia keluarkan secara tidak sengaja sepertinya api dan angin. Jika angin, itu tidak akan berpengaruh banyak karena elemen anginnya hanya akan membekukan elemen air milik Silver. Sehingga pilihannya jatuh pada elemen api.


"Bersiaplah," ujar Silver. Ia mengangkat tangan kirinya. Dengan sangat cepat, segumpal air yang cukup besar langsung melesat ke arah Camoline yang masih bersiap. Camoline dibuat terkejut dengan hal itu. Ia langsung saja menepis air itu dengan elemen api yang dikeluarkannya dengan terburu-buru. Kepala Camoline langsung menatap ke arah Silver. Gadis itu benar-benar serius ingin mengalahkan dirinya. Sehingga Camoline tidak bisa bersikap terlalu baik dalam pertarungan ini sekalipun Silver adalah teman sekamarnya.


Kali ini, giliran Camoline. Ia langsung menyerang Silver dengan elemen apinya walau cukup kalah cepat karena Silver sudah menyerangnya lagi. Keduanya terus saling menyerang satu sama lain. Bahkan, kini Camoline menambahkan elemen angin sehingga api yang dikeluarkannya semakin besar walau itu juga berakibat pada energinya yang habis lebih cepat dibanding yang seharusnya.