The Wiz

The Wiz
EPILOG



Matcha?


Aroma itu bahkan tidak juga hilang dari hidung Camoline sekali pun sudah beberapa hari berlalu. Camoline menghela napas panjang. Hilang sudah niatnya untuk melatih kekuatan dari elemen tanamannya itu. Pikirannya sedang tidak bisa bekerja sama, dan itu cukup menyebalkan karena Camoline akan terus menerus melakukan kesalahan. Beruntung saja, ia tidak merusak satu pun kebun apel milik Bibi Joarn. Jika ada satu pohon yang rusak, maka Bibi Joarn akan dengan senang hati memberikan cermah kepada dirinya. Dan dilanjut dirinya mendapatkan ceramah dari Ayah dan Ibunya.


Oh ayolah. Bahkan Ayahnya yang begitu sibuk dengan semua tumpukkan buku pun akan mendadak menjadi cerewet jika ia membuat Bibi Joarn kesal.


Camoline mengembungkan kedua pipinya. Ia menjadi sangat kesal saat ini.


Wush.


Kepala Camoline langsung terangkat. Kedua matanya terbuka lebar ketika menemukan sebuah anak panah yang menancap di batang pohon. Hanya berjarak sejengkal saja dari kepalanya. Camoline tentu saja terkejut dan bahkan panik. Nyawanya hampir hilang jika saja anak panah itu menancap sedikit lagi ke bawah. Dengan penuh kewaspadaan, Camoline menoleh ke sekitar. Ia sangat berharap jika ini bukan serangan dari para bandit yang menyasar ke kebun apel ini. Sungguh, kekuatannya masih sangat lemah untuk melawan satu bandit. Camoline tidak akan mampu melakukannya.


Dengan perasaan takut, Camoline mulai berdiri. Ia menyentuh anak panah di belakangnya dan mencoba mencabutnya. Begitu berhasil, ia menggunakan anak panah itu sebagai senjata.


"Ah, syukurlah itu tidak mengenai dirimu."


Tubuh Camoline bergerak dengan cepat untuk menghadap ke samping kiri. 50 sentimeter dari posisinya berdiri, seorang pria dengan pakaian bangsawan menatap dirinya dengan senyuman hangat. Namun, busur di tangan kiri serta beberapa anak panah di punggungnya membuat Camoline menatap pria di depannya penuh kengerian.


"Kau mencoba membunuhku?!" Tunjuk Camoline dengan nada suara yang meninggi. Pria di depannya itu menaikkan sebelah alisnya. Ia tidak tersinggung sama sekali dengan perilaku Camoline yang sebenarnya tidak sopan itu. Justru, ia terkekeh melihat reaksi yang Camoline berikan. Di matanya, Camoline terlihat sangat menggemaskan.


"Turunkan tanganmu itu anak nakal!" Camoline langsung menurunkan tangannya begitu Bibi Joarn datang menghampiri mereka. Ia datang dengan sebuah keranjang di tangannya yang sudah penuh dengan apel-apel berwarna merah. Pria di depan Camoline langsung membungkuk hormat, sedangkan Camoline hanya diam dan menahan diri untuk tidak mengeluarkan protesnya kepada Bibi Joarn.


"Ayolah, Bibi. Dia hampir membunuhku dengan anak panah ini," ujar Camoline. Ia menunjukkan sebuah anak panah di tangannya. Wajahnya merajuk karena sang Bibi hanya menatap Camoline tanpa minat.


"Itu karena kau bodoh." Dan Bibi Joarn hanya mengatakan hal itu membuat Camoline semakin kesal saja.


"Nah, Pangeran. Ini apel-apelnya. Maafkan tingkah tidak terpuji dari keponakanku itu, ya?" Pemuda itu mengangguk pelan. Ia kembali terkekeh ketika melihat bagaimana Camoline memasang wajah kesalnya karena Bibi Joarn justru bersikap sangat ramah kepada pemuda asing itu. Sedangkan kepada dirinya begitu sinis. Padahal dirinya keponakan dari wanita berusia 50 tahun itu.


"Terima kasih banyak, Nyonya. Dan juga, aku tidak mempermasalahkan tingkah Camoline sama sekali," ujar pemuda itu. Ucapannya itu membuat Camoline mengerutkan dahinya. Merasa heran karena pemuda di depannya itu mengetahui namanya. Padahal Camoline merasa mereka belum pernah berkenalan.


"Tentu saja. Kau adalah mate ku. Kenapa aku tidak mengenalmu?" Baik Bibi Joarn atau pun Camoline langsung memasang wajah terkejut. Camoline yang tidak menyangka apabila dirinya akan bertemu dengan pasangan mate nya lebih cepat daripada yang ia perkirakan. Sedangkan Bibi Joarn sama sekali tidak menyangka jika keponakannya yang nakal itu memiliki mate seorang Pangeran.


Pemuda itu tersenyum. Ia berjalan mendekat ke arah Camoline yang masih diam membeku karena terkejut. Tangan pemuda itu dengan berani mengusap kepala Camoline sehingga membuat gadis itu tersentak kaget.


"Namaku Londer Chromos, dan aku adalah mate mu, Camoline," ujar pemuda itu sedikit berbisik. Kedua mata Camoline mengerjap beberapa kali. Ia menatap Londer lekat. Tatapan yang Londer berikan dengan iris mata yang sangat gelap itu terasa sangat tidak asing. Seolah Camoline pernah menatap iris itu lama sebelumnya.


"Londer?" Londer mengangguk dengan senyuman manis di wajahnya. Kepala Londer menoleh ke arah Bibi Joarn.


"Izinkan aku mengantarnya pulang. Aku juga ingin mengenal kedua orang tua dari pasanganku ini." Bibi Joarn berdehem pelan. Bahkan tanpa meminta izin pun, Londer bisa saja langsung melakukannya. Bibir Joarn langsung mengangguk, mengizinkan.


"Bawalah. Agar pasanganmu itu tidak berkeliaran dan membuat keributan lainnya." Londer mengangguk mengerti. Ia menarik tangan Camoline lembut ketika gadis itu menggerutu karena perkataan Bibinya. Keduanya berjalan menjauh meninggalkan Bibi Joarn yang kembali sibuk dengan apel-apel di kebunnya. Bersyukur apel-apel itu tidak ada yang rusak walau Camoline sudah membuat kebun itu berantakan dengan sulur-sulur tanaman yang ia ciptakan.


"Rasanya sudah sangat lama, bukan?" Camoline langsung menoleh ke arah Londer. Ia menghentikan langkah kakinya, membuat Londer mau tidak mau harus ikut berhenti melangkah. Camoline tidak menjawab perkataan Londer itu. Ia hanya diam menatap Londer hingga sebuah isak tangis keluar dari mulutnya. Dengan cepat, gadis itu memeluk Londer dengan erat.


Londer membalas pelukan Camoline. Ia mengusap punggung gadisnya itu, berusaha untuk menenangkan Camoline yang sangat terisak saat ini.


"Kutukan itu telah hilang. Sekarang kita akan baik-baik saja," bisik Londer. Camoline hanya bisa mengangguk pelan dalam pelukannya. Ia tidak sanggup berkata-kata. Setidaknya, pria dalam pelukannya ini tahu seberapa besar ia merindukannya. Sosok yang terus menemaninya hingga kehidupannya yang baru ini.


"Aku bersyukur, Dewa mempertemukan kita berdua lagi dalam situasi yang normal," ujar Camoline dengan suara sedikit tersendat-sendat. Londer mengusap air mata di pipi Camoline. Senyuman tidak pernah hilang dari wajah Londer.


"Ya. Dan kita berdua akan selalu bersama tanpa khawatir tentang kutukan itu," ujar Londer. Camoline mengangkat pandangannya. Senyuman itu akhirnya muncul di wajah Camoline. Rasa sakit dan hal-hal mengerikan lainnya, cukup keduanya saja yang mengetahui itu. Setidaknya, kutukan yang selama ini menghantui dunia telah menghilang. Menandakan apabila tugas Aquamarine telah selesai.


"Ayo. Aku ingin segera bertemu keluargamu dan meminta izin kepada mereka untuk melamarmu menjadi Istriku." Camoline mendengus pelan. Ia memalingkan wajahnya agar Londer tidak perlu melihat wajahnya yang memerah.


"Bahkan usiaku masih terlalu muda, bodoh."


THE END.