
"Aku dengar, pria tua itu memiliki seorang putri."
Camoline mengembuskan napas panjang. Ia menghentikan latihannya yang hari ini di awasi oleh Delwana. Hanya Delwana, karena kehadiran Barcus di sini sebagai komentator saja. Pria itu hanya duduk di atas batang kayu tua yang ia rubuhkan, dan berceloteh banyak hal. Membuat Camoline maupun Delwana merasa kesal padanya.
"Pria tua mana yang kamu maksud? Kau atau Tuan Zelden?" Barcus menatap Camoline, lalu ia berdecih pelan. Di mulutnya tersampir sehelai tanaman liar yang ia gigit. Tangan kirinya sejak tadi memelintir tanaman itu. Entah untuk apa yang pria itu sedang lakukan sebenarnya. Barcus melepaskan tanaman liar itu lalu berdiri. Ia membuang ludah ke sampingnya.
"Kau memanggil Zelden dengan gelar Tuan, tapi bersikap kurang ajar kepadaku?" Camoline menghela napas. Ia menoleh ke belakang. Menatap malas ke arah Barcus yang saat ini memandang ke arah dirinya dengan kesal.
"Aku tidak peduli," ujar Camoline. Jawabannya itu membuat Barcus berdecih. Namun, langkah pria tua itu justru berbelok pada pohon bunga matahari yang ia tumbuhkan tadi dengan sengaja. Tanpa alasan. Ia hanya suka merusak tatanan apa pun di sekitar danau saja, itu pendapat Camoline.
"Asdus. Kemarin surat dari Istana datang dan meminta putrinya kembali ke Istana," ujar Barcus. Tangan Barcus tidak tinggal diam. Ia memetik beberapa kelopak bunga matahari itu dan membuangnya ke atas air danau yang terus beriak karena latihan yang Camoline lakukan.
"Aku tidak peduli."
Delwana masih diam. Ia memilih untuk tidak masuk ke percakapan kedua orang itu. Dirinya masih terlalu baru dalam mendapatkan semua informasi ini. Terutama fakta yang selama ini Camoline sembunyikan bersama Zelden dan Barcus. Ya, Delwana telah mengetahui semuanya. Termasuk rahasia yang bahkan tidak diketahui oleh Londer sekali pun.
"Hubungan sepasang mate yang tidak akur, eh?"
Camoline mengembuskan napasnya lagi. Ia menurunkan kedua tangannya. Terlalu sulit untuk melakukan latihan ketika Barcus terus saja memaksanya untuk berbicara. Fokusnya teralih. Tidak langsung menjawab, Camoline kembali mengangkat tangannya. Mencoba mengendalikan air dari danau yang kini telah tercemar oleh kelopak-kelopak bunga yang dibuang oleh Barcus.
"Peperangan tidak akan terjadi jika hubungan kami baik-baik saja," ujar Camoline. Ia terus berusaha berkonsentrasi pada kekuatan elemen airnya tanpa mengabaikan keadaan sekitar. Inilah gunanya kehadiran Delwana di latihannya kali ini. Pria itu mengawasi tingkat konsentrasinya yang terkadang masih mudah terpecah.
"Pasangan pembawa kesialan dunia," celetukan dari Barcus sontak saja membuat Delwana terkejut. Bukan hanya karena itu saja. Tetapi ledakan air yang diperbuat oleh Camoline juga membuat jantungnya hampir turun ke perut.
"Tetap tenang, Nona. Kau bisa membuat kerusakan atau melukai orang sekitar jika seperti itu terus!" ujar Delwana. Ia menatap Camoline dengan tajam. Apa yang Camoline lakukan tadi cukup berbahaya. Terlebih ledakan itu membuat duri-duri es terbang ke sekitar. Beruntung duri-duri es itu tidak membeku sepenuhnya, sehingga tidak melukai Delwana atau pun Barcus.
"Baik atau buruk, perang itu memang sudah ditakdirkan ada! Camoline menghadapkan tubuhnya ke arah Barcus. Ia terlihat sangat marah. Raut wajahnya itu menunjukkan segalanya. Sedangkan Barcus hanya melirik bosan ke arah Camoline. Ia terus saja memetik semua kelopak bunga matahari yang ia munculkan terus menerus hingga air danau sudah mulai dipenuhi oleh kelopak bunga matahari.
"Aku menantangmu dalam duel, tuan Barcus Quamarine."
"Baiklah," ujar Barcus. Kedua orang itu sudah terlihat sangat siap untuk bertarung satu sama lain. Tetapi tidak dengan Delwana. Ia sangat terkejut. Dengan langkah lebar, Delwana berjalan menjauh dari keduanya. Ia tidak ingin menjadi korban dari pertarungan mereka. Walau kekuatannya pun cukup tinggi.
"Tidak kusangka kau mengetahui nama klan itu," ujar Barcus. Ia sedikit menyeringai.
Camoline terlihat tidak mendengarkan. Ia mulai mengumpulkan kekuatan di kedua telapak tangannya lalu dengan cepat mengerahkan beberapa bola air ke arah Barcus. Ia melakukan itu berulang kali dalam tempo yang semakin cepat. Selama itu juga, Barcus masih bisa menghindari serangan dari Camoline tersebut dengan cukup mudah. Ia menghindar dan memecah bola-bola air itu dengan tanaman yang ia kendalikan.
Wajah Camoline semakin mendung. Ia mulai membentuk gelombang air itu menjadi sebuah bentuk anak panah. Tidak sampai di situ saja, tetapi Camoline pun ikut mengubahnya juga menjadi es. Sehingga terlihat jika ujungnya sangat tajam.
"Kau serius untuk melawanku rupanya." Camoline mendengus pelan. Ia menarik salah satu sudut bibirnya.
"Aku selalu serius sejak awal," ujar Camoline. Ia langsung melemparkan anak panah dari es itu ke arah Barcus. Dengan cepat, Barcus menepis panah itu. Sayangnya, ia tidak diberi kesempatan untuk berkedip. Karena setelah serangan itu, Barcus mendapat serangan lainnya berupa bola-bola air yang terarah kepadanya. Barus terhuyung ke belakang. Wajahnya terkena bola air yang terdapat kelopak bunga di dalamnya. Air itu juga mengandung serbuk sari, yang langsung masuk begitu saja ke dalam matanya.
Serangan itu berhenti beberapa saat. Barcus masih berusaha untuk mengembalikan pandangannya yang mengabur serta rasa sakit di kedua matanya. Sedangkan Camoline masih menatap Barcus dengan tajam.
"Seharusnya aku menghabisi dirimu sejak awal," ujar Camoline. Ia kembali mengeluarkan kekuatan elemennya. Elemen es itu menjadi runcing dan siap dilemparkan ke arah Barcus kapan saja. Terlebih saat ini Barcus masih belum mampu berdiri tegap karena kondisi matanya.
"Berhenti di sana, Camoline!"
Camoline dan Delwana langsung menoleh. Mereka cukup terkejut dengan kehadiran Zelden itu. Padahal biasanya, Zelden akan begitu sibuk di ruangannya. Mengurus berkas-berkas Akademi.
"Jangan berpikiran seperti itu. Setidaknya untuk saat ini." Camoline mengembuskan napasnya kesal. Es yang begitu runcing itu perlahan meleleh dan kembali menjadi air. Camoline mengibaskan tangannya pelan agar air di tangannya segera menghilang. Perasaannya masih buruk setelah Barcus berkata seperti itu seenaknya.
"Kemarilah. Biarkan aku memeriksa sesuatu." Kepala Camoline kembali menatap ke arah Zelden. Ia memasang wajah datar, tetapi Zelden langsung tahu jika Camoline sedang mencurigai dirinya. Tidak lama, Camoline menurut. Ia melangkah menghampiri Zelden walau gadis itu masih ragu.
Begitu Camoline sudah ada cukup dekat dengannya, tangan Zelden segera terangkat hingga menyentuh dahi Camoline. Ia menekan pelan dahi murid di depannya untuk beberapa saat sebelum jarinya diturunkan kembali.
"Level 73. Selamat atas peningkatan levelmu," ujar Zelden. Ucapan itu membuat Delwana terkejut bukan main. Ia langsung memandang ke arah Camoline dengan pandangan tidak percaya. Karena hal semacam ini sangatlah mustahil terjadi untuk seorang penyihir biasa.