The Wiz

The Wiz
Chapter 21 : Latihan



"Menurutmu, sebenarnya apa yang tengah Zelden rencanakan?"


Itu adalah pertanyaan mereka, ketika keduanya sudah berjalan keluar dari ruangan Kepala Sekolah. Diikuti Lily dan Violetta yang memandang penuh rasa penasaran. Camoline mengangkat kedua bahunya tidak tahu. Zelden, siapa sangka bila kekuatan pria itu begitu tinggi. Walau sekadar menebak, namun Camoline sangat yakin bila Zelden hampir mendekati tingkat The Wiz. Tingkat paling tinggi untuk seorang penyihir.


"Kita hanya perlu mengikuti rencananya saja. Lagipula, berlatih sesuai anjurannya akan membuat kemampuan kita semakin bagus," ujar Camoline. Londer mengangguk setuju. Kini, keduanya sudah berada jauh dari lorong sepi tadi. Menoleh ke arah dua gadis di belakangnya, Londer menatap kedua orang itu dengan tatapan datar. Tatapan andalannya.


"Besok, kita bertemu di depan gedung asrama. Bahas lagi perihal perintah Zelden," ujar Londer pada Camoline. Gadis itu mengangguk mengerti. Londer masih menatap Camoline, hingga bibirnya menyeringai.


"Jangan berharap melakukan hal aneh, anak Chromos," desis Camoline ketika menyadari apa yang hendak Londer lakukan. Tentu saja. Pria itu menatap bibirnya penuh minat. Londer mendengus pelan. Tanpa mengatakan apapun, ia berjalan meninggalkan dirinya dan dua gadis yang masih menjadi penonton itu. Tidak melakukan atau mengatakan apapun.


"Eum, Camoline..., Aku masih berharap bila tawaranmu waktu itu masih berlaku. Maksudku, tentang berlatih bersama," ujar Violetta memecah keheningan yang terjadi diantara mereka. Lily melirik ke arah Camoline dengan cemas. Tentu saja, ia masih merasa bersalah karena pergi begitu saja setelah Camoline menawarkan diri untuk berlatih bersama.


Camoline terdiam. Ia berpikir sejenak sebelum mengangguk pelan. "Ya, tawaran itu masih berlaku. Sebaiknya, kita ke belakang sekolah untuk berlatih. Di sana lebih aman daripada di dalam ruangan," ujarnya. Ketiga gadis itu akhirnya berjalan menuju halaman di belakang sekolah. Mereka akan berlatih di luar jam pelajaran, untuk meningkatkan kemampuan mereka.


"Tetapi, bagaimana cara kita untuk berlatih? Apakah, dengan pertarungan?" tanya Lily memastikan. dirinya merasa tidak yakin bila Camoline membenarkan ucapannya ini. Ia dan Camoline memiliki perbedaan level yang sangat tinggi. Itu saja sudah membuktikan bila dirinya hanya akan mengeluarkan kekuatan secara percuma untuk melawan Camoline.


"Kurasa, itu tidak akan aku lakukan saat ini, " Camoline menghela napas perlahan, "aku akan meminta Barcus untuk memberi kita ide berlatih," ujarnya. Lily mengembuskan napasnya lega. Setidaknya, itu lebih baik dibanding harus menghadapi Camoline.


Keduanya sampai di tempat dengan selamat. Ya, selamat dalam artian tidak ada seorang pun yang curiga dengan mereka bertiga. Seolah mengetahui akan kedatangan mereka, Barcus sudah menyambut ketiga gadis itu dengan senyum menyebalkan yang dimilikinya. Membuat Camoline tanpa sadar mendengus pelan.


"Jangan bersikap seperti itu, gadis aneh. Bagaimanapun, aku adalah gurumu," ujar Barcus kesal. Camoline hanya mengangkat kedua bahunya dengan acuh. Ia terus berjalan hingga berhenti tepat di tengah-tengah lapangan berumput itu. Matanya menoleh ke sekeliling. Memastikan bila tidak akan ada yang rusak bila mereka berlatih.


"Aku yakin, kedatangan kalian bukanlah sebuah kunjungan biasa. Kalian ingin berlatih, bukan?" tanya Barcus yang membuat Lily maupun Violetta membuka kedua mata mereka dengan lebar. Terkejut, karena mengira Barcus dapat membaca pikiran mereka. Barcus tentunya terkekeh, mendapati raut wajah yang menurutnya buruk itu. "Aku hanya menebak dari perilaku gadis aneh itu saja," ujarnya membuat dua gadis yang terkejut itu mengembuskan napas panjang.


Barcus menepuk kedua tangannya sebanyak dua kali. Lalu, munculah dinding dari tanah yang mengelilingi mereka. Lily dan Violetta memandang takjub pada ukiran-ukiran yang ada di dinding itu. Mereka tidak menyangka, bila ukiran tersebut menjadi salah satu dari bagian kekuatan yang Barcus miliki.


Berbeda dengan Camoline. Gadis itu terlihat menjadi lebih tenang. Ia mulai membuka kedua matanya lalu menoleh ke arah tiga orang itu. "Kami akan berlatih, sesuai dugaanmu. Jadi, bisakah kau memberitahu, latihan apa yang cocok untuk kami?" tanya Camoline tenang. Barcus mengangguk mengerti. Ia menoleh sebentar ke arah Lily dan Violetta sebelum memilih untuk duduk di atas batang pohon yang entah sejak kapan ada. Pandangan mata Lily dan Violetta masih tertuju pada pria itu.


"Maksudku. Kalian, hanya perlu menghancurkan dinding ini. Dengan kekuatan yang kalian miliki." Dahi Lily mengerut dalam mendengarnya. Entah mengapa, ia curiga dengan latihan yang terlalu sederhana ini.


"Hanya itu saja?" tanya Lily memastikan. Barcus menoleh dengan senyuman di wajahnya. Ia mengangguk lalu berkata, "hanya itu saja."


"Sesederhana itu? Tidakkah itu hanya membuang tenaga saja? Lagipula, dinding ini terbuat dari tanah—"


"Tidak sesederhana itu," potong Camoline. Violetta langsung mengatupkan mulutnya. Kali ini, ia menatap ke arah Camoline yang belum beranjak dari tempatnya berdiri.


"Kekuatan Barcus, salah satunya ialah tanaman. Rumput yang kita injak, salah satu dari kekuatan yang ia miliki. Jadi, seharusnya kalian mengerti dengan latihan kali ini," ujar Camoline. Namun, kedua gadis itu masih terdiam.


"Aku tidak mengerti," jujur Lily. Camoline mendesah pelan. Ia harus menjelaskan lebih baik lagi. Meskipun menyebalkan ketika melihat wajah Barcus yang menahan tawa.


"Rumput-rumput ini akan menghisap kekuatan kalian. Jadi, kalian bisa saja kehabisan kekuatan sebelum berhasil menghancurkan dinding ini," ujar Camoline lagi. Tepat setelahnya, Barcus tertawa keras. Tidak menyangka, bila masih ada saja murid yang tidak mengetahui wilayah teritorialnya.


Pandangan Lily dan Violetta, perlahan berpindah pada Barcus yang masih tertawa. Keduanya memasang wajah terkejut sekaligus cemas karena fakta yang baru saja mereka ketahui. Walaupun sebelumnya, mereka mendengar banyak kabar bila bagian belakang sekolah adalah wilayah kekuasaan Barcus, namun tidak menyangka bila rumput-rumput di tempat ini adalah miliknya juga.


"Aku terkesan kepada analisis dirimu, gadis aneh. Tidak mengecewakan, kau sudah menghancurkan tanaman kesayanganku ini berkali-kali," ujar Barcus setelah tawanya reda. Kedua tangannya menjadi tumpuan kepala. Sekarang, ia menjadi tertarik dengan apa yang gadis aneh itu rencanakan.


Bukk.


Ketiga orang itu membuka kedua mata mereka dengan lebar, tepat setelah Camoline menjatuhkan dirinya sendiri ke atas rumput dengan posisi terduduk. Gadis itu menampilkan raut wajah malasnya ketika mereka menatap dirinya bingung.


"Aku sudah kehilangan banyak kekuatan. Jadi, biarkan Lily dan Violetta saja. Lagipula, aku benar-benar malas melakukan ini," ujar Camoline sebelum membaringkan dirinya di atas rumput. Barcus terkekeh. Itu memang Camoline, murid anehnya. Namun, ia mengerti kenapa Camoline memilih untuk tidak ikut berlatih hari ini. Bila tidak salah, gadis itu hanya ingin melihat perkembangan dua gadis yang dibawanya ini.


"Itu terserah kau saja." Akhirnya, Barcus memilih untuk membiarkan Camoline dengan keputusannya. Lagipula, Barcus akan mendapatkan waktu istirahat lebih bila Camoline memilih diam saja. Karena biasanya, gadis itu akan mudah tidak terkontrol bila menggunakan kekuatannya secara paksa. Ini demi kebaikan gadis itu dan tentu, dirinya juga.