
Murid-murid yang berpartisipasi, sudah ditentukan siapa yang pantas untuk ikut ke Istana. Dilatih langsung oleh para petinggi nantinya. Untuk tahun ini, hanya ada 8 murid saja yang berhasil menarik perhatian ketujuh petinggi itu. Salah satu dari mereka, tentu saja Rashi. Anak dari klan Harmony itu, memiliki keahlian yang cukup menarik. Apalagi, klan itu sebenarnya tidak pernah berpihak pada klan manapun. Termasuk pada Istana. Dan akan sangat menguntungkan, bila Rashi bisa ikut serta menjadi bagian dari mereka. Karena bila dengan bergabungnya Rashi, mau tidak mau klan Harmony harus bekerja sama dengan mereka. Dengan para petinggi Istana.
"Aku tidak pernah ingat, kau akan ikut serta dalam pertunjukan kali ini," ujar Lily ketika acara itu selesai dan para murid di bubarkan dari aula, "yang kuingat hanyalah kau berkata tidak akan mengikutinya karena kekuatanmu masihlah lemah," lanjutnya. Violetta mengangguk, menyetujui perkataan Lily. Rashi menghela napas panjang. Menyadari ada hal yang harus ia jelaskan kepada dua teman sekamarnya.
"Karena aku berpikir, tidak perlu menceritakan semua hal pada kalian," ujar Rashi tenang. Lily mengerutkan dahinya, raut wajahnya tidak suka. Ia melipat kedua tangannya di dada, memandang Rashi dengan penuh kekesalan. Berbeda dengan Violetta, karena gadis itu teralihkan pandangannya pada sosok Camoline yang berjalan ke arah mereka. Tentunya bersama Londer. Entah kenapa, Violetta yakin bila Camoline juga terkejut dengan keikutsertaan Rashi tadi.
"Benarkah? Aku mengira, klan Harmony tidak akan pernah mengambil bagian menjadi salah satu petinggi Istana. La—"
"Hentikan ucapanmu yang tidak nyata, Lily. Kau ataupun siapapun, tidak ada urusannya dengan apapun yang aku pilih," ujar Rashi. Untuk pertama kalinya, gadis berkacamata itu menunjukkan raut kesalnya. Lily sedikit terkejut, namun gadis itu terlalu pandai mengendalikan raut wajahnya agar tetap tenang.
"Dan memilih, untuk mengkhianati Klan-mu sendiri, Rashi?" Kepala Rashi langsung menoleh ke arah Camoline yang tiba-tiba sudah berada di sebelahnya. Ia menghela napas panjang sebelum memilih acuh pada pertanyaan Camoline barusan. Membuat Camoline terkekeh. Ia menepuk bahu Rashi pelan.
"Aku tidak tahu, apa yang sebenarnya kau rencanakan," ujar Camoline sungguh-sungguh, "namun aku hanya memperingatkan, bila tidak ada hal yang asli di dunia ini. Kau jangan sampai lengah," bisiknya.
Camoline menatap Lily dan Violetta dengan senyuman. Kedua gadis itu menghela napas lalu menatap Rashi dengan pandangan kecewa. Bukan karena Rashi yang seolah mengkhianati Klan-nya sendiri, namun karena Rashi yang masih menganggap mereka asing. Hal itu benar-benar menyakiti perasaan mereka.
"Semoga kau beruntung, Rashi," ujar Camoline lalu berjalan mengikuti Londer. Sebelumnya, keduanya telah dipanggil oleh Zelden agar berbicara di ruang Kepala Sekolah. Entah akan membahas apa. Rashi tidak merespon apapun. Ia hanya diam, bahkan ketika Lily dan Violetta memilih untuk mengikuti Camoline dibanding bersamanya.
"Apa aku salah?" gumam Rashi setelah mereka pergi dari hadapannya. Ketika ia hendak berbalik menuju asrama, dirinya dikejutkan dengan kehadiran salah satu petinggi Istana yang sudah berdiri di hadapannya.
"Tidak. Kau tidak memilih hal yang salah, Nona. Sebaliknya, kau memilih hal yang sangat tepat. Mereka hanya iri, karena tidak seberuntung dirimu saja," ujar Deus diakhiri dengan senyuman di wajahnya. Rashi menghela napas perlahan.
"Kuharap hanya seperti itu," ujarnya pelan lalu berjalan meninggalkan Deus begitu saja.
Di lain sisi, Lily dan Violetta masih saja mengikuti sepasang murid itu. Tanpa tahu, mereka akan berjalan ke arah mana. Camoline menoleh lalu menghentikan langkahnya. "Kalian akan terus mengikuti kami?" tanyanya dengan dahi mengerut. Lily diam, ia melirik ke arah Londer yang memilih acuh dan Camoline secara bergantian.
"Ya. Lalu, kami harus apa? Kelas benar-benar kosong untuk hari ini," ujar Lily. Camoline menghela napas panjang. Ia menatap ke arah Londer, berharap pria itu memiliki solusi agar kedua temannya tidak mengikuti mereka ke ruang Kepala Sekolah serta tidak mati karena kebosanan. Karena sepertinya, Zelden memiliki sesuatu hal yang sangat penting untuk dibicarakan. Yang tidak bisa sembarangan diberitahu pada orang lain. Itu yang Camoline tangkap dari raut wajah Zelden.
Ia bisa saja membaca pikiran Zelden, namun langsung diurungkan ketika Londer memaksanya untuk tidak menggunakan kekuatannya itu sesering mungkin. Lagipula, kekuatannya memang belum stabil setelah berusaha membaca semua ingatan Londer yang berakhir sia-sia.
"Mereka bisa ikut. Yah, asalkan kalian mau menunggu lama," ujar Londer setelah mengerti kenapa Camoline terus menatapnya. Ia kembali berjalan diikuti Camoline yang kini berada di sebelahnya, mengabaikan Lily dan Violetta yang menatapnya dengan kerutan di dahi. Tidak mengerti dengan maksud yang Londer ucapkan.
Dan, kebingungan mereka terjawab setelah berada di depan ruang Kepala Sekolah. Walaupun tidak semua pertanyaan di kepala kedua gadis itu terjawab, setidaknya itu cukup. Meski keduanya harus berakhir berdiri tanpa bisa melakukan apapun di lorong yang sepi setelah Londer dan Camoline masuk ke ruangan itu.
Lorong di tempat ini benar-benar sepi. Meski di luar tengah siang hari, namun pencahayaan yang masuk tidaklah banyak. Sehingga, beberapa lentera dinyalakan untuk menerangi lorong ini. Keduanya menyibukkan diri untuk memperhatikan beberapa lukisan yang terpajang di lorong itu. Beberapa diantaranya adalah orang-orang yang sangat berjasa atas berdirinya Akademi Topaz ini.
"Lily, apakah kamu merasa, Rashi bukanlah Rashi yang sebelumnya kita kenal?" tanya Violetta, memecah keheningan di lorong itu. Lily yang tengah memperhatikan sebuah lukisan langsung menoleh. Ia menghadapkan tubuhnya ke arah Violetta.
"Ya, aku merasa demikian," jawabnya. Violetta menghela napas panjang. Ia menghadap ke arah Lily dengan kepala menunduk. Sebelum pada akhirnya bersandar dan menjatuhkan diri ke atas lantai.
"Atau, sebenarnya kita tidak pernah mengenal Rashi? Padahal, bukan satu tahun kita bersama, kan?" Suara lirih dari mulut Violetta membuat Lily menjadi iba. Ia berjalan mendekati Violetta lalu berjongkok di hadapannya. Mengusap bahu gadis berambut ungu itu dengan lembut.
"Jangan salahkan dirimu, Vio. Mungkin, ada alasan kenapa Rashi menyembunyikan hal ini kepada kita. Bisa saja, dia lupa karena sibuk melatih dirinya sendiri." Yang didapatkan Lily adalah suara isak dari Violetta. Gadis itu, tampaknya benar-benar kecewa dengan keputusan Rashi yang memilih merahasiakan keikutsertaannya. Atau... Karena ada hal lain?
"Kita sudah bersama sepanjang hidup kita hingga saat ini. Tapi... Tapi, Rashi hanya menganggap kita orang asing yang baru ditemui olehnya," ujar Violetta. Ia menangis tersedu-sedu. Dengan segera, Lily menarik Violetta ke dalam pelukannya. Mengusap lembut punggung Violetta. Berharap, gadis di dalam pelukannya dapat tenang.
Tidak jauh dari tempat keduanya, seseorang memperhatikan mereka dengan lekat. Kedua tangannya terkepal teramat kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Dan tanpa ia sadari, setetes air jatuh dari sudut matanya. Tanpa berniat menghampiri kedua orang itu, ia berbalik lalu berjalan meninggalkan lorong itu dengan tangis yang ditahannya. Tidak, bukan mereka saja yang kecewa, namun juga dirinya.