The Wiz

The Wiz
Chapter 33. Penyerangan



Rupanya, kabar tentang Camoline yang terluka tersebar lebih cepat tanpa diduga. Cukup sulit untuk menghentikan persebaran kabar itu, walau beruntungnya tidak ada satu pun yang mendapat fakta jika Camoline terluka karena serangan tiba-tiba dari orang yang tidak dikenal. Orang-orang hanya tahu jika Camoline terluka akibat dari ujian Delwana hari ini. Mengakibatkan citra Delwana menjadi cukup buruk. Mereka tentu saja bukan orang-orang yang membela Camoline. Tidak, Camoline tidak seterkenal itu dan setinggi itu derajatnya di Akademi. Hanya saja, kecelakaan di saat ujian seperti ini adalah hal buruk yang tidak bisa dimaafkan oleh para murid.


"Jadi, bisa kamu jelaskan apa yang terjadi, Delwana?"


Saat ini, Delwana tengah berada di ruangan Zelden. Tentu saja kabar itu sudah sampai di telinga Kepala Akademi ini. Delwana tidak terlalu terkejut ketika dirinya dipanggil oleh Zelden tadi.


"Murid itu terluka. Seperti kabar yang sudah tersebar," ujar Delwana dengan tenang. Mendapati jawaban seperti itu, Zelden menghela napas panjang. Bertahun-tahun bekerja bersama Delwana membuatnya sedikit tahu jika pria di depannya ini tidak akan mempersulit dirinya sendiri untuk menjelaskan sesuatu hal meskipun itu untuk pembelaan dirinya sendiri.


"Aku tahu soal itu. Apa yang aku maksud adalah, kejadian itu secara rinci. Kabar yang tersebar hanya tentang keadaan murid itu saja," ujar Zelden. Setidaknya, Delwana tidak seperti Barcus yang pastinya akan langsung berceloteh panjang lebar tanpa memberikan jawaban yang diinginkan. Delwana hanya terlalu tenang.


Delwana menghela napas panjang. Tangannya bergerak merogoh saku celana, lalu mulai mengeluarkan sesuatu yang terbungkus kain berwarna hitam.


"Benda itu yang melukainya," ujar Delwana. Kerutan di dahi Zelden yang sempat muncul, perlahan memudar. Ia menatap Delwana sebentar, sebelum tangannya bergerak untuk menyentuh benda yang sudah diletakkan ke atas meja itu oleh Delwana. Dengan hati-hati, Zelden membuka ikatan di kain itu, lalu perlahan terlihatlah benda di dalamnya. Sebuah anak panah yang terbuat dari perak, dengan noda darah di ujungnya yang mulai mengering. Sangat jelas jika darah itu masihlah baru.


"Benda itu melesat begitu saja dengan sangat cepat. Aku sama sekali tidak bisa merasakan kehadiran orang lain selain murid-muridku saat itu," ujar Delwana. Kepala Zelden terangkat sebentar sebelum kembali menatap ke arah anak panah di tangannya itu lagi.


"Pola di anak panah ini terlihat tidak begitu asing," ujar Zelden dengan pelan. Delwana mengangguk menyetujui.


"Klan putih. Hanya klan itu yang memiliki senjata dengan pola seperti itu. Pola burung elang." Zelden menghela napas panjang. Ia membungkus kembali anak panah itu tanpa mengikatnya kembali. Lalu, disimpannya benda itu ke atas meja. Ia menatap Delwana dengan raut wajah serius.


"Kau yakin demikian? Bukankah bisa saja, ada salah satu anggota klan yang menjual panah ini secara ilegal kepada orang lain? Atau ada yang meniru polanya?" Delwana menggeleng tegas. Ucapan Zelden memang bisa dibenarkan. Semua kemungkinan itu bisa saja terjadi.


"Firasatku mengatakan demikian. Terlebih, klan putih menunjukkan pergerakan-pergerakan yang sangat aneh semenjak Istana dikuasai oleh mereka sejak 10 tahun yang lalu," ujar Delwana. Kepala Zelden mengangguk. Paham dengan kecurigaan Delwana kepada klan itu. Bukan hanya Delwana, namun dirinya juga demikian. Pergerakan klan itu semakin mencurigakan sejak 10 tahun yang lalu. Semenjak klan itu berhasil menguasai Istana.


"Tetapi kita tidak bisa menuduh mereka sembarangan," ujar Zelden. Delwana langsung mendengus pelan. Itu adalah permasalahannya. Ia sudah tahu, sehingga sejak awal memilih untuk tidak memberitahukan hal ini kepada orang lain selain Zelden. Satu-satunya orang yang bisa ia percaya, yang tidak memiliki keterikatan dengan Istana.


Krieett.


Kedua orang itu langsung menoleh ke arah pintu. Di sana, Barcus terlihat mulai membuka pintu semakin lebar sebelum masuk ke dalam ruangan Kakaknya. Ia membawa segelas bir di tangannya, minuman yang selalu ia bawa ketika mengunjungi Zelden walau tanpa tujuan yang jelas.


"Apakah kalian sedang membahas tentang ujian?" tanya Barcus dengan nada penasaran. Zelden menoleh, lalu mengangguk pelan. Ia sama seperti Barcus, terlihat seolah tidak mempedulikan kekhawatiran Delwana saat ini.


"Ngomong-ngomong, Camoline terluka ketika menjalani ujianmu, bukan? Aku belum melihat keadaan lukanya itu. Tetapi teman-teman dari bocah itu memberitahuku jika lukanya cukup dalam dan tidak akan sembuh dengan mudah hingga 2 minggu ke depan," ujar Barcus. Kepala Delwana menoleh perlahan ke arah Barcus. Pria itu tidak menatap ke arahnya. Ia begitu fokus pada bir di tangannya dengan mata yang memperhatikan sebuah buku. Yang entah sejak kapan berada di tangan kanannya itu.


"Aku tidak tahu lukanya akan seperti itu," ujar Delwana pelan. Barcus menganggukkan kepalanya pelan. Raut wajahnya tidak berubah. Ia sangat tenang, walau Delwana tahu jika murid bernama Camoline itu adalah murid khusus Barcus.


"Tidak mengherankan. Luka itu memang memburuk setelah dia dibawa ke klinik. Seperti efek semua mantra. Ah, sayang sekali aku bukan Azura yang menghapal semua jenis-jenis kalimat membingungkan itu," keluh Barcus. Ucapannya itu membuat kerutan di dahi Zelden muncul.


"Mantra, ya? Itu akan sangat berefek buruk. Tetapi, apa tujuan dari serangan tiba-tiba itu?" Barcus menoleh, ia mengangkat kedua bahunya.


"Entahlah. Tahu siapa yang menyerang pun, aku tidak bisa menebaknya," ujar Barcus. Ia meneguk birnya perlahan.


"Apakah mungkin jika yang menyerang itu adalah Klan Putih?" Kepala Barcus langsung menoleh dengan cepat ke arah Zelden. Raut wajahnya terlihat begitu terkejut dengan perkataan Zelden tersebut. Barcus terdiam untuk beberapa saat, sebelum ia meletakkan gelas yang masih berisi sedikit bir itu ke atas meja di sampingnya. Ia berdehem pelan. Punggungnya bahkan sudah menjadi tegap.


"Klan putih? Kenapa aku tidak memikirkan mereka?" gumam Barcus. Ia menghela napas panjang. Bahunya perlahan turun.


"Tetapi, itu bisa saja terjadi. Klan itu pasti kembali mencoba mencari barang-barang legenda peninggalan leluhur yang tersimpan di sini. Keserakahan mereka itu, benar-benar memuakkan," ujar Barcus dengan nada kesal di akhir kalimatnya. Zelden mengedikan bahunya. Ia lalu melirik ke arah Delwana yang sejak tadi diam saja.


"Selain Klan putih, menurutmu siapa lagi yang kemungkinan menjadi pelaku untuk kejadian hari ini?" tanya Zelden lagi. Lagi, Barcus menoleh ke arah Zelden.


"Sangat sulit untuk orang sepertiku untuk memprediksinya. Hanya saja, bukan tidak mungkin jika Klan hitam yang melakukannya." Badan Delwana langsung menegap. Dengan cepat ia langsung menoleh ke arah Barcus dengan dahi yang mengerut dalam.


"Apa maksudmu dengan klan hitam? Klan itu sudah musnah sejak 500 tahun yang lalu," ujar Delwana. Ia terlihat cukup kesal juga khawatir. Barcus bisa melihatnya dengan jelas. Membuat senyuman di wajahnya mulai terlihat.


"Tetapi satu anggota klan itu masih ada hingga saat ini, Tuan Delwana," ujar Barcus. Ia lalu menatap ke arah Zelden dengan senyuman misterius. Membuat Delwana bertanya-tanya tentang kakak adik ini.