The Wiz

The Wiz
Chapter 65 : Di balik Cerita



Hancur. Semuanya telah hancur walau beberapa bagian dari bangunan Akademi itu masih mampu berdiri kokoh. Pemandangan yang asri dan menyejukkan telah berubah menjadi begitu mencekam dan mengerikan. Padang rumput yang hijau telah gersang sepenuhnya. Di atas tanah, beberapa tubuh tanpa nyawa tergeletak begitu saja. Ya, peperangan baru saja terjadi. Walau peperangan kali ini tidak sebesar seperti 500 tahun yang lalu, namun kengerian masih bisa terasa. Hanya beberapa orang saja yang tersisa.


Dan salah satunya bukan Aquamarine.


Asdus menghela napas berkali-kali. Dadanya terasa sakit sakit. Rasanya sudah sangat lama semenjak ia merasakan hal seperti ini. Terakhir ia mengalaminya adalah ketika pasangannya meninggal.


Kepala Asdus langsung terangkat walau itu berakibat pada rasa pusing di kepalanya. Tidak jauh dari posisinya, ia bisa melihat dengan jelas tubuh Aquamarine. Dengan sekuat tenaga, Asdus berdiri. Ia berjalan mendekati tubuh Aquamarine yang berbaring tidak berdaya. Walau pada akhirnya tubuh Asdus kembali ambruk dan memaksanya untuk bergerak merangkak.


"A-Aqua...kekasihku. Kau masih hidup, bukan?"


Kedua kelopak mata Aquamarine perlahan terbuka. Aroma khas yang dimiliki Asdus memenuhi indera penciumannya. Dengan lemah, kepalanya bergerak pelan. Menatap pria yang saat ini menatap dirinya dengan lembut. Ah, tatapan seperti itu. Entah kenapa Aquamarine merasa tidak asing dengan tatapan seperti itu.


Asdus tersenyum lebar melihat itu. Ia mengusap wajah Aquamarine dengan hati-hati. Seolah Aquamarine adalah barang yang bisa hancur kapan saja. Ya, Aquamarine memang pernah hancur, dan Asdus sendiri yang melakukannya. Kesalahan terbesar yang membawa kutukan mengerikan.


"Kau berhasil melakukannya, sayang. Kau berhasil melenyapkan kutukan itu," ujar Asdus pelan. Ia mengusap pelan pipi Aquamarine. Mengecup dahi gadis itu dengan penuh kasih sayang.


"Be-benarkah?" Suara Aquamarine begitu pelan dan rapuh. Perlahan, setetes air mata jatuh meluncur di wajah Asdus. Rasanya begitu menyakitkan mendengar Aquamarine begitu rapuh seperti ini.


"Ya, ya. Kau berhasil. Aku merasakannya sendiri batu itu hancur." Setelah kalimat itu terucap, Aquamarine secara tiba-tiba terbatuk dan mengeluarkan darah dari mulutnya. Tubuhnya sudah tidak sanggup bertahan, itu yang Asdus tahu. Dengan hati-hati, ia mengusap darah yang keluar dari mulut gadisnya itu. Ia tidak ingin Aquamarine semakin kesakitan. Saat ini, tidak ada yang bisa ia lakukan sama sekali walau kekuatan sihirnya begitu besar. Ia tidak akan pernah bisa menyelamatkan mate nya, pasangannya sekali pun ia sangat ingin.


Karena ini adalah bagian dari takdir mengerikan hubungan mate. Takdir kejam yang tidak akan pernah Asdus sukai entah dahulu atau bahkan saat ini.


"Asdus..., maaf." Asdus menggeleng. Tidak. Bukan salah Aquamarine. Semua ini juga adalah kesalahannya. Asdus kembali tersenyum untuk meyakinkan jika semua baik-baik saja. Aquamarine tidak boleh sampai merasa bersalah. Asdus tidak ingin hal itu sampai terjadi.


"Tidak. Itu bukan salahmu, sayang. Takdir kita yang sangat kejam." Asdus kembali mengecup dahi Aquamarine. Saat itu juga, Aquamarine menjatuhkan air matanya. Sebuah ingatan secara perlahan kembali masuk ke pikirannya. Ingatan yang sejak lama tidak pernah Aquamarine duga.


"Tidak apa. Tugasmu sudah selesai, kau bisa beristirahat sekarang. Tetapi ingatlah satu hal. Entah itu dahulu atau hingga saat ini, hanya kamu yang aku sayangi, yang aku cintai. Tidak ada satu orang pun yang bisa menjadi Ratu-ku kapan pun itu." Aquamarine menatap Asdus. Tatapan pria di depannya itu begitu bersungguh-sungguh. Dengan sekuat tenaga Aquamarine berusaha tersenyum. Ia menyentuh wajah Asdus walau pria itu juga yang harus membantu menyangga tangannya.


"Aku.., juga mencintaimu, Asdus. Sangat." Helaan napas panjang keluar dari mulut Aquamarine bersamaan dengan hilangnya semua tenaga dalam tubuh gadis itu. Asdus langsung menangis. Ia tidak bisa menahan lagi kesedihannya. Kesedihan yang tidak pernah ia tunjukkan kepada siapa pun selama beratus-ratus tahun. Sebuah kisah yang tidak akan pernah diketahui oleh siapa pun selain dirinya dan Aquamarine.


********


Kepala Asdus menoleh dengan cepat ke arah Aquamarine. Hanya dari ekspresinya saja sudah menunjukkan jika Asdus sangat tidak setuju dengan kalimat yang baru saja dikeluarkan oleh Aquamarine itu. Tentu saja. Karena tidak ada satu pun orang yang akan membiarkan pasangannya berada dalam bahaya atau bahkan mempertaruhkan nyawa.


"Tidak! Singkirkan ide mengerikanmu itu karena aku tidak akan menyetujuinya."


Aquamarine mendesah pelan. Baik dirinya atau Asdus memang keras kepala. Tetapi, saat ini Asdus harus bisa setuju dengan idenya walau memang terdengar cukup mengerikan. Ah, tidak. Tetapi memang sangat mengerikan.


"Kamu tahu bukan, aku siapa?" Aquamarin menarik bahu Asdus agar kembali menatap ke arahnya. Ia menatap Asdus dengan lekat. Berharap agar pasangannya itu bisa menyetujui idenya.


"Kau adalah pasanganku yang merupakan bagian dari klan putih. Klan bagi manusia-manusia ciptaan Dewa suci penjaga batu Opal," ujar Asdus panjang lebar. Ia menatap Aquamarine lelah. Setelah mendengar rencana para petinggi Istana untuk merebut batu Opal dari kuil suci klan putih, Aquamarine begitu berambisi untuk melenyapkan batu itu. Walau hingga saat ini, keduanya belum menemukan cara terbaik agar batu itu benar-benar hancur tanpa perlu kembali datang ke tangan seseorang lagi.


Asdus meletakkan kedua tangannya di pinggang ramping milik Aquamarine. Hanya dengan tarikan pelan saja ia berhasil membawa pasangannya itu ke dalam pelukkannya. Ia memeluk Aquamarine dengan erat sambil menghirup aroma memabukkan yang keluar secara alami dari tubuh wanitanya. Aroma yang hanya bisa dicium oleh pasangan mate saja.


"Aku tidak ingin kehilangan dirimu. Kau tahu hal itu, bukan?" Aquamarine membalas pelukan Asdus. Ia mengerti ketakukan yang dirasakan Asdus. Tetapi, permasalahan batu Opal kali ini cukup mengerikan. Ada hal buruk besar yang bisa terjadi apabila mereka tidak segera mengambil langkah sesegera mungkin.


"Sejak awal, semua orang menentang takdir kita. Aku yang berasal dari kegelapan mendapat pasangan dari cahaya. Semua menganggap jika takdir kita adalah kutukan. Dan bukan sekali dua kali kau mendapat ancaman kematian." Aquamarine mengusap punggung pasangannya itu perlahan. Hal itu memang pernah terjadi sebelumnya. Perbedaan mencolok keduanya membuat para petinggi Istana tidak setuju. Namun, mereka lebih sering mengirimkan serangan kepada Aquamarine yang dianggap sangat lemah dan tidak pantas menjadi Ratu.


"Ayo lakukan ritual pengikat itu untuk melenyapkan kutukan itu. Kemunculan batu itu hanya membawa keserakahan dan keangkuhan yang mengerikan." Aquamarine belum menyerah juga. Ia terus saja membahas tentang rencana gila itu.


Asdus menghela napas panjang. Ia melepas pelukannya perlahan dan menatap wajah Aquamarine. Begitu indah sekali pun sudah memiliki seorang anak. Tangan Asdus bergerak mengusap wajah Aquamarine. Sedangkan wanita itu menatap Asdus dengan lembut. Bibirnya yang manis itu pun tersenyum.


"Aku akan sangat membenci hal itu," ujar Asdus berterus terang. Aquamarine menggenggam tangan Asdus yang ada di pipinya. Ia menatap Asdus dengan lembut dan penuh keyakinan.


"Kau tahu, sayang? Takdir tidak biasa kita hadir karena Dewa percaya jika kita berdua yang mampu menghancurkan kutukan itu. Jadi, percayalah padaku." Asdus mengembuskan napas panjang perlahan. Ia mengangguk pelan walau Aquamarine bisa melihat jika Asdus sangat terpaksa dengan hal itu.


"Tetapi ingatlah. Apa pun yang terjadi ke depannya, aku selalu mencintaimu." Senyuman di wajah Aquamarine melebar. Ia langsung memeluk Asdus dengan erat.


"Aku tahu. Karena rasa cintamu tidak bisa dikalahkan oleh apa pun." Dan Asdus terkekeh mendengar hal itu keluar dari mulut Aquamarine. Walau begitu, perasaannya menjadi sangat buruk. Apa yang akan mereka lakukan begitu banyak resiko. Asdus tidak peduli apabila dirinya mendapat kutukan atau semacamnya. Hanya saja, ia tidak bisa menerima apabila hal buruk diberikan Dewa kepada istrinya ini.


"Aku akan selalu mencintaimu."