The Wiz

The Wiz
Chapter 14 : Mate Different Fate



Camoline menghela napas berulang kali. Ia berusaha untuk mengembalikan fokusnya pada rempah-rempah yang ada di hadapannya. Saat ini, ia tengah mengikuti kelas membuat ramuan yang dibina oleh Azura. Bukan hanya Camoline saja yang terlihat jelas begitu gugup. Namun, hampir semua orang merasakan hal yang sama. Ini tidak berlangsung sejak awal. Melainkan, setelah salah satu murid melakukan kesalahan adalah awal dari rasa khawatir murid lainnya. Bila kegagalan membuat ramuan, hanya menimbulkan bau tidak sedap atau sekadar letupan kecil, itu tidak akan menjadi masalah. Namun, mendapati murid yang melakukan kesalahan itu berubah menjadi seekor siput, membuat mereka bergidik tidak percaya dan takut.


Resiko di kelas ramuan kali ini benar-benar sangat berbahaya.


Dalam penjelasan yang Azura berikan sebelumnya, kegagalan itu bisa dipatahkan dengan ramuan yang dibuat dari orang yang sama. Selain itu juga, dengan seseorang yang berada di level 40. Semua murid memang langsung memandang ke arah Camoline. Seorang siswi baru yang berhasil menggemparkan satu akademi karena pesatnya perkembangan kekuatannya. Namun, kepala mereka langsung menunduk dengan helaan nafas pelan. Sangat kentara, bila mereka kecewa. Tentu saja, karena satu-satunya orang yang berada di level tersebut belum bisa dikatakan menguasai kekuatannya sendiri.


Dan juga,


"Tapi, apa kaitannya antara mematahkan mantra pada ramuan dengan kekuatan di level 40? Bukankah, itu sedikit tidak masuk akal. Terlebih, bila pemilik kekuatan tinggi itu memiliki elemen yang tidak berguna."


Camoline mendengus pelan. Sindiran yang sangat bagus namun memuakkan. Camoline memasukkan tiga lembar daun berwarna hijau ke dalam kuali besar. Meskipun demikian, dirinya juga penasaran dengan jawaban apa yang akan Azura berikan untuk pertanyaan ini.


Azura tersenyum mendengarnya. Ia melirik ke arah Camoline yang menyibukkan diri dengan ramuan asalnya. "Memang benar, itu akan sangat tidak masuk akal," Azura menghela nafas panjang, "namun kekuatan itu yang paling dibutuhkan untuk menguasai sebuah mantra yang bisa mematahkan mantra lain. Untuk urusan mantra, kalian akan mendapatkan pelajaran itu nanti," jelasnya.


Camoline dan gadis lainnya menganggukkan kepalanya. Seolah mengerti, walaupun mereka masih bingung dengan mantra yang Azura maksud. Camoline menghela nafas panjang. Ia menoleh ke arah bahan-bahan yang belum ia masukkan ke dalam kuali. Dahinya mengerut tipis, ketika tidak mengingat apa saja yang sudah ia masukkan. Mengangkat bahunya acuh, Camoline berusaha untuk masa bodoh dengan resiko yang sudah Azura peringatkan.


Memasukkan bahan terakhir yang dirasanya sangat pas menjadi penutup ramuannya, Camoline memasukkan tiga batang bunga Fiesta. Tangannya bergerak mengambil sebuah pengaduk kayu. Kali ini, ia membaca buku panduan yang ada di meja. Dahinya mengerut dalam, ketika tidak mendapati bunga Fiesta dalam bahan yang harus dimasukkan. Menghela nafas pelan, Camoline berusaha yakin dengan ramuannya. Ia mengaduk bahan-bahan di kuali itu secara perlahan.


Meskipun angka keberhasilannya adalah nol persen.


Air di dalam kuali yang semula berwarna jingga, perlahan berubah menjadi violet. Camoline benar-benar tidak memahami pelajaran ini. Mengingat dahulu, dirinya adalah seorang pendeta muda yang di didik langsung oleh petinggi klan putih.


"Wah, tampaknya kau melakukan hal yang baik, nona Camoline." Camoline tidak menggubris ucapan Azura. Ia masih fokus pada ramuan di kuali yang mulai meletup-letup. Sebentar lagi, ramuannya berhasil.


Semua mata memandangi dirinya penuh minat. Tiba-tiba, mereka sangat yakin bila ramuan yang Camoline buat. Warna ramuan itu benar-benar menarik perhatian mereka. Pandangan mata mereka masih terpusat pada kuali itu, hingga sebuah letupan terakhir menjadi pertanda bila ramuan itu sudah siap digunakan. Meskipun tidak ada seorang pun yang dapat mengetahui pasti, fungsi dari ramuan yang Camoline buat.


"Sekarang, masukkan ramuan itu ke dalam wadah, Nona."


"Ah, baiklah." Camoline mengambil botol kaca berukuran paling kecil. Dituangkannya cairan berwarna violet itu ke dalam botol secara perlahan-lahan.


"Sekarang, biarkan Tuan muda Londer yang mencoba ramuan itu. Bagaimana, Tuan muda?" Mata Camoline terbuka lebar. Meskipun ia tidak terlalu peduli pada pria itu namun, mendengar Londer akan mencoba ramuan anehnya membuat Camoline khawatir. Ia takut, malah membuat racun mematikan. Dan berakhir, dirinya dimasukkan ke dalam penjara.


"Aku akan melakukannya," ujar Londer yang membuat hampir semua orang menahan napas tidak percaya. Sedangkan orang yang tengah mereka khawatirkan, malah berjalan tenang menghampiri Camoline dengan langkah lebarnya. Ia menampilkan senyum setelah sampai tepat di hadapan Camoline.


Londer menatap botol kaca yang masih ada di tangan Camoline. Ia sempat ragu. Namun, keraguan itu tertutupi ketika matanya bertemu dengan tatapan khawatir Camoline. Pemandangan langka, di mana gadis keras kepala sepertinya khawatir pada pesaing.


"Aku akan melakukannya. Asal, ia mau mencium diriku setelahnya. Bagaimana, Azura?" Azura menaikkan alisnya sedikit tidak mengerti sebelum senyuman lebarnya terbit menggantikan kebingungannya.


"Baiklah. Kalian memang sepasang merpati," ujar Azura masih dengan senyuman.


Londer langsung mengambil botol kaca di tangan Camoline. Sebelum meminumnya, dirinya menghampiri gadis itu hingga berdiri tepat di hadapan Camoline. Meneguknya dalam sekali percobaan, Londer langsung merasakan api yang membakar tubuhnya. Ia tidak tahu jelas, kenapa bisa terjadi. Namun, tenaganya seolah meningkat meski harus menahan sakit karena rasa terbakar yang memenuhi hampir seluruh tubuhnya.


Membuka matanya perlahan, Londer segera menarik Camoline agar menempel padanya. Tanpa menunggu lama ataupun memikirkan kehadiran murid lain dan seorang guru di ruangan itu, ia langsung mencium Camoline tepat di bibirnya. Tidak lagi hanya menempel, ia ******* bibir tipis itu yang langsung menjadi candunya sejak pertama kali mereka berciuman.


Ia menggigit bibir bawah Camoline, hingga gadis itu tanpa sadar membuka mulutnya. Membuka akses Londer untuk ******* semakin dalam. Setelah menyadari bila Camoline hampir kehabisan napas, Londer mengakhiri ciuman itu. Ia menatap Camoline yang wajahnya sudah memerah dengan nafas memburu. Ia mengusap dengan lembut, bibir Camoline yang basah. Membuat gadis itu memejamkan matanya. Dilumatnya kembali bibir yang membengkak itu sebentar hingga beberapa kali Londer lakukan. Selama itu pula, Camoline tidak terlihat menolak.


"Kau membuat ramuan yang bagus. Tenagaku, terasa lebih banyak meskipun sedikit menyiksaku di akhir," ujar Londer. Tatapan matanya masih terkunci di bibir Camoline.


"Jadi, kalian berdua benar-benar sepasang kekasih?" tanya Azura. Sebelumnya, ia sudah meminta para murid lain untuk keluar dari ruangan ketika Londer baru saja menyambar botol kaca di tangan Camoline. Karena dirinya yakin, akan ada banyak orang yang iri pada keberuntungan Camoline.


"Ya. Dia bukan hanya kekasihku. Tetapi, ia akan selamanya menjadi gadisku," ujar Londer dengan tatapan mata yang masih terkunci pada Camoline. Gadis itu sendiri sedikit mengerutkan dahinya. Ia tidak pernah merasa memiliki hubungan dengan pria di depannya. Selain hubungan antar pesaing saja.


"Tapi setidaknya, kalian berdua memang cocok untuk bersanding bersama. Kelas sudah berakhir. Nona Camoline, sebaiknya kau memindahkan seluruh ramuan itu ke dalam botol. Itu akan sangat berguna untuk nanti," ujar Azura. Ia segera keluar dari ruangan itu. Enggan mengganggu sepasang burung merpati yang tengah bermesraan.


"Sejak kapan, aku memiliki hubungan seperti itu denganmu?" tanya Camoline dengan nada kentara kesal. Londer tersenyum mendengarnya. Ia kembali menyambar bibir Camoline dan melumatnya, sebelum gadis itu sempat menghindar. ******* kembali bibir itu dengan sangat lembut.


"Tidak perlu memintamu untuk menjadi kekasihku. Karena siapapun aku cium," Camoline memejamkan matanya tanpa sadar ketika Londer menciumnya kembali, "adalah milikku. Dan kau, gadis pertama yang aku cium. Kau akan bersamaku selamanya. Apapun yang terjadi. Itu takdirnya," jelas Londer.


Camoline terdiam. Ia bungkam. Dirinya teringat, bila tujuannya hidup kembali adalah untuk membalaskan dendam pada klan hitam yang menyamar menjadi klan putih. Ia menatap kembali Londer ketika pria itu mengusap pipinya dengan lembut.


"Kau hanya milikku."