The Wiz

The Wiz
Chapter 25 : Siapa?



"Camoline!"


Camoline menoleh ke belakang. Ia lantas menghentikan langkah kakinya, dan membiarkan Violetta dan Lily menghampiri dirinya. Kedua perempuan itu datang menghampiri dengan raut wajah yang sangat cerah. Keduanya seperti memiliki berita bahagia, hingga bisa memasang raut semacam itu. Padahal sebelum-sebelumnya, raut wajah mereka tidak lebih cerah dari pada langit mendung di luar Akademi. Alasannya sudah jelas, jika keduanya cukup tersiksa dengan pelatihan khusus yang Barcus berikan kepada mereka.


"Kalian tampak bahagia," ujar Camoline begitu keduanya sudah berada cukup dekat. Keduanya saling berpandangan, sebelum menganggukkan kepala dengan penuh semangat.


"Tentu! Kami berdua resmi pindah asrama. Kamu tahu, kami berhasil meningkatkan level kekuatan!" ujar Lily berseru senang. Latihan yang sangat melelahkan selama satu bulan ini, akhirnya membuahkan hasil. Walau setiap selesai latihan tubuhnya akan terasa remuk, tetapi hasil yang ia dapat sebagus ini, membuat umpatan yang sempat ia lontarkan dulu mendadak hilang.


"Benar. Kami berdua sudah berada di level 22," sambung Violetta dengan raut bahagianya. Camoline ikut tersenyum mendengarnya. Setidaknya, latihan yang diberikan Barcus membuahkan hasil yang cukup bagus.


"Itu sangat bagus," ujar Camoline. Lily mengangguk kuat. Tetapi, senyumannya perlahan luntur. Ia mengembungkan pipi kirinya.


"Tetapi tidak sehebat dirimu. Kamu tahu, naik 2 level, itu bagus memang. Tapi kenaikan level-mu sangatlah luar biasa. Aku tidak ada apa-apanya dibanding kemampuanmu," ujar Lily. Di sebelahnya, Violetta menoleh dengan cepat. Helaan napas terdengar dari mulut perempuan itu.


"Ya..., levelku naik dengan pesat setelah latihan— ini seperti pertarungan bunuh diri sebenarnya —dari Barcus saat itu," ujar Camoline. Lily hanya menganggukkan kepalanya saja. Ia juga tentu saja sudah mendengar perihal kondisi Camoline setelah bertarung dengan Londer saat itu.


"Sudahlah. Ayo ke ruang makan. Perutku sudah sangat ingin diisi," ujar Camoline. Ia menarik kedua temannya itu untuk segera masuk ke dalam ruang makan, yang dimana di dalamnya sudah berisi cukup banyak murid.


Untuk setiap makan siang, murid tidak dipermasalahkan jika datang terlambat. Selama mereka datang ke ruangan di jam makan siang, tidak akan ada hukuman seperti yang diterapkan di jam ketika sarapan atau ketika makan malam. Karena itu, terkadang ada beberapa murid yang memilih untuk makan siang ketika ruangan sudah cukup sepi.


"Ah, sayang sekali kita masih berbeda tempat duduk," keluh Lily. Camoline terkekeh pelan. Walau sangat disayangkan, tetapi peraturan tetaplah peraturan. Mereka tidak dapat menempati meja secara acak. Selain melanggar peraturan, itu juga akan menyebabkan murid lain kesal. Yah, peraturan mengesalkan memang.


"Ya sudah, tidak masalah. Asalkan, nanti kita keluar dari ruangan ini bersama lagi," ujar Camoline. Setelah mereka berjalan menuju meja masing-masing, Camoline segera duduk di ujung tepi meja panjang itu. Dari asramanya, hanya ada 5 orang yang tengah menyantap makan siangnya. Mereka begitu fokus pada makanan, atau mungkin memang tidak tertarik dengan kehadiran Camoline. Itu bukan masalah bagi Camoline. Apalagi dirinya tidak begitu mengenal satu orang pun dari mereka.


Makanan untuk Camoline segera hadir, tidak lama sejak Camoline mendudukkan dirinya dengan nyaman di tempatnya itu. Sebuah sihir yang bekerja, membawa nampan berisi penuh makanan yang diteleportasi oleh tukang masak di dapur khusus Akademi. Para tukang masak akan mendapatkan sebuah peringatan kecil apabila ada seorang murid yang duduk di kursi lebih dari 1 menit. Dengan gerakan yang cepat serta lihai, para tukang masak itu segera menyajikan satu porsi makanan untuk satu nampan. Yang mana setelah selesai, nampan-nampan itu akan berpindah dengan sendirinya ke atas meja para murid yang tengah menunggu makanan mereka.


Tidak ada yang membedakan antara murid satu dengan yang lain, atau bahkan berdasarkan tingkatan asrama mereka berasal. Semua murid akan tetap sama mendapatkan menu makanan yang serupa dan dalam waktu pengiriman yang sudah ditentukan. Bagi para tukang masak, dilarang adanya diskriminasi terhadap murid. Apabila salah satu tukang masak melakukannya, sengaja atau pun tidak, maka mau tidak mau dirinya harus melepaskan posisinya sebagai tukang masak Akademi. Karena dianggap sudah gagal menjaga komitmen para tukang masak yang sudah dianut sejak lama.


Camoline segera memakan makanannya dengan tenang. Ia benar-benar hanya memfokuskan perhatiannya pada makanan di hadapannya. Sup ikan dan beberapa kentang goreng menjadi menu kesukaannya selama berada di Akademi ini. Untuk saat ini, dirinya hanya ingin merasakan tenang dan santai sembari menikmati makanan kesukaannya ini.


"Halo —Camoline? Senang bisa melihatmu dari jarak sedekat ini."


Perlahan, kepala Camoline terangkat. Ia menoleh, mendapati seorang perempuan berambut pirang —yang mengingatkannya pada Silver karena rambut mereka sangat serupa—, tengah menampilkan senyuman manis ke arah dirinya. Tetapi, senyuman beserta sapaan ramah itu membuat kerutan di dahi Camoline justru muncul. Terlebih lagi dirinya melihat lencana di seragam perempuan di depannya. Berwarna merah, yang berarti perempuan di depannya adalah murid yang berasal dari asrama satu tingkat di atasnya.


Camoline benar-benar belum pernah berinteraksi dengan satu orang pun murid dari asrama itu.


"Kamu tidak salah orang?" tanya Camoline dengan ragu. Ia benar-benar harus memastikannya. Karena bisa saja, ada seseorang dengan nama yang serupa dengan dirinya. Tidak ada yang tidak mungkin.


"Tentu saja tidak. Di Akademi, hanya ada satu orang dengan nama Camoline. Dan itu adalah kamu," ujar perempuan itu dengan suasana yang masih riang dan cerah. Sekarang, perempuan ini mengingatkan Camoline pada sosok Lily. Walau Camoline tidak tahu, apakah perempuan ini akan sama cengeng-nya dengan Lily ataukah tidak.


Perempuan itu tidak juga duduk. Ia tetap berdiri di samping Camoline. Tampaknya, ia masih dengan sadar ingat perihal aturan di ruangan ini.


"Lalu, apa maumu?" tanya Camoline tanpa minat. Berkat kedatangan perempuan di sampingnya ini, nafsu makannya mendadak berkurang drastis. Dirinya memang tidak begitu suka diganggu ketika sedang makan. Rasanya, makanan di hadapannya menjadi terasa sangat hambar.


Perempuan itu terkekeh pelan ketika mendapatkan respon dingin seperti itu dari Camoline. Tetapi, dirinya terlihat tidak keberatan. Ia masih menampilkan senyuman di wajahnya yang sekilas terlihat cukup pucat.


"Namaku Liora Demeter. Aku ingin kamu mengingat itu. Sampai jumpa."


Camoline mengerutkan dahinya. Tanpa sadar, kepalanya bergerak mengikuti kepergian perempuan yang mengaku bernama Liora itu. Begitu perempuan tersebut benar-benar menghilang dari ruangan itu, Camoline baru menyadari sesuatu. Pandangan orang-orang yang satu asrama dengan dirinya, tertuju kepada dirinya. Mereka menatap Camoline dengan pandangan penuh curiga, sebelum saling berbisik dengan teman di sebelahnya. Bukan hanya dari murid di asrama biru saja. Tetapi dari murid lain, yang sepertinya memperhatikan interaksi dirinya dengan perempuan tadi.


Camoline tidak bisa untuk tidak penasaran. Sepertinya, perempuan itu cukup dikenal oleh banyak orang, kecuali dirinya.


"Aku tidak tahu, Putri Mahkota tertarik pada perempuan aneh itu."


"Sepertinya, Putri Mahkota disihir sehingga mau mendekati perempuan itu."


Kedua tangan Camoline mendadak kaku. Putri Mahkota. Pangkat yang tidak pernah Camoline duga sama sekali. Jika begitu, apakah itu artinya Liora adalah keturunan Asdus?