
Kelas tuan Barcus berada di luar ruangan. Tepatnya di padang rumput yang begitu luas di belakang bangunan kelas. Para murid baru berbaris di hadapan tuan Barcus yang menatap mereka satu per satu dengan tatapan malas. Tuan Barcus bukanlah guru resmi di akademi Topaz. Ia adalah orang yang dipilih Zelden untuk memberi ilmu kepada para murid tentang kekuatan alam. Yang sangat diketahui oleh Barcus sejak kecil.
Menghela nafas panjang, Barcus mendekat satu langkah pada murid baru yang sudah berkumpul semua di hadapannya. Ia menampilkan senyuman yang sebenarnya tidak berguna untuk saat ini. "Kalian menikmati pelajaran Mr. Hollous?"
Barcus langsung tertawa begitu melihat raut wajah yang sangat tidak enak dipandang dari murid-muridnya itu. Ia sebenarnya sudah menduga akan hal ini. Bukan setahun dirinya menjadi salah satu pengajar tidak resmi di Topaz, sehingga ia tahu betul sifat-sifat dari para pengajar di akademi. Mungkin, ia harus memberi sedikit bocoran tentang para pengajar Topaz pada murid-murid baru ini.
"Sudah-sudah, hilangkan raut wajah yang jelek itu. Sekarang, aku akan langsung memberitahu kalian sesuatu sebelum ke pelajaran utama."
Para murid langsung mengangkat kepala mereka. Menatap penuh minat pada Barcus yang hari ini tidak terlalu menyebalkan. Yah, Barcus memang cukup menyebalkan bila sudah berurusan dengan pidato singkat. Namun percayalah, pria itu tidak akan berbuat gila untuk menyiksa para muridnya. Setidaknya, ia tidak akan seperti Mr. Hollous yang sudah dianggapnya sebagai guru paling malas di akademi Topaz.
"Kalian pastinya sudah mengetahui tentang elemen dasar dari sebuah sihir. Kali ini, aku akan menjelaskan tentang tiga elemen penting yang sejak dulu ada di bumi. Yakni Air, Udara, dan Tanah. Ketiga elemen itu sangat penting untuk membuat elemen baru. Misalnya seperti gabungan antara elemen air dan udara, maka akan tercipta elemen es. Sampai ini, kalian mengerti?"
Semua mengangguk. Pelajaran dasar itu memang sudah mereka pahami sedikit setelah memperhatikan para penyihir di luar sana. Terkadang, ada juga para orang tua yang secara sukarela menjelaskan tentang ketiga elemen yang dianggap suci itu. Meski masih ada elemen api, namun elemen itu dianggap salah satu elemen penghancur yang sangat sulit ditemukan.
"Dilihat dari data kalian kemarin, kebanyakan kalian memiliki elemen gabungan antara air dan tanah, yang mana menjadi elemen tumbuhan. Itu hal wajar, mengingat dari desa sekitar Topaz memang merupakan penduduk berelemen tumbuhan. Meskipun ada beberapa yang memiliki elemen air murni. Namun," Barcus menatap satu persatu murid di depannya setelah memperlihatkan sebuah bola cahaya berwarna putih, "ada beberapa orang dari kalian yang memiliki elemen langka, seperti elemen cahaya milikku ini."
Elemen cahaya itu perlahan meredup hingga menghilang dari atas telapak tangan Barcus. Ia menghela nafas pelan lalu memperhatikan para muridnya yang masih terkagum dengan elemennya tadi. Namun, pandangan Barcus berhenti pada seorang gadis yang sempat membuat para guru geger semalam. Ia ingat sekarang, nama murid itu. Dan dirinya tidak pernah menyangka, akan bertemu dengan seseorang yang memiliki bakat alami yang begitu unik sebagai muridnya.
"Camoline."
Semua orang langsung menoleh ke arah seorang gadis yang satu-satunya memiliki rambut berwarna hitam legam itu. Ditatap sedemikian rupa oleh semua murid dan juga Barcus, membuat Camoline tanpa sadar mendengus keras.
"Kemarilah, ada hal yang ingin aku beritahu pada murid-murid di sini," ujar Barcus sembari memberi isyarat lewat tangannya agar Camoline mendekat.
"Jadi, aku dimaksudkan untuk menjadi bagian dari materi Anda?" tanya Camoline malas. Meski begitu, Camoline tetap berjalan menghampiri Barcus dengan kedua tangan yang terlipat di dada. Ia terlihat kesal. Mungkin karena kelas Mr. Hollous yang terlambat setengah jam lebih itu.
Barcus tertawa mendengarnya. Ia menatap Camoline dengan geli. "Anggap saja demikian. Kalau kau ikhlas, aku bisa memberimu nilai tambahan nanti."
"Sekarang, kemarikan tangan kananmu. Letakkan punggung tanganmu di atas telapak tanganku ini," ujar Barcus. Camoline menurut. Ia meletakkan punggung tangan kanannya ke atas telapak tangan Barcus.
"Fokuskan pikiranmu pada pusat elemen yang kau miliki—"
"Kau tidak berniat menyerap semua kekuatanku, bukan?" potong Camoline, membuat Barcus mendengus keras. Namun, beberapa murid justru terkekeh. Seolah-olah perkataan Camoline adalah hal yang bodoh.
"Tidak, bodoh. Aku akan mati di tangan kepala sekolah kalian jika berani melakukannya," Barcus menampilkan wajah kesalnya namun segera menenangkan diri, "lakukan saja perintahku dengan cepat."
Camoline menghembuskan nafasnya panjang. Ia memejamkan matanya, berusaha fokus pada titik elemen yang ada di dalam tubuhnya. Namun, ia justru melihat batu Opal yang tersimpan di dalam tubuhnya itu. Batu itu perlahan mengeluarkan sinar yang menyilaukan dengan warna biru. Semakin menyilaukan hingga akhirnya meredup, meninggalkan batu Opal yang sudah kehilangan warna birunya. Tidak lama, penglihatan bawah sadar Camoline beralih pada titik elemennya.
Meski tidak ada batu suci itu di dalam tubuhnya, kekuatan yang ia miliki termasuk langka saat itu. Ia menguasai salah satu kekuatan dari kegelapan meski hingga kematiannya terdahulu, ia belum bisa menguasainya. Juga, elemen tanaman yang walaupun elemen itu umum dimiliki saat ini, ia justru memiliki kemurnian elemen itu sendiri.
Begitu kedua mata Camoline terbuka, ia mendapati orang-orang di hadapannya yang menatap dirinya dengan mulut terbuka. Perlahan kepalanya menoleh, dan mendapati Barcus yang menatapnya juga dengan tatapan terkejut.
"Sudah kuduga, kau memang berbeda. Aku rasa, ada sesuatu di dalam tubuhmu yang menahan semua kekuatan yang kau miliki. Camoline, selamat. Kau sudah ada di tingkat Magi level 41."
Kali ini, Bukan hanya Camoline saja yang terkejut dengan kenaikan drastis yang dicapai dirinya. Namun semua orang yang mendengar hal ini, tidak bisa menyembunyikan keterkejutan mereka. Camoline masih menatap Barcus. Ia menatapnya dengan tatapan yang tidak bisa diartikan. Namun, ada sedikit hal yang baru diketahui oleh gadis itu. Barcus, memiliki salah satu kekuatan yang langka, yakni mengeluarkan semua kekuatan orang yang ia sentuh, hingga bisa diketahui berapa level sesungguhnya orang itu.
"Sebagai pemilik elemen tanaman murni, kau akan mendapat kelas khusus dariku. Kau harus bisa menguasai elemenmu, Camoline," ujae Barcus, namun Camoline merasakan ada sesuatu hal yang ingin Barcus katakan padanya. Satu hal yang membuat Camoline sedikit yakini ialah, Barcus juga bisa melihat batu suci yang ada di dalam tubuhnya.
Jauh dari tempat mereka, tanpa ada yang menyadari kehadirannya, Zelden juga merasakan keterkejutan yang sama. Meski sejak awal, ia merasakan ada yang aneh dengan para murid barunya tahun ini, namun ia tidak menyangka jika salah satu dari mereka bisa mencapai tingkat Magi kurang dari satu tahun. Pencapaian luar biasa dan berbahaya. Karena, jika ada orang luar yang mengetahui hal ini, gadis bernama Camoline itu dalam masalah besar. Akan sangat memungkinkan bila banyak klan yang ingin menguasai gadis itu.
"Sebenarnya, dari mana klan itu? Kenapa hanya dirinya yang tidak bisa kutelusuri asal-usul keluarga dari gadis itu?"