The Wiz

The Wiz
Chapter 57 : Terlihat



"Yang Mulia."


Asdus menoleh ke belakang. Di sana berdiri salah satu dari petinggi Istana. Tengah membungkuk dengan hormat ke arah dirinya.


"Ada hal apa yang membawamu ke sini?" Kepala petinggi Istana itu semakin menunduk. Aura mengintimidasi dari tubuh Asdus memang tidak main-main. Semua orang sangat takut karena hanya dengan keberadaan Asdus saja berhasil membuat siapa pun merasa tercekik.


"Leluhur Agung memiliki berita penting untuk Anda, Yang Mulia," ujarnya. Asdus perlahan membalikkan badannya. Ia menatap dengan pandangan tajamnya pada petinggi Istana itu.


"Pergilah." Setelah mendengar hal itu, petinggi Istana itu langsung berjalan keluar dari ruangan pribadi Asdus. Ia menutup pintu ruangan dengan sangat hati-hati sebelum melangkah dengan sangat cepat menjauh dari ruangan itu. Sedangkan di dalam ruangan, Asdus masih berdiri diam di tempatnya. Ia mengembuskan napas panjang.


"Kau sudah berada di sini, kenapa tidak langsung mengatakannya kepadaku?" Tidak lama, muncul seseorang dengan pakaian serba hitamnya. Yang sangat kontras dengan warna rambutnya yang telah memutih semua. Pria itulah yang disebut sebagai leluhur Agung. Orang yang menemani Asdus sejak lama. Walau demikian, orang itu tetap saja belum bisa menjadi orang yang begitu dipercayai oleh Asdus. Ia sangat mengakui apabila Asdus sangat berhati-hati terhadap orang sekitarnya.


"Hanya memberikan pekerjaan berguna untuk para penjilatmu," ujarnya. Pria bernama Edius itu berkata dengan santai. Sama sekali tidak terlihat apabila ia ketakutan atau tertekan dengan aura mengintimidasi yang Asdus keluarkan sejak tadi. Bahkan kini, ia bisa terkekeh ketika Asdus mendengus. Sesuatu yang mungkin akan sangat ditakuti oleh para petinggi Istana itu, karena sama saja itu menandakan apabila nyawa mereka berada di ujung tanduk.


"Sekarang, kau bisa mengatakannya," ujar Asdus. Ia bergerak mendekati kursi kerjanya. Mendudukkan tubuhnya di atas kursi yang empuk dengan hiasan emas di semua sisinya.


Edius mengembuskan napas pelan. Ia memang tidak akan pernah bisa berbasa-basi dengan pria di depannya ini. Karenanya, raut wajah Edius perlahan berubah. Ia langsung memasang wajah serius. Kakinya bergerak agar jarak antara dirinya dan Asdus berkurang.


"Kau masih tertarik pada batu Opal itu, bukan?" Asdus mengangkat kepalanya. Dahinya mengerut, lalu sebelah alisnya terangkat.


"Tentu saja. Itu alasanku berada di dunia ini," ujar Asdus. Ia menyandarkan punggungnya dan menatap Edius dengan tajam.


"Baguslah. Karena aku memiliki kabar yang sangat menarik tentang benda itu," ujar Edius. Ia mengeluarkan tangan tangannya yang selama ini bersembunyi di balik jubah kebesarannya. Tangan itu menggenggam sebuah kertas yang tergulung. Asdus menerimanya. Raut wajahnya menunjukkan jika ia sangat penasaran.


"Kabar darimu atau dari orang lain?" tanya Asdus penuh selidik. Sekarang, giliran Edius yang mendengus.


"Dariku. Aku hanya berjaga-jaga jika orang lain mengetahuinya lebih dahulu dibanding dirimu," ujar Edius dengan nada kesal. Asdus terkekeh pelan. Sangat menyukai membuat pria di depannya kesal.


Padahal, usia mereka terpaut ratusan tahun. Tetapi, keabadian yang Asdus miliki membuat pria itu terlihat lebih muda dibanding Edius. Yang seharusnya, Edius menjadi keturunannya ke sekian.


Asdus membuka gulungan itu. Ia membacanya dengan tenang dan serius. Tidak membiarkan satu kata pun terlewat oleh kedua matanya. Sedangkan Edius harus rela berdiri menunggu hingga Asdus sampai selesai walau tubuh tuanya itu tidak sekuat itu. Hal ini yang cukup sering membuat Edius kesal karena takdir Asdus yang tubuhnya begitu awet muda walau sudah ratusan tahun berlalu. Walau Asdus pernah menyebutkan jika apa yang terjadi kepada tubuhnya adalah kutukan, tetapi Edius tidak bisa untuk tidak iri.


"Kemarin, siang hari. Aku dengan sangat yakin melihat apabila baru Opal itu berada di Akademi Topaz." Asdus mengangguk mengerti. Ia menyimpan gulungan itu di atas meja. Raut wajahnya kembali menjadi serius.


"Berarti perkataan orang-orang bodoh itu bukan kebohongan," gumam Asdus. Edius dapat mendengarnya dengan jelas. Dan ia pun tahu siapa-siapa saja yang Asdus maksud. Dan tentunya itu adalah para petinggi Istana yang sebelumnya mengatakan apabila batu Opal berada di Akademi Topaz. Namun saat mereka ke sana belum lama ini, tidak ada satu pun tanda apabila batu itu memang ada di sana.


"Dan kamu sudah dapat melihat keberadaan pastinya?" Asdus kembali bertanya. Sayangnya, Edius hanya bisa menggeleng. Posisi batu itu tidak terlalu jelas. Bukan karena letaknya yang tersembunyi, tetapi terus berpindah-pindah.


"Tidak. Hanya saja aku bisa mengatakan, jika posisi batu suci itu terus berpindah-pindah," ujar Edius. Asdus langsung mengangkat kepalanya. Ia menatap langsung ke kedua mata Edius. Entah apa yang Asdus coba cari. Sebelum akhirnya helaan napas keluar dari mulutnya.


"Kau akan memberitahukan tentang ini kepada para penjilat itu, bukan?" Asdus menaikkan sebelah alisnya.


"Kenapa aku harus melakukannya?" Edius mengangkat kedua bahunya. Ia memasang wajah acuh.


"Agar mereka yang bekerja untukmu? Akan lebih mudah untukmu hanya menerima batu itu saja, bukan?" Asdus memejamkan kedua matanya beberapa saat. Hal itu membuat Edius kembali memasang wajah kesal. Namun, sayangnya Edius tidak bisa mengatakan apa pun. Menegur pun tidak bisa karena Asdus adalah pemimpinnya di sini.


"Tentu saja. Mereka memang sepatutnya melakukan segalanya untukku. Bahkan jika mereka harus menyerahkan nyawanya untukku," ujar Asdus. Ia membuka kedua matanya dan menatap Edius dengan seringai di wajahnya. Inilah Asdus yang Edius kenal sejak awal. Seorang pria mengerikan dengan obsesi gilanya. Namun, Edius tidak bisa untuk bersikap sangat buruk pada pria di depannya, yang sudah menyelamatkan dirinya saat itu. Walau Edius harus melakukan perjanjian —seperti para petinggi Istana itu— yang tertulis jika ia harus mau mengorbankan jiwa serta raganya untuk Asdus.


"Pergilah. Seseorang akan masuk sebentar lagi." Dan setelah mengatakan hal itu, keduanya dapat mendengar seseorang mengetuk pintu dari luar. Edius menoleh ke belakang sebelum ia kembali menatap ke arah Asdus.


"Aku akan kembali ke ruanganku, Tuanku." Edius sedikit membungkuk dengan tangan kanan yang terangkat menuju bahu kirinya. Setelah itu, tubuh Edius langsung menghilang dengan asap hitam yang menelannya. Kekuatan teleportasi klan hitam, tentu saja Asdus yang mengajarkannya. Hanya saja, Edius tidak seperti Asdus yang mampu menyembunyikan aroma khas sihir klan hitam. Sehingga ketika petinggi Istana yang tadi mengetuk pintu, kini mengerutkan dahinya karena mencium aroma yang sangat asing di hidungnya.


"Hormat hamba, Yang Mulia—"


"Beritahu rekan-rekanmu jika keberadaan batu Opal telah terlihat kembali di Akademi Topaz. Atur pertemuan untuk membahas hal ini besok siang," ujar Asdus dengan nada perintahnya. Ia bahkan tidak memberikan waktu untuk petinggi Istana itu untuk mengatakan maksud kedatangannya.


Orang di hadapan Asdus itu tersentak pelan. Namun, ia segera mengangguk dengan patuh. Perintah Asdus adalah segalanya.


"Baik, Yang Mulia. Akan hamba sampaikan. Hamba mohon pamit undur diri," ujar petinggi Istana itu sebelum melangkah keluar dari ruangan Asdus. Setelah pintu tertutup, Asdus kembali mengembuskan napas panjang.


"Apakah batu itu berada di dalam tubuh seseorang karena kelakuannya?" gumam Asdus pelan. Ia menjadi teringat pada satu sosok saat itu.