The Wiz

The Wiz
Chapter 39. Hilang



"Kamu harus bisa lolos, bagaimana pun caranya. Jika tidak, posisimu di Akademi ini benar-benar terancam sekali pun kamu pernah membuat heboh satu Akademi," ujar Barcus. Ini adalah kali kesekian Barcus berkata dengan nada dan raut wajah seriusnya. Tidak sesering ketika ia berkata dengan nada mengejek. Jika sudah begini, maka artinya posisi Camoline di sini memang cukup mengkhawatirkan. Akademi Topaz selalu tidak main-main dengan peraturan yang sudah mereka tetapkan. Mereka tidak pandang bulu terhadap murid-muridnya. Jika ada yang dianggap tidak berguna, akan langsung dikeluarkan begitu saja dari Akademi ini. Dan tidak lolos di ujian kali ini merupakan satu dari beberapa hal yang bisa mengancam posisi seorang murid di sini.


"Aku mengerti," ujar Camoline. Ia mengembuskan napas secara perlahan ketika Barcus berjalan meninggalkan dirinya. Satu jam lagi sebelum tes terakhirnya, namun Camoline sama sekali tidak bisa melihat perkembangan yang ia dapatkan dari hasil latihannya selama beberapa hari ini. Tubuhnya seakan enggan bekerja sama, dan kekuatannya tidak juga keluar dengan baik.


Camoline menundukkan kepalanya. Ia merasa sangat buruk. Menyadari tubuhnya sama sekali tidak memiliki kekuatan alami, membuat semua terasa lebih sulit. Padahal sebelumnya, kekuatan dari batu Opal seolah dengan mudahnya mengisi tubuhnya yang tanpa kekuatan ini. Namun sekarang, kekuatan batu Opal seolah enggan untuk membantu dirinya.


"Kenapa menjadi seperti ini?" keluh Camoline. Ia mengangkat kembali kepalanya. Dirinya sudah tidak memiliki banyak waktu lagi. Ia harus segera sampai di tempat tes agar Delwana tidak menganggap dirinya mundur dari tes terakhirnya ini. Tes terakhir yang sayangnya sangat penting.


Camoline terus melangkahkan kakinya. Ia benar-benar memilih acuh pada orang-orang yang ia lewati. Sekali pun mereka tengah membicarakan dirinya. Selain kehadiran Ayahnya ke Akademi, kabar tentang dirinya yang harus mengikuti tes susulan pun menyebar dengan cepat dan membuat mereka menatap Camoline dengan berbeda. Mereka kembali menatap Camoline dengan rendah, sama seperti saat dirinya masih berada di asrama putih.


Hal ini tentu saja memang akan terjadi. Ia bukan seseorang yang kuat sepenuhnya. Hanya seseorang yang mendapatkan berkah entah kutukan dengan keberadaan batu Opal di tubuhnya. Sekarang, Camoline benar-benar menyesali tingkahnya pada 500 tahun yang lalu. Namun jika tidak berbuat nekat seperti saat itu, entah bagaimana keadaan dunia saat ini. Mungkin akan lebih menyedihkan dibandingkan saat ini.


"5 menit lagi dan kau akan terlambat. Kamu mendapat keberuntungan lagi, Nona muda," ujar Delwana. Menyadarkan Camoline jika dirinya sudah sampai di tempat tes yang ditentukan. Camoline menghela napas pelan. Ia tidak menanggapi perkataan Delwana, karena sepertinya pria itu dalam keadaan tidak bisa diajak berbincang.


"Langsung saja lakukan tesmu. Sama seperti saat itu. Lebih cepat kamu menyelesaikan tesmu, maka lebih baik," ujar Delwana lagi. Camoline mengangguk mengerti. Ia kembali berjalan ke tengah lapangan dan berdiri tegap menghadap ke arah patung tanaman dengan bentuk serupa seperti sebelumnya. Baiklah, ia hanya perlu memindahkan patung itu tanpa merusaknya sedikit pun. Ia bisa, dirinya harus yakin bisa.


"Mulai!" seru Delwana. Dengan segera, Camoline memposisikan tangan kirinya ke depan. Ia mulai mengendalikan sulur-sulur tanaman yang tumbuh perlahan dari dalam tanah. Sulur-sulur itu bergerak bersama ke arah patung berada. Setelahnya, Camoline mulai mengendalikan kekuatan yang keluar dari tubuhnya, membuat sulur-sulur tanaman itu mulai mencengkram patung tersebut. Ini bagian yang cukup sulit. Karena Camoline harus menjaga agar kekuatannya tidak menurun atau meningkat secara tiba-tiba karena akan mengakibatkan patung itu hancur seketika. Setelah memastikan semua bagian terlingkupi oleh sulur-sulur tanaman, barulah Camoline mulai menggerakkan tangan kirinya.


Tangannya bergerak dengan sangat perlahan. Tentu saja dirinya khawatir akan melakukan kekacauan untuk kesempatan terakhirnya di tes kali ini. Ia harus bisa lolos, bagaimana pun caranya. Sama seperti yang Barcus katakan.


Cukup lama bagi Camoline untuk melaksanakan tesnya. Lebih lama dibanding murid lain saat tes sebelumnya. Bahkan, keringat sudah mengalir di dahinya. Tes kali ini seolah menguras habis semua tenaganya. Benar-benar aneh. Padahal ketika melawan Londer saat itu, Camoline tidak selemah ini. Ia berhasil menahan elemen api pemuda itu. Elemen yang sangat sulit dihadapi oleh elemen tanamannya. Namun kini, kekuatan elemen tanamannya justru melemah dengan drastis.


"Setidaknya kamu lolos. Sudah, pergilah." Camoline menghirup napas dengan rakus. Dadanya terasa cukup sakit hanya karena tes tadi. Ia sedikit membungkuk. Kedua kakinya terasa begitu lemas sekarang.


Menghela napas panjang, Camoline mulai menegapkan punggungnya. Ia menoleh ke sekeliling. Tidak ada Delwana, pria itu sudah pergi rupanya. Sekarang, ia hanya perlu pergi dari sini dan berjalan menuju klinik. Tubuhnya benar-benar butuh istirahat, dan lengannya perlu dicek ulang oleh dokter di klinik.


"Camoline!"


Londer datang tepat waktu. Setidaknya berkat pria itu, Camoline tidak merasakan sakit dan dingin dari lantai marmer. Tubuhnya yang sangat lemas membuat kedua kakinya tidak sanggup menahan tubuhnya lagi.


"Bertahanlah, aku akan membawamu ke klinik." Dengan mudahnya, Londer mengangkat tubuh Camoline. Ia berjalan dengan cepat ke arah klinik yang masih cukup jauh itu. Sesekali ia juga memastikan jika Camoline masih sadarkan diri. Melihat Camoline dalam keadaan seperti ini tentu saja benar-benar membuat Camoline sangat khawatir. Langkah kaki Londer semakin cepat bahkan kini berlari. Mendengar ringisan dari mulut Camoline membuat dirinya semakin panik.


"TOLONG PERIKSA DIA."


Dua dokter yang tengah berbincang bersama Barcus di dalam ruang klinik itu langsung menoleh. Mereka terdiam bahkan ketika Londer mulai meletakkan tubuh Camoline ke atas salah satu bangkar. Sampai akhirnya kedua dokter itu berjalan mendekat setelah Londer menatap keduanya dengan tajam.


"Dia kehabisan tenaga. Sepertinya, dia sudah mengeluarkan semua kekuatan sihirnya," ujar salah satu dokter setelah memeriksa denyut nadi Camoline. Dokter lainnya bergerak ke arah rak berisi macam-macam ramuan. Mencari ramuan yang tepat untuk memulihkan kondisi Camoline.


"Kehabisan kekuatan?" tanya Barcus dengan kerutan dalam di dahinya. Dokter yang baru saja berbicara itu menoleh lalu mengangguk dengan yakin.


"Iya. Kejadian yang cukup langka, namun bukan hal aneh terjadi pada murid-murid yang belum bisa mengendalikan kekuatan sihirnya," ujar dokter itu lagi. Dahi Barcus masih mengerut. Ia mendorong tubuh dokter itu, sehingga dirinya kini berdiri di sebelah kiri tubuh Camoline yang tengah berbaring.


Barcus segera menyentuh denyut nadi di pergelangan gadis itu. Ia memejamkan mata dan mulai memfokuskan kekuatannya untuk melihat keadaan Camoline dari dalam. Dalam waktu singkat, kedua matanya kembali terbuka. Kali ini raut wajah terkejut muncul di wajahnya.


"Dia bukan kehabisan energi! Kekuatan elemen tanamannya mulai menghilang," ujar Barcus. Dokter yang ada di sampingnya langsung melotot, menatap Barcus tidak percaya. Dengan segera ia memeriksa Camoline lagi. Dan benar, perkataan Barcus sepenuhnya benar.


Elemen tanaman di tubuh Camoline menghilang.