The Wiz

The Wiz
Chapter 35.



"Kau bisa keluar dari klinik besok saja. Kenapa memaksa hari ini?!"


Camoline melirik dengan malas ke arah Silver. Perempuan ini sudah mengeluhkan hal serupa sejak 1 jam yang lalu. Membuat telinganya terasa berdengung. Kali ini, Camoline hanya menghela napas panjang. Ia memilih untuk mengabaikan perkataan Silver dan kembali berjalan menuju kamar asramanya. Mengabaikan Silver yang terus saja melayangkan protes di belakangnya. Kepalanya akan semakin sakit jika terus mendengarkan protes dari perempuan itu.


"Kau harus berhati-hati, Camoline." Camoline menghela napas panjang. Ia menoleh ke arah Silver dengan raut wajah malasnya itu.


"Silver, tanganku yang lumpuh, bukan kedua kakiku. Mengerti? Lagipula, memang sudah saatnya aku keluar dari klinik karena besok aku akan ikut ujian yang tersisa," ujar Camoline. Silver berhasil diam untuk beberapa saat, sebelum kedua matanya melotot kaget. Dengan segera, ia berlari menyusul Camoline yang sudah berjalan sejak tadi.


"Apa?! Tunggu...kau bahkan belum—"


"Ini keputusan dari Kepala Sekolah, Silver. Jadi diamlah," potong Camoline. Ucapan Camoline berhasil membuat Silver menutup rapat mulutnya. Sekarang, dirinya ikut berjalan di samping Camoline. Sesekali melirik ke arah wajah Camoline, sebelum menurunkan pandangannya pada lengan yang terbungkus kain itu. Walau Camoline memang terlihat sangat sehat, tetapi Silver merasa jika keadaan Camoline masih sangat menyedihkan.


"Tapi, hari ini kau akan beristirahat di kamar, bukan?" Camoline menoleh sebentar. Ia mengangkat kedua bahunya.


"Tentu saja tidak," ujar Camoline. Karena dirinya harus berlatih dengan cepat untuk mengendalikan kekuatan elemen yang ada di tubuhnya. Ia harus bisa melakukannya sebelum tes pengulangan untuk kelas Delwana dilaksanakan.


Camoline bertekad, agar tidak ada satu orang pun yang sadar jika dirinya tidak memiliki kekuatan murni di tubuhnya. Ia hanya mampu mengandalkan kekuatan yang batu Opal berikan kepada tubuhnya selama ini. Dan untuk melakukannya, ia setidaknya harus bisa mengendalikan kekuatan yang keluar sebaik mungkin.


"Kau benar-benar tidak bisa beristirahat dengan benar, ya?" Camoline hanya mendengus setelah mendengar gerutuan dari Silver itu. Seharusnya Silver sudah tahu hal seperti itu. Karena bahkan sebelum hari ujian, dirinya sudah sering berlatih di luar jam pelajaran. Bahkan sesekali Silver juga akan ikut dirinya walau hanya untuk menonton saja.


Masih dengan rasa kesalnya, kaki Silver tidak berhenti melangkah. Ia ingin memastikan jika Camoline benar-benar pergi ke kamar mereka lebih dahulu sebelum merencanakan latihan di saat kondisi tangannya yang cukup buruk itu. Setidaknya, hanya beristirahat karena Camoline sudah memakan obat sebelum keluar dari klinik itu.


Keduanya berjalan dalam diam, bahkan ketika sudah sampai di asrama Biru. Beberapa orang yang berpapasan dengan mereka mencoba untuk menyapa keduanya, tetapi hanya Silver yang menanggapi. Camoline merasa jika tubuhnya terasa sangat lelah secara tiba-tiba. Bahkan pandangannya mulai memburam sejak memasuki asrama. Sehingga sesekali kepalanya terus menggeleng. Berusaha untuk menyingkirkan rasa pusing yang kini menghantam kepalanya.


"Temanmu baik-baik saja?" Kepala Silver terangkat. Ia menatap balik ke arah salah satu siswi, yang kamarnya berada di samping kamar miliknya dan Camoline.


"Aku yakin tidak," ujar Silver. Ia bergerak mendekati Camoline. Ketika tangannya baru saja menyentuh lengan kiri Camoline, tubuh gadis itu hampir saja terjatuh. Beruntung Silver dan dua siswi di sampingnya langsung menahan tubuh Camoline agar tidak menyentuh lantai yang dingin.


"Ugh..., kepalaku sangat sakit," gumam Camoline lirih. Silver menghela napas panjang. Dirinya sudah menduga jika efek obat dari klinik akan seperti ini. Karena Silver pernah melihat murid lain mendapat reaksi seperti ini sebelumnya.


"Tubuhnya sedikit panas. Apakah dia demam juga?" tanya siswi bernama Eris itu. Ia memandang Camoline dengan raut khawatir.


"Tidak. Ini hanya efek obat penyembuhan. Ramuan ini memiliki mantra level tinggi, sehingga efeknya akan seperti ini," ujar Silver menjelaskan. Eris mengangguk mengerti. Dirinya benar-benar baru mengetahui perihal ini. Selama ini, hanya ramuan dengan tingkat rendah yang ia hapal. Sepertinya, luka di lengan Camoline begitu parah sehingga memerlukan ramuan dengan level tinggi.


Ketiganya sampai di dalam kamar Silver dan Camoline. Setelah membaringkan Camoline dengan hati-hati, Silver mengambil beberapa buku yang sejak tadi dipegang oleh Lyn.


"Terima kasih atas bantuan kalian," ujar Silver. Eris dan Lyn mengangguk dengan senyuman di wajah keduanya. Mereka melirik ke arah Camoline yang sepertinya sudah terlelap sepenuhnya.


"Aku penasaran. Apa yang menyebabkan dia terluka seperti itu? Kenapa dia diserang?" Silver hanya mampu mengangkat kedua bahunya. Ia juga sama sekali tidak tahu alasan kenapa Camoline mendapatkan serangan itu. Bahkan dirinya yang berada di lokasi kejadian saat itu, tidak bisa melihat siapa yang menyerang teman sekamarnya itu.


"Aku sama sekali tidak tahu. Tapi sepertinya, ini serangan acak untuk menciptakan keributan kecil di Akademi. Mungkin seperti itu," ujar Silver pelan. Eris menoleh ke arah Silver. Menatapnya beberapa saat sebelum kepalanya mengangguk.


"Baiklah. Aku dan Lyn akan keluar sekarang. Berhati-hatilah. Kita tidak tahu apakah serangan itu memang hanya untuk mengecoh para guru atau memang ada niat lain," ujar Eris. Silver mengangguk mengerti. Ia berjalan mengikuti kedua murid itu. Setelah keduanya berjalan keluar dari kamarnya, Silver segera menutup rapat pintu kamar. Bahkan menguncinya.


"Entah ini berkaitan atau tidak," gumam Silver. Ia menatap langit-langit kamar sambil menghela napas panjang. Perlahan, kepalanya bergerak untuk menatap ke arah Camoline yang tengah terlelap karena efek dari ramuan yang dimakannya. Ia lalu berjalan ke arah ranjangnya berada. Duduk di atasnya dengan badan yang menghadap ke arah Camoline.


"Jika benar batu Opal itu ada pada tubuhmu, maka serangan ini bukan tanpa alasan. Dan aku bisa menebak siapa yang melakukan serangan itu. Tapi, sejak kapan mereka menyadarinya?" gumam Silver. Ia terdiam cukup lama. Isi kepalanya terasa akan meledak hanya untuk memikirkan kejadian yang menimpa Camoline. Kejadian kemarin benar-benar menghebohkan satu Akademi. Bahkan Silver mendengar langsung dari para seniornya jika serangan ini adalah kejadian yang pertama setelah 5 tahun berlalu. Menyerah dengan pikirannya yang semakin semrawut, Silver menghela napas panjang.


"Maaf jika aku lancang, Camoline. Tetapi aku ingin mengetahui kebenarannya darimu langsung," ujar Silver. Ia berdiri dan langsung mendekat ke arah Camoline. Mengembuskan napas panjang, Silver mulai berkonsentrasi penuh. Jari telunjuknya ia arahkan pada dahi Camoline.


Ia akan membaca beberapa memori Camoline. Entah Camoline akan sadar atau tidak nantinya. Ia hanya ingin tahu apakah perkataan waktu itu yang ia dengar malam itu. Dirinya tidak ingin terhasut seperti orang bodoh.


Ting.


Sekitar 10 menit Silver membaca isi memori Camoline. Dengan perlahan, Silver menjauhkan jarinya dari wajah Camoline. Tatapan Silver terlihat kosong untuk beberapa waktu. Sebelum ia berdiri dan kembali duduk di atas ranjangnya sendiri.


"Gila," gumam Silver. Matanya melirik ke arah Camoline dengan tatapan mata yang sulit diartikan