The Wiz

The Wiz
Chapter 37. Kisah Lalu



Camoline menundukkan kepalanya. Bahkan ini belum satu tahun semenjak dirinya berada di Akademi ini, tetapi ia merasa asing dengan sosok pria di sampingnya. Orang yang merawat dirinya semenjak kecil itu, bahkan tidak terlihat menua sedikit pun.


"Bagaimana keadaanmu?"


Kepala Camoline menoleh menatap Carlus, Ayahnya. Lalu, pandangannya turun pada lengan kanannya yang terlihat sangat menyedihkan. Lengannya ini sudah jelas menjadi pusat perhatian Ayahnya.


"Tidak buruk tetapi tidak bisa dikatakan baik juga," jawab Camoline. Carlus mengangguk mengerti. Embusan napas keluar dari mulutnya dengan perlahan. Pandangan mata pria itu begitu tajam, tetapi Camoline bisa merasakan bagaimana sang Ayah menatap dirinya penuh kasih sayang.


Ah, ngomong-ngomong, Ayahnya pasti kesepian karena harus tinggal sendirian.


"Bagaimana dengan Ayah?" tanya Camoline. Carlus kembali menoleh ke arah putrinya. Ia lalu tersenyum dengan tatapan mata yang melembut. Tangannya yang kasar itu mengusap kepala Camoline dengan penuh kasih sayang.


"Seperti yang kamu lihat, Ayah tetap seperti biasa. Sibuk mencampurkan cairan-cairan aneh itu. Walau rasanya begitu kosong karena kamu tidak ada di sekitar Ayah," ujar Carlus. Camoline terdiam. Menatap wajah sang Ayah beberapa saat sebelum ia membuang pandangannya ke depan. Dadanya secara tiba-tiba terasa sesak hanya karena mendengar perkataan Carlus ini.


"Jangan pikirkan Ayah. Kamu harus berlatih dengan sangat baik agar bisa hidup lebih baik dari pada Ayahmu ini. Jangan sampai masa depanmu sesuram Ayah." Camoline tidak merespon perkataan Carlus itu. Ia menundukkan kepalanya. Ada banyak hal yang ia rahasiakan dari Ayahnya. Tentang batu Opal di dalam tubuhnya hingga dirinya yang merupakan jiwa reinkarnasi dari 500 tahun silam. Camoline sangat ingin menceritakan semuanya. Berkeluh kesah, membagi beban di pikirannya selayaknya seorang anak kepada Ayahnya.


Tetapi itu sulit. Tidak semudah yang ia bayangkan.


Camoline takut, Ayahnya akan memilih untuk menjauh dan tidak lagi menganggap dirinya.


"Ngomong-ngomong, bagaimana dengan sekolahmu? Menyenangkan? Kamu sudah memiliki teman, bukan?"


Camoline menoleh ke arah Carlus secara perlahan. Raut wajah Carlus begitu bersemangat. Sangat ingin tahu perasaan anaknya itu selama bersekolah di Akademi ini. Akademi ternama yang selalu meluluskan murid-murid luar biasa.


"Iya." ujar Camoline. Dirinya hampir saja berbicara dengan nada gugup. "Cukup menyenangkan dan aku juga memiliki teman," lanjut Camoline.


Carlus tersenyum puas. Sekali lagi, ia mengusap kepala anaknya itu. Pandangannya lalu beralih, memperhatikan pandang rumput di depannya. Walau begitu, telinganya yang cukup tajam itu pun bisa mendengar suara para murid yang berada di dalam gedung. Ada beberapa orang yang menyebutkan nama anaknya. Carlus melirik ke arah putrinya itu. Ia tidak menduga jika Camoline akan cukup populer.


"16 tahun yang lalu, adalah hari pertama kita bertemu." Carlos melirik ke arah Camoline. Kedua sudut bibirnya terangkat setelah berhasil menarik perhatian anaknya itu.


"Saat itu, suhu sangatlah dingin. Ada badai besar malam sebelumnya, membuat jalanan tertutupi salju. Bahkan, pintu rumahku hampir tidak bisa terbuka karena tumpukan salju yang ada di balik pintu." Carlus menghela napas panjang. Ia kembali tersenyum ketika mengingat masa itu. Kepalanya menoleh, menatap Camoline yang terlihat sangat tertarik dengan ceritanya itu. Hal yang belum pernah Carlus ceritakan kepada Camoline sebelumnya.


"Sekuat tenaga aku membuka pintu. Mencairkan es di gagang pintu. Dan tebak yang aku dapati setelahnya? Segunung es masuk ke dalam rumahku. Bukan hanya itu saja, tetapi seorang bayi kecil ikut masuk. Aku menduga, bayi itu berada di atas tumpukan salju. Entah sejak kapan, tetapi tubuhnya sangat pucat dan dingin ketika aku menggendongnya." Carlus menatap Camoline dengan tenang. Namun, kedua matanya mulai berair.


"Bayi yang sangat cantik dengan kedua iris mata berwarna biru. Sebiru air di lautan. Ia memiliki senyuman manis. Namun, ada satu hal yang membuatku begitu khawatir saat itu."


Pandangan Camoline beradu dengan Carlus. Dalam hatinya, ia berharap jika dugaannya salah.


"Sebuah batu suci yang bersinar di dalam perutmu. Aku khawatir, ada orang jahat yang akan mengincar nyawamu guna mendapatkannya. Sehingga sampai usiamu yang ke-10 tahun, aku terus berpindah tempat dan memastikan kamu tidak berinteraksi terlalu lama dengan orang-orang."


Satu tetes air jatuh dari pelupuk mata Camoline. Dugaannya benar. Carlus tengah menceritakan tentang dirinya. Yang berarti selama ini, dirinya bukanlah anak kandung Carlus.


"A-ayah." Carlus berdehem dengan pelan. Ia mengusap pipi kiri Camoline yang terdapat jejak air mata. Carlus tersenyum, namun Camoline tahu jika senyuman Carlus tidak secerah biasanya.


"Siapa dan darimana kamu berasal, kamu tetaplah anakku, Camoline," ujar Carlus. Camoline tidak bisa menahan diri lagi. Dengan cepat ia langsung masuk ke dalam pelukan Carlus. Memeluk sosok yang selama ini menjadi Ayahnya itu dengan isak tangis yang terdengar memilukan.


Camoline merasa sangat bersalah selama ini. Ia menyembunyikan banyak hal, terutama tentang kenyataan jika dirinya adalah jiwa dari 500 tahun yang lalu. Tentang batu Opal di dalam perutnya juga. Tanpa ia tahu, jika Carlus sudah tahu lebih dahulu dan bahkan menjaga dirinya sejak kecil dari orang-orang yang mungkin akan menghabisinya agar mendapatkan batu ini.


Carlus mengelus punggung putrinya itu dengan pelan. Rasanya Carlus tidak ingin percaya jika bayi yang ia temukan saat itu sudah sebesar ini. Bayi rapuh itu sudah menjadi seorang gadis yang cantik dan pemberani. Carlus menghela napas panjang. Waktu berlalu dengan sangat cepat tanpa ia sadari.


"Berjanjilah untuk tetap menjadi putri kesayangan Ayah, Camoline," bisik Carlus. Camoline mengangguk dengan kuat. Tentu saja ia akan selalu menganggap Carlus sebagai Ayahnya. Sekali pun ia harus hidup kembali beratus-ratus tahun selanjutnya. Ia akan tetap menganggap Carlus sebagai Ayahnya.


Karena di kehidupan pertamanya pun, ia tidak memiliki satu pun sosok orang tua.


Hingga kehidupannya yang kedua ini, satu hal yang tidak bisa Camoline ketahui adalah darimana dirinya berasal. Di kehidupan pertamanya, para tetua klan hanya menjelaskan jika dirinya dan beberapa anak terpilih adalah anak yang tercipta atas berkat sang Dewa. Jika disamakan, mereka setara dengan Pandora, manusia yang tercipta oleh para Dewa saat itu. Hanya saja, hati mereka dimurnikan sehingga rasa iri dan dengki tidak akan pernah datang.


Dirinya dan anak-anak terpilih, tidak lahir seperti anak manusia lainnya. Mereka tercipta dari sebuah cahaya, membuat Camoline saat itu tidak merasakan ikatan batin apa pun dengan seseorang. Atau memanggil seseorang sebagai Ayah atau Ibunya. Dan di kehidupan keduanya ini, ketika dirinya memiliki seorang Ayah, Camoline sangat bahagia. Walau belum pernah bertemu dengan sosok Ibu, tetapi Camoline yakin jika dirinya lahir dari rahim seorang wanita. Seperti manusia lainnya.


Namun sekali lagi, harapannya hanyalah harapan. Ia lagi-lagi bukan lahir dari perut seorang Ibu. Asal-usulnya sangat tidak jelas. Entah dirinya yang kembali terlahir dari sebuah cahaya seperti dahulu, atau memang ada seorang Ibu yang membuang dirinya saat itu. Camoline tidak bisa mengetahuinya dengan pasti.