The Wiz

The Wiz
Chapter 55 : Rahasia Violetta



Peningkatan level Camoline yang mengejutkan lagi itu, kini tidak langsung diumumkan. Camoline bahkan tidak langsung dipindahkan ke asrama yang sesuai dengan tingkat sihirnya saat ini. Ia masih berstatus sebagai murid dari asrama biru. Alasannya adalah bukan hanya karena peningkatan yang Camoline dapatkan cukup aneh, tetapi Zelden belum membuat ulang data untuk Camoline. Untuk kali ini, Zelden harus mengurus sebuah berkas sebelum meresmikan Camoline pindah asrama. Dirinya begitu sibuk dengan berkas-berkas yang ada. Terlebih saat ini tes bulanan masih akan berlangsung.


"Kau akan dipindahkan, paling cepat setelah tes bulan ini dilaksanakan," ujar Zelden setelah ia menghentikan latihan Camoline saat itu. Dan mau tidak mau, Camoline mengangguk untuk setuju. Lagipula, dirinya tidak yakin apakah bisa bersikap biasa saja jika dipindahkan saat itu juga. Karena asrama selanjutnya yang akan ia datangi terasa cukup menegangkan.


"Selama menunggu, aku akan melatih kekuatanmu terus. Setidaknya, kamu harus mampu mengimbangi murid-murid yang memang sudah berada di tingkat Sage," ujar Delwana. Semenjak mengetahui tentang batu Opal serta kisah reinkarnasi Camoline, pria itu menjadi sedikit melunak kepadanya. Delwana mungkin masih berkata dengan nada dingin dan ketus, tetapi ia tidak lagi mengeluarkan kata-kata penuh sindiran. Camoline tidak akan mencari tahu apa yang menjadi alasan Delwana seperti itu. Ia hanya bersyukur karena Delwana tidak akan menjadi menyebalkan sama seperti Barcus.


Saat ini, Camoline tengah berjalan seorang diri. Silver entah berada di mana, Camoline lupa gadis itu menyebutkan tempat mana sebelum berlari dengan tergesa-gesa. Tujuan Camoline saat ini adalah perpustakaan. Ia akan mengembalikan buku yang ada di tangannya saat ini. Buku yang menjadi lanjutan dari kisah bersama batu Opal itu. Dalam buku ini memang sangat jarang menyebutkan tentang batu Opal, namun Camoline mendapat beberapa fakta baru juga.


Langkah kaki Camoline perlahan terhenti. Di depannya, dengan jarak yang cukup jauh, Camoline melihat Violetta tengah berbincang bersama seorang pria tua berpakaian serba putih. Tidak perlu melihat dengan teliti lagi, karena pakaian pria itu sangat jelas merupakan pakaian kehormatan untuk para petinggi Istana. Dengan perlahan, Camoline melangkah mundur dan langsung bersembunyi di balik tembok. Ia harus mengetahui apa pun yang berkaitan dengan para petinggi itu.


"Setidaknya kamu harus berguna."


Dahi Camoline mengerut. Suara pria tua itu terdengar cukup jelas berkat ia yang menggunakan salah satu kekuatan dari batu Opal.


"Tapi Ayah, aku tidak tahu dimana batu suci itu berada," ujar Violetta dengan nada bergetar. Gadis itu diintimidasi oleh seseorang yang disebutnya Ayah itu. Camoline menjadi tidak mengerti dengan hubungan Ayah-anak itu. Namun mengingat bagaimana angkuhnya para petinggi Istana, Camoline tidak bisa untuk tidak heran.


"Karenanya gunakan kekuatanmu dengan baik, payah! Aku sudah sudi menerimamu walau tingkat sihirmu tidak lebih tinggi dari pada para pelayan, tetapi kau tidak bisa aku gunakan sama sekali! Sungguh sialan." Tubuh Violetta tersentak. Ia sudah cukup sering mendapatkan hinaan seperti itu dari sosok Ayahnya ini. Tetapi tetap saja, rasanya begitu menyakitkan untuk hatinya. Ayahnya yang baru menerima kehadirannya setelah ia berhasil masuk ke Akademi Topaz ini, tentu saja tidak akan puas hanya dengan keberhasilan itu saja. Tingkat gengsi Ayahnya begitu tinggi. Dan Violetta harus melakukan banyak hal agar gengsi sang Ayah terpenuhi.


"Gunakan kekuatan sialan yang seperti wanita gila itu! Atau, atau gunakan mantra apa pun untuk mencarinya! Jika kamu tidak berguna, lebih baik susul saja wanita gila itu!" Setelah puas mengatakan hal itu, pria itu segera berjalan meninggalkan Violetta. Walau sudah mengatakan hal-hal yang menyakitkan, wajah penuh amarah dan kekesalan itu masih saja ada. Sepertinya tidak pernah ada kata puas pada pria itu untuk menghina dan menyakiti Violetta.


Violetta mengembuskan napas panjang. Ia mengusap setetes air mata yang berhasil jatuh setelah kepergian Ayahnya. Setenang apa pun dirinya, ia tidak akan pernah bisa bersikap biasa saja bila ada Ayahnya. Ayahnya, sosok satu-satunya yang ia miliki saat ini justru terus saja memandang dirinya tidak lebih daripada sampah. Kemampuannya yang lemah, serta kenyataan Ibunya bukan dari kalangan bangsawan membuat pria itu terus saja mengamuk dan menyalahkan takdir sang Dewa. Padahal sangat jelas jika kesalahan itu berasal dari Ayahnya sendiri.


Violetta bukan anak satu-satunya. Pria tua itu telah memiliki keluarga lain, keluarga yang sangat diakui dan dibanggakan. Karena hal itu, keberadaan Violetta sempat disembunyikan. Bahkan Violetta dilarang untuk memberitahu siapa Ayahnya karena fakta ini akan mencoreng nama baik Ayahnya. Dan bukan hal yang tidak mungkin jika Ayahnya akan dikeluarkan dari jajaran petinggi Istana atas hal yang dianggap dosa besar oleh hukum Istana.


Di balik tembok, Camoline masih berdiri diam tanpa mengeluarkan suara sedikit pun. Ia sempat mengorek isi memori dari pria tua petinggi Istana itu. Dari ingatannya, Camoline mendapati jika pria itulah yang mengatakan keberadaan batu Opal berada di Akademi Topaz. Pria ini juga yang menyarankan kepada Asdus untuk melakukan kunjungan mendadak ke Akademi Topaz dengan alasan hal itu bisa membuat para guru di Akademi tidak memiliki waktu untuk menyembunyikan batu Opal. Namun, Camoline tidak bisa mengorek informasi darimana pria itu tahu keberadaan batu Opal. Siapa yang memberitahu pria itu hingga ia sangat yakin.


Kecuali, Rashi yang memberitahunya.


Kedua mata Camoline terbuka setelah sebelumnya terpejam. Ia menegapkan punggungnya sambil menghela napas pelan. Ia tidak melupakan sosok Rashi, tetapi akan sangat mengejutkan jika gadis itu mengetahui tentang batu Opal di dalam tubuhnya.


Camoline mengintip sebentar ke arah Violetta berada. Rupanya gadis itu tengah berjalan menjauh. Karena itu, Camoline keluar dari tempat persembunyian dan melangkah kembali dengan raut wajah tenang, seolah tidak pernah tahu apa yang baru saja ia ketahui tadi. Dan sepertinya, kali ini Violetta menyadari keberadaan Camoline. Gadis itu langsung berhenti dan menoleh ke arahnya. Ada raut wajah terkejut, namun segera disembunyikan dengan cepat oleh Violetta.


"Kamu akan ke perpustakaan?" tanya Violetta. Ia bahkan sudah berhasil menyembunyikan suaranya yang bergetar itu. Camoline cukup takjub dengan hal itu.


"Begitulah. Buku ini sudah selesai aku baca," ujar Camoline. Violetta memandang buku di tangan Camoline sebentar sebelum mengangguk pelan.


"Ngomong-ngomong, dimana Lily? Biasanya kalian berdua akan selalu bersama." Violetta menoleh ke arah Camoline. Saat ini keduanya tengah berjalan berdampingan. Violetta pun memiliki tujuan ke perpustakaan, sama seperti Camoline.


"Berada di kelas ramuan. Berkat berhentinya Azura untuk sementara, Lily mau tidak mau harus mengulang kembali tesnya. Nilai yang ia dapatkan kurang cukup, itu yang aku dengar tadi," jelas Violetta. Dan Camoline hanya mengangguk pelan. Ia bukan hanya penasaran dengan keberadaan salah satu temannya. Tetapi, Camoline sengaja membuat Violetta berpikir dan berbicara untuk memudahkannya mengorek informasi dari ingatan gadis itu. Dari sana ia mengetahui bahwa, justru Violetta lah yang memiliki kemampuan untuk mendeteksi keberadaan batu Opal walau kekuatannya sangat lemah.


Kekuatan baru yang belum pernah Camoline ketahui sebelumnya.