
Penyerangan-penyerangan yang dilakukan Istana ke Akademi itu akhirnya berhenti. Semua orang yang ada di sana tentu saja begitu senang karena hal tersebut. Mereka mampu kembali beraktifitas dengan tenang tanpa perlu merasa takut dengan teror-teror yang terus diberikan oleh para petinggi Istana ke Akademi. Karena hal ini, mereka beranggapan jika Camoline sudah pergi ke Istana sehingga serangan-serangan itu berhenti. Karena mereka semua tahu, semua serangan itu diakibatkan karena Zelden yang enggan memberikan Camoline kepada para petinggi Istana.
Namun, kelegaan mereka tidak berlangsung lama. Ketenangan yang mereka rasakan hanya berlangsung sebentar. Karena mereka mendapati Asdus dan para petinggi Istana itu datang mendekat ke arah Akademi dengan pasukan prajurit dengan perlengkapan senjata yang lengkap. Para prajurit itu memakai pakaian serba hitam. Yang sangat kontras dengan jubah yang digunakan oleh para petinggi Istana dan juga Asdus. Mereka memakai pakaian serba putih dengan benang berwarna emas di setiap sisinya. Para prajurit itu terlihat sangat mengerikan. Dan melihat keberadaan mereka cukup banyak saat ini, menunjukkan seolah Istana menyatakan perang kepada Akademi.
Zelden sudah berada di depan Akademi. Berdiri bersama para guru di belakangnya. Ia menghadap Asdus dengan wajah tenangnya seperti biasa. Walau dirinya bertanya-tanya mengenai alasan Asdus membawa prajurit sebanyak itu.
"Langsung saja. Serahkan gadis itu kepadaku, Zelden." Asdus berbicara dengan tatapan mata tajamnya. Aura mengintimidasi begitu mencekik orang-orang di sekitarnya. Namun, Zelden terlihat seolah tidak terpengaruh dengan hal semacam itu.
"Saya tidak bisa menyerahkannya begitu saja, terlebih keselamatan murid Saya tidak terjamin," ujar Zelden. Dahi Asdus mengerut dalam. Ia tidak menyukai bagaimana Zelden membangkang perintahnya. Ia menatap Zelden semakin tajam.
"Maka jangan salahkan aku jika Akademi ini menjadi rata dengan—"
"Kau merindukanku, Asdus?"
Ucapan Asdus terhenti. Ia langsung menoleh ke arah suara itu berasal. Bahkan, aroma kuat yang sudah lama sekali tidak ia hirup kembali hadir dan masuk ke hidungnya. Perlahan, Asdus bisa melihatnya. Salah satu murid yang berjalan mendekat ke arahnya dengan penuh keberanian. Tetapi bukan hal itu yang membuat Asdus terkejut saat ini. Melainkan iris mata gadis itu, membuat Asdus terkejut bukan main. Iris yang hanya dimiliki oleh klan putih.
Di hadapannya, siswi itu menatap Asdus dengan tenang. Ia bahkan mampun menampilkan senyuman manis. Tidak terlihat ada ketakutan sama sekali walau Asdus telah mengeluarkan aura mengintimidasi yang kuat. Gadis itu seolah tidak terpengaruh sama sekali dengan hal itu.
"Lama tidak berjumpa, mate." Semua orang yang ada di sana, terutama para guru di belakang Zelden dan Barcus langsung terkejut. Mereka sama sekali tidak pernah menduga apabila murid yang beberapa waktu terakhir menjadi bahan rundungan semua murid itu adalah mate dari Asdus.
Asdus tertawa. Tatapan matanya menatap geli ke arah siswi di hadapannya. Setelah 500 tahun lamanya, akhirnya ia benar-benar dipertemukan kembali dengan pasangan mate nya. Tidak mengherankan kenapa saat itu, ia merasa tidak asing dengan gadis di hadapannya saat ini. Karena sejak dulu, hanya ada satu sosok yang sangat berani menatap tajam dirinya.
"Ya, lama tidak berjumpa, Aquamarine." Dan kali ini, giliran Barcus dan Zelden yang terkejut. Keduanya menatap siswi yang selama ini mereka kenal bernama Camoline itu dengan pandangan rumit.
Camoline mengangkat kepalanya. Siap atau tidak, hal seperti ini sudah ia pastikan memang akan kembali terjadi. Pertarungan besar yang terjadi seperti 500 tahun yang lalu. Pertarungan antara dirinya dan Asdus. Camoline menatap tajam Asdus, sedangkan pria itu hanya menampilkan seringai. Tubuh Asdus kembali tegap. Ia perlahan berjalan mendekati Camoline. Sayangnya, ia justru mendapatkan serangan dari gadis itu sebelum berhasil sampai di hadapan Camoline.
Asdus memandang lengannya yang terluka. Luka itu cukup parah namun bukan hal buruk untuknya. Luka itu akan segera menutup kembali dengan sendirinya berkat kekuatan yang selama ini ia miliki. Asdus mendengus geli. Tatapan mata Camoline sudah berubah menjadi penuh permusuhan. Hal itu kembali mengingatkan Asdus pada pertempuran mereka saat itu.
"Menyerang Yang Mulia Agung sama dengan mengatakan perang pada Istana. Semuanya, Serang!!!"
Para prajurit itu langsung maju dan menyerang Akademi. Dapat Camoline dengar dengan jelas suara teriakkan ketakutan dari para murid yang ada di dalam gedung. Dari sudut matanya pun, Camoline dapat melihat bagaimana para guru termasuk Zelden dan Barcus yang tengah menahan para petinggi Istana atau para prajurit agar tidak memasuki Akademi. Semua dari prajurit yang dibawa Asdus, tidak ada satu pun yang berani menyentuh Camoline. Sepertinya karena Camoline yang merupakan mate dari Raja mereka, membuat mereka tidak berani bertindak gegabah sekali pun Camoline di pihak lawan.
Asdus terkekeh melihat apa yang terjadi saat ini. Ia kembali mendekat ke arah Camoline yang masih berdiri diam di tempatnya. Tatapan matanya yang dalam itu mengunci pandangan Camoline.
"Kau membuat semua ini terjadi, sayang." Camoline memutar kedua bola matanya malas. Bahkan tanpa ia melakukan apa pun, Asdus akan menyerang Akademi demi kepuasannya sendiri.
Bukk.
Camoline mendorong Asdus dengan keras sehingga pria itu mundur beberapa langkah. Suasana sekitar sudah semakin mencekam. Aroma darah bahkan sudah mulai masuk ke dalam penciuman Camoline.
"Mari selesaikan peperangan 500 tahun yang lalu."
"Ah, maksudmu adalah lakukan hal yang sama seperti 500 tahun lalu, bukan?" Camoline mendengus keras. Ia segera menyerang Asdus dengan cepat. Sekuat tenaga ia terus menyerang Asdus walau tahu jika pria itu jauh lebih unggul daripada dirinya. Ini memang seperti pertarungan bunuh diri bari Camoline. Dengan kemampuannya yang sangat terbatas ini, ia sudah tentu akan kalah telak.
Namun, ini adalah tujuannya. Ini adalah rencananya walau harus mengorbankan banyak nyawa.
"Melakukan serangan?"
Liora mengangguk. Ia berdiri, menatap ke arah luar jendela. Satu hal lagi yang mengejutkan mereka adalah fakta jika Liora begitu pandai dalam strategi. Alasan Liora dimasukkan ke dalam Akademi Topaz adalah agar gadis itu berhenti ikut campur dalam regu prajurit Istana.
"Batu itu akan semakin retak ketika kekuatannya menghilang, bukan?" Camoline mengangguk. Langsung saja, Liora tersenyum cerah. Sekarang raut wajahnya mengingatkan Camoline pada Lily. Ah, padahal gadis itu masih berada di ruangan ini.
"Tidak ada cara tercepat untuk melenyapkan batu itu selain melenyapkan semua kekuatan di dalamnya. Kau harus bertarung dengan Asdus hingga mati."
"Tapi peperangan besar akan terjadi di sini. Akan ada banyak nyawa yang hilang jika kita membiarkan hal itu terjadi," ujar Violetta. Kedua tangannya bergetar. Ia tentu saja sangat takut hanya dengan membayangkan peperangan.
Liora mengembuskan napas. Ia kembali menatap ke arah luar jendela. Dahinya mengerut, tanda jika dirinya tengah berpikir.
"Lakukan itu, Camoline. Melenyapkan kutukan tentu saja dengan melenyapkan orang-orang yang juga telah terkutuk. Kau sudah ditakdirkan untuk melenyapkan kutukan itu, sehingga Dewa memberikan tubuh barumu tanpa kekuatan agar batu itu hancur sepenuhnya."
Semua menatap ke arah Silver. Gadis itu mengatakannya dengan bersungguh-sungguh. Lily dan Violetta tentu saja tidak akan pernah menyetujui perkataan Silver barusan. Mereka semua sudah melihat bagaimana keadaan Camoline ketika gadis itu mengeluarkan elemennya hingga melewati batas.
"Akan aku lakukan."
"Ya, aku akan melakukannya," gumam Camoline. Dadanya mulai terasa sakit. Menandakan jika ia benar-benar dibatas terakhir untuk elemen airnya. Dengan segera, dirinya berusaha fokus pada elemen yang lain. Terus memberikan serangan kepada Asdus yang lebih sering menghindar, atau menyerang petinggi Istana yang seolah sangat ingin melihat kematiannya.
Camoline berhenti sejenak. Napasnya begitu memburu dengan wajah yang menjadi sangat pucat. Namun, pandangan mata gadis itu masih tetap tajam. Ia menatap Asdus dengan tajam.
"Ya, mari lakukan seperti 500 tahun yang lalu. Aku siap menjemput kematianku yang kedua!"