
Camoline menghela napas panjang. Ia menatap langit-langit klinik dengan wajah menahan bosan. Ini baru 10 jam, semenjak dirinya dibawa ke tempat ini. Mendapatkan beberapa pengobatan dan berakhir dengan lengannya yang diperban. Entah ramuan apa yang dipakai, tetapi saat ini tangannya menjadi terasa sangat kaku dan sulit digerakkan. Karena itu, yang bisa Camoline lakukan hanya mengembuskan napas panjang karena bosan. Terlebih di klinik ini hanya ada dirinya sendiri. Teman-temannya sudah pergi, mereka kembali ke kamar asramanya masing-masing. Tentunya setelah dokter di klinik ini mengusir mereka semua.
Lagi, helaan napas itu keluar dari mulut Camoline. Ia berusaha untuk memejamkan matanya, mencoba kembali tidur. Tetapi sayangnya tidak bisa. Matanya begitu segar saat ini. Terlebih dirinya sudah tertidur selama 2 jam sebelumnya.
"Kau belum tidur juga, bocah?"
Kepala Camoline bergerak. Ia menoleh ke arah pintu, di mana Barcus yang mulai berjalan mendekat ke arah ranjangnya. Dengan gerakan pelan, Camoline menggeleng.
"Aku baru saja bangun tidur belum lama ini," ujar Camoline. Kepala Barcus mengangguk. Ia lalu mengambil duduk di kursi, di sebelah ranjang tempat Camoline berbaring.
"Keadaanmu sangat menyedihkan jika aku mendengar dari perkataan teman-temanmu itu. Tapi aku rasa, mereka hanya melebih-lebihkan saja," ujar Barcus. Ia memperhatikan keadaan Camoline sebelum kepalanya menggeleng. Ia merasa ditipu karena sudah sangat khawatir dengan keadaan Camoline.
"Keadaanku tidak begitu buruk. Walau sekarang tangan kananku menjadi tidak bisa digerakkan sama sekali." Barcus menatap heran Camoline. Pandangannya lalu berpindah pada lengan atas perempuan itu yang terbalut kain putih.
"Sepertinya itu karena efek mantra sihir di senjata yang melukai lenganmu," ujar Barcus pelan. Ia menghela napas panjang. Sebelum ke sini, dirinya sudah lebih dahulu mampir ke ruangan Kakaknya. Dan siapa sangka, di sana ia bisa melihat benda yang melukai muridnya ini.
"Sihir?" tanya Camoline dengan dahi yang mengerut dalam. Ia benar-benar tidak pernah menduga tentang hal ini.
"Kau tidak tahu?" Kepala Camoline langsung menggeleng untuk menjawab pertanyaan Barcus tersebut. Dirinya sama sekali tidak tahu. Saat kejadian itu terjadi, Camoline hanya mampu melihat anak panah yang berhasil ia cabut dari lengannya. Setelah itu, pandangannya menjadi buram sehingga sulit untuk melihat lebih jelas anak panah itu atau bahkan fokus pada sekitarnya. Luka yang ia dapat cukup dalam juga, membuat Camoline benar-benar merasa kesakitan.
"Luka yang kau dapat itu, bukan luka dari senjata biasa. Buktinya, luka di lenganmu semakin melebar bukan?" Kepala Camoline mengangguk kaku.
"Jika aku tidak salah mengingat, maka orang itu menggunakan mantra untuk mematikan fungsi sel di lenganmu," ujar Barcus. Ia menghela napas setelahnya, sedangkan Camoline tidak bisa untuk tidak terkejut. Mantra semacam itu tentu saja ada. Salah satu mantra sulit yang mampu melumpuhkan target dengan fatal. Camoline benar-benar terkejut karena tidak menyangka jika dirinya bisa menjadi target dari mantra mengerikan itu.
"Beruntungnya klinik di Akademi ini cukup berguna. Setidaknya, tanganmu itu hanya akan lumpuh sementara. Mungkin satu bulan? Setidaknya itu lebih baik, karena sulit untuk mematahkan mantra tinggi seperti itu," ujar Barcus. Ucapannya menyadarkan Camoline yang sejak tadi melamun. Pandangan Camoline menatap tangannya beberapa saat, sebelum kembali menatap balik Barcus.
"Selama satu bulan aku akan menjadi tidak berguna," gumam Camoline dengan helaan napas panjang. Barcus mendengus mendengarnya.
"Kau memang tidak berguna sejak awal. Hei, kau masih memiliki tangan kiri. Gunakan bagian itu, jangan bermalas-malasan, bocah." Camoline memutar bola matanya malas. Ia memilih untuk melarikan pandangannya ke langit-langit. Memikirkan kemungkinan kemampuannya mengendalikan sihir semakin berkurang karena tangan kanannya yang tidak bisa digunakan.
"Lusa kau akan kembali beraktifitas seperti biasa. Zelden sudah memberikan keringanan padamu agar kau bisa mengikuti ujian susulan. Tidurlah!" Barcus bangun dari kursinya. Ia menatap Camoline beberapa saat sebelum berjalan meninggalkan Camoline sendirian lagi di ruang klinik itu. Camoline tidak mengatakan apa pun lagi. Ia hanya menghela napas panjang setelah Barcus menutup pintu klinik dengan cukup keras.
Perlahan, Camoline mulai merasa jika kantuknya datang. Tanpa mencoba untuk mencegahnya, ia langsung menutup kedua matanya. Membiarkan tubuhnya secara perlahan masuk ke alam mimpi. Ia membutuhkan tidur cukup banyak, karena ujian dari Delwana pagi tadi cukup menguras kekuatannya. Ya, walau elemennya sama dengan patung itu, tetapi mengendalikan elemen tumbuhan sangatlah sulit. Apalagi elemen tumbuhan sebenarnya bukan elemen asli dirinya. Elemen itu juga berasal dari batu Opal, namun tidak ada yang menyadarinya. Karena sebenarnya, tubuhnya saat ini bukan yang diberikan anugerah memiliki kekuatan sihir secara alami. Bisa dikatakan, tubuhnya saat ini, sebenarnya cacat.
Entah sudah berapa lama Camoline terlelap. Namun sekarang, sesuatu memaksa kedua matanya terbuka. Dengan dahi yang mengerut, karena pandangannya belum bisa fokus, Camoline mencoba untuk mencari sumber yang menyebabkan ia harus terbangun. Setelah semua kesadarannya terkumpul, kedua matanya langsung terbuka lebar ketika mendapati seseorang sudah ada di sampingnya. Berdiri dan menatap dirinya dengan pandangan yang tidak bisa Camoline tebak.
Namun, bukan kehadiran mendadak orang itu yang menyebabkan Camoline terkejut. Tetapi tentang siapa yang saat ini berdiri di sampingnya. Orang yang sama sekali tidak pernah Camoline duga.
Dia Asdus.
"Tanganmu sepertinya sangat menyedihkan sekarang." Pandangan Asdus lalu bergeser pada wajah Camoline yang masih mempertahankan raut terkejutnya. Ia menarik salah satu sudut bibirnya.
"Tapi baguslah. Setidaknya aku akan sangat mudah untuk bertemu denganmu," ujar Asdus. Kali ini, dahi Camoline mengerut dalam. Tatapan matanya pun menajam.
"Apa maksudmu? A-Kau yang melukai lenganku ini, bukan?!" Asdus menaikkan sebelah alisnya. Ia terkekeh pelan melihat reaksi murid di depannya. Tidak ada tatapan takut atau bahkan kagum, seperti yang biasa ia dapatkan selama ini. Tatapan perempuan ini mengingatkan dirinya pada seseorang di masa lalu. Yang selalu menatap dirinya dengan berani dan tidak segan membentak dirinya di saat orang lain hanya akan menunduk mematuhi setiap perkataannya.
Bahkan aromanya pun sama, batin Asdus.
"Anggap saja seperti itu. Tetapi tujuanku hanya untuk memastikan sesuatu," ujar Asdus. Ia menatap Camoline dalam. Keduanya hening selama beberapa saat, sebelum akhirnya Asdus tertawa tanpa sebab. Hal itu membuat kerutan di dahi Camoline kembali muncul. Bingung dengan tingkah pria itu. Tetapi setelahnya, Camoline kembali dibuat terkejut oleh Asdus.
Cup.
"Ingatlah jika aku tidak suka milikku di sentuh oleh orang lain," bisik Asdus tepat di depan bibir Camoline. Ia menyeringai sebelum menjauhkan wajahnya dari Camoline setelah itu, tangannya dengan lancang mengusap puncak kepala Camoline dengan senyuman yang terlihat cukup menyebalkan.
"Kau akan sembuh nanti. Jadi perbanyak waktu istirahatmu. Sampai jumpa nanti, mate."
Camoline masih membeku di tempatnya. Bahkan ketika Asdus sudah menghilang secara tiba-tiba dari hadapannya. Pria itu sudah jelas menggunakan kekuatan teleportasinya. Meninggalkan Camoline yang secara perlahan mulai menyadari jika detak jantungnya masih berirama sama setiap bertemu dengan Asdus. Seperti 500 tahun yang lalu.
"Dia..., dia menyadarinya?" gumam Camoline dengan sangat pelan.