The Wiz

The Wiz
Chapter 29. Hari Ujian



Hari untuk mengetes seberapa kemampuan para murid di Akademi Topaz pun akhirnya dimulai. Para murid benar-benar disibukkan dengan ujian-ujian yang diberikan para guru. Sehingga keadaan Akademi kali ini jauh lebih sepi dibanding hari biasanya. Para murid lebih banyak berlatih secara mandiri atau membaca ulang buku-buku tebal di perpustakaan. Mereka benar-benar bersaing secara individu untuk ujian kali ini.


"Ujian per asrama, apakah berbeda?"


Kepala Camoline menggeleng. Ia melirik sebentar ke arah Lily, lalu kembali menatap ke arah buku tebal di hadapannya.


"Tidak. Sama, hanya jadwalnya saja yang berbeda," ujar Camoline. Di sampingnya, Lily mengangguk mengerti. Ia menatap buku di depannya dengan malas dengan dagu yang berpangku pada tangan kanannya. Perlahan, matanya melirik ke arah sekitar. Semua orang sangat sibuk dengan buku di depan wajah mereka. Ujian ini benar-benar sangatlah penting bagi semua orang. Wajar jika para murid sangat berambisi untuk mendapatkan nilai terbaik.


Bahkan, bukan hal aneh juga ketika para murid mulai melakukan berbagai macam cara untuk menyingkirkan para saingannya satu per satu.


"Ujianku besok bersama Tuan Barcus. Aku tidak yakin akan baik-baik saja," gumam Lily. Ia menurunkan tangannya perlahan, hingga wajahnya terbenam diantara rambut dan buku tebal itu. Secara kompak, Camoline dan Violetta menoleh ke arah gadis itu. Keduanya saling bertatapan sebelum menggelengkan kepala secara bersamaan.


"Sangat pesimis sekali," ujar Camoline pelan, namun dengan nada suara yang mengejek. Lily langsung menggerakkan kepalanya agar menatap ke arah Camoline. Raut wajahnya langsung berubah menjadi cemberut. Kesal dengan perkataan Camoline yang mengejeknya itu.


"Kamu ini," ujarnya kesal. Tidak ada kata apa pun lagi setelahnya. Ia kembali menenggelamkan wajahnya diantara halaman buku yang seharusnya ia baca dengan benar itu.


Tidak lama, Silver berjalan menghampiri mereka bertiga. Tidak ada satu pun buku di tangannya. Rambut pirangnya terikat rapi dengan sebuah pita berwarna hitam. Ia melambaikan tangan ke arah Violetta, sebelum duduk di sebelahnya.


"Tes Azura, bagaimana? Aku mendengar bocoran, jika tes tahun ini tidak sesulit tahun-tahun sebelumnya," ujar Silver dengan semangat. Lily langsung mengangkat kepalanya. Raut wajahnya menunjukkan jika ia tidak terima dengan pernyataan Silver barusan.


"Mudah apanya? Aku rasanya seperti dicekik hanya dengan berdiri di sana. Ah, tidak! Aku seperti akan dikutuk menjadi sebuah patung tadi," ujar Lily dengan menggebu. Raut wajahnya berubah-ubah ketika menjelaskan. Dari penuh khawatir hingga putus asa, serta binar kekesalan yang terlihat cukup samar. Silver terkekeh pelan melihatnya. Tidak, ia sebenarnya bukan hanya merasa lucu dengan perkataan Lily barusan. Tetapi, dirinya juga mendengar umpatan-umpatan yang Lily lontarkan pada Azura di dalam kepalanya.


"Memang, tahun lalu seperti apa? Ini saja sudah sesulit itu," ujar Violetta. Ia memang jauh lebih tenang dibanding Lily yang begitu dramatis dalam merespon apapun.


"Heum..., para senior tidak suka membocorkan hal semacam ini. Tetapi, ada yang mengatakan jika tahun lalu..., tesnya adalah membuat seseorang menjadi patung," ujar Silver. Telunjukknya bergerak mengetuk-ngetuk pada dagunya. Menampilkan raut wajah seolah dirinya memang tengah berpikir dengan sangat keras.


"Lihat! Kita memang sebenarnya akan dijadikan patung tadi," ujar Lily dengan lirih. Violetta melirik sebentar ke arah temannya itu sebelum menggeleng pelan. Kembali lagi dirinya fokus pada buku di hadapannya.


"Apakah membuat ramuan untuk hal semacam itu, begitu sulit?" tanya Camoline. Kali ini dirinya mulai cukup tertarik dengan pembahasan yang ketiga perempuan itu bawa.


"Kau tahu, mantra untuk membuat ramuan itu mudah dihapal. Tetapi resiko untuk mengembalikan patung itu kembali menjadi manusia sangatlah kecil," ujar Silver dengan serius. Camoline mengerutkan dahinya tipis, sebelum salah satu alisnya terangkat.


"Sungguh?" Kali ini Violetta ikut mengangguk.


"Berbeda dengan mantra untuk membuat ramuan pengubah patung itu. Mantra untuk menghancurkan mantra tersebut sangat susah dihapal dan dilafalkan. Berbeda sedikit saja pelafalan, maka akan berakibat buruk," jelas Violetta. Ia membenarkan kacamata yang bertanggar di hidungnya itu.


"Patung itu selamanya tidak akan bisa kembali seperti semula, atau patung itu meledak dan menjadi serbuk tanah berpasir." Camoline mengangguk mengerti. Penjelasan yang sangat jelas. Tidak heran jika tes seperti itu terhitung sulit.


"Tapi tes tadi pun sama sulitnya," ujar Lily dengan muka cemberut. Ia menghela napas panjang, matanya bergerak dengan pandangan kosong. Sebelum akhirnya kepalanya menggeleng dengan sebuah ringisan yang keluar dari mulutnya.


"Tesnya memang segila apa?" tanya Camoline. Sejak Lily dan Violetta berjalan menghampiri dirinya di sini, Lily terus memasang wajah menyedihkan. Bahkan, wajah Lily tadi benar-benar pias. Seolah ia baru saja melihat kematiannya sendiri di depan mata.


Kepala Lily menoleh. Wajahnya masih cemberut, namun kepalanya menggeleng. "Sesuai aturan, tidak boleh adanya bocoran informasi untuk tes kepada murid yang belum menjalankannya," ujarnya. Ucapannya itu membuat Camoline langsung sqja mendengus tanpa bisa menahannya. Bagi Camoline, aturan semacam itu terlalu berlebihan.


"Lalu kalian. Sepertinya tes hari ini untuk kalian..., tidak gila," ujar Violetta. Ucapannya itu langsung direspon anggukan kepala oleh Silver.


"Kelas Sejarah. Menurutmu, hal tergila apa yang akan diberikan dari kelas itu untuk sebuah ujian?" ujar Silver tanpa ragu sama sekali.


"Aku mengerti," ujar Violetta dengan kepala mengangguk. Berbeda dengan Lily yang langsung merengut. Ia terlihat kembali kesal.


"Oh Ayolah. Kenapa harus menghapal terus? Aku benci melakukannya," ujarnya kesal. Silver langsung tertawa dengan suara pelan, tentu saja. Ia benar-benar selalu terhibur dengan reaksi Lily setiap mereka bertemu.


"Maka asah kepalamu itu agar tidak mudah lupa seperti orang bodoh," ujar Camoline dengan tenang. Ia bahkan berkata santai seolah ucapannya bukan hal yang begitu berefek pada orang di sampingnya.


"Aku benar-benar kesal padamu," ujar Lily. Ia melirik Camoline dengan tajam, lalu membuang muka. Tingkahnya itu kembali membuat Silver tertawa.


Setelahnya, hanya ada percakapan antara ketiganya. Silver, Violetta, dan Lily yang sesekali merespon dengan penuh putus asa. Sedangkan Camoline begitu sibuk mempelajari berbagai macam mantra sihir yang sekarang terasa asing di kepalanya. Ia sepertinya tidak pernah mempelajari semua ini. Atau pernah, tetapi dirinya melupakan semua itu.


Camoline tidak yakin.


"Camoline? Bisa kita berbicara berdua sebentar?"


Kepalan Camoline terangkat. Bukan hanya dirinya saja, tetapi ketiga perempuan yang sejak tadi ada bersama dirinya pun ikut menoleh ke arah Londer. Ya, Londer yang baru saja berbicara itu. Ini adalah kali pertama pria itu menghampiri Camoline setelah beberapa hari sebelumnya, ia tidak terlihat di Akademi.


"Baiklah." Camoline tidak bisa mengusir Londer. Alasannya adalah tatapan semua orang yang ada di perpustakaan saat itu. Tatapan mereka seolah mengancam Camoline agar tidak menolak pria itu.


Mendengar perkataan Camoline tersebut, Londer tersenyum. Ia lalu berjalan keluar dari perpustakaan dengan Camoline yang berjalan di belakangnya.


"Ada hal penting yang ingin aku bicarakan. Ini tentang percakapan beberapa petinggi Istana." Kali ini Camoline sama sekali tidak menyesal untuk menerima permintaan Londer tadi.