The Wiz

The Wiz
Chapter 44 : Mengetahuinya



Akademi sudah kembali ramai oleh orang-orang. Untuk satu hari ini, sekolah belum memulai kegiatan belajar-mengajar. Mereka membiarkan para murid yang baru saja tiba di Akademi untuk mengistirahatkan tubuh terlebih dahulu setelah perjalanan yang panjang. Dan para murid memanfaatkan waktu ini juga untuk berbincang dengan kawan-kawannya yang tidak mereka jumpai ketika libur sekolah. Sehingga terlihat wajar dengan keadaan seluruh lorong sekolah menjadi begitu sangat ramai.


"Bagaimana keadaanmu?"


Camoline menoleh. Ia mendapati Silver sudah berada di sampingnya. Padahal seingatnya, ia sendirian sejak tadi. Sepertinya Camoline terlalu hanyut dalam lamunannya sehingga tidak sadar dengan kedatangan Silver.


"Cukup baik. Aku benar-benar dipaksa beristirahat oleh Ayahku," ujar Camoline. Silver mengangguk pelan. Ia lalu menghela napas dan menatap ke arah luar koridor. Seperti yang di lakukan oleh Camoline saat ini.


"Ngomong-ngomong, aku ada sesuatu hal yang ingin aku bicarakan denganmu," ujar Silver. Camoline kembali menoleh. Dahinya mengerut tipis. Saat ini, raut wajah Silver sangat serius.


"Tentang apa?" Silver menggerakkan kepalanya. Ia menatap Camoline dalam diam untuk beberapa saat. Dapat terlihat jika ada keraguan di mata Silver. Gadis berambut perak itu ragu untuk mengatakan hal ini kepada teman sekamarnya. Tetapi, ia benar-benar penasaran sehingga selama liburan sekolah, ia tidam bisa menikmatinya. Ia terus saja memikirkan hal ini.


"Sebelumnya, aku ingin meminta maaf kepadamu karena sudah berbuat sangat lancang." Silver kembali menghela napas. Camoline masih diam, menunggu Silver untuk mengatakan semua apa yang ada di kepalanya saat ini.


"Aku sudah tahu tentang benda yang ada di dalam tubuhmu," ujar Silver. Camoline masih diam untuk beberapa detik, hingga kedua matanya terbuka lebar. Kepalanya bergerak menoleh ke sekitar. Beruntung para murid lain yang juga ada di sana sedang sibuk dengan perbincangan masing-masing. Sehingga sepertinya tidak ada yang peduli dengan pembicaraan antara Silver dan Camoline ini. Sehingga tanpa bisa dicegah, Camoline menghela napas lega.


"Jangan mengatakan hal semacam itu dengan mudah di tempat seperti ini, Silver," tegur Camoline. Mendengar hal tersebut langsung saja membuat Silver menundukkan kepalanya.


"Maafkan aku," gumamnya pelan. Camoline hanya menganggukkan kepalanya saja.


"Lalu, kenapa kamu melakukannya?" Silver mengangkat kepalanya. Namun, ia langsung membuang muka ketika Camoline menatap ke arahnya. Gadis itu masih merasa bersalah karena kejadian barusan. Dirinya tidak tahu, jika hal semacam itu tidak bisa diketahui banyak orang. Silver memang tahu jika batu Opal sangatlah berharga dan begitu diingkan oleh banyak orang. Tetapi, dirinya tidak tahu apa yang tengah disembunyikan oleh Camoline sehingga melarang siapa pun tahu tentang batu di tubuhnya.


"Seseorang memberitahukannya kepadaku, sehingga aku hanya memastikannya saja," ujar Silver. Camoline masih memperhatikan wajah Silver. Melihat tiap perubahan raut di wajah gadis itu.


"Akan ada hal buruk terjadi jika banyak orang mengetahuinya. Terlebih, sepertinya mereka sudah menyadari keberadaannya di sini," ujar Camoline pelan, namun masih bisa didengar oleh Silver. Kepala Silver bahkan langsung menoleh ke arah Camoline dengan kerutan di dahinya.


"Petinggi Istana," ujar Camoline. Tentu saja ia mengatakan itu dengan pelan dan bahkan tubuhnya dicondongkan pada Silver. Agar tidak ada orang lain yang bisa mendengarnya. Setelah mengetahui jawaban itu, Silver langsung menampilkan raut wajah terkejutnya. Ia menatap Camoline dengan kedua mata terbuka lebar. Bahkan mulutnya terbuka. Namun ada satu hal lain yang menarik perhatian Camoline, yaitu ekspresi ketakutan di wajah Silver.


"Kamu bersungguh-sungguh?" tanya Silver dengan suara bergetar. Dahi Camoline sedikit mengerut, namun gadis itu tetap mengangguk. Membenarkan pertanyaan Silver tersebut. Dan tidak bisa Camoline duga, setelah dirinya melakukan itu, Silver justru langsung jatuh terduduk. Raut wajahnya masih sama. Terkejut dengan kulit wajahnya yang mulai memucat. Dengan kebingungan yang besar, Camoline segera berjongkok di hadapan Silver. Memastikan jika gadis di depannya tidak pingsan secara tiba-tiba.


"Tapi bagaimana bisa?" gumam Silver pelan. Hal itu semakin menambah kerutan di dahi Camoline.


Silver mengangkat kepalanya. Ia menatap Camoline di hadapannya. Sekarang dirinya mengerti kenapa sejak awal Camoline tidak pernah membicarakan batu Opal yang ada di dalam tubuhnya. Bahkan Silver merasa jika Violetta dan Lily pun tidak mengetahui hal itu. Sekarang, Silver dilanda perasaan khawatir. Tidak, bukan tentang posisinya atau keadaannya sendiri. Melainkan nasib Camoline, teman sekamarnya. Jika para petinggi sudah tahu pasti dimana lokasi batu Opal yang sejak lama mereka cari, maka bukan hal yang tidak mungkin jika mereka akan menargetkan Camoline.


Nyawa Camoline cukup terancam.


"Kamu dalam bahaya," ujar Silver. Suaranya masih pelan, namun sekali lagi masih bisa didengar jelas oleh Camoline. Camoline mengembuskan napas pelan. Ia menyentuh bahu Silver dan mengusapnya pelan.


"Aku akan baik-baik saja selama tidak ada satu pun dari mereka yang menyadarinya," ujar Camoline. Ia berusaha meyakinkan teman sekamarnya itu agar tidak begitu khawatir. Namun saat ini, Camoline begitu penasaran dengan apa yang pernah dilalui klan Silver sehingga gadis di depannya menjadi sangat ketakutan.


Camoline akhirnya membantu Silver untuk berdiri. Ia tidak bisa memaksa Silver berbicara mengenai pertanyaan di kepalanya. Bahkan ia pun tidak bisa menggunakan kemampuan membaca pikiran, karena Silver akan langsung menyadarinya. Sehingga saat ini Camoline memilih untuk diam dan membiarkan Silver menceritakannya sendiri nanti. Walau tidak tahu kapan.


"Jika mereka memilikinya, maka dunia akan hancur di tangan mereka. Camoline, aku harap kamu bisa menyembunyikannya terus," ujar Silver. Kepala Camoline langsung menoleh ke arah Silver.


"Hingga saat ini, aku sudah melakukannya. Tetapi aku tidak tahu apa yang akan terjadi nantinya," ujar Camoline. Ia kembali teringat pada kejadian dimana Asdus datang ke klinik sekolah dan menemui dirinya. Hal yang tidak pernah Camoline duga, yaitu pria itu menyadari jika dirinya adalah mate dari pria tersebut. Walau hingga saat ini, Camoline belum tahu apakah Asdus tahu jika dirinya masih merupakan orang yang sama dengan 500 tahun yang lalu.


"Jadi aku memintamu untuk merahasiakan hal ini dari siapa pun. Jangan ada satu orang pun yang tahu jika kamu mengetahui hal ini," ujar Camoline. Raut wajahnya begitu serius, dan Silver bisa merasakan jika bulu kuduknya berdiri. Aura Camoline saat ini cukup mengerikan. Membuat dirinya secara tidak sadar langsung mengangguk.


Keduanya tidak lagi berbicara. Mereka berjalan menuju kamar asrama dengan mulut yang terkunci rapat. Camoline tentu saja memikirkan keadaan batu Opal di dalam tubuhnya yang cukup aneh itu. Sedangkan Silver masih mencerna tentang apa yang baru saja ia ketahui. Tentang batu Opal yang memang benar ada di dalam tubuh Camoline dan juga para petinggi Istana yang kemungkinan besar sudah mengetahui hal itu. Karena jika para petinggi itu tahu dan berhasil mendapatkan batu Opal, maka hanya akan ada kehancuran mengerikan lagi di seluruh tempat.