
Carlus sampai di rumahnya ketika hari hampir tengah malam. Pertemuannya itu memakan waktu yang lama, dan ada sekitar tiga pertemuan yang harus ia datangi tadi. Pertemuan-pertemuan itu membahas hal yang sangat penting dan cukup rahasia, sehingga diadakan saat malam. Saat semua orang memilih untuk berdiam di rumahnya masing-masing dan beristirahat.
Carlus turun dari kereta yang mengantarnya. Ia membungkuk sedikit dan menampilkan senyuman kepada kusir yang telah mengantarnya itu. Walau Carlus tidak yakin apakah senyumannya akan terlihat atau tidak. Setelah kereta kuda itu pergi, barulah Carlus membalikkan badannya. Ia berjalan memasuki pekarangan rumahnya yang tidak terlalu luas. Tidak ada tanaman bunga yang menghiasi pekarangannya. Hanya rumput hijau yang terpotong dengan sangat rapi. Carlus bukan seseorang yang cukup senang terhadap tanaman berwarna-warni itu, dan Camoline tidak mungkin bisa mengawasi pertumbuhan semua bunga jika ia menanamnya.
"Bagaimana?"
"Nona sudah makan malam. Setelah memakan makan malamnya, Nona ke perpustakaan dan masih berada di sana hingga saat ini," ujar pelayan itu melaporkan kegiatan Camoline selama Carlus tidak berada di rumah. Carlus menganggukkan kepalanya mengerti. Ia membuka jas yang menutupi tubuhnya lalu menyerahkannya kepada pelayan bernama Malina tersebut.
"Ini sudah sangat larut," ujar Carlus pelan. Ia menghela napas panjang.
"Simpan itu ke ruang kerjaku. Aku akan melihat kondisi anakku terlebih dahulu." Marlina membungkuk lalu berjalan menuju ruang kerja Carlus berada. Setelah ditinggal seorang diri, Carlus berjalan menuju perpustakaan. Ia ingin memastikan apakah Camoline masih berada di perpustakaan seperti yang dikatakan pelayannya itu atau sudah berada di kamarnya. Perasaan khawatir tentu saja hinggap di hati Carlus saat ini. Ia khawatir jika putrinya akan jatuh sakit jika belum tidur juga hingga larut malam seperti saat ini.
Carlus berjalan ke arah perpustakaan tanpa kesulitan sama sekali. Ia sudah sangat mengenal seluk beluk rumahnya, sehingga cahaya temaram tidak menyulitkan dirinya melangkah. Ketika sampai di depan ruang perpustakaan, Carlus segera masuk begitu saja. Suara derit pintu terdengar menggema di dalam ruangan penuh buku itu.
"Oh, Ayah sudah pulang?" Carlus menghela napas perlahan. Ia tersenyum dan kembali melangkahkan kakinya. Camoline masih ada di perpustakaan. Ia tengah membaca sebuah buku yang cukup tebal. Dan di samping kanannya ada tumpukan buku yang juga tebal-tebal. Sepertinya buku-buku itu yang akan dibaca oleh Camoline juga.
"Ayah baru pulang," ujar Carlus begitu sampai tepat di hadapan Camoline. Camoline mengangguk dan tersenyum. Setelahnya, ia kembali membaca buku di hadapannya itu kembali.
"Kenapa belum tidur?" tanya Carlus dengan penasaran. Matanya juga bergerak memperhatikan buku-buku yang tengah dibaca oleh Camoline saat ini. Terlihat tidak asing, namun Carlus tidak bisa mengingatnya dengan jelas buku apa yang tengah dibaca oleh Camoline ini.
"Aku sedang tertarik membaca semua ini, jadi rasa kantukku hilang. Tidak apa, bukan?" ujar Camoline. Carlus diam untuk beberapa saat sebelum helaan napas panjang keluar dari mulutnya.
"Bergadang bukan hal yang bagus untuk kesehatanmu, Camoline. Ingat, tubuhmu belum lama ini baru saja pulih. Kamu harus banyak beristirahat." Camoline langsung menundukkan kepalanya. Dirinya tentu saja tahu tentang kondisi tubuhnya. Juga masih mengingat saran dari dokter di Akademi yang memaksanya untuk banyak beristirahat selama masa liburan. Karena menurutnya, kondisi tubuh Camoline belum pulih sepenuhnya dan akan mudah kembali jatuh sakit.
"Aku tahu. Tapi aku masih ingin membaca ini semua," ujar Camoline dengan suara pelan. Walau begitu, Carlus masih bisa mendengarnya dengan cukup jelas karena ruangan yang begitu sepi.
"Kau bisa membacanya besok. Ayo, Ayah antar ke kamarmu." Camoline menatap Carlus beberapa saat, sebelum gadis itu menghela napas pelan. Dengan sedikit terpaksa, Camoline menutup buku yang belum selesai ia baca itu. Tentunya, Camoline sudah menyelipkan pembatas buku di halaman yang belum selesai ia baca.
"Kau mau membawa buku-buku ini ke kamar? Jadi besok kamu bisa menghabiskan waktu membaca di kamarmu." Tawaran yang sangat menggiurkan bagi Camoline. Karena dengan begitu, Carlus tidak akan mengetahui jika dirinya membaca hingga larut malam nantinya. Camoline menatap buku-buku itu, lalu mengalihkan pandangannya kepada Carlus. Ia tersenyum lalu mengangguk dengan kuat.
"Tentu," ujar Camoline bersemangat. Carlus terkekeh pelan. Ia mengusap pelan kepala putrinya itu sebelum mengambil tumpukan buku yang belum dibaca Camoline. Sedangkan Camoline sendiri hanya membawa dua buku di tangannya.
"Berikan satu lagi padaku, Ayah. Buku-buku itu berat," ujar Camoline. Carlus menoleh sebentar ke arah Camoline sebelum tertawa pelan. Di matanya saat ini, Camoline sangat menggemaskan.
"Ini bukan apa-apa untuk Ayah," ujar Carlus. Ia pun mulai melangkah keluar dari perpustakaan. Segera saja Camoline menyusul langkah lebar Ayahnya itu. Ia membantu Carlus dengan membuka pintu perpustakaan dan mengikuti pria itu di belakang. Walau Camoline senang karena ia bisa membaca buku-buku itu sepuasnya, tetapi dirinya merasa bersalah kepada Carlus yang harus membaca buku-buku itu. Padahal Carlus baru saja sampai di rumah dan pria itu sudah jelas kelelahan.
"Ngomong-ngomong, darimana kamu mendapatkan buku-buku ini? Sudah lama Ayah mencarinya namun tidak kunjung menemukannya," ujar Carlus yang secara tiba-tiba memulai percakapan.
"Dari rak teratas di perpustakaan. Memangnya kenapa?" Carlus menoleh ke belakang. Ia kembali tersenyum ke arah putrinya itu.
"Ini buku yang ditinggalkan oleh Nenekmu. Dia menulis semua ini, untuk menceritakan kisah terdahulu saat ia masih muda," ujar Carlus. Kerutan di dahi Camoline muncul. Salah satu buku di tangannya menyebutkan waktu, yang mana terasa cukup aneh jika ada seseorang yang berhasil hidup selama itu.
"Semua ini adalah buku yang ditulis oleh Nenek?" tanya Camoline. Carlus mengangguk. Jika dilihat, ia sedang tersenyum saat ini.
"Ya, semua ini ditulis olehnya."
"Apakah Nenek seorang penjelajah?" Carlus kembali menoleh ke arah Camoline. Beruntung saat ini mereka sudah berada di depan kamar Camoline. Dengan segera Camoline membuka pintu kamarnya. Barulah Carlus masuk ke dalam sana, diikuti Camoline di belakangnya.
"Bisa dikatakan seperti itu. Nenekmu senang bepergian ke berbagai tempat di benua ini. Sebelum akhirnya menikah dan memiliki Ayah. Itu adalah waktu dimana akhirnya Nenek berhenti menjelajah," ujar Carlus. Ia meletakkan tumpukkan buku itu di atas meja yang dahulu dipakai Camoline untuk membaca. Carlus lalu menoleh ke arah Camoline. Putrinya itu masih berdiri di belakangnya.
"Sekarang tidurlah. Besok kamu bisa melanjutkan membacanya. Selamat malam Camoline."
"Selamat malam, Ayah," ujar Camoline. Kedua matanya menatap kepergian Carlus dari kamarnya. Begitu pintu kamarnya tertutup rapat, Camoline menghela napas panjang. Sudah jelas ia merasa ada yang aneh di sini. Jika benar semua buku ini mengisahkan Neneknya, maka ada hal yang harus ia pastikan. Tentang bagaimana bisa seseorang tanpa kekuatan batu suci bisa hidup lebih dari dua ratus tahun. Kekuatan sihir yang tinggi pun tidak cukup untuk memperpanjang umur seseorang. Kecuali, ia mendapatkan berkah untuk bisa hidup hingga umur panjang.