
Pembelajaran di Akademi Topaz tidak ada yang berubah setelah kedatangan mendadak para petinggi Istana itu. Mereka benar-benar hanya memantau dan berbincang secara serius serta rahasia dengan Zelden. Para murid sudah mulai mengabaikan rasa penasaran mereka dengan alasan kedatangan mendadak para petinggi Istana itu dan mulai kembali fokus pada kegiatan belajar masing-masing. Terlebih lagi minggu depan akan diadakan tes bulanan untuk melihat apakah murid itu memiliki potensi untuk naik kelas ataukah tidak. Dan tentunya tes ini tidak bisa dianggap remeh oleh mereka. Mendapatkan nilai buruk di tes ini sama saja mengantarkan diri sendiri untuk segera dikeluarkan oleh Akademi.
Dan keseriusan itu juga terlihat pada Camoline dan ketiga temannya. Saat ini saja, mereka berempat tengah berada di perpustakaan bersama beberapa murid lainnya. Membaca buku dengan serius karena buku di perpustakaan sayangnya tidak bisa dipinjam dengan mudah.
"Aku berharap jika tes di kelas Nyonya Cheya tidak akan sesulit sebelumnya," ujar Lily. Ia memecah keheningan di meja yang mereka tempati saat ini.
Kepala Silver terangkat. Mengalihkan pandangannya dari buku ke arah Lily yang duduk di hadapannya. Matanya melirik sebentar pada Camoline di sampingnya. Gadis itu sangat fokus pada buku di depannya. Dengan raut wajah penasaran, Silver memandang Lily. Ia sudah meletakkan pembatas buku di halaman yang belum selesai ia baca. Namun buku itu tidak ia tutup.
"Tes yang kalian terima sangat sulit?" tanya Silver.
Di tes sebelumnya, murid asrama biru mendapat kesulitan di kelas Delwana. Itu yang Silver yakini karena murid-murid dari asrama cukup banyak yang gagal pada tes itu. Sedangkan di kelas Cheya, murid di asrama biru bisa melewatinya cukup baik.
Lily mengangguk dengan kuat. Raut wajahnya terlihat lelah, namun Silver bisa melihat jika gadis di depannya juga tengah menahan kesal.
"Karena kami berasal dari asrama putih, Nyonya Cheya membuat tes itu begitu sulit." Kali ini Violetta yang angkat bicara. Ia membenarkan posisi kacamatanya dengan jari telunjuk dan kembali membaca bukunya.
"Benar. Aku mendengar jika asrama lain hanya perlu membuat sebuah bentuk paling maksimal dari kekuatan sihir yang dimiliki, tetapi saat itu kami berbeda. Nyonya Cheya meminta kami melakukannya sebanyak 5 kali," ujar Lily. Ia menghela napas panjang. Teringat pada tes yang melelahkan itu. Perasaan kesalnya kembali muncul ketika ingat bagaimana para guru masih saja mendiskriminasi mereka yang berasal dari asrama putih.
"Itu mengerikan," ujar Silver. Ucapannya itu langsung mendapat dukungan dari Lily. Gadis itu langsung mengangguk kuat.
Silver mengerti. Asrama putih berisi murid yang kekuatan sihirnya belum stabil dan terkadang juga masih terkunci karena pemiliknya belum mampu mengetahui seberapa besar sihir dalam tubuhnya. Dan dengan memberikan tes itu kepada para murid dari asrama putih, memang akan menunjukkan seberapa besar kekuatan sihir di tubuh masing-masing murid. Akan tetapi jika melakukannya lebih satu kali justru akan berdampak buruk juga.
"Setidaknya kalian bisa selamat sehingga sihir dalam tubuh kalian tidak habis atau lebih buruknya menghilang karena dipaksa melakukan itu," ujar Camoline. Ia membalik halaman bukunya. Mengabaikan Silver serta Lily yang menatap ke arahnya.
"Ya, itu sangat mengerikan," ujar Lily pelan. Ia mengembuskan napas panjang. Minatnya untuk membaca sudah lenyap dari beberapa saat yang lalu. Ia menatap buku di depannya, sebelum akhirnya ia tutup tanpa menyelipkan pembatas buku terlebih dahulu. "Karenanya aku masih kesal dengan tes itu," lanjutnya.
"Kau benar. Semoga saja," ujarnya. Lily berdiri dengan buku yang ada di pelukannya. Ketiga temannya langsung mengangkat kepala, menatap Lily dengan penasaran.
"Aku sudah lelah membaca semua kata-kata rumit ini," ujar Lily. Ia berjalan ke arah rak buku di belakangnya. Mengingat-ingat darimana buku itu ia ambil sebelumnya. Violetta yang sejak tadi memperhatikan, menoleh sebentar ke arah buku yang ia baca sebelum akhirnya ikut menutup buku itu dan membawanya untuk mengikuti Lily.
"Kau masih belum selesai?" tanya Silver setelah kedua gadis itu pergi. Ia juga sebenarnya sudah cukup lelah membaca buku di depannya. Akan tetapi, rasanya masih terlalu awal untuk kembali ke kamar asrama.
"Belum. Aku akan mengganti buku saja," ujar Camoline. Silver mengangguk pelan. Ia segera mengikuti Camoline yang sudah berdiri lebih dahulu.
"Aku ikut. Buku ini justru membuatku mengantuk," ujar Silver. Camoline mendengus mendengarnya, namun ia tidak mengatakan apa pun. Camoline berjalan ke arah rak belakang. Tanpa memakan waktu lama, ia berhasil mengembalikan buku yang telah dibacanya ke tempat semula. Dan sekarang, Camoline cukup bingung untuk membaca buku apa.
Kaki Camoline melangkah dengan pelan. Ia membaca secara cepat setiap judul buku yang dilihatnya. Cukup lama ia melakukannya, namun belum ada satu pun buku yang berhasil menarik perhatiannya. Kebanyakan buku yang ia lihat ini tentang pengendalian sihir. Judulnya terlalu jelas sehingga Camoline merasa tidak perlu melihat isinya lagi untuk memastikan. Ia sedang bosan membaca buku-buku hal seperti itu. Lagipula, akan lebih mudah melakukan prakteknya langsung dibanding terus membaca semua buku-buku seperti itu.
Langkah kaki Camoline akhirnya membawa gadis itu ke rak buku paling ujung yang terlihat kurang diminati para murid. Camoline memperhatikan buku-buku di rak itu. Walau di rak ini, semua bukunya terlihat terawat karena tidak ada debu tebal yang menempel, namun warna dari jilid buku itu sudah terlihat sangat tua. Bahkan beberapa sudah tidak terlihat jelas lagi judul dari buku-buku itu.
Jemari Camoline bergerak, membaca dengan teliti tiap buku di rak itu. Untuk rak ini diisi oleh buku-buku sejarah. Entah itu sejarah Kerajaan Emerald atau pun sejarah berdirinya Akademi Topaz. Juga terdapat beberapa buku yang berisi perjanjian-perjanjian sesama leluhur klan pada ratusan tahun yang lalu. Dan daftar kebijakan-kebijakan yang diterapkan oleh Istana. Buku-buku yang memang beberapa tidak berkaitan dengan pembelajaran Akademi saat ini.
Namun, ada satu buku yang berbeda dibanding buku lainnya. Buku dengan jilid berwarna merah marun tanpa tulisan apa pun. Dahi Camoline berkerut. Ia penasaran dengan buku itu. Karena ketika ia menyentuhnya pun, buku itu memang tidak memiliki judul sama sekali. Secara perlahan, Camoline mengambil buku itu. Ia berusaha sebisa mungkin agar buku-buku tua di kedua sisinya tidak rusak. Setelah berhasil, Camoline tidak bisa untuk tidak menghela napas lega.
Buku itu ia buka perlahan. Pada bagian pertama buku itu, Camoline langsung mengenal tulisan dari buku tersebut. Sangat familier. Tulisannya begitu mirip dengan buku yang ada di rumah Carlus. Lalu ketika ia membaca satu halaman penuh, kedua mata Camoline terbuka lebar. Buku itu bukan mirip, tetapi memang merupakan buku yang sama dengan yang ada di rumah Carlus.
Hanya saja, buku ini adalah bagian terakhir dari buku-buku sebelumnya. Yang membahas tentang batu Opal.