
Hari pembelajaran telah dimulai. Untuk kali ini, kelas yang harus diikuti oleh para murid sedikit bertambah. Mereka baru benar-benar merasakan menjadi murid Akademi Topaz yang sibuk dengan belajar dan belajar seperti rumor sebelumnya. Bukan hanya pelajaran akademik saja, namun kemampuan sihir mereka pun diuji secara terus menerus setiap minggunya. Akan ada hasil mingguan dari kemampuan mereka selama belajar. Jika kemampuan mereka tidak memiliki kemajuan sedikit pun, maka murid tersebut akan mendapatkan pengurangan poin. Dan hal itu cukup berbahaya karena murid tersebut bisa di keluarkan dari Akademi sebelum hari ujian selanjutnya.
Camoline sendiri masih berada di asrama biru, dengan Silver sebagai teman sekamarnya. Camoline belum bisa menaikkan level kekuatannya, begitu pun dengan Silver. Walau saat ujian kemarin Silver mendapat nilai yang cukup memuaskan, namun itu tidaklah cukup untuk bisa pindah ke asrama yang lebih tinggi. Keduanya menjadi lebih sering bersama dibanding sebelumnya. Mungkin, karena Silver telah mengetahui kebenaran tentang batu Opal di dalam tubuh Camoline, membuat gadis itu memilih berada di sekitar teman sekamarnya guna mencegah terjadinya penyerangan dadakan seperti saat ujian waktu itu. Berkat penjelasan Camoline, Silver memiliki dugaan sendiri.
Jika dari pihak Istanalah yang melakukan penyerangan kepada Camoline.
Saat ini, kedua gadis itu sedang berjalan ke arah kantin. Jam makan siang sudah diberitahukan sejak 5 menit yang lalu melalui lonceng besar yang berbunyi dari puncak menara Akademi. Keduanya berjalan dan sesekali berbincang mengenai kelas pagi tadi.
Begitu sampai, mereka disuguhkan dengan keadaan kantin yang sangat ramai. Ini jauh lebih ramai dibanding sebelumnya. Sepertinya, orang-orang memilih untuk memakan makan siang mereka setelah lelah belajar suntuk sejak pagi. Karena biasanya, kebanyakan orang akan menghabiskan waktu di lorong atau lapangan untuk berlatih. Namun sekarang, seperti seluruh murid di Akademi memiliki pemikiran yang sama untuk makan siang di waktu yang bersamaan.
Camoline dan Silver saling bertatapan. Namun mereka langsung melangkah ke arah meja asrama mereka yang cukup penuh itu tanpa mengatakan apa pun. Keadaan kantin benar-benar ramai. Semua orang seperti berlomba-lomba untuk saling berbicara sehingga tidak bisa mendengar dengan jelas apa yang tengah mereka bicarakan saat ini.
Setelah Camoline dan Silver mendapatkan tempat, mereka langsung saja duduk. Keduanya mendapatkan tempat di ujung meja, karena hanya tempat itu yang tersisa. Setelahnya, tinggal menunggu saja makanan mereka datang dengan kekuatan sihir para pekerja di dapur Akademi.
"Lily dan Violetta sudah pindah asrama?" Kepala Camoline terangkat. Ia menoleh ke meja di belakangnya, tepatnya pada meja untuk penghuni asrama hijau. Hanya sebentar sebelum kembali menatap ke arah Silver yang duduk di sampingnya.
"Kau baru mengetahuinya?" tanya Camoline balik. Silver balas menatap Camoline, lalu mengangguk. Membenarkan perkataan Camoline barusan.
"Aku tidak pernah memperhatikannya selama ini," ujar Silver. Setelah itu, Silver kembali menegapkan punggungnya bertepatan dengan makanan mereka yang telah muncul di atas meja. Sedangkan Camoline kembali menatap ke arah Lily dan Violetta yang sedang berbincang dengan murid lain dari asrama hijau. Mereka terlihat cukup dekat walau seperti biasa, Violetta hanya akan menanggapi seadanya.
"Mereka bahkan kembali menjadi teman sekamar. Sangat luar biasa," ujar Camoline. Silver sedikit menoleh lalu mengangguk pelan. Keberuntungan memang berpihak pada dua gadis itu. Karena setahunya, cukup sulit untuk bisa satu asrama lagi setelah pindah asrama. Itu dikarenakan murid yang baru datang akan mengisi kamar kosong yang tersisa.
Akhirnya kedua gadis itu makan dengan khidmat. Tidak seperti para murid di sekitar, murid-murid dari asrama biru memang lebih banyak diam dan fokus pada makanannya. Sebenarnya, posisi murid-murid di asrama biru sedikit terancam. Mereka harus bisa setidaknya mempertahankan diri di asrama biru, atau terpaksa diturunkan ke asrama di bawahnya karena kalah bersaing dengan murid dari asrama hijau. Hal ini baru mereka ketahui setelah dua hari masa belajar-mengajar kembali dimulai. Oleh karena ini, saat ini banyak murid dari asrama biru yang menyelesaikan makan siangnya secepat mungkin dan pergi dari kantin dengan langkah lebar. Mereka ingin memanfaatkan waktu sebanyak mungkin untuk memastikan posisi mereka tidak dalam ancaman.
"Camoline." Kepala Camoline terangkat. Sosok Londer ada di hadapannya. Duduk di kursi yang bersebrangan langsung dengan dirinya. Camoline tidak tahu, sejak kapan Londer ada di tempat itu. Karena seingatnya, tempat Londer saat ini diisi oleh seorang siswi yang merupakan Kakak kelas mereka.
"Aku memiliki kelas tambahan dari Barcus, ingat?" ujar Camoline. Londer tersenyum tipis lalu mengangguk pelan. Dirinya tentu saja mengetahui hal itu, namun bukan itu tujuannya. Londer hanya ingin bisa bercakap-cakap lagi bersama Camoline. Ia merindukan gadis itu.
"Ya, aku mengingatnya. Hanya saja aku tidak tahu jika kamu masih mendapatkan kelas tambahan itu bahkan hingga saat ini," ujar Londer. Makanannya muncul bertepatan dengan habisnya makanan milik Camoline. Camoline tidak langsung merespon. Ia mengelap bibirnya dengan selembar tisu yang tersedia di sampingnya. Pandangannya lalu bergerak pada Londer yang masih saja menatap dirinya, dan mengabaikan makanannya.
"Karena aku masih ingin meningkatkan kekuatanku," ujar Camoline. Dengan tenang. Londer menghela napas panjang. Ia sedikit menunduk untuk beberapa saat, sebelum kembali menatap Camoline dengan pandangan lembutnya.
"Aku merindukanmu," ujar Londer lirih. Walau tidak bisa mendengarnya, namun Camoline dapat mengerti lewat gerak bibir pemuda itu. Kepala Camoline langsung menoleh ke samping, ke arah Silver berada.
"Ayo, aku sudah selesai," ujar Silver. Ia segera berdiri diikuti oleh Camoline. Kedua gadis itu berjalan dengan langkah cepat keluar dari kantin yang terasa semakin penuh itu tanpa mengucapkan apa pun. Bahkan, Camoline juga tidak mengatakan apa-apa kepada Londer yang masih menatap ke arahnya hingga pintu kantin tertutup lagi.
"Dia masih mengharapkanmu," ujar Silver. Ia baru berbicara lagi setelah 20 langkah menjauh dari pintu kantin. Kepala Camoline menoleh sebentar. Ia kembali menatap ke depan dengan helaan napas panjang yang keluar dari mulutnya. Silver melirik ke arah teman sekamarnya itu. Raut wajah Camoline terlihat sedikit suram.
"Ini sangat menyulitkan," ujar Camoline pelan. Mendengar itu membuat dahi Silver mengerut.
"Dia tidak tahu tentang sesuatu di tubuhmu?" Camoline langsung menoleh. Ia mengangguk dengan yakin.
"Tidak. Aku tidak bisa mempercayai dia sepenuhnya. Apalagi klannya memiliki keterkaitan dengan Istana saat ini," ujar Camoline. Silver mengangguk mengerti. Ia sebenarnya tidak begitu mempedulikan urusan-urusan politik Istana. Tidak ingin peduli lebih tepatnya. Sayangnya, sepertinya ia harus mulai memperhatikan hal-hal seperti itu sejak menjadi murid di Akademi Topaz ini. Ditambah saat ini, temannya memiliki sesuatu yang diincar oleh para petinggi Istana itu.
"Tapi kamu merindukannya juga, bukan?" Camoline tidak menjawab untuk beberapa saat. Membuat Silver menoleh ke arahnya.
"Ya," ujar Camoline pada akhirnya.