The Wiz

The Wiz
Chapter 45 : Retakan



Barcus berjalan ke arah ruangan Kakaknyan, yakni Zelden. Tentu saja ia datang bukan karena inisiatif sendiri untuk saat ini. Jelas Barcus akan memilih untuk menghabiskan waktu di rumahnya dan menghabiskan bir kesukaannya itu selagi pembelajaran di Akademi belum dimulai. Tetapi sayang, seekor burung merpati berwarna hitam mengganggu niatnya itu. Burung itu membawa sebuah pesan di atas gulungan kertas yang berasal dari Zelden. Pria tua itu memberitahukan dirinya untuk segera datang ke ruangannya untuk membahas hal penting. Sepenting apa pun yang dimaksud oleh Zelden, tentu saja bagi Barcus tidaklah penting. Barcus mengembuskan napas ketika ia sampai di depan pintu ruangan Kakaknya. Di dalam terdengar cukup hening, sepertinya Zelden sedang sibuk dengan kertas-kertas yang setiap hari terus saja menumpuk di atas meja kayunya itu.


"Aku harap ini tidak akan lama," ujar Barcus setelah membuka pintu ruangan Zelden. Orang yang ada di dalam ruangan itu langsung menatap Barcus. Tidak hanya Zelden saja di ruangan itu, karena ada Camoline juga di sana. Tengah duduk di sebelah kursi yang biasanya ditempati oleh Barcus. Barcus terdiam beberapa saat. Menatap bingung serta terkejut pada sosok murid yang tidak ia lihat selama masa libur sekolah.


Dengan kerutan di dahinya, Barcus menutup pintu ruangan Zelden dengan perlahan. Tidak sekeras biasanya. Setelah itu, ia mendekat ke arah Zelden dan menatap Camoline dengan penuh curiga.


"Kamu sudah kembali? Aku pikir kamu sudah tiada," ujar Barcus. Mendengar hal itu, Camoline langsung mendengus cukup keras. Berbeda dengan Zelden yang hanya menggeleng pelan. Bahkan setelah tidak dipertemukan cukup lama, Barcus tetap saja berkata seperti itu kepada murid khususnya.


"Duduklah lebih dahulu, Barcus. Kita akan membahas tentang batu Opal itu," ujar Zelden. Ia tentu saja tidak akan membiarkan adanya pertengkaran antara guru magang dan murid tersebut. Walau sepertinya hari ini Camoline terlihat tidak akan menanggapi perkataan Barcus seperti biasanya.


Barcus menghela napas panjang. Ia terlihat cukup tidak terima dengan perintah sang Kakak. Walau akhirnya ia segera duduk. Hanya saja kali ini, ia mengambil duduk di kursi yang berhadapan langsung dengan Zelden. Tentu saja ini perintah langsung dari Zelden. Kakaknya itu memaksanya. Sepertinya untuk mencegah terjadinya pertengkaran yang tidak diinginkan.


"Jadi, ada apa? Apa ada sesuatu hal yang terjadi selama hari libur?" tanya Barcus. Ia menatap Camoline, namun kali ini tidak memandangnya dengan pandangan mengejek seperti biasa. Pria itu sudah kembali memasang wajah seriusnya.


"Aku hanya akan memberitahu hal yang baru saja aku ingat belum lama ini. Batu itu sebelum masuk ke dalam tubuhku, memiliki sedikit retakan," ujar Camoline. Barcus mengangguk mengerti, begitu pun dengan Zelden. Mereka berdua sepertinya tidak begitu terkejut. Atau, mungkin sudah menduga tentang hal ini?


"Aku sudah menduganya," ujar Zelden. Perkataannya itu membuat Barcus dan Camoline menoleh ke arahnya dengan raut wajah penasaran.


"Jadi menurutmu, retakan itu yang membuat kekuatannya menghilang secara tiba-tiba?" tanya Barcus kepada Kakaknya itu. Zelden menoleh ke arahnya, lalu mengangguk. Membenarkan perkataan adiknya tersebut.


"Tapi aku tidak menyangka, batu itu bisa menjadi cacat juga," ujar Barcus. Selama ini, batu Opal selalu saja disebut benda paling sempurna yang ada di muka bumi. Tidak akan ada kecacatan atau kerusakan sedikit pun karena kekuatan yang dimiliki oleh batu ini. Sehingga cukup mengesankan jika batu suci yang diincar semua orang itu memiliki retak.


"Karena seseorang berusaha menghancurkan batu ini," ujar Camoline menambahi. Zelden dan Barcus langsung menoleh ke arahnya. Raut wajah keduanya sangat jelas tengah terkejut. Hal yang terdengar tidak mungkin bisa dilakukan oleh siapa pun.


"Itu mustahil," elak Barcus. Zelden pun mengangguk, setuju dengan perkataan adiknya itu.


"Maka periksalah batu itu saat ini, tuan Barcus," ujar Camoline. Hanya dengan bantuan kekuatan dari Barcus lah Camoline bisa melihat keadaan batu Opal dengan sangat jelas. Selama ini dirinya hanya mampu melihat warna-warna yang bersinar menutupi batu tersebut di tubuhnya. Tetapi dengan kekuatan Barcus, cahaya itu akan sedikit redup sehingga tidak menutupi pandangannya pada batu itu.


Barcus menatap Camoline dengan dahi mengerut dalam. Sebelah alisnya pun terangkat. Ia menatap aneh pada tangan kanan Camoline yang terulur ke arahnya. Namun, raut wajah Camoline sangat serius saat ini. Sejauh yang ia tahu, Camoline akan berekspresi seperti saat ini jika ia berkata dengan sungguh-sungguh. Barcus menghela napas panjang. Ia sempat melirik ke arah Zelden, dan pria itu berada di pihak Camoline. Akhirnya, Barcus membalas uluran itu. Ia akan menuruti keinginan gadis muda di hadapannya.


Cahaya putih tipis mulai terlihat diantara kedua telapak tangan keduanya. Baik Barcus atau pun Camoline, keduanya sama-sama tengah memejamkan mata. Fokus pada kekuatan Barcus yang mencoba memeriksa keberadaan batu itu. Sedangkan Zelden hanya menatap keduanya dengan tenang. Terlihat tenang namun sebenarnya ada rasa khawatir. Karena sihir yang Barcus lakukan saat ini cukup menguras energi.


Kini, terlihat dengan jelas bagaimana keadaan batu Opal di dalam tubuh Camoline. Batu itu memiliki retakan, seperti yang Camoline katakan sebelumnya. Hanya saja, retakan itu tidak sekecil yang Barcus kira. Retakannya terukir dari ujung ke ujung bahkan di bagian tengahnya pun terdapat retakan yang cukup dalam. Setelah memastikan dengan jelas, Barcus berhenti. Barulah, kedua orang itu membuka kedua mata mereka kembali.


"Retakan sebanyak itu tidak bisa dikatakan sedikit," ujar Barcus. Ia kembali bersandar pada kursi yang didudukinya. Energi yang dikeluarkannya tadi cukup banyak, membuat Barcus merasa kelelahan saat ini.


"Memang. Retakannya bertambah dari yang terakhir aku lihat," ujar Camoline. Ia diam-diam mengembuskan napas secara perlahan. Tidak ingin terlihat jika dirinya kelelahan saat ini.


"Dan sebelumnya, batu ini tidak memiliki retakan sedikit pun," lanjut Camoline. Barcus langsung mengangkat kepalanya dengan kerutan dalam di dahinya.


"Kau tadi mengatakan jika ada retakan pada batu itu sebelumnya." Camoline mengangguk lemah. Membenarkan perkataan Barcus itu.


"Memang. Di kehidupanku saat ini, batu itu memiliki sedikit retakan. Tetapi 500 tahun yang lalu, batu itu sangat bersih dari debu retakan." Kedua mata Barcus terbuka lebar. Begitu juga dengan Zelden. Bahkan Zelden sudah berdiri dengan raut wajah terkejutnya itu.


"500 tahun?" tanya Zelden memastikan. Camoline menoleh, lalu mengangguk pelan.


"Ya, benar. Aku adalah jiwa reinkarnasi dari 500 tahun yang lalu."