The Wiz

The Wiz
Chapter 22 : Bagaimana jika...



Dari hari itu, Violetta dan Lily menjadi rutin melakukan latihan bersama Barcus. Untuk hari pertama latihan mereka, keduanya hanya mampu membuat retakan kecil di dinding yang Barcus buat. Kekuatan mereka hampir diserap habis oleh rerumputan yang mereka pijak, sekali pun Camoline sudah membiarkan tanaman-tanaman itu menyerap energinya juga. Akibat dari itu, baik Violetta atau Lily langsung demam selama 2 hari. Mengakibatkan mereka tidak bisa langsung berlatih di hari selanjutnya. Keadaan mereka berdua tentu saja langsung ditertawakan oleh Barcus. Jangan tanya kata-kata seperti apa yang pria tua itu ucapkan, karena Camoline sampai menatap sinis pada guru yang dianggapnya gadungan itu.


Dan hari ini, adalah hari ke-15 setelah hari pertama mereka berlatih. Tepat di hari ini juga, orang-orang yang dipilih oleh petinggi Istana akan ikut ke Istana guna menjalani pelatihan khusus di bawah pengawasan orang-orang penting tersebut.


Untuk tahun ini, hanya ada 3 orang yang berhasil menarik perhatian para petinggi Istana itu. Ya, hanya tiga. Jauh lebih sedikit dibanding tahun-tahun sebelumnya. Karena biasanya, para petinggi akan mengambil murid dari Akademi ini tidak kurang dari 10 orang. Namun sekarang, mereka berdalih jika tidak ada lagi yang mampu membuat mereka terkesan selain dari ketiga murid itu.


Oh, tentu saja. Semua murid yang mendaftar saat itu hanya berakhir menjadi lelucon menyedihkan untuk para petinggi itu. Banyak murid yang saat itu langsung menjadi penghuni klinik kesehatan dan tidak dapat keluar dari bangsal-nya hingga beberapa hari kemudian.


Dan tentu, diantara murid yang berkesempatan menjadi murid terpilih itu ada Rashi. Perempuan yang tidak Camoline kira akan mengikuti ujian semacam itu. Ya, dirinya bisa saja menebak atau mengorek informasi dari gadis itu. Akan tetapi, tidak ia lakukan setelah penolakan Rashi saat itu. Lagipula, ini bukan urusannya walau Rashi bisa dikatakan berkhianat pada klannya. Di kehidupan pertamanya pun, Camoline tidak dekat juga dengan klan angin itu. Walau Camoline juga sejujurnya tidak dapat mengingat apakah klan itu sempat bersekutu dengan Asdus atau tidak.


Saat ini, tidak seperti biasanya, Camoline berada di perpustakaan seorang diri. Tidak ada Violetta atau Lily yang menjadi lebih sering bersama dengan dirinya semenjak latihan rutin yang mereka lakukan, tidak ada Silver yang sering muncul mendadak di dekatnya hanya demi membuat dirinya kesal, atau pun Londer. Ah, untuk pemuda itu, rasanya begitu aneh karena tidak menjadi anak ayam Camoline. Tetapi ini menjadi berkah tersendiri bagi Camoline. Ia tidak perlu merasakan repot karena terus diikuti oleh pemuda itu.


Saat ini, keadaan Akademi benar-benar sepi. Hal ini wajar, karena semua murid dan guru tengah menjalani semacam... upacara? Entahlah, Camoline tidak terlalu ingat. Dan dirinya sendiri, memilih untuk kabur dari acara itu dengan berdiam diri di dalam perpustakaan. Sebuah buku terbuka lebar di hadapannya. Menunjukkan isinya tentang sejarah Akademi Topaz. Tetapi bukan itu yang menjadi pusat perhatiannya saat ini.


Hal lain, yang berkaitan dengan kekuatannya.


Sekarang, dua warna di batu itu telah memudar. Dirinya sudah melihat kembali kondisi batu itu dengan bantuan Barcus tentunya. Biru secerah langit dan biru segelap lautan. Dua kekuatan yang kini ia miliki. Cukup bagus..., tidak. Tapi sangat bagus. Hanya saja, Barcus selalu mewanti-wanti dirinya untuk tidak sembarangan menunjukkan kekuatan elemennya yang baru itu. Karena sudah jelas itu akan memunculkan kecurigaan dari orang lain.


Camoline mengembuskan napasnya perlahan. Sejauh ini, dirinya hanya jalan di tempat saja. Kesempatan dirinya untuk berada sangat dekat dengan musuh, telah ia lewati begitu saja. Dan inilah konsekuensinya. Camoline menjadi bingung harus melakukan apa. Walau dendam itu masih bersemayam di hatinya, tetapi kebingungan harus melakukan apa juga turut menghantui pikirannya. Di kehidupan pertamanya, Camoline hanya murid yang patuh pada gurunya. Ia berlatih sesuai arahan dan tidak memiliki kesempatan untuk mengetahui dunia luar dengan baik. Ia seperti dikucilkan, jika dipikirkan sekarang.


"Anak bodoh, kau di sini rupanya."


Kepala Camoline langsung menoleh ke arah Barcus yang baru saja menghampiri dirinya. Walau sebenarnya tanpa menoleh pun, Camoline sudah tahu jika Barcus lah yang berbicara. Karena hanya pria itu saja yang memanggil dirinya bodoh dengan nada senang. Guru gila, batin Camoline.


Tidak mungkin kan, dirinya masih menjadi mate pria itu? Ia sudah mati satu kali.


Barcus duduk di hadapan Camoline. Ia sempat melirik ke arah buku yang ada di hadapan Camoline sebentar sebelum memasang wajah aneh. Lantas, pandangannya terangkat ke wajah Camoline yang saat ini sedang menatap ke arah luar jendela. Wajah perempuan itu rumit, membuat Barcus sangat penasaran dengan isi kepala murid khususnya itu.


"Acara itu memang membosankan. Beruntung aku bukan guru resmi di sini, sehingga tidak perlu duduk di sana dan membuat pantatku menipis," ujar Barcus dengan nada suara yang begitu dramatis. Camoline tidak melirikkan matanya sedikit pun. Tetapi ia mendengus pelan. Cukup geli mendengar ungkapan dari pria yang ditunjuk untuk menjadi guru itu.


"Ngomong-ngomong, dimana matemu itu? Aku merasa aneh jika tidak melihat kalian bersama seperti ini."


Camoline menghela napas panjang. Ia menoleh ke arah Barcus dengan raut wajah malasnya. Ah, ekspresi yang biasa Barcus terima. Dan Barcus senang dengan hal ini. Karena ekspresi tenang Camoline sangatlah mengerikan. Gadis itu, tadi seperti tengah dirasuki roh penjaga bangunan ini saja.


"Londer bukan mateku," ujar Camoline dengan kesal. Tetapi jawaban Camoline itu malah disambut dengusan tidak percaya dari Barcus. Ia menatap Camoline dengan pandangan meledek.


"Benarkah? Kalian terlalu menempel. Jadi aku tidak akan bisa percaya jika kalian berdua bukan sepasang mate," sahut Barcus. Lagi, Camoline menghela napas panjang. Ucapan Barcus memang benar. Dirinya dan Londer terlalu dekat, bahkan tingkah mereka sudah bukan lagi ada di batas sepasang 'teman'. Ini sudah sangat lebih dan akan masuk akal jika keduanya memang sepasang mate. Dan sejujurnya, Camoline sangat bingung dengan alasan Londer yang seolah tidak ingin melepaskan dirinya.


"Bagaimana jika mate di kehidupanmu masih hidup?"


Barcus langsung terdiam. Tidak ada lagi raut wajah penuh jenaka dan mengejeknya yang tertuju pada untuk Camoline. Raut wajah Barcus menjadi rumit untuk beberapa saat, sebelum kepalanya memberitahukan hal mengejutkan.


"Mustahil," gumamnya. Ya, tentu saja. Karena tidak mungkin seseorang bisa hidup lebih dari 500 tahun.


Itu sangat mustahil.