
Zelden menatap ke arah luar jendela di ruangannya. Meskipun raganya ada di ruangan yang temaram itu, namun pikirannya melayang jauh entah kemana. Satu hari ini. Untuk satu hari ini, terlalu banyak hal yang telah terjadi tanpa bisa ia cegah. Memang, ia hidup di dunia yang mana, keanehan adalah makanan sehari-hari. Namun, peristiwa kali ini terlalu aneh baginya. Tidak, bahkan ia yakin akan membuat banyak orang terkejut hingga kebingungan bila berada di posisinya.
"Tuan Zelden."
Zelden tersentak, kembali ke alam sadarnya. Memutar kursinya perlahan, ia mendapati dua murid yang menjadi topik perbincangan hampir semua orang di Akademi. Menyunggingkan senyum, Zelden mengarahkan tangan kanannya pada dua kursi yang ada di hadapannya. "Silahkan duduk," ujarnya. Kedua murid itu menurut. Langsung mendaratkan bokong mereka di hadapan Zelden. Yang hanya dipisahkan oleh sebuah meja berbahan kayu jati.
"Jadi, hal penting apa yang ingin Anda bicarakan dengan kami berdua, Kepala Sekolah?" tanya gadis berambut hitam—Camoline— langsung setelah duduk nyaman di kursi kayu. Zelden tersenyum. Sedikit tidak menyangka dengan sifat gadis di hadapannya. Namun, ia tidak tersinggung sama sekali.
"Aku hanya ingin memastikan sesuatu hal kecil saja. Namun sebelum itu, aku ingin bertanya. Berada di level berapa kalian berdua saat ini?" tanya Zelden. Menatap secara bergantian dua orang di hadapannya. Camoline, seorang gadis dengan kemampuan yang masih menjadi misteri, dan Londer yang merupakan seorang penerus Klan Chromos.
"41."
"38," ujar Londer dan Camoline dalam waktu yang bersamaan. Keduanya saling melirik sebelum benar-benar memusatkan pandangan mereka ke arah Zelden yang mengulum senyum.
"Rupanya, level kalian sudah bertambah lagi? Apakah, kalian kembali bertarung?" Camoline hanya diam. Dirinya tengah memfokuskan diri untuk memulihkan kekuatannya. Sehingga, Londer yang merespon. Pemuda itu mengangkat bahunya. "Entahlah," ujarnya.
Londer mengedipkan matanya beberapa kali sebelum kembali bicara. "Itu terjadi begitu saja. Memang, peningkatannya tidak secepat setelah kami bertarung, tapi itu sangat menguntungkan," ujar Londer. Zelden hanya mengangguk sekilas. Sekarang perhatiannya terpusat pada Camoline.
"Dan, Nona Camoline. Apakah kau sudah menguasai benda itu?" Kepala Camoline langsung terangkat. Kedua matanya terbelalak dengan lebar. Menatap tidak percaya ke arah Zelden, yang kali ini menatap dirinya dengan raut wajah serius. Walaupun pertanyaan Zelden masih ambigu, namun Camoline bisa menangkap jelas apa yang dimaksud Zelden.
Menghela napas panjang, Camoline menormalkan kembali raut wajahnya. Ia tidak boleh terlihat mencurigakan di hadapan Londer yang tidak mengetahui apapun. Tidak, pria itu tidak boleh mengetahui perihal ini. Sehingga, Camoline menjawab pertanyaan Zelden dengan gelengan.
"Ah, aku mengerti. Memang, buku sejarah kuno yang tebal itu pastinya akan sangat membosankan bila harus dihapal dalam waktu singkat," ujar Zelden. Membuat Londer yang awalnya terus menatap Camoline dengan curiga, langsung menyandarkan tubuhnya dengan tenang.
"Ya. Sebaiknya, Anda bersungguh-sungguh dalam hal ini. Adikmu itu, benar-benar membuatku hampir gila," ujar Camoline dengan kesal. Zelden tertawa mendengarnya. Sejujurnya, sulit sekali untuk mendengar kekesalan para murid terhadap Barcus. Karena kebanyakan dari mereka begitu takut pada adiknya itu. Tampaknya, Barcus sudah benar-benar mendapatkan murid yang pantas untuk sifatnya itu.
"Tunggu," Londer membuat perhatian kedua orang itu teralih padanya, "Barcus adalah adik dari Kepala Sekolah?" tanya pemuda itu, yang membuat Zelden semakin tertawa dengan keras. Camoline mengusap wajahnya kasar. Tidak menyangka bila dirinya bisa bertemu dengan orang bodoh seperti ini. Ia menatap Londer dengan raut wajah datarnya. "Semua murid sudah mengetahui hal ini," ujarnya, yang membuat Londer membuang pandangannya dengan wajah yang memerah. Merasa malu dengan apa yang pertanyakan.
"Sudah-sudah. Sekarang, aku akan mengatakan sesuatu," Zelden menghela napas panjang, "bisakah aku berharap lebih terhadap kalian berdua? Demi sekolah kita ini?" tanya Zelden. Londer menatap Zelden kembali, sedangkan Camoline mengerutkan dahinya tidak mengerti.
"Maksudnya? Apakah, akan ada sesuatu yang buruk terhadap akademi ini?" tanya Camoline penasaran. Zelden terdiam, sebelum mengangguk perlahan. Itu yang firasatnya katakan sejak lama. Walau hingga saat ini, belum ada tanda-tanda bila firasatnya itu adalah kenyataan. Selain fakta bila Camoline memiliki benda yang begitu diincar semua orang.
"Anggap saja demikian. Namun, tidak salahnya juga bila berjaga-jaga. Melihat kemampuan kalian berdua, aku yakin bila kalian berdua bisa menjadi pion utama akademi ini," jelas Zelden. Londer mengangguk mengerti. Kepalanya menoleh ke arah Camoline yang tidak merespon apapun.
"Aku mengerti. Tetapi, kenapa harus kami yang merupakan murid baru? Kenapa tidak kakak kelas kami?" tanya pemuda itu. Zelden tersenyum. Benar, kenapa tidak murid yang sudah lama bersekolah di sini saja?
"Karena aku hanya melihat harapan itu pada diri kalian berdua." Terdengar Camoline mendengus kasar. Ia melipat kedua tangannya di dada.
"Jadi? Apakah aku akan tetap menjadi murid istimewa Barcus lagi?" tanya Camoline dengan malas. Zelden terkekeh. Ia baru ingat, bila hanya adiknya lah yang paling baik dalam melatih peningkatan kemampuan. Namun, pelajaran untuk menjadi penyihir petarung bukan hanya itu saja. "Semua guru terbaik, akan melatih kalian berdua secara khusus. Mungkin, mereka juga sudah memiliki masing-masing murid kesayangan. Jadi, kuharap kalian akan belajar bersama dengan baik," jawab Zelden.
Camoline mengangguk mengerti. Kini, kekuatannya sudah benar-benar pulih. Sehingga, ia bisa mengambil sedikit melihat apa yang Zelden pikirkan. Namun sebelum itu, ia tersentak kaget ketika tangan kanan Londer tiba-tiba menggenggam tangannya erat. Saat menoleh, pria itu masih memperhatikan penjelasan dari Zelden. Camoline tidak tahu, maksud dari perbuatan Londer saat ini. Karena dirinya tidak akan membaca pikiran Londer lagi, setelah kejadian di aula tadi. Mengabaikan pemuda yang ia anggap aneh itu, Camoline mulai fokus pada tujuannya. Setelah melepas genggaman tangan Londer, ia mulai membaca apa yang Zelden pikirkan.
Namun, sekali lagi Camoline melakukan hal yang sia-sia. Dengan segera ia menghentikan kekuatannya itu sebelum Zelden menyadarinya. Menghela napas panjang, ia kembali memperhatikan percakapan dua pria itu. Walau tampaknya, Camoline terlambat untuk menyimak setelah Zelden mulai menoleh ke arah dirinya juga dengan raut serius. Yang Camoline simpulkan, Zelden akan mulai membahas inti dari alasannya memanggil dirinya dan Londer.
Entah hanya firasatnya saja, atau juga tengah dirasakan Londer. Ketika Zelden mulai membuka suara untuk memulai pembicaraan yang serius, Camoline mulai merasakan hal buruk yang akan terjadi. Tidak, namun mungkin saja tengah terjadi.