The Wiz

The Wiz
Chapter 18 : Pertunjukan (2)



Melodi indah itu masih terdengar mengalun lembut di telinga para murid, membuat beberapa orang dari mereka terhanyut dalam irama yang Rashi buat. Namun, semua itu berbeda dengan apa yang ketujuh petinggi Istana rasakan. Tidak ada yang namanya irama indah di kedua telinga mereka. Hanya ada alunan lagu mengerikan yang membuat telinga mereka kesakitan. Tidak, bukan sebuah hinaan, namun memang seperti itulah kenyataannya. Melodi yang dihasilkan seruling di tangan Rashi itu, tengah menyerang indera pendengaran mereka.


Seharusnya, hal yang sama terjadi pada para murid. Dahi Rashi mengerut dalam. Sudah dipastikan, ada seseorang yang memasang perisai pelindung tingkat tinggi sehingga kekuatannya tidak bisa mempengaruhi para murid itu. Kepalanya menoleh ke arah para guru. Tidak, bukan salah satu dari mereka yang melakukannya. Terlihat dari raut wajah kebingungan yang mereka pasang.


Pandangannya beralih, menatap para murid. Sekali lagi, pandangan matanya bertemu dengan Camoline. Diturunkannya seruling itu, dengan pandangan mata yang masih tertuju pada gadis berambut hitam itu. Entah kenapa, semenjak pertemuan mereka, ia merasa ada yang aneh dengan gadis itu.


Camoline. Seorang gadis tanpa marga dari klan, yang mendadak menjadi pusat perhatian orang-orang di akademi. Karena kekuatan yang dimiliki gadis itu meningkat dalam waktu sebentar. Gadis itu, hanya menampilkan senyuman anehnya. Membuat Rashi tidak dapat menebak apa isi kepala gadis itu.


"Kau benar-benar memiliki kemampuan yang bagus, nona."


Kepala Rashi menunduk, memperhatikan ketujuh orang yang menjadi juri di acara ini. Ia memasukan seruling ke dalam saku dibalik jasnya. Menatap dengan tenang, setelah berusaha mengabaikan pertanyaan-pertanyaan yang menyeruak di kepalanya itu.


"Tidak aku sangka, akan mendapatkan serangan seperti itu," ujar Deus. Menatap Rashi dengan binar di kedua matanya. Tampaknya, pria itu benar-benar senang ada sesuatu hal yang membunuh rasa bosannya. "Meskipun, harus mengorbankan kedua telingaku ini," tuturnya tanpa menghilangkan kebahagiaan dari orang itu.


Rashi belum berniat untuk mengatakan apapun. Dirinya meyakini, masih ada hal yang akan disampaikan salah satu dari mereka atas serangan yang ia lakukan. Dan faktanya, itu memang demikian.


"Kau benar. Tidak pernah aku sangka, akan bertemu dengan salah satu anggota klan Harmoni. Ini sangat menggembirakan, bila salah satu dari kalian bisa bergabung menjadi penyihir Istana," ujar Pedion. Hanya dua orang itu saja, yang terlihat begitu tertarik dengan kekuatan yang Rashi miliki. Sedangkan yang lain, hanya menatap dirinya datar.


"Terima kasih atas pujian yang Anda berikan pada murid di akademi kami ini," ujar Azura. Ia menyentuh bahu Rashi lembut, membuat gadis itu menoleh dengan tatapan datarnya. "Kembalilah, mereka akan membahas apakah kau diterima atau tidak." Rashi mengangguk mengerti. Ia membungkuk hormat pada ketujuh petinggi Istana sebelum berjalan turun dari atas panggung.


Beberapa orang masih memperhatikan langkah kaki Rashi sebelum murid lainnya menaiki panggung. Di acara seperti ini, memang tidak akan ada yang bisa menebak, siapa saja yang akan berpartisipasi. Melirik ke arah sepasang murid yang pernah menggemparkan akademi, raut penasaran terlihat di wajah orang-orang yang memperhatikan keduanya. Bertanya dalam hati, apakah kedua orang itu akan berpartisipasi atau tidak.


"Setelah ini giliranku." Camoline hanya melirik sebentar. Tidak menyangka, orang di sebelahnya akan segera maju. Mengabaikan orang di sebelahnya itu, Camoline memilih untuk menyandarkan kepalanya pada bahu Londer. Tidak, ia tidak berniat untuk menjadi sosok manja pada pria yang sudah mengklaim atas dirinya. Namun, ia mencoba untuk fokus mengambil beberapa informasi tentang klan Chromos. Karena yang sudah ia amati, ia bisa mengambil lebih banyak informasi tanpa diketahui bila bersentuhan dengan lawan.


Ia harus mengetahui lebih banyak tentang klan Chromos. Dirinya sedikit menyesalkan kehidupannya yang dulu, di mana benar-benar tertutup pada dunia luar. Alih-alih menikmati masa mudanya, dulu dirinya menyibukkan diri mempelajari beberapa mantra atau teknik sihir rahasia dari semua klan—yang setidaknya bisa ia praktekan—walaupun hanya sedikit kemajuan yang ia peroleh dari kegiatannya itu.


"Kau baik-baik saja?" tanya Londer. Ia benar-benar terkejut dengan perilaku Camoline ini, walau sebenarnya ia juga senang. Camoline tahu itu. Karena, tubuh Londer sempat menegang sebelum berhasil tenang kembali. Bahkan kini, pria itu mengusap kepalanya dengan lembut. Walau risih, Camoline memilih membiarkannya. Ia terus berusaha semakin fokus untuk membaca pikiran Londer.


"Kau tidak akan bisa membaca seluruh isi pikiranku, Camoline. Sedikit mengejutkan, kau dapat melakukan teknik rahasia itu," ujar Londer membuat kedua bola mata Camoline terbuka lebar. Perlahan, ia menegakkan tubuhnya dengan kepala yang menoleh ke arah Londer dengan kerutan di dahinya.


"Sejak kapan, kau menyadarinya?" desak Camoline. Londer tersenyum. Ia tidak langsung menjawab, dan memilih untuk menarik kepala Camoline agar kembali bersandar pada bahunya.


"Belum lama. Sepertinya, dua minggu setelah pertarungan kita? Entahlah, aku tidak bisa mengatakan jawabannya secara pasti." Camoline menghela napas panjang. Sepertinya, ia harus membuat daftar orang-orang yang tidak dapat ia tembus pikirannya. Atau sebaiknya, ia memang tidak perlu menggunakan kekuatan itu. Karena benar-benar menguras tenaganya.


"Daripada mencuri informasi seperti itu, kenapa tidak bertanya langsung saja padaku?" tanya Londer lagi. Matanya menatap lembut ke arah Camoline yang tengah memperhatikan panggung dengan malas.


"Kau tidak akan bisa menjawab apapun yang aku tanyakan. Sudahlah, aku tengah lelah karena berpikir." Londer terkekeh pelan. Keduanya tidak menyadari, bila masih ada seseorang yang memperhatikan keduanya. Yang kali ini, ia menatap kesal ke arah dua orang itu.


"Apakah kalian ini sepasang mate? Tingkah kalian berdua benar-benar membuat kedua mataku berdosa," ujar Aris. Camoline menegakkan tubuhnya, menatap Aris dengan sebelah alis terangkat. Namun, terlihat jelas jika ia kesal.


Hei, siapa yang mengatakan jika ia adalah seseorang yang ditakdirkan untuk Londer? Dewa pasti tengah mengantuk bila itu memang kenyataannya.


"Kami memang mate, seperti yang kau katakan," Londer tersenyum ketika Camoline menatapnya tajam, "itu sudah menjadi hal diketahui di angkatanku, senior," ujarnya tenang.


Aris mendengus keras. Ia langsung membuang muka ke arah depan. Sial, batinnya. Entah kenapa, ia benci melihat pemandangan seperti tadi. Tidak, ia tidak akan mungkin menyukai gadis aneh yang baru saja bicara dengannya itu. Ia hanya kesal, ada yang bermesraan di sebelahnya. Apalagi itu adalah angkatan murid baru. Tidak ada sopan santun, sungutnya.


Camoline menghela napas perlahan. Ia menatap ke arah Londer sebentar sebelum membuang muka. Mate bukanlah sesuatu yang mudah diucapkan begitu saja. Dan Londer, mengatakan hal tadi dengan begitu mudah. Seolah, mereka memang sepasang anak Adam yang sudah ditakdirkan bersama oleh para Dewa.


"Aku tidak berharap ucapan dirimu tadi, adalah sebuah kenyataan," ujar Camoline. Londer mengangkat bahunya tidak peduli. Camoline tidak setuju atau bahkan Dewa juga tidak setuju, dirinya akan tetap memilih gadis berambut hitam ini sebagai pasangannya. Egois? Itu memang sifatnya.


"Tapi, kau memang hanya akan menjadi milikku," ujar Londer membuat Camoline melirik ke arahnya dengan tajam.