
Pada akhirnya, rencana mereka berdua gagal. Bukan karena salah satu mereka yang lupa tentang rencana itu, tetapi keadaan membuat keduanya harus mengundur waktu untuk berbicara kepada Zelden. Zelden, ketua Akademi itu sedang tidak ada di Akademi. Entah kemana pria itu pergi. Namun, dari informasi yang didapat, Zelden sedang pergi untuk kembali ke rumahnya. Hanya sendiri, karena Barcus masih terlihat berkeliaran di sekitar Akademi. Karenanya, rencana mereka siang itu benar-benar batal.
Camoline mengembuskan napas perlahan. Saat ini, dirinya sudah berada di kamarnya lagi, bersama Silver yang begitu sibuk membaca sebuah buku mantra. Besok mereka mendapatkan jadwal ujian dari Azura. Ramuan dan mantra. Tidak ada petunjuk apa pun sebagai bocoran untuk tes besok, sehingga mereka benar-benar harus menghapal mantra-mantra yang kemungkinan besar akan digunakan besok.
Sedangkan Camoline, fokusnya sudah terpecah kemana-mana. Ia begitu khawatir dengan kemungkinan dirinya akan kehilangan kesempatan untuk memberitahu hal penting itu kepada Zelden. Juga, tentang fakta Londer yang baru dirinya ketahui. Kutukan dari Dewa yang tidak pernah Camoline duga sebelumnya.
"Ah, kepalaku terasa akan meledak. Sekarang aku tidak sanggup mengingat sisa mantra yang ada di buku tebal ini," keluh Silver. Kepala Camoline bergerak, menoleh ke arah Silver yang memasang wajah penuh putus asa.
"Silver, ada yang ingin aku tanyakan kepadamu."
"Asalkan itu bukan tentang mantra-mantra ini, silahkan," ujar Silver. Ia tersenyum ke arah Camoline sebentar, sebelum kembali menatap pada buku di depannya dengan wajah lelah.
"Tentang kutukan mate, apakah memang ada kutukan mate dari Dewa itu memang ada?" Silver tidak langsung menjawab. Ia menutup buku tebal itu, lalu memasukkannya ke dalam laci meja belajarnya. Helaan napas panjang keluar dari mulut gadis berambut perak itu. Ia lalu menghadapkan tubuhnya ke arah Camoline.
"Dari yang aku dengar, hal seperti itu pernah ada," ujar Silver. Namun, raut wajahnya seperti bingung.
"Pernah ada?" Silver langsung mengangguk. Beberapa saat dahinya mengerut.
"Beberapa tahun silam, sepertinya ratusan tahun yang lalu, ada satu klan yang mendapatkan kutukan mengerikan itu dari Dewa. Aku tidak tahu alasan kenapa mereka mendapatkan kutukan seperti itu, karena itu dianggap cukup tabu," jelasnya. Camoline mengangguk mengerti, walau raut wajahnya terlihat tidak berkata demikian.
"Kenapa? Ada seseorang yang berbicara tentang hal itu?" tanya Silver penasaran. Camoline menoleh dengan cepat lalu menggeleng. Ia tersenyum tipis.
"Tidak ada," ujar Camoline. Ia menutup bukunya dan meletakkan buku itu ke dalam laci. Sama seperti yang Silver lakukan tadi.
"Aku akan tidur lebih cepat. Bangunkan saja jika ada hal aneh yang tiba-tiba terjadi," ujar Camoline sebelum ia naik ke atas tempat tidurnya. Silver terdiam beberapa saat sebelum mendengus pelan. Kepalanya menoleh ke arah jendela kamar mereka yang belum ditutupi oleh tirai.
Camoline segera berbaring dengan selimut yang sudah menutupi hampir seluruh tubuhnya. Hari ini dirinya merasa sangat lelah, sehingga tidak lama setelah berbaring, Camoline dengan mudah terlelap dan masuk ke alam mimpinya. Kepala Silver kembali menoleh ke arah Camoline. Lalu setelahnya, helaan napas kembali terdengar. Secara perlahan, ia berdiri dan mulai menutup jendela kamar mereka dengan tirai berwarna biru. Ia akan segera tidur, menyusul Camoline.
Toktok.
Kepala Silver dengan cepat menoleh ke arah pintu. Dahinya mengerut dalam. Seingatnya, ia tidak meminta siapa pun untuk datang ke kamarnya saat malam hari. Terlebih adanya aturan untuk tidak berkeliaran di luar asrama setelah makan malam.
Dengan rasa penasaran yang tinggi, Silver berjalan ke arah pintu. Ia diam beberapa saat, sebelum akhirnya membuka pintu itu dengan pelan. Ia tidak ingin membangunkan Camoline yang saat ini sudah tidur dengan nyenyak.
Begitu pintu terbuka, Silver menemukan seorang peempuan berabut hitam. Ia terlihat asing di mata Silver. Terlebih dengan piyama khas asrama putih yang dipakainya. Kerutan di dahi Silver pun akhirnya kembali muncul.
"Kau membutuhka sesuatu dari teman sekamarku?" tanya Silver lagi. Sekarang, perempuan asing itu kembali menatap ke arah dirinya. Ia terdiam lagi, sebelum akhirnya menggeleng.
"Tidak. Aku hanya perlu berbicara denganmu, berdua," ujar perempuan itu. Sebelah alis Silver terangkat.
"Sungguh?" Dengan yakin, perempuan itu mengangguk kuat. Ia menatap Silver langsung pada matanya. Tatapan matanya begitu yakin. Tidak ada keraguan sama sekali.
"Ya. Berdua, namun tidak di sini." Silver menghela napas panjang. Ia melipat ke dua tangannya di depan dada. Pandangan matanya menatap perempuan asing itu dengan penuh kecurigaanku.
"Aku tidak akan mempercayai dirimu begitu saja, terlebih kabar para murid saling mencelakai itu bukan sebuah rumor belaka," ujar Silver. Perempuan di depannya menghela napas panjang. Ia menoleh ke sekitar. Beruntung tidak ada patroli asrama saat ini.
"Kau sangat keras kepala," gerutu perempuan itu pelan. Silver langsung mendengus. Tatapan matanya menjadi kesal.
"Tentu saja! Aku harus menjadi waspada kepada siapa pun saat ini," ujar Silver dengan nada kesal. Perempuan itu menatap Silver beberapa saat, lalu salah satu sudut bibirnya terangkat.
"Kepada siapa pun, tetapi tidak kepada teman sekamarmu itu, bukan? Kamu payah sekali," ujar perempuan itu. Kerutan di dahi Silver kembali muncul. Tatapan matanya menjadi begitu tajam pada perempuan asing itu.
"Apa yang kamu maksud? Dia temanku—"
"Sesama teman bisa saja saling mencelakai, benar?" Silver langsung terdiam. Hal itu membuat perempuan di depannya langsung terkekeh. Ia menatap Silver dengan pandangan meremehkan.
"Kau bahkan tidak tahu apa pun tentang gadis itu. Kau benar-benar sebatas teman sekamarnya, tidak lebih." Silver membuang muka. Namun, terlihat jelas jika ia begitu kesal. Kepalan tangannya saat ini mula menguat hingga buku-buku jarinya memutih.
"Jangan berkata seperti itu! Kau tidak tahu apa pun tentang hubunganku dengannya," ujar Silver dengan tajam. Namun yang ada, perempuan itu justru kembali terkekeh dengan tatapan mata yang juga meremehkan.
"Benarkah? Berarti kamu juga tahu, jika dia memiliki batu Opal, batu legenda yang dicari semua orang, bukan?" Dengan refleks, Silver kembali menatap ke arah perempuan itu. Kini, ada binar tidak percaya di mata Silver. Hal seperti ini benar-benar hal baru yang ia dengar.
"Ah, kau tidak tahu? Menyedihkan sekali. Dia benar-benar memilikinya. Kau bisa bertanya pada Barcus. Pria tua itu pastinya sudah mengetahui hal ini dari awal," ujar perempuan itu. Ia menatap Silver dengan wajah puas yang tidak sembunyikan. Dirinya benar-benar menyukai bagaimana raut wajah Silver saat ini.
"Dia bukan orang yang hebat seperti itu. Dia hanya orang payah yang mendapatkan keberuntungan seumur hidup dengan memiliki batu itu. Karena aslinya, dia bahkan lebih payah dari pada penghuni tetap asrama putih," ujar perempuan itu. Setelahnya, perempuan itu berjalan meninggalkan kamar Silver begitu saja. Juga meninggalkan Silver yang masih terdiam mencerna apa yang baru saja ia dengar.
"Mustahil," gumam Silver tidak percaya.