
Apa yang Londer katakan itu sontak saja membuat satu ruangan menjadi hening. Tidak ada satu pun yang berbicara. Mereka terdiam dengan pikiran masing-masing. Namun, tentu saja Camoline yang terlihat tidak terkejut seperti ketiga pria tua itu. Dia sudah mengetahuinya, jauh sebelum Londer mengatakan ini sekarang. Lagipula, kedatangan Asdus yang secara tiba-tiba saat itu pun, Camoline sudah yakin jika lambat laun para petinggi Istana akan sadar dengan keberadaan batu Opal di dalam tubuhnya itu. Kepala Delwana terangkat, menatap Londer dengan raut wajah seriusnya. Ia terlihat cukup tidak percaya dengan perkataan Londer tersebut. Walau sebenarnya hal itu bukan sesuatu yang tidak mungkin. Karena ambisi dan obsesi para petinggi Istana memang cukup mengerikan.
"Kau yakin?" tanya Delwana dengan raut wajah serius. Londer menoleh, mengalihkan pandangannya dari Zelden ke arah Delwana. Ia mengangguk dengan sangat yakin.
"Ya, tentu saja," ujar Pangeran muda itu.
"Darimana kamu mendapatkan informasi seperti itu?" Kali ini Zelden yang bertanya. Ia sempat melirik ke arah Delwana, dimana pria itu terlihat masih terkejut dengan apa yang baru saja didengarnya. Zelden membiarkan itu. Ia lebih tertarik dengan penjelasan Pangeran dari klan Chromos itu. Londer langsung menegapkan punggungnya. Sudah sangat siap dengan pertanyaan dari Zelden ini.
"Aku mendengarnya langsung. Saat dimana para petinggi hadir di kediaman klan Chromos dan menbahas hal ini bersama tetua Klan," ujar Londer. Zelden mengangguk mengerti, sedangkan Delwana justru menatapnya aneh. Ini sangat baru bagi Delwana, karena anggota petinggi klan bisa memberikan informasi sepenting ini dengan mudahnya.
"Kapan pertemuan itu terjadi?"
"Dua hari sebelum hari ujian," ujar Londer. Zelden kembali mengangguk. Ia melirik ke arah Barcus. Pria itu sejak tadi masih menutup mulutnya.
"Sudah cukup lama ya. Lalu, apakah ada hal lain lagi?" tanya Zelden. Tanpa ragu, Londer kembali mengangguk. Ia datang memang untuk mengatakan hal yang baru saja ia ketahui belum lama ini. Tepatnya ketika minggu terakhir hari libur. Pertemuan ke sekian yang ia dengar secara diam-diam.
"Seperti yang aku katakan sebelumnya, para petinggi sudah sangat yakin jika di Akademi ini ada batu Opal. Sebelumnya, mereka tidak begitu yakin. Namun di pertemuan terakhir, mereka sangat yakin dan bahkan percaya di titik mana batu itu berada," jelas Londer. Kali ini, kepala Camoline langsung menoleh ke arahnya. Ia cukup terkejut. Karena seingatnya, belum pernah ada alat atau mantra apa pun untuk mendeteksi keberadaan batu Opal yang tersembunyi. Atau, sebenarnya memang ada dan baru bisa dipergunakan saat ini? Camoline tidak yakin.
"Mereka terlalu percaya diri dengan apa yang mereka tahu itu," ujar Barcus. Akhirnya ia bersuara walau lagi dan lagi nada bicara yang ia keluarkan cukup menyebalkan. Zelden tidak merespon perkataan adiknya tersebut. Ia tengah terdiam dengan pikiran yang penuh.
"Kau tahu dimana titik yang mereka maksud?" Delwana tampaknya sangat tertarik dengan hal ini. Sedikit ia tahu, jika Zelden dan Barcus, dan dua murid ini berada dalam tim yang sama. Mereka sepertinya akan melakukan perlawanan kepada para Petinggi Istana walau sampai saat ini Delwana belum mengetahui alasan jelas dari perilaku mereka saat ini. Karena sebenarnya, nyawa mereka dalam ancaman apabila ada pihak yang membocorkan rencana mereka kepada para petinggi itu.
"Sayangnya tidak. Aku tidak bisa mendengarnya sama sekali," ujar Londer. Delwana mengembuskan napas, terlihat cukup kecewa.
"Sepertinya, mereka sudah menandai tempat yang mereka yakini di selembar peta. Para petinggi itu akan mudah mendapatkan denah Akademi walau bukan untuk alasan yang jelas," ujar Camoline. Delwana melirik ke arahnya sebentar sebelum menganggukkan kepala. Perkataan Camoline masuk akal.
"Jadi kamu sudah bisa memprediksi kapan mereka akan datang ke sini?" tanya Barcus. Zelden diam untuk beberapa saat, sebelum akhirnya ia menghela napas panjang.
"Kau bisa saja melakukannya. Ingat, posisimu di sini adalah Kepala Akademi. Pergunakan jabatanmu itu sesekali," ujar Barcus. Zelden mendengus pelan. Ia akan memikirkan itu nanti. Setelahnya, pandangan Zelden teralih pada Delwana. Pria itu masih diam dengan kerutan tipis di dahinya.
"Sepertinya kamu sudah mendapatkan kesimpulan sendiri. Sekarang aku hanya akan memperjelas saja," ujar Zelden. Delwana langsung mengangkat pandangannya. Ia menatap Zelden dengan penuh keingintahuan.
"Kami yang ada di sini sangat menentang para petinggi Istana. Mungkin tidak sampai pada pemberontakan, tetapi pandangan kami terhadap dunia sangatlah berbeda dengan para petinggi itu. Termasuk dengan Yang Mulia Tuan Asdus," lanjutnya. Delwana terdiam. Walau ia tahu jika Zelden dan Barcus tidak memiliki pandangan yang baik terhadap para petinggi Istana, seperti dirinya, tetapi dirinya cukup terkejut dengan Zelden yang bisa berkata semudah itu. Kepala Delwana lalu menoleh ke arah Londer dan Camoline.
"Lalu kedua murid ini? Kenapa mereka juga terlibat? Aku rasa, mereka terlalu muda untuk memahami hal-hal seperti ini," ujar Delwana. Sontak saja perkataannya itu membuat Barcus tertawa cukup keras. Hal itu tentu saja membuat Barcus menjadi pusat perhatian keempat orang yang ada di sana.
"Kau ini, mengatakan hal yang menggelikan." Hanya itu yang Barcus katakan. Ia langsung menutup mulutnya tanpa berniat untuk menjelaskan apa pun lagi. Raut wajahnya begitu mengejek ketika Delwana menunggu Barcus bicara lagi. Sedangkan Zelden menggeleng pelan melihat tingkah adiknya itu. Begitu juga Camoline. Ia justru tengah menahan kekesalan pada pria tua yang sayangnya menjadi guru khususnya itu.
"Mereka ada karena ini memang takdir keduanya," ujar Zelden dengan santai. Delwana kembali menatap ke arah Zelden. Kerutan di dahinya semakin dalam. Ia terlihat tidak mengerti dengan apa yang Zelden maksud dari ucapannya itu.
"Aku tidak mengerti," ujar Delwana. Ia memilih untuk jujur saja, agar semua pertanyaan di kepalanya bisa menghilang walau hanya setengah.
"Kamu tidak perlu mengerti terlalu dalam. Yang perlu kamu ketahui, mereka berdua cukup penting karena bisa mendapatkan informasi penting dengan mudah, tidak sesulit jika kau atau Zelden yang mencarinya," ujar Barcus. Ia mengetuk-ngetukkan gelas birnya yang sudah kosong ke atas kursi di sampingnya.
"Jadi, mereka berdua bertugas untuk mengumpulkan informasi dari pergerakan para petinggi?" Barcus langsung menjawab dengan anggukkan pasti. Delwana mulai sedikit mengerti.
"Dan salah satu dari mereka juga tahu, anggota klan hitam yang masih hidup hingga saat ini," lanjut Barcus. Ucapannya itu membuat Delwana terkejut bukan main. Ia menoleh ke arah dua murid itu. Keduanya menatap Barcus dengan raut wajah yang berbeda. Sedangkan Barcus menatap kedua murid itu dengan kekehan yang terdengar sangat menyebalkan.
"Jadi, kau akan benar-benar bergabung atau tidak?" kali ini Zelden angkat bicara. Mencegah Delwana untuk tidak bertanya apa pun lagi untuk hari ini.
"Jika memilih tidak, maka jangan harap bisa keluar dalam keadaan bernapas," ujar Camoline. Ia menatap Delwana dengan datar. Bahkan suasana di ruangan itu terasa cukup mencekik. Delwana merasakannya dengan begitu kuat. Ia menatap Zelden dengan bingung, karena Zelden terlihat tidak terpengaruh dengan apa yang terjadi di ruangan ini sekarang.
"A-aku ber-sedia!"