
Camoline sendirian.
Perundungan itu, ia mengira hanya akan sampai di perkataan menyakitkan saja. Ucapan penuh hinaan dan cemoohan dari orang-orang itu sebenarnya sudah mulai mengganggu Camoline. Namun, mereka tidak hanya berhenti sampai di sana saja. Orang-orang itu, melakukan kekerasan fisik kepada dirinya juga. Dan kamar asrama menjadi saksi dimana orang-orang dengan senang membuatnya semakin menderita. Ini seperti neraka bagi Camoline. Dirinya benar-benar tidak mengerti, kenapa mereka begitu tidak suka karena ia memiliki batu Opal di dalam tubuhnya.
Hari ini, Camoline bahkan telah melewatkan semua kelas dari pagi. Ia tidak tahan untuk berada di tempat yang sama bersama orang-orang yang membenci dirinya. Tubuh dan pikirannya sudah terlalu lelah.
Camoline mengembuskan napas panjang. Ia menatap langit yang mulai berwarna jingga. Ia sangat ingin mengeluh. Menceritakan semuanya kepada seseorang. Kepada sosok yang selalu disebut Ibu oleh orang-orang. Namun, Camoline bahkan ragu apabila ia memiliki sosok itu. Kemunculan dirinya saja di dunia ini tidak begitu jelas. Di kehidupan pertamanya saja, ia disebut sebagai anak yang terlahir dari cahaya. Sehingga ia tidak memiliki sosok Ayah maupun Ibu yang membuatnya lahir di dunia ini.
Satu per satu batu kerikil dilempar oleh Camoline ke arah danau yang tenang. Batu kerikil itu bergerak hingga akhirnya tenggelam ke dasar danau. Sekali lagi, Camoline mengembuskan napasnya. Batu Opal di dalam tubuhnya benar-benar sebuah kesialan dibanding sebuah keberuntungan. Benar apa yang dikatakan dalam buku itu. Bila batu Opal bukanlah sebuah berkah, namun sebuah kutukan untuk umat manusia yang diberikan oleh Dewa sebagai teguran atas keserakahan, keangkuhan, dan kenaifan manusia.
Camoline kembali melempar kerikir yang ada di tangannya ke atas air.
Bahkan setelah sekian lama, setelah banyaknya kejadian mengerikan, batu Opal tetap saja dianggap batu suci yang membawa keberkahan untuk setiap orang yang memilikinya. Keabadian dan kekuatan tanpa batas setingkat Dewa. Camoline sama sekali tidak mengerti, kenapa orang-orang terdahulu mengatakan omong kosong seperti itu. Sehingga peperangan besar terus saja terjadi hanya untuk memperebutkan batu Opal ini.
Tubuh Camoline akhirnya jatuh berbaring di atas rumput. Kini, pandangannya terkunci pada langit yang mulai menggelap. Bintang-bintang bahkan mulai terlihat saat ini. Menandakan jika malam tidak lama lagi akan segera tiba. Namun, Camoline belum ingin kembali ke Akademi. Karena ia tahu, hanya akan ada tatapan dan perkataan penuh hinaan yang ia dapatkan. Atau terburuknya, ia tidak akan pernah bisa mendapatkan makan malam dengan layak seperti pagi tadi karena mereka yang tidak menyukai keberadaan Camoline dengan batu Opal itu.
Camoline diam dalam beberapa waktu yang cukup lama. Sebelum ia tersadar akan sesuatu hal. Dengan cepat, Camoline bangun dari posisinya. Ia berdiri dan menatap kedua tangannya yang sedikit kotor oleh debu tanah.
"Seharusnya aku bisa membuat batu ini semakin rusak," ujar Camoline dengan suara pelan. Kepala Camoline terangkat. Menatap air danau di depannya. Air danau itu bisa ia gunakan untuk menguras seluruh kekuatan elemen air di dalam tubuhnya. Kepala Camoline menoleh ke sekitar. Tidak ada tanda-tanda kehadiran orang lain, membuat Camoline bernapas lega. Karena ia bisa melaksanakan idenya ini tanpa perlu terganggu dengan kehadiran orang lain.
Ia akan menghancurkan batu Opal di dalam tubuhnya secara perlahan. Seperti yang selama ini diusahakan oleh orang-orang yang terpaksa menerima takdir sebagai penerima batu Opal. Dengan hilangnya batu Opal, maka peperangan mengerikan bisa hilang dari muka bumi. Dengan hilangnya batu Opal, maka keserakahan umat manusia itu akan sedikit berkurang. Itu yang Camoline yakini.
Tanpa menunggu lama, Camoline mulai mengendalikan air danau di depannya. Ia bahkan tidak berhati-hati dalam mengeluarkan kekuatannya. Ia menggerakkan air danau, menaikkan air dalam jumlah besar, sebelum menjadikan air itu layaknya hujan yang turun dari langit. Camoline terus melakukan semua itu. Memaksa kekuatannya keluar dari batas yang ia mampu walau sekarang tubuhnya menjadi begitu cepat lelah.
Camoline terus melakukannya. Sesekali juga ia melakukan serangan dengan air danau itu ke arah pohon-pohon di sebrang sana. Beberapa batang pohon pun patah karena serangan itu. Camoline terus mengendalikan air danau sekali pun wajahnya sudah begitu pucat. Hingga akhirnya, tubuhnya yang sudah melewati batas langsung jatuh ke atas rumput. Ia kelelahan. Bahkan dadanya terasa sakit hanya untuk mengambil napas.
Dengan kesusahan, Camoline membuka matanya. Pandangannya cukup buram, namun ia masih bisa mendengar cukup jelas jika Silver lah yang baru saja berbicara. Camoline tidak bisa berbicara. Tenaganya terkuras habis.
"Ia hanya mencoba menghilangkan kekuatan batu Opal," ujar orang lainnya lagi yang tidak begitu dikenal oleh Camoline. Silver menoleh ke arah orang itu yang tidak lain adalah Liora. Posisi Silver saat ini masih menyangga kepala Camoline di pangkuannya. Menjaga agar kepala temannya itu tidak menyentuh tanah secara langsung.
"Menghilangkannya?" tanya Silver penasaran. Liora mengangguk. Raut wajah penuh senyumannya itu sudah hilang. Ia memasang wajah serius kali ini.
"Sebelumnya, salah satu keluargaku pun mendapatkan takdir untuk menerima batu itu. Dan ia mengatakan jika hanya dengan melenyapkan semua elemen di batu Opal adalah cara untuk menghentikan kutukan itu," ujar Liora. Silver diam, tidak langsung menanggapi perkataan Liora. Ia mengusap dahi Camoline yang basah karena keringat dingin. Wajah Camoline masih pucat. Deru napasnya pun sangat memburu.
"Dan itulah alasan kenapa kamu ingin menolong Camoline?" Silver kembali menatap ke arah Liora. Tanpa diduga, gadis dari asrama merah itu mengangguk, membenarkan perkataan Silver tersebut.
"Batu itu adalah sebuah kutukan karena membawa peperangan mengerikan hanya untuk memperebutkannya. Karena itu, begitu aku mengetahui jika temanmu memiliki takdir dipilih oleh batu suci itu, aku ingin menolongmu," ujar Liora. Silver mengembuskan napas secara perlahan. Sekarang, ia tidak curiga lagi kepada gadis dari Kerajaan sebrang itu.
"Lagipula, kau memiliki kekuatan pembaca pikiran kenapa tidak melakukannya kepadaku? Dasar bodoh." Silver berdecak kesal. Bahkan mereka baru saja berkenalan dan berbincang hari ini, tetapi Liora sudah bisa mengatakan hal itu kepada dirinya dengan mudah. Benar-benar membuat Silver kesal.
"AAAAAA!"
Silver dan Liora langsung menoleh ke arah bangunan Akademi dengan wajah terkejut. Teriakan itu sangat keras. Tidak lama, kepulan asap hitam muncul dari balik salah satu jendela. Silver dan Liora saling berpandangan. Jika mereka tidak salah menduga, maka ruangan itu adalah kantin. Dimana murid-murid sedang memenuhi ruangan itu untuk makan malam. Dan suara teriakan yang ramai itu juga memperkuat dugaan mereka.
"Serangan mendadak? Apa mungkin dari petinggi Istana?" Kepala Liora menoleh ketika Silver mengatakan hal tersebut.
"Bukan hal yang tidak mungkin. Karena selama beratus-ratus tahun, mereka akan selalu menyerang siapa pun yang enggan menyerahkan batu Opal ke tangan mereka," ujar Liora. Ia menatap dengan tajam ke arah jendela yang masih mengepulkan asap itu. Sedangkan Silver langsung menggenggam erat tangan kanan Camoline yang terasa dingin. Beruntung Camoline memilih untuk tetap berdiam di sini walau gadis itu bertingkah cukup gila. Karena Camoline tidak perlu mendapatkan serangan mendadak yang terjadi di kantin Akademi itu.
"Bawa Camoline ke kamarmu. Hanya di tempat itu setidaknya dia akan aman selama masa pemulihan," ujar Liora. Silver mengangkat kepalanya. Aura Liora menjadi berbeda. Tidak heran apabila ia mendapat gelar sebagai Putri Mahkota.