
Siapa yang akan menyangka, bila dirinya yang bisa menaikkan level secara drastis akan langsung menjadi pusat perhatian semua orang. Bukan hanya murid yang satu angkatan dengannya, namun para senior pun menatapnya dengan penasaran. Ia yakin, bila berita tentang dirinya yang telah mencapai tingkat Magi sudah tersiar hingga penjuru sekolah dengan sangat cepat. Ada rasa senang dan kesal yang Camoline rasakan. Ia senang, karena segel batu Opal itu sudah hilang dan ia bisa menyerap sebagian kekuatan batu itu tanpa bersusah payah sehingga keinginannya untuk membalaskan dendam pada klan hitam, akan semakin cepat terlaksana. Namun juga kesal, karena mau tidak mau ia harus berpindah asrama yang sesuai dengan tingkatannya.
Bukannya ia tidak menyukai asrama berlambang biru itu. Namun, ia tidak menyangka akan berada di asrama yang sama dengan salah seorang anak dari klan Chromos. Rupanya, pria itu juga berada di asrama ini sejak kemarin.
"Tidak menyangka, kau bisa membuktikan ucapanmu kemarin dengan begitu cepat." Itu yang Londer katakan begitu Camoline baru saja menginjakkan kakinya ke area asrama biru. Pakaian seragam yang dipakai Londer dan Camoline, terlihat jelas perbedaannya. Seolah, keduanya memang berada di kasta yang berbeda.
Camoline menaikkan sebelah alisnya. Kedua tangannya terlipat di dada, seolah meremehkan pria yang jelas-jelas dari kalangan bangsawan. "Benar. Kau bahkan tidak ada apa-apanya untukku," ujar Camoline. Londer mendengus pelan mendengar penuturan Camoline yang terdengar sombong.
"Jangan sombong dulu, nona. Kau itu baru naik tingkatan. Artinya, belum ada apapun yang kau kuasai tentang tingkat sihirmu itu." Sebenarnya, ucapan Londer ada benarnya. Ia sudah mati selama ratusan tahun, sebelum bereinkarnasi ke masa ini. Sudah pasti bila dirinya harus kembali menyesuaikan dengan elemen baru yang ia miliki. Ah, benar-benar hal menyebalkan selanjutnya. Camoline baru menyadari bila elemen yang ia miliki berbeda jauh dengan yang sebelumnya.
Melihat keterdiaman Camoline, Londer terkekeh pelan. Ia merasa kalimat yang ia lontarkan adalah benar. Berfikir bila Camoline tengah memikirkan kalimat untuk membalas ucapannya itu.
"Diamlah, Chromos. Aku sedang berfikir kenapa elemen kegelapan bisa berganti menjadi elemen putih? Itu sangat tidak masuk akal," ujar Camoline. Kakinya melangkah meninggalkan Londer begitu saja, di saat pria itu menatapnya tidak percaya. Bukan pada kalimat yang Camoline ucapkan, namun pada tingkah Camoline yang benar-benar mengacuhkannya. Benar-benar hal yang tidak pernah Londer dapatkan dari orang lain. Ya, hanya Camoline yang bisa melakukan hal tidak terpuji seperti itu.
Londer menghela nafas panjang. Sebenarnya, ia penasaran dengan kekuatan yang dimiliki gadis itu. Awal bertemu, ia merasakan bila gadis itu memiliki kekuatan tumbuhan. Namun sekarang, ia memiliki kekuatan air di dalam tubuhnya. Ia merasa sangat tidak mungkin, bila seseorang bisa berganti kekuatan dalam waktu yang sangat singkat. Bahkan tidak pernah dirinya mendengar atau membaca tentang hal semacam itu.
Di lain sisi, Camoline menghela nafasnya panjang. Berada dekat dengan seseorang yang memiliki kekuatan magma, membuat dirinya tidak pernah bisa merasa nyaman. Camoline memejamkan matanya sesaat, lalu membukanya perlahan. Ia menatap ke arah jendela, bermaksud untuk menenangkan dirinya. Setelah salah satu segel di batu itu terlepas, ia mendapat ingatan yang terasa asing di kepalanya. Bukan ingatan tentang tubuhnya masa kini, namun ingatan di kehidupannya dulu. Ia baru menyadari, bila klan Chromos adalah salah satu klan yang pernah ia jumpai.
Namun, dalam pertemuan yang buruk.
Mungkin, karena kekuatan yang ia miliki dan penerus klan Chromos itu miliki begitu bersebrangan, menjadi salah satu hal ia tidak nyaman bila berdekatan dengan Londer.
Menggelengkan kepalanya pelan, Camoline kembali berjalan. Kali ini, ia akan ke kamar asramanya yang baru. Seharusnya, ia sudah dekat dengan ruang tidurnya yang baru. Ia tidak ingin bila harus terlambat bersiap untuk makan malam. Walaupun itu hanyalah acara makan malam biasa, namun menjadi bahan obrolan orang-orang bila terlambat datang, itu adalah hal paling menyebalkan yang pernah Camoline bayangkan.
Menghentikan langkahnya tepat di depan pintu, Camoline menatap datar ke arah seorang gadis yang juga secara bersamaan menatapnya setelah membuka pintu kamar. Keduanya saling bertatapan hingga gadis yang masih berada di dalam kamar itu mendengus pelan.
"Rupanya kau, orang yang berhasil naik 2 tingkatan sekaligus dalam waktu yang cepat," ujar gadis itu. Dahi Camoline mengerut tipis, sebelum senyuman menggantikannya. Baru kali ini, Camoline tidak bisa mengetahui nama gadis di depannya.
"Jangan berharap membaca semua ingatanku. Aku memiliki kekuatan untuk menghalangi kemampuan spesialmu itu," ujarnya lagi. Camoline mendengus pelan kali ini. Sudah ia duga.
"Karena mereka bodoh," ujar gadis itu setelah duduk di salah satu tempat tidur. Ia memperhatikan Camoline yang menelusuri setiap jengkal di ruangan ini. Ia sudah sangat tahu, bila kamar asrama putih lebih kecil dibanding kamar asramanya ini. Dan semalam, ia tinggal sendirian di kamar ini.
"Ya, mereka sangat bodoh. Terutama penerus klan Chromos itu." Camoline segera mengambil duduk di tepi tempat tidur yang ditunjuk gadis berambut perak itu.
"Aku sudah melihat interaksi kalian sebelumnya. Kukira, kalian berdua memiliki hubungan khusus." Camoline memutar kedua bola matanya mendengar pernyataan itu. Tidak menyangka bila ada seseorang yang berfikir hingga ke sana.
"Jangan berpikir seperti itu. Karena kenyataannya, aku baru melihat penerus klan itu kemarin," ujar Camoline dengan nada malas. Gadis itu terkekeh. Terlihat menikmati ekspresi kesal yang Camoline pasang.
"Seharusnya, kau memang satu kamar dengannya. Kalian akan menghabiskan banyak malam dengan sangat romantis."
"Apa kau gila!?" tanya Camoline yang mendadak berdiri. Gadis itu terlihat cukup terkejut dengan reaksi yang Camoline perlihatkan. Hingga akhirnya, ia tertawa keras.
"Reaksi yang kau perlihatkan ini, membuatku semakin yakin bila ada hubungan indah diantara kalian."
Camoline mendengus keras. Ia memalingkan wajahnya lalu segera duduk. Tanpa menyadari bila di wajahnya terlihat rona merah yang mulai memenuhi seluruh wajahnya. Gadis di depannya menghela nafas setelah berhasil meredakan ledakan tawanya. Ia tersenyum ketika menyadari rona di wajah Camoline.
"Namaku Silver. Seperti warna rambutku. Aku memiliki kekuatan untuk mengendalikan pikiran lawan. Itulah alasan kenapa kau tidak bisa menembus ingatanku. Meskipun, hanya kamu juga yang tidak bisa aku kendalikan pikirannya." Perlahan kepala Camoline menoleh ke arah gadis yang mengaku bernama Silver itu. Raut wajahnya begitu serius.
"Namaku Camoline. Kau pasti sudah mendengar bila aku sekarang di tingkat Magi level 41 dengan kekuatan mengendalikan tumbuhan. Kemampuanku yang lain hanya membaca beberapa informasi penting tentang orang lain. Selebihnya, aku belum tahu kegunaannya," ujar Camoline. Silver kembali tersenyum, membuat dahi Camoline mengerut tipis.
"Kau sepertinya melupakan sesuatu."
"Apa?" tanya Camoline masih dengan dahi yang mengerut.
"Kau kekasihnya Londer Chromos. Itu fakta yang nyata," ujar Silver yang langsung mendapat lemparan bantal dari Camoline. Sekali lagi, Silver tertawa keras. Kali ini, ia mendapat satu lagi hobi barunya. Yakni menggoda seorang Camoline.
5 Februari 2020