
"Bagus, bocah! Kemampuanmu sudah sedikit meningkat!"
Camoline mendengus keras. Tidak ada peningkatan sama sekali yang dirinya rasakan. Barcus sudah jelas hanya membual. Apalagi nada bicara pria tua itu sangat jelas penuh dengan ejekan.
Dengan napas yang tersenggal, Camoline menghentikan kekuatan sihirnya. Sihir tanamannya terus diasah —dengan paksaan— oleh Barcus. Pria tua itu mengatakan, sebagai pengguna kekuatan tidak berguna —sampah— seperti itu, kekuatannya harus diasah terus menerus agar bisa sedikit berguna. Walau kenyataannya Camoline memiliki elemen sihir lain yang ada di dalam tubuhnya, akan tetapi Barcus melarang Camoline menggunakan elemen-elemen itu untuk jangka waktu yang sering. Menurut Barcus, akan lebih baik apabila elemen asli di tubuh Camoline dapat berkembang dengan sangat baik sehingga bisa —setidaknya sedikit— menahan serangan dari elemen lain yang melemahkan, semisal api.
Keringat sudah mengalir di dahi Camoline. Ia langsung menjatuhkan tubuhnya ke atas rumput begitu saja. Tidak peduli jika pun Barcus memandangnya seperti seonggok mayat yang kalah karena terinjak kuda, atau apa pun julukan hinaan yang selalu pria tua itu lontarkan kepada dirinya.
Untuk latihan hari ini, bisa dikatakan menjadi kali pertama bagi dirinya untuk melawan Barcus —secara langsung. Biasanya, Camoline hanya akan melawan benteng, monster, atau pohon yang dihidupkan. Yang tentu saja membutuhkan banyak energi agar bisa menghancurkan semua itu. Dan melawan Barcus secara langsung, rasanya seperti menjemput kematian keduanya. Energinya benar-benar hampir habis, jika saja Barcus tidak menghentikan latihan ini secara tiba-tiba.
Perbedaan tingkatan level keduanya sudah jelas akan memberikan efek yang berbeda pada kedua orang ini. Bila saat ini keadaan Camoline cukup mengenaskan, dengan beberapa memar di lengan dan kakinya, maka berbeda jauh dengan keadaan Barcus. Pria tua itu hanya terlihat berkeringat. Tidak ada luka yang diterima pria itu, membuat Camoline mendengus tanpa sadar. Karena sejak awal, bahkan dirinya seolah tidak diberikan kesempatan untuk melukai pria itu.
Tidak heran pria itu menjadi seorang guru di sini.
Walau itu pun tidak secara resmi.
"Melihat kondisimu setelah pertarungan tadi, sepertinya aku harus meningkatkan intensitas latihanmu, bocah."
Camoline tidak menoleh. Ingin menolak pun, tidak akan didengar oleh Barcus. Jika saja pria itu tidak mengetahui keberadaan batu Opal di tubuhnya, mungkin saja Barcus tidak akan segila ini untuk memaksanya berlatih lebih keras. Camoline menghela napas panjang. Ia lantas bangun dan memposisikan tubuhnya duduk di atas rumput dengan punggung bersandar pada batang pohon di belakangnya.
"Kedua temanku. Bagaimana perkembangan mereka?" tanya Camoline. Sudah beberapa latihan terakhir ini, dirinya tidak melihat proses kedua temannya itu. Ia hanya akan mendapati keduanya kelelahan setelah latihan, atau sekadar keluhan mereka karena siksaan berkedok latihan yang Barcus berikan.
"Ah! Dua bocah itu, aku mengusir mereka."
Kepala Camoline langsung menoleh ke arah Barcus dengan cepat. Pernyataan Barcus barusan tentu saja membuat dirinya begitu terkejut. Sama sekali tidak pernah dirinya sangka jika Barcus akan mengusir mereka secepat ini. Ya, Camoline memang sudah menduga hal itu akan terjadi pada Violetta dan Lily. Tetapi secepat ini, rasanya begitu aneh.
"Apa? Kenapa?"
"Kemampuan mereka, payah sekali. Jadi lebih baik, mereka fokus saja pada kegiatan terjadwal dari Akademi," ujar Barcus. Di sisi lain, Camoline langsung memutar bola matanya, jengah. Tampaknya, mulut Barcus akan sangat gatal apabila tidak mengejek seseorang satu detik pun.
"Lagi pula, bocah bodoh. Cukup kamu saja yang selalu membolos jam pelajaran. Kau ini, beruntung aku tidak memasukkan mu ke penjara Akademi karena terus-menerus melewatkan pelajaran." Kini pria tua itu menggerutu. Dan respon Camoline hanyalah mengangkat kedua bahunya. Perkataan Barcus memang benar. Dirinya sering kali melewatkan jam pelajaran hanya untuk berlatih dengan pria tua itu.
"Latihan memang diperlukan, tapi pembelajaran di kelas pun sama pentingnya. Setelah ini, aku tidak ingin mendengar kamu membolos lagi, bocah."
Camoline hanya bisa menghela napas panjang. Alasannya lebih sering membolos kelas adalah, tidak ada pembelajaran yang menarik perhatiannya. Selain itu, tentu saja untuk menjauhi pria Chromos. Awalnya, Camoline mengira jika Londer akan mulai berhenti mengekori dirinya sejak hari kepulangan para petinggi Istana. Namun sayangnya, Londer justru kembali menempeli dirinya. Dan itu membuat dirinya kesal bukan main.
"Aku tidak berjanji." Pada akhirnya, Camoline berkata demikian. Dan Barcus, terlihat tidak terkejut dengan jawaban dari Camoline.
Keduanya sama-sama diam dalam jangka waktu yang cukup lama. Barcus sebenarnya tidak benar-benar diam. Ia mengasah sebuah belati yang selalu ada di pinggang kirinya itu dengan bantuan sebuah batu. Dan Camoline yang benar-benar diam. Perempuan itu membiarkan tubuhnya beristirahat sejenak guna mengembalikan energi sihirnya yang tadi hampir habis setelah bertarung dengan Barcus. Walau itu disebut pertarungan, rasanya seperti pertarungan satu arah, karena hanya Camoline yang melakukan serangan. Sedangkan Barcus lebih banyak melakukan pertahanan saja.
"Ngomong-ngomong, kenapa aku tidak boleh menggunakan kekuatan elemenku yang lain? Aku harus bisa mengendalikan semua elemen itu untuk berjaga-jaga." Kepala Barcus menoleh sedikit ke arah Camoline. Hanya sebentar, sebelum perhatian pria tua itu kembali beralih pada belati dan batu di kedua tangannya.
"Karena bukan elemen yang aku kuasai, itu jawaban sederhananya. Lainnya, kusarankan kamu mencari guru lain untuk melatih elemen-elemen barumu itu," ujar Barcus dengan nada yang cukup acuh. Camoline langsung menghela napas kasar. Pikirannya mendadak rumit hanya dengan mendengar perkataan Barcus tersebut. Saran yang bagus, namun beresiko besar juga sebenarnya.
"Segera pergi dari sini, sana. Aku tidak mau Zelden kembali mengoceh karena mendapat laporan guru lain jika kamu kembali membolos di jam pelajaran mereka," ujar Barcus. Pria tua itu berdiri dan melangkah menjauhi Camoline. Entah kemana pria itu akan pergi, Camoline tidak begitu peduli juga. Dengan keadaan badan —terlebih kedua kakinya— yang masih cukup lemas, Camoline memaksakan diri untuk memasuki gedung Akademi. Setelah ini, dirinya akan langsung ke gedung asrama biru, mengistirahatkan tubuhnya. Tidak ada niatan sama sekali bagi dirinya untuk beristirahat di klinik kesehatan Akademi, sekali pun tubuhnya butuh beberapa obat untuk mempercepat masa pemulihan memar-memar di tubuhnya. Ia tidak menyukai tempat itu. Alasannya, tempat itu bisa dikunjungi siapa pun dengan mudah.
"Ah! Kamu di sini. Aku mencari—"
"Aku sedang ingin beristirahat penuh. Jadi tolong, jangan ganggu aku untuk satu hari ini, Londer."
Londer langsung menghentikan langkah kakinya. Ia menghela napas panjang, ketika Camoline langsung berjalan menjauh dari dirinya. Yah, Camoline sudah berkata seperti itu, dan Londer tidak ingin membuat masalah —lebih banyak lagi— pada Camoline. Ia lalu berbalik dan berjalan dengan perasaan yang begitu hampa.
Untuk kesekian kalinya, Camoline menolak dirinya.