
Camoline dan Londer sudah berada di luar perpustakaan. Keduanya berjalan cukup jauh dari pintu ruangan itu, sebelum akhirnya berhenti dan berdiri saling berhadap-hadapan. Ini adalah kali pertama Camoline bertatapan sedekat ini dengan Londer setelah beberapa hari terakhir. Dan sekarang, ia baru menyadari adanya luka di wajah pemuda ini. Goresan di pipi kirinya. Walau samar, namun kedua mata Camoline masih bisa melihatnya.
"Aku mendengar beberapa percakapan antara petinggi Istana," ujar Londer memulai percakapan. Ia menunduk sebentar, sebelum kembali menatap ke arah Camoline dengan raut wajah yang berusaha agar terlihat tenang.
"Kau menguping mereka?" tanya Camoline dengan kerutan yang terlihat di dahinya. Londer langsung menggelengkan kepalanya dengan pelan.
"Tidak. Mereka datang ke rumahku 3 hari yang lalu," ujar Londer. Camoline berpikir beberapa saat, sebelum mengangguk pelan. Dirinya tentu saja mengetahui jika Londer adalah penerus petinggi klannya. Posisi keluarganya yang cukup tinggi itu, menjadi alasan wajar jika petinggi Istana bertamu ke rumah mereka. Lalu, Camoline menghela napas panjang.
"Lalu?"
"Aku tidak bisa mendengar semuanya dengan jelas. Tetapi, mereka membahas tentang peperangan saat 500 tahun yang lalu, tentang klan putih, serta sebuah batu dengan kekuatan tidak terbatas—"
"Opal," potong Camoline. Londer langsung menoleh dengan raut wajah terkejutnya.
"Bagaimana kamu mengetahuinya?" tanya Londer dengan suara pelan. Namun, ia segera meringis.
"Tentu saja semua orang mengetahui hal ini. Batu itu sudah diceritakan sejak lama," ujarnya. Camoline mengangkat kedua bahunya. Tidak berniat merespon perkataan Londer dengan benar. Walau dirinya sempat beberapa kali mendengar jika batu Opal menjadi salah satu dongeng legenda, tetapi tentu saja Camoline tidak pernah mendengar dongeng semacam itu sebelumnya.
Entah saat ini atau di kehidupan pertamanya, Camoline sudah melihat bagaimana batu Opal itu memang nyata adanya.
"Selain itu, apakah ada hal lain lagi?" tanya Camoline. Londer sedikit tersentak. Ia berdehem pelan, sebelum kepalanya mengangguk dengan yakin.
"Mereka membicarakan batu Opal itu cukup lama. Salah satu dari mereka mengatakan, jika batu itu terdeteksi berada di Akademi ini. Entah bagaimana cara mereka untuk mendeteksinya, tetapi mereka seperti sangat yakin tentang hal ini," ujar Londer. Raut wajahnya terlihat bingung dan juga penasaran. Mengingat kembali bagaimana suara para petinggi itu yang begitu yakin dan tidak ingin terbantahkan perihal keberadaan batu legenda itu yang mereka sudah yakini keberadaannya.
Berbeda dengan Camoline yang saat ini, pandangan matanya mendadak kosong untuk beberapa saat. Kepalan tangan Camoline perlahan menguat. Mendeteksi keberadaan batu Opal adalah hal yang sangat mustahil dilakukan. Itu karena batu Opal tidak akan mengeluarkan tanda keberadaannya sedikit pun. Batu Opal hanya akan terdeteksi ketika baru muncul atau ketika akan menghilang. Namun, batu Opal di tubuh Camoline saat ini bahkan sudah ada. Jauh sebelum Camoline memasuki Akademi ini.
"Apakah mereka berencana akan kembali ke Akademi untuk mencarinya?" Londer mengangkat kedua bahunya.
"Aku tidak yakin tentang hal itu. Mereka hanya memberitahu hal itu, dan mengatakan jika tidak lama lagi akan ada rapat khusus untuk mendiskusikan tentang batu Opal tersebut," ujar Londer. Camoline menghela napas panjang. Tangan kanannya bergerak hingga menyentuh ujung bibir. Secara tidak sadar, jemarinya bergerak untuk menggaruk bibirnya.
"Kita tidak tahu apa yang akan para petinggi itu lakukan jika memiliki batu Opal itu," lanjut Londer. Akan tetapi, matanya terus tertuju pada bibir Camoline saat ini.
"Tentu saja tujuan itu bukanlah hal yang baik. Batu Opal memiliki kekuatan tidak terbatas bahkan mampu melampaui Dewa. Setiap orang yang menyentuhnya akan langsung mendapatkan rasa tamak," ujar Camoline. Kini, raut wajahnya terlihat mulai panik. Sadar atau tidak, bahkan saat ini bibirnya pun mulai terluka. Dengan wajah menahan kesal, Londer menarik tangan kanan Camoline cukup kuat, membuat perempuan itu hampir saja menabrak tubuhnya.
"Tenanglah. Kita akan memberitahu Zelden tentang ini. Aku yakin, dia tahu cara terbaik untuk melindungi batu suci itu," bisik Londer tepat di depan wajah Camoline. Ia tersenyum, lalu mengusap kepala Camoline dengan lembut. Sedangkan Camoline masih terdiam. Masih mencerna apa yang baru saja terjadi tadi.
"Setelah ujian ini berakhir, kita bicarakan ini dengannya. Untuk saat ini, kamu fokus saja pada ujian itu." Camoline langsung mengangkat kepalanya. Raut wajahnya terlihat tidak terima. Ini baru hari pertama ujian berlangsung. Dan masih cukup lama jika mereka harus menunggu masa ujian berakhir untuk membicarakan hal penting ini. Camoline takut, jika hal buruk terjadi lebih dahulu sebelum mereka sempat memberitahu hal ini kepada Zelden.
"Itu akan sangat lama. Bagaimana jika ada hal buruk terjadi sebelum kita sempat mengatakannya?"Londer kembali tersenyum. Ia sudah menduga jika gadisnya itu akan mengatakan hal ini. Keputusan sepihak yang tadi Londer ambil tentu saja akan mendapatkan protes keras dari Camoline.
"Aku tidak ingin membuatmu terlalu kelelahan." Londer berkata dengan penuh kejujuran. Namun kalimatnya seolah tidak mempengaruhi keputusan Camoline. Hal itu membuat Camoline menghela napas panjang.
"Baiklah. Kita akan berbicara kepadanya nanti sore, sebelum jam makan malam dimulai," putus Londer. Saat itu, Camoline langsung tersenyum. Tidak lebar, namun terlihat cukup jelas di penglihatan Londer. Saat ini juga, ia bahkan bisa melihat raut lega di kedua mata Camoline.
"Baiklah. Pastikan kamu tidak melupakannya," ujar Camoline dengan raut wajahnya yang menajam. Londer mengangguk-anggukkan kepalanya. Senyuman di wajahnya terbit, dengan perasaan yang sangat membuncah. Camoline tadi terlihat menggemaskan.
"Aku mengerti," ujar Londer. Camoline mengangguk puas. Ia melepaskan tangan Londer yang masih menahan lengan kanannya. Ia hendak kembali ke perpustakaan, melanjutkan bacaannya yang belum selesai. Sebelum secara tiba-tiba Londer menarik kembali tangannya. Bahkan kini, ia sudah masuk ke dalam pelukan hangat Camoline.
"Kumohon. Tetap seperti ini sebentar saja," ujar Londer dengan pelan ketika Camoline hendak melepaskan diri dari pelukan pria itu. Seketika, Camoline benar-benar diam. Ia membiarkan Londer memeluk dirinya dengan erat.
"Aku sangat merindukanmu," bisik Londer. Ia membenamkan wajahnya di bahu Camoline. Suara pemuda itu terdengar seperti seseorang yang sangat kelelahan. Perlahan, kedua tangan Camoline bergerak. Ia mulai balas memeluk tubuh Londer yang lebih tinggi dari dirinya itu.
"Kita tidak seharusnya seperti ini. Kita bukan sepasang mate," ujar Camoline.
"Aku tahu."
"Lantas kenapa?" Londer kembali menghela napas panjang dalam pelukannya itu. Ia memeluk Camoline semakin erat.
"Aku dilahirkan tanpa berkah mate seumur hidupku," ujar Londer. Camoline terdiam. Ia langsung teringat pada cerita Silver yang terdengar serupa.
"Dikutuk oleh petinggi?" tanya Camoline dengan penuh penasaran. Camoline benar-benar tidak mengerti kenapa para petinggi Istana ini memiliki kemampuan untuk mengutuk seseorang.
"Bukan. Dewa yang langsung mengutukku. Aku tidak yakin karena apa," jelasnya. Namun, Camoline justru semakin bingung. Londer yang dikutuk oleh Dewa.
"Dosa sebesar apa yang telah kamu lakukan?" Camoline berujar dengan sangat pelan. Tetapi di posisinya saat ini, Londer masih bisa mendengarnya dengan sangat jelas.