The Wiz

The Wiz
Chapter 42 : Sang Tetua dan Cahaya Kutukan



Itu sekitar 300 tahun yang lalu. Itu berarti 200 tahun setelah peperangan mengerikan yang meninggalkan trauma terjadi. Juga berarti sebelum batu Opal kembali kepada Camoline. Batu ini tidam lagi datang ke tangan para anggota Kerajaan seperti yang sebelumnya selalu ia dengar. Camoline sangat yakin apabila maksud cahaya yang penulis ini sebutkan adalah batu Opal. Saat Camoline pertama kali mendapatkan batu ini pun, batu Opal bercahaya. Bukan sebuah cahaya biasa, karena ada sesuatu yang menarik. Seperti sihir yang membuat Camoline begitu ingin menatap batu suci ini. Bukan hanya itu saja, tetapi perasaan aneh saat itu, yang baru Camoline ketahui saat ini yaitu keinginan untuk menguasai batu itu seorang diri. Dari apa yang ia rasakan saat itu dan penjelasan dari si penulis seharusnya sudah cukup jelas apabila cahaya suci yang dimaksud adalah batu Opal ini.


Camoline mengembuskan napas panjang. Ia sedikit bersyukur pada saat itu, dirinya berpikir untuk menjauhkan batu ini dari siapa pun dengan cara membiarkan batu ini bersembunyi di tubuhnya agar tidak bisa diambil dengan mudah. Namun karena itu juga, Camoline mengaku jika ia menyesal. Proses penyerapan batu ini dengan mantra terlarang itu cukup menyakiti tubuhnya. Belum lagi kejadian setelahnya, atau sebelum dirinya meninggal saat itu. Camoline menggeleng pelan. Ia kembali fokus pada buku di hadapannya.


*Cahaya suci itu bukan sesuatu yang mudah dikendalikan. Ia memiliki egonya tersendiri. Sehingga tetua itu pun begitu kesulitan. Berbagai mantra pun sudah dicoba. Berbagai elemen sudah dikerahkan, tetapi cahaya itu justru menyerap setiap elemen yang diarahkan kepadanya. Satu per satu penjaga kuil mulai kehilangan kekuatan sihirnya karena keserakahan cahaya tersebut. Hingga sang tetua bertekad untuk menghancurkannya.


Cahaya itu bukan sebuah anugerah. Para pendahulu telah berbohong terlalu lama. Cahaya itu adalah sebuah kutukan. Kutukan yang diberikan oleh Dewa kepada manusia karena telah membuat kerusakan begitu besar di atas tanah Bumi ini.


Tetua itu meninggal diikuti hilangnya sang cahaya setelah mendapatkan sedikit retakan. Cahaya itu akhirnya cacat, walau tidak seperti yang diinginkan sang Tetua untuk hancur lebur seperti abu.


Di napas terakhirnya, sang Tetua berharap apabila penerima cahaya selanjutnya mampu menghancurkannya dengan lebih baik daripada dirinya*.


Camoline terdiam. Pilihan untuk menghancurkan batu ini memang pernah terlintas di kepalanya saat itu. Saat di kehidupan pertamanya. Sedangkan di kehidupannya saat ini, Camoline justru berjuang keras untuk menguasai kekuatan di batu Opal ini untuk membalaskan dendamnya pada Asdus dan pengikutnya atas kematian semua klan putih yang pria itu bantai. Tanpa sadar, Camoline telah terpengaruh oleh kutukan batu ini. Ia rasa seperti itu.


Camoline memejamkan matanya. Jika dugannya benar, maka salah satu kekuatan di batu ini menghilang karena tubuhnya saat ini tidak memiliki elemen sihir apa pun. Sehingga kutukan batu Opal yang menyerap kekuatan lain pun tidak bekerja dan justru membuat batu itu menghilangkan kekuatan miliknya sendiri. Camoline kembali membuka kedua matanya. Ia masih ragu dengan hal ini. Belum lagi, ia yakin ada hal lain yang harus dirinya ketahui tentang batu Opal ini.


*Tidak ada satu pun dari para penjaga kuil lainnya yang menyadari hilangnya cahaya itu. Saat itu malam begitu sunyi dan gelap. Cahaya itu sudah tidak bersinar lagi selama satu minggu. Hingga di pagi yang cerah dengan angin musim gugur yang dingin, barulah orang-orang mulai menyadarinya. Kematian sang tetua membawa duka yang cukup mendalam, tetapi tidak memberikan kesedihan sedalam itu. Mereka lebih merasa kehilangan cahaya itu. Cahaya yang memberikan nafsu manusiawi saja.


Kabar kematian itu menyebar dengan cepat. Ketika tanah telah menjadi putih, rombongan dari Istana dengan pakaian perak dan emas pun datang. Mereka datang untuk bermaksud berbelasungkawa pada kematian tetua yang telah menjaga kuil suci itu sangat lama.


Hitungan jam, kuil suci itu tidak lagi suci dan tenang. Noda merah mengotori tembok kuil. Satu orang telah berkhianat. Memberitahukan kabar tentang keberadaan cahaya yang dicari sang Raja selama ini yang kini telah menghilang.


Kutukan cahaya itu tidak berhenti begitu saja. Keserakahan itu rupanya membuat hati yang putih menjadi ternoda dengan begitu mudahnya*.


Camoline tersentak. Ia menghela napas panjang sedangkan pelayan yang baru saja berbicara itu langsung menunduk dalam dan meminta maaf. Camoline mengambil salah satu pembatas buku dari laci meja dan meletakkannya di halaman yang belum selesai ia baca. Setelahnya, ia berdiri dan berjalan mendekati pelayan itu.


"Buku-buku itu jangan dibereskan. Aku belum membaca semuanya," ujar Camoline kepada pelayan yang kini berjalan mengikuti langkahnya.


"Baik, Nona. Saya akan memastikan tidak ada seorang pun masuk ke dalam perpustakaan selama Nona makan malam."


Camoline menganggukkan kepalanya. Walau itu terdengar cukup berlebihan, tetapi itu lebih baik. Camoline sudah menyusun buku itu secara berurutan. Dan akan merepotkan juga jika nantinya akan ada yang mengacak buku-buku itu.


Keduanya sampai di sebuah ruang makan yang tidak begitu luas. Hanya ada 4 kursi di sana dan satu meja. Sudah tersusun beberapa menu makan malam di atas meja, walau hari ini hanya Camoline yang akan makan malam. Ya, hanya Camoline karena pelayan di rumah Ayahnya ini tidak akan pernah mau ikut makan malam bersama. Wanita paruh baya itu akan memilih untuk membereskan ruangan lain ketika Camoline menghabiskan makan malamnya.


"Selamat menikmati makan malamnya, Nona."


"Terima kasih," ujar Camoline. Ia segera duduk. Menatap makanan di hadapannya dengan dahi berkerut. Sejujurnya, Camoline tidak yakin apakah dirinya bisa menghabiskan semua makanan ini sendirian. Perutnya tidak sekuat itu.


"Lebih baik aku segera makan agar bisa kembali membaca buku-buku itu lagi dengan cepat," gumam Camoline. Ia memulai makan malamnya sendirian itu ditemani keheningan. Terasa sangat aneh bagi Camoline. Ia sudah terbiasa makan malam di meja dengan banyak orang, seperti saat di Akademi. Tenggorokannya terasa aneh sekarang. Ia mendadak tidak terbiasa dengan kesunyian seperti ini.


Camoline makan dengan cepat. Selain karena ingin segera membaca tumpukan buku-buku itu, dirinya juga sudah tidak tahan dengan rasa sepi di ruang makan itu. Begitu dirasa perutnya telah penuh, Camoline segera berhenti dan berjalan keluar dari ruangan tersebut. Besok, ia berjanji akan meminta maaf kepada pelayan yang telah menyiapkan makan malam hari ini karena tidak ia habiskan. Sungguh, perut Camoline justru terasa mual karena tidak nyaman dengan suasana yang terlalu sep itu.


Langkah kaki Camoline menyusuri ruang per ruang di rumah Carlus itu. Lampu lentera telah dinyalakan semuanya sehingga rumah terlihat cukup temaram. Langkah kaki Camoline cukup lebar. Ia terus berjalan hingga memasuki ruang perpustakaan yang tertutup dengan rapat. Sama seperti saat ia pergi menuju ruang makan tadi. Di dalam, lampu lentera pun sudah dinyalakan. Dan ada sebuah lampu lentera yang belum menyala, berada tidak jauh dari buku-buku yang akan ia baca saat ini. Lampu itu akan menemaninya membaca seluruh isi semua buku-buku tebal itu.


"Saatnya mencari tahu hal lain tentang batu Opal," gumam Camoline dengan senyuman penuh semangat.