The Wiz

The Wiz
Chapter 60 : Keributan



Camoline melangkahkan kakinya meninggalkan asrama biru menuju asrama merah dengan raut wajahnya yang tenang. Selama ia berjalan, Camoline merasa ada yang aneh dengan sekitarnya. Ia sesekali melirik ke sekitar, namun yang didapatkan hanyalah orang-orang saling berbisik satu sama lain. Mereka menutup mulut masing-masing dengan punggung tangan, namun kedua mata mereka memandang ke arah Camoline. Camoline dapat merasakannya jika tatapan itu terarah kepada dirinya. Dan tatapan itu penuh dengan hinaan serta cemoohan.


Camoline mengerutkan dahinya tipis. Ia sama sekali tidak mengerti, apa yang membuat dirinya ditatap seperti itu oleh orang-orang. Rasanya sangat aneh, karena sebelum-sebelummya, Camoline yakin dirinya tidak melakukan hal-hal aneh atau buruk. Sehari setelah bertarung dengan Silver, ia kembali melanjutkan latihan intensnya dengan bimbingan dari Delwana. Lokasinya pun masih berada di dekat danau, yang mana cukup jauh dari posisi bangunan Akademi berada. Hanya saja, Camoline tidak mengerti dengan apa yang membuat semua orang menatapnya seperti itu.


Langkah kakinya tidak ia hentikan sebentar saja. Camoline terus melangkahkan kakinya hingga akhirnya sampai di depan pintu ruangan asrama merah. Tempat yang tidak pernah Camoline duga akan ia datangi. Karena murid-murid di asrama ini terlihat begitu misterius untuknya. Karena selama ini, Camoline benar-benar tidak pernah memperhatikan bagaimana para murid dari asrama merah itu. Mereka seolah memiliki wilayah serta kelasnya tersendiri dibanding murid-murid dari asrama lainnya.


"Kau adalah Nona Laufie, bukan?"


Camoline tersentak. Kepalanya terangkat dan mendapati seorang wanita berusia 50 tahunan tengah menatap dirinya dengan tajam dan menusuk. Pakaiannya didominasi warna merah dan hitam. Rambutnya tersanggul rapi dengan kacamata kotak yang menempel di hidungnya. Camoline cukup terkejut dengan panggilan wanita di depannya ini. Karena baru kali ini ia dipanggil dengan nama belakangnya.


"Benar," ujar Camoline. Wanita itu mengangguk-angguk. Ia membaca sebuah buku di tangannya, sebelum kembali menatap Camoline dari atas ke bawah dan sebaliknya selama beberapa saat.


"Ikuti aku untuk ke kamar barumu. Dan ingat, perhatikan langkah kakimu itu," ujar wanita tersebut masih dengan nada suara yang datar. Camoline hanya bisa mengangguk. Ia mulai berjalan mengikuti langkah kaki wanita di depannya dengan membawa tas berat miliknya.


Berbeda dengan dua asrama yang sebelumnya Camoline tempati, asrama merah memiliki dekorasi yang memunculkan suasana mewah. Lukisan-lukisan yang bertemakan Kerajaan serta karpet merah yang menutupi lantai marmer. Camoline menduga, jika asrama merah merupakan asrama tertinggi di Akademi ini. Bukan salahnya yang tidak tahu, karena pihak Akademi memang tidak pernah menjelaskannya secara rinci tentang asrama-asrama yang ada di Akademi Topaz ini.


Namun, sama seperti keadaan di luar asrama merah. Setiap langkah kaki Camoline diikuti oleh pandangan-pandangan penuh cemooh dan merendahkan. Mereka tidak saling berbisik-bisik. Hanya menatap tidak suka dengan kehadiran Camoline yang begitu jelas terlihat di wajah kesal mereka. Karena mereka seolah memang sengaja tidak menyembunyikan perasaan mereka saat ini.


"Tidak aku sangka, Akademi Topaz memiliki murid yang tidak tahu diri."


"Dia hanya mengandalkan keberuntungan."


"Perempuan licik yang memanfaatkan Pangeran Chromos."


"Dia sepertinya memakai mantra klan hitam."


Camoline mengembuskan napas secara perlahan. Sekarang ia menjadi bisa mendengar dengan jelas apa saja yang orang-orang itu bicarakan. Tentu saja semua kalimat itu mengarah kepada dirinya. Hanya saja, Camoline tidak mengerti kenapa orang-orang itu seolah sangat jijik dengan keberadaan dirinya. Mereka menatap Camoline seolah Camoline telah melakukan dosa terbesar di dunia yang tidak bisa dimaafkan sama sekali.


"Ini kamarmu. Jangan berbuat ulah, atau kau akan mendapatkan poin sanksi."


"Mitha. Kita akan bertemu lagi di kelasku lusa," ujar wanita yang mengaku bernama Mitha itu. Camoline mengangguk pelan. Ia masih diam di tempatnya dan memperhatikan Mitha hingga wanita itu benar-benar menghilang dari pandangannya.


Camoline menghela napas panjang. Ia menatap pintu kamar di depannya. Angka 4, biasanya berkaitan dengan hal-hal buruk. Camoline menggeleng pelan. Bahkan sejak di asrama putih pun, nomor angkanya selalu 4. Tanpa menunggu lama, Camoline mulai membuka pintu kamar. Ketika pintu kamar terbuka lebar, ia dapat melihat tiga siswi lainnya yang tengah duduk di dalam sana. Kini menatap dirinya dengan penuh selidik, sebelum salah satu diantara mereka mulai berbisik ke teman di sampingnya.


"Dari asrama biru, Camoline Laufie." Camoline mengangguk, membenarkan pernyataan yang baru saja diucapkan oleh salah satu siswi itu. Secara serempak, ketiganya berdiri. Mereka berjalan mendekat ke arah Camoline.


"Selamat datang. Tetapi, aku penasaran." Siswi bernama Heira itu menatap Camoline dari atas ke bawah dan sebaliknya. Salah satu sudut bibirnya terangkat. Ia menyeringai.


"Kemampuan yang kamu miliki itu murni atau karena bantuan dari batu Opal?"


Rasanya, waktu terhenti saat itu juga. Camoline sangat terkejut. Kedua matanya terbuka dengan lebar. Hal seperti ini tidak pernah ia duga sama sekali. Tentang kenyataan dimana orang lain akan mengetahui keberadaan batu Opal yang selama ini ia sembunyikan. Beruntung, Camoline mampu mengendalikan raut wajahnya dengan cepat. Ia sudah kembali menatap Heira dengan wajah datarnya.


"Aku tidak mengerti maksudmu. Bantuan batu Opal?" Heira mendengus. Ia kembali melangkahkan kakinya sehingga jarak antara dirinya dan Camoline semakin menipis.


"Jangan berbohong, bodoh. Semua orang di Akademi sudah mengetahui jika kamu, di dalam tubuhmu terdapat batu Opal yang suci. Yang selama ini membuatmu terlihat kuat," ujar Heira. Ia menatap Camoline dengan tajam. Sedangkan Camoline masih terdiam. Ia sama sekali tidak tahu tentang hal itu. Terlebih, dirinya tidak tahu siapa yang membocorkan hal tersebut ke semua orang.


"Orang payah sepertimu seharusnya tidak pantas berada di asrama merah atau bahkan di Akademi ini. Tapi ya sudahlah. Mungkin kau menggunakan tubuhmu untuk mendapatkan kesempatan belajar di sini," ujar Heira. Ia menatap Camoline sekali lagi. Kali ini ia sangat meremehkan Camoline. Memandang gadis di depannya seolah Camoline adalah gadis paling hina yang pernah ada.


Camoline menoleh perlahan ke belakang. Di mana orang-orang yang dilewatinya tadi memandang buruk ke arahnya bahkan juga mengatakan hal-hal menyakitkan. Kini dengan jelas jika mereka semua melemparkan tatapan kesal dan jijik kepada dirinya.


Jika mereka memang sudah mengetahui tentang batu Opal yang ada di dalam tubuhnya, lantas kenapa orang-orang itu sangat kesal kepada dirinya? Keberadaan batu Opal di dalam tubuhnya bahkan bukan keinginannya. Ia bahkan berharap batu Opal itu tidak ikut dirinya untuk bereinkarnasi juga di tubuhnya saat ini. Namun, takdir justru berkata lain.


Tubuh Camoline didorong begitu saja. Membuat Camoline langsung terjatuh ke atas lantai berlapis karpet beludru itu. Raut wajah terkejut langsung terpasang di wajahnya. Camoline menatap ketiga siswi di depannya. Mereka justru terlihat senang dengan apa yang baru saja terjadi menimpa dirinya. Bahkan, Camoline juga bisa mendengar tawa yang dikeluarkan oleh orang-orang di lorong.


"Kau pantas mendapatkan itu, pecundang."