The Wiz

The Wiz
Chapter 41 : Batu Opal



1 bulan telah berlalu, dan Camoline sudah merelakan salah satu kekuatannya menghilang. Sampai saat ini, baik Zelden atau pun Barcus belum bisa memberikan jawaban atas kejadian yang menimpa mereka. Seperti yang Barcus katakan sebelumnya, hal seperti ini baru. Terlebih batu Opal sangat jarang datang. Lagipula, memang tidak ada satu pun catatan dalam buku sejarah mana pun tentang bagaimana penggunaan batu ini dan penjelasan lainnya. Seperti kelemahannya. Hanya ada dongeng tentang pemilik pertama batu ini. Di kisah itu pun, hanya diceritakan asal batu ini dan kekuatannya secara tidak jelas.


Saat ini, kegiatan belajar di Akademi belum kembali seperti biasa. Hari ini adalah minggu terakhir dari masa liburan. Beberapa murid ada yang memilih untuk pergi keluar dari Akademi. Biasanya, mereka akan kembali ke rumah masing-masing. Namun tidak sedikit juga yang memilih berdiam diri di Akademi. Mereka yang memilih berdiam di Akademi selama masa liburan, dapat berlatih di tempat-tempat yang sudah disediakan oleh Zelden. Selama latihan itu tidak menimbulkan kerusakan atau memakan korban jiwa.


"Makan malam nanti, Ayah tidak bisa pulang. Akan ada pertemuan khusus bersama seluruh ilmuwan dan sastrawan kota untuk membahas rencana Kerajaan yang baru. Kamu tidak apa-apa, bukan?"


Kepala Camoline langsung menoleh. Ia mengangguk dengan senyuman manis di wajahnya.


"Tentu, Ayah. Ayah berhati-hatilah. Jangan melewatkan makan malammu juga," ujar Camoline. Calrus ikut tersenyum. Ia mengusap kepala putrinya itu dengan lembut.


"Ayah mengerti. Ayah pergi dulu." Camoline berjalan mengikuti Carlus hingga ke pekarangan rumah. Ia melambaikan tangannya ketika Carlus sudah masuk ke dalam kereta yang menjemputnya. Camoline tidak menyadari kedatangan kereta itu walau ia berdiri tidak jauh dari pintu depan sejak tadi. Sepertinya, Camoline terlalu lama melamun sehingga tidak menyadarinya sama sekali.


Setelah Carlus pergi, Camoline menghela napas panjang. Ia menatap langit, cuaca begitu cerah membuat Camoline merasa jika hujan tidak akan turun seperti dua hari sebelumnya. Kepala Camoline kembali bergerak. Ia menatap sekitarnya yang terasa sepi. Padahal ia belum terlalu lama di Akademi, tetapi rasanya aneh ketika tidak melihat murid-murid dengan pakaian seragam berlalu lalang di sekitarnya. Ia mulai merindukan Akademi Topaz itu.


Camoline akhirnya memilih masuk ke dalam rumah. Kegiatannya hari ini akan ia isi dengan membaca buku-buku milik Ayahnya. Walau kemungkinannya sangatlah kecil, namun Camoline selalu berharap jika ia menemukan satu buku yang bisa memberinya sedikit petunjuk tentang batu Opal ini. Ia sudah menjelajahi dua rak buku dengan tinggi 4 meter itu selama di rumah. Tinggal 1 rak buku lagi yang belum ia periksa.


Carlus tahu? Tidak, Camoline tidak memberitahu keadaannya atau lebih tepatnya keadaan batu Opal di tubuhnya. Camoline menuruti perintah Barcus untuk tidak memberitahukan hal ini kepada orang lain lagi, walau itu adalah Ayahnya. Beruntungnya Carlus tidak curiga sama sekali ketika dirinya berkata mencari buku yang berkaitan dengan batu Opal. Justru pria yang menjadi Ayah angkatnya itu ikut membantu untuk mencari. Carlus mencari buku yang berhubungan dengan batu Opal di perpustakaan kota. Tempat yang mustahil bagi Camoline untuk ia jelajahi dengan mudah.


Namun sayangnya, hingga saat ini pun tidak ada satu pun buku dari perpustakaan kota yang benar-benar membantunya. Semua isi dari buku-buku itu sama. Hanya menceritakan kisah pemilik pertama batu Opal. Itu pun tidak lengkap.


Beberapa buku sudah ia tumpuk di atas meja yang berada di tengah ruangan perpustakaan milik Ayahnya itu. Ia memisahkan buku yang sekiranya memiliki beberapa petunjuk tentang batu Opal walau Camoline tidak yakin apakah memang ada atau tidak. Ia menghela napas panjang lalu menoleh ke arah luar jendela. Langit sudah mulai berwarna jingga. Itu berarti dirinya sudah berada cukup lama di sini. Dengan hati-hati, Camoline menuruni anak tangga yang membantunya mencapai rak tertinggi.


"Nona, apa yang Anda inginkan untuk makan malam?"


"Sup saja. Dan, sepertinya aku akan memakan makan malamku di sini," ujar Camoline. Ada sekitar 9 buku dengan ukuran yang cukup tebal yang harus ia periksa. Ia berpikir jika tidak mungkin dirinya bisa selesai memeriksa semuanya sebelum makan malam.


"Tetapi maaf, Nona. Jika Anda makan di sini, Anda bisa membasahi buku-buku tersebut." Pelayan itu benar. Jika Ayahnya ada di sini, pria itu juga pasti akan melarang dirinya makan di ruangan ini. Dengan sedikit tidak rela, akhirnya Camoline setuju untuk makan malam di ruang makan. Setelah mendapatkan jawaban yang pasti, barulah pelayan itu keluar dari perpustakaan tersebut dan meninggalkan Camoline sendirian lagi.


Camoline kembali menghela napas panjang. Ia menatap tumpukan buku di hadapannya. Jarinya bergerak acak di atas salah satu buku sebelum mulai membukanya. Ia membuka buku paling atas, membacanya secara cepat. Yang ia cari hanyalah tentang batu Opal. Sehingga hanya di kata batu suci atau batu Opal saja, Camoline akan benar-benar membaca buku tersebut.


Setidaknya, Carlus memiliki beberapa pelayan di rumah ini. Sehingga Camoline tidak melewatkan makan malamnya atau waktu untuk mencari informasi tentang batu Opal ini terganggu karena harus menutup rapat semua pintu dan jendela saat senja. Tetapi walau begitu, sepertinya Camoline akan tidur sangat larut atau bahkan tidak tidur sama sekali. Gadis muda itu begitu penasaran dengan kondisi batu Opal saat ini dan waktu yang ia miliki di rumah ini tidak lama lagi. Karena tiga hari lagi, dirinya akan kembali ke Akademi.


Satu buku sudah ia lihat, dan tidak ada satu pun dari buku itu yang menceritakan tentang batu Opal. Camoline menghela napas panjang. Mempertanyakan dirinya sendiri karena membawa buku itu.


"Atau mungkin aku harus membacanya lebih hati-hati," gumam Camoline. Ia menatap buku yang baru saja ia buka dan buku lainnya. Dengan decakan pelan, akhirnya Camoline kembali membuka buku pertama. Bagian pertama di buku itu masih ia ingat isinya. Hanya menceritakan kisah beberapa bangsawan di kota yang entah di tahun berapa. Para bangsawan itu tidak berkaitan dengan batu Opal. Karena mereka hidup di pinggiran kota dan tidak memiliki kedekatakan yang erat dengan keluarga Kerajaan.


Lalu bagian kedua. Menceritakan tentang para ksatria yang disebutkan selalu membawa kemenangan dalam perang. Juga menceritakan tentang kesetiaan mereka terhadap sang Raja yang tidak perlu diragukan lagi. Dalam hatinya Camoline menebak jika seseorang yang menulis buku ini adalah seorang pengelana. Karena di bagian ini, si penulis menyebutkan jika ia bertemu dengan para ksatria itu di tempat-tempat yang berbeda.


Lalu di bagian ketiga, menceritakan tentang para penjaga kuil suci. Kuil suci itu berada di daerah Utara, sangat jauh dari Kerajaan. Sehingga sudah jelas jika kuil itu tidak berkaitan dengan Kerajaan. Dan mungkin juga tidak berkaitan dengan batu Opal karena dari apa yang Camoline dengar selama ini, batu suci ini hanya datang di Kerajaan. Banyak yang mengatakan jika itu karena batu Opal datang untuk orang-orang yang akan menjadi penguasa dunia selanjutnya. Sebelum akhirnya kedua mata Camoline terbuka lebar ketika membaca kalimat terakhir di bagian kedua buku tersebut.


Dan sang tetua yang disembunyikan itu, tengah melindungi cahaya suci. Tidak ada satu pun yang mampu melihat cahaya itu tanpa merasakan nafsu dan keserakahan setelahnya. Hanya tetua itu saja, dengan hati sucinya yang berhasil melewati ujian dari cahaya tersebut. Cahaya yang begitu diinginkan oleh para pangeran mahkota. Tetua itu tengah berusaha menghancurkan cahaya kutukan itu hingga akhir hayatnya.


Batu Opal ini pernah hendak dihancurkan.