
Zelden, Barcus, dan Delwana. Hanya ada mereka bertiga di ruangan itu. Seharusnya, bukan masalah jika Camoline dan Londer berada di sini. Karena mereka juga bisa membahas perkembangan kedua murid yang menjadi bagian dari kelompok bawah tanah mereka itu. Hanya saja, sayangnya kedua murid itu sedang tidak bisa untuk berkumpul. Londer yang dipanggil untuk ke klannya sementara waktu, serta Camoline yang tidak terlihat di Akademi sejak siang tadi. Barcus berkata jika ia sudah mencari gadis itu, namun yang ia dapatkan hanya kabar jika Camoline tengah bertarung dengan teman sekamarnya.
"Mereka tidak akan saling membunuh, bukan?" Delwana bertanya dengan penasaran. Ia sebenarnya cukup khawatir. Karena jika Camoline mati, ia tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi setelahnya. Terlebih Camoline memiliki batu Opal di dalam tubuhnya.
"Tidak. Mereka hanya bertarung biasa," ujar Barcus dengan santai. Delwana melirik ke arahnya. Namun, ia memilih untuk tidak terlalu memikirkannya. Sekarang, pandangannya beralih pada Zelden.
"Jadi, apa yang akan kalian bahas hari ini?"
Zelden mengembuskan napas pelan. Itu membuatnya menjadi pusat perhatian dari dua orang itu. Zelden meletakkan dokumen terakhir di atas mejanya yang harus ia tanda tangani. Setelah itu, barulah ia mengangkat pandangan. Menatap Barcus dan Delwana secara bergantian.
"Beberapa hari yang lalu, ada sesuatu yang aneh terjadi kepada bola kristal," ujar Zelden. Ia mengatakannya dengan sangat tenang. Berbanding terbaik dengan raut wajah Delwana saat ini. Ia sangat terkejut dengan hal itu. Bola kristal merupakan benda terpenting bagi Akademi Topaz. Karena berkat bola kristal itu, mereka bisa mengetahui siapa-siapa saja penyihir muda yang memiliki potensi. Dan jika ada sedikit saja kerusakan yang terjadi pada bola kristal itu, maka akan ada sesuatu hal yang buruk yang akan terjadi.
Seperti yang sudah sering diceritakan secara turun temurun oleh guru-guru yang mengajar di Akademi ini.
Zelden tersenyum tipis, melihat bagaimana reaksi Delwana yang sangat terkejut itu. Ia mengerti kenapa Delwana bereaksi seperti itu. Dan reaksi Delwana akan sama seperti guru-guru lainnya apabila ia memberitahukan hal ini kepada mereka semua.
"Bola kristal itu menampilkan warna biru segelap malam. Hal yang tidak pernah terjadi sebelumnya," ujar Zelden lagi. Namun, tubuh Delwana belum juga tenang. Ia masih menegang, raut wajah yang terkejut, serta pikiran yang seolah bertabrakan karena fakta mengejutkan saat ini. Setelah mencerna semuanya, tubuhnya disandarkan kembali ke sandaran kursi. Ia mengembuskan napas panjang.
"Lalu, apa kau mengetahui artinya?" Zelden tidak langsung menjawab apa pun. Bahkan ia juga tidak bereaksi sama sekali untuk pertanyaan Delwana tersebut. Ia masih memasang raut wajah tenang dengan pandangan mata yang penuh keberanian menatap Delwana.
"Tentu saja," ujar Zelden. Ia lalu tersenyum. Sedikit lebih lebar dibandingkan sebelumnya. Delwana hanya bisa mengangguk kaku. Ia tidak bisa memaksa Zelden untuk menjelaskan arti dari kejadian itu jika sudah seperti ini. Ia bukan Barcus yang merupakan adik dari Zelden atau karena karakternya yang sangat blak-blakan serta sangat berani. Ia harus berhati-hati agar tidak dianggap sebagai mata-mata, mengingat dirinya masih sangat baru dengan aliansi ini.
"Kau akan memberitahu mereka?" Kali ini Barcus yang angkat bicara. Zelden dan Delwana langsung menoleh ke arahnya. Seperti biasa, Barcus duduk di kursinya dengan segelas bir di tangannya. Bir itu bahkan sudah tinggal setengahnya.
"Mereka? Maksudmu Camoline dan Londer?" tanya Delwana. Dahinya mengerut dalam. Delwana benar-benar tidak terlalu mengerti dengan maksud pertanyaan Barcus itu karena menurutnya tidak begitu jelas.
"Lusa Camoline akan berpindah asrama. Bersamaan dengan itu, dia akan mendapatkan latihan tambahan penuh dari beberapa guru yang sudah aku anggap aman," ujar Zelden. Delwana mengangguk mengerti, begitu pula dengan Barcus.
"Lalu, bagaimana dengan Pangeran Chromos itu?" tanya Barcus penasaran. Zelden terlihat tidak terlalu mempedulikan tentang satu muridnya yang itu.
"Dia semakin sering mendapat panggilan dari tetua Klan Chromos. Selain itu, klan Chromos memiliki mata-mata untuk melaporkan setiap pergerakan pemuda itu," ujar Zelden. Barcus menganggukkan kembali kepalanya. Ia lalu meminum bir yang tersisa di gelasnya hingga habis.
Setelahnya, keduanya hanya membahas hal-hal ringan mengenai kegiatan di Akademi. Saat itu pula, Barcus mau tidak mau harus menjelaskan tentang tes di kelasnya. Menjelaskannya secara terperinci walau Barcus tidak menyukainya. Berbeda dengan Delwana yang bisa melaporkan semuanya dengan sangat tenang dan santai. Ia bahkan melaporkannya dengan mudah. Membuat Barcus ingin menggerutu karenanya.
"Semoga tidak ada yang gagal lagi di kelasmu," ujar Zelden sebelum Delwana menutup pintu ruangannya. Delwana mendengus. Ia menutup pintu itu lalu berjalan menjauh dari ruangan Zelden tersebut. Tentu saja ia juga berharap tidak akan ada yang gagal seperti tes sebelumnya. Hanya saja, ia juga tidak bisa memprediksi kemampuan setiap muridnya ketika menjalani tes. Karena perasaan gugup yang sangat besar pun bisa mengacaukan aliran energi sihir di dalam tubuh. Dan Delwana enggan menjelaskan hal semacam itu kepada murid-muridnya ketika tes berlangsung. Lagipula, itu bukan bagian materi dari kelasnya.
Langkah tenang Delwana terhenti setelah ia menginjakkan kaki di anak tangga terakhir. Tubuhnya menegang karena terkejut, bahkan raut wajahnya pun menunjukkan hal itu. Sebelum akhirnya ia tersadar dan langsung membungkuk dengan hormat pada orang di depannya. Yang berdiri tidak terlalu jauh dari dirinya.
"Hormat hamba kepada Yang Mulia yang agung," ujar Delwana ketika membungkuk. Di hadapannya saat ini, berdiri Asdus dengan raut wajah datarnya. Ia menatap Delwana dengan begitu lekat, membuat Delwana merasa jika dirinya tengah dibakar dengan aura intimidasi yang dikeluarkan oleh Asdus. Lalu perlahan, kaki Asdus bergerak. Ia melangkah hingga berhenti tepat 10 sentimeter di hadapan Delwana.
"Kau penuh dengan ambisi, namun juga penuh perhitungan dan ketelitian," ujar Asdus. Delwana hanya bisa menundukkan sedikit kepalanya. Aura intimidasi Asdus benar-benar mengerikan.
"Dan aku menyukainya." Dari posisinya saat ini, Delwana bisa dengan jelas melihat seringai di wajah Asdus yang terlihat mengerikan di matanya saat ini.
"Aku memberimu sebuah penawaran. Penawaran menarik yang tidak akan pernah datang untuk kedua kalinya," lanjut Asdus. Perkataannya itu berhasil menarik perhatian Delwana sepenuhnya. Asdus bahkan bisa melihat binar penasaran di kedua mata pria di hadapannya. Hal itu membuat Asdus semakin menyeringai.
"Cari tahu dimana batu Opal itu berada, maka aku akan memberikan apa pun yang paling kau inginkan di dunia ini." Setelah mendengarnya, kedua mata Delwana langung terbuka dengan sangat lebar