The Wiz

The Wiz
Chapter 17 : Pertunjukkan



Ketujuh petinggi Istana itu sudah duduk di kursinya masing-masing, menghadap ke arah sebuah panggung yang akan menjadi tempat dimana para murid menunjukkan kemampuan mereka. Pandangan para murid, tidak lepas dari ketujuh orang itu. Sebagian besar, mereka menatap penasaran. Penasaran dengan apa yang menjadi kriteria mereka dalam memilih penyihir yang sesuai.


Suasana semakin hening, ketika Azura berada di atas panggung itu. Menampilkan senyuman ramah, setelah membungkuk hormat pada ketujuh orang di hadapannya. Mereka, benar-benar dihormati layaknya Dewa.


"Baiklah, semuanya. Seperti yang sudah biasa, kita akan memulai acara pertunjukkan kemampuan. Bagi yang bisa membuat Tuan-tuan petinggi Istana, bisa mendapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Istana. Tanpa menunggu lebih lama lagi, aku akan membiarkan kalian mulai menunjukkan kemampuan kalian. Yang memegang nomor urut satu, dipersilahkan untuk maju ke tempat ini," ujar Azura panjang lebar. Para murid saling menoleh, mencari siapa orang yang memegang kertas dengan angka nomor satu. Terjadi beberapa saat, sebelum seorang pemuda melangkah dengan setetes keringat yang terlihat di dahinya.


Menghela napas beberapa kali, pemuda bernama Zerce itu mencoba untuk menghilangkan rasa gugup yang mendadak menyerangnya. Ia berdiri dengan tegap, menatap dengan pasti kepada para petinggi Istana.


"Baiklah, pemuda. Silahkan dimulai," ujar Azura kembali. Zerce mengangguk mengerti. Ia kembali memejamkan kedua matanya, lalu membukanya perlahan setelah kedua iris matanya berubah menjadi hijau.


Perlahan, ia mulai memunculkan sulur-sulur tanaman dari tubuhnya. Sulur tanaman yang seperti jenis rumput merambat itu, mulai menyebar ke sekitarnya, lalu berhenti bergerak. Ia kembali memusatkan pikirannya pada tanaman yang telah menyebar itu. Perlahan, tanaman itu kembali bergerak namun, tumbuh ke atas. Hingga, tanaman itu membentuk sebuah tubuh. Menjadi manusia tanaman yang masih lemah.


Beberapa murid menatap takjub pada kemampuan pria itu. Walaupun masih termasuk kemampuan yang lemah namun, butuh banyak energi untuk bisa membuat sesosok manusia dari kekuatan yang dimiliki. Dapat dipastikan, pemuda itu bisa langsung jatuh tidak sadarkan diri bila terlalu memaksakan. Salah satunya seperti saat ini, dimana Zerce mulai mengendalikan manusia tanaman itu dengan pikirannya.


Dan benar saja. Belum ada satu menit, Zerce mulai terlihat pucat pasi. Di wajahnya mengucur dengan deras tetesan keringat. Ia kelelahan, namun mencoba untuk tetap memaksakan dirinya. Di saat seperti ini, semua orang mengakui bila itu adalah momen paling menyebalkan. Bagaimana tidak? Para guru yang sekiranya dapat membantu para murid agar tidak kehabisan tenaga, sangat dilarang oleh para petinggi itu. Belum lagi, bila murid tersebut tidak dapat membuat decakan kagum keluar dari mulut para petinggi. Semua menahan dirinya di kursi, hingga Zerce jatuh tidak sadarkan diri. Barulah, Azura memberi isyarat untuk membawa tubuh Zerce ke ruang kesehatan.


Camoline mendengus pelan. Kedua tangannya terlipat, seolah dirinya sudah sangat bosan dengan pertunjukan yang baru terjadi kurang dari satu jam itu. Ia melirik ke arah kertas yang digenggam orang asing di sebelahnya. Nomor 12.


"Nomor urut itu, bertepatan dengan rasa bosan dari para petinggi. Aku yakin, kali ini tidak ada siapapun yang bisa memuaskan para petinggi." Orang di sebelahnya menoleh. Dahinya mengerut dalam. Antara tidak mengerti, dan penasaran. "Seharusnya, ada seseorang yang bisa membunuh mereka," ujar Camoline lagi.


"Jadi, aku harus mencoba untuk membunuh mereka, dibandingkan menunjukkan kemampuan? Bukankah itu, akan membuatku menjadi seorang buronan?" tanya Aris dengan kesal. Camoline menoleh datar ke arah sebelahnya, Londer pun demikian walau hanya sebentar saja.


"Bodoh. Kekuatanmu tidak akan pernah bisa menyentuh sehelai rambut mereka," Camoline kembali menatap ke depan untuk memperhatikan peserta selanjutnya, "setidaknya, kau hanya perlu menyerang mereka saja. Sekuat tenaga. Setidaknya, buatlah mereka mengeluarkan perisai pelindung," kesal Camoline. Aris tidak bertanya lagi. Ia memikirkan dengan baik ucapan Camoline. Walaupun setengah dari hatinya enggan menerima saran dari gadis itu, namun ucapan yang ia dengar sangatlah masuk akal.


"Yah, aku akan membuat strategi mulai detik ini," ujar Aris. Camoline melirik, lalu mendengus pelan. Ia langsung mengabaikan pria yang baru diketahuinya bernama Aris itu. Karena terlalu fokus pada pikirannya, ia lupa pada kemampuan dirinya yang dapat mengambil informasi dari ingatan semua orang. Ralat, hampir semua orang.


"Aku melihatnya... Kau memberikan nomor itu padanya. Kenapa?" Camoline menoleh ke arah Londer.


Ketiga orang itu kembali sibuk dengan pikiran masing-masing. Atau mungkin, Londer dan Camoline yang memiliki satu kesibukan sama, yakni memperhatikan para murid yang berada di atas panggung. Beberapa orang, mungkin akan menyayangkan keputusan kedua murid yang mendadak terkenal seantero akademi ini, bila mengetahui tidak ada satupun orang dari mereka yang ikut berpartisipasi dalam acara ini.


Londer dengan alasan, tidak menyukai orang-orang di Istana, dan Camoline yang masih tidak ingin menjelaskan, kenapa dirinya mendadak tidak jadi mengikuti acara itu.


Mungkin, sekitar setengah jam setelah acara dimulai. Tidak, ini bahkan terasa lebih. Bahkan, cahaya matahari di luar ruangan, berhasil masuk melalui jendela ruangan yang berada di tempat tertinggi. Menandakan, bila waktu sudah berlalu dengan begitu cepat. Juga, terlihat jelas bila para petinggi Istana itu menunjukkan raut bosannya. Meskipun sudah cukup banyak murid yang tumbang karena berusaha menghibur mereka.


"Bila memperhatikan ini, aku merasa mereka seperti penghibur yang gagal menjalankan tugasnya," monolog Camoline yang terdengar jelas di telinga Londer. Pria itu terkekeh, mengusap rambut Camoline dengan lembut tanpa ada perlawanan dari gadis itu.


"Sejak awal, aku memang merasakan hal tersebut. Bisa dikatakan, ini menjadi salah satu alasan aku tidak pernah berniat mengikuti acara semacam ini," ujar pria itu. Ia tersenyum, ketika Camoline menganggukkan kepalanya. Hingga, pandangan keduanya bertemu.


"Orang bodoh yang menghibur orang—"


Dhuaaar...


Kepala keduanya langsung menoleh ke arah panggung, di mana ledakkan itu terjadi. Asap mengepul, menghalangi pandangan orang-orang. Hingga, setelah asap itu menghilang sepenuhnya, mereka dapat menghela napas lega karena tidak ada apapun yang rusak. Walaupun hanya bertahan sebentar rasa lega itu, setelah mata mereka mendapati sebuah perisai pelindung berwarna biru. Perisai tingkat menengah.


Camoline menegakkan tubuhnya. Ia menyeringai tipis. Rupanya, ada orang lain juga yang memiliki rencana sama dengan dengan dirinya. Walau ia tidak menyangka, orang itu adalah Rashi. Gadis yang sudah menolak untuk berlatih bersama dengan dirinya.


Rashi baru saja menyerang ketujuh pria di depannya secara tiba-tiba. Siapa sangka, bila para petinggi itu sampai mengeluarkan perisai biru. Membenarkan letak kacamatanya, Rashi mulai mengeluarkan sebuah seruling dari balik jas yang ia gunakan. Matanya bertemu tatap dengan Camoline sebelum menyentuhkan ujung seruling itu dengan bibirnya. Gadis itu menyeringai dengan penuh arti.


Sekarang, Rashi mengerti. Apa alasan Camoline memintanya berlatih bersama. Sedikit disesalkan, namun tidak ingin ia tunjukkan, terutama di hadapan Camoline. Bisa-bisa, gadis itu semakin besar kepala.


Rashi mulai meniup seruling itu. Kini, ruangan terdengar oleh melodi yang indah dan merdu. Matanya perlahan terbuka, kala ia mulai berhasil memasukkan sebuah kekuatan dalam melodi yang ia ciptakan. Dahinya sedikit mengerut, saat melihat tangan Camoline yang sedikit terangkat.


"SIALAN! APA YANG TENGAH GADIS INI LAKUKAN!!?"